Annual Writing Self-Evaluation 2018 2.0 (Last)
Baca Annual Writing Self-Evaluation 2017.
Baca Annual Writing Self-Evaluation 2018 Bagian Pertama.
Sedikit melakukan kilas balik tentang apa yang terjadi di bagian pertama, kita akan bikin daftar super singkat tentang tulisan-tulisan yang dibuat sepanjang tahun 2018. Ada fanfiksi, ada cerpen, dan ada novel.
Baca Annual Writing Self-Evaluation 2018 Bagian Pertama.
Sedikit melakukan kilas balik tentang apa yang terjadi di bagian pertama, kita akan bikin daftar super singkat tentang tulisan-tulisan yang dibuat sepanjang tahun 2018. Ada fanfiksi, ada cerpen, dan ada novel.
FANFIKSI
- Bukan Putih, Gedung Putih Itu
- Manunggal dalam Hati
- Langkah Berkilah
- Kenangan Ini Pantang Dikenang
- Hidup atau Hilang
- Bintang Neraka
- Perang Bola Salju
- Bola Salju dan Masa Lalu
- Seplastik Buah Jeruk
- Allistor
- Pertemuan dalam Hujan
- Eropa
- katakan padanya; jangan katakan apa pun
- mari, kuperkenalkan padamu
- Ramai-Ramai Sendiri
- rama-rama dalam temaram
- Jangan Tinggalkan Idealis Ini Sendiri
- Barangkali
- Pilihan Yang Kauambil
- suatu hari di hari ini
- sejarah warna merah
- bagiku; itu cinta namanya
- tentang perspektif
- Quo vadis: Hendak Ke Mana?
- Yang Palsu Teriak Palsu
- o x y m o r o n
- ia, dan hati nurani yang selalu bisa mati
CERPEN
- Roh Kebebasan
- dalam labirin tanpa peta
- Perlindungan Karya Sastra
- Kutukan Sebuah Peradaban
- Heteroseksual
- Bocah Bumi Langit
- Bentuk Rasa Cinta
- Satu Orang
- Telepon
- Mayones Pembasmi Kutu
- Tulisan Tuhan
- Anomali
- Kalimat Terakhir Menjelang Kematian
- Selera Humor
- Truth or Dare
- Tera
- Tokoh Utama
- Raja Yang Tak Pernah Mati
- Sekeranjang Roti
- Menutup Mata
- Matinya Perulangan
- Terlibat Menderita
- Harta dalam Pekarangan
- Tentang Kemustahilan
- Apa-Apa Yang Kita Akukan
- Selamat Ulang Tahun
- kunjungan di pengujung malam
- satu poin dosa
- SENARAI
- CERITERA
- padahal, ini semua salah waktu
- Tentang Kemungkinan Pengkhianatan
NOVEL
- Mereka Yang Dibutakan Cinta
*
Work You Are Most Proud And Why
Hidup atau Hilang
Jenis tulisan: Fanfiksi
Jumlah kata: 1.512 kata
Dibuat pada: 07 Januari 2018
Tulisan ini dibuat saat aku sedang lihat-lihat catatan lama. Ada sebuah catatan yang kuambil dari tumblr, tentang Amerika lagi batin begini:
Waktu aku baca catatan itu, aku mikir; wah, aku nggak ada perkembangan sama sekali LOL, sampai sekarang aku baca ini, aku masih belum paham juga. Akhirnya aku mulai mencoba untuk searching, dan kemudian aku berkenalanlah dengan tokoh baru, namanya Konfederasi Amerika. Kemudian aku baca-baca soal Perang Saudara, upaya menghapus perbudakan, blablabla-lalala, sampai aku paham orz Akhirnya sebagai bentuk permohonan maafku, kubuatlah fanfiksi ini.
Dan meskipun sampai sekarang masih tanda tanya besar bagiku bagaimana seorang personifikasi negara menjalani hidup di tengah-tengah masyarakatnya dan bagaimana dia bisa masih tetap hidup sampai sekarang, tapi aku lumayan mulai bikin jawaban sendiri dalam tulisan ini. Cerita ini dimulai saat Amerika dan Konfederasi Amerika saling ketemu, kemudian saling memperkenalkan diri, kemudian keduanya sama-sama terlibat dalam Perang Saudara. Dan ketika Perang Saudara berakhir, keduanya bertemu lagi dan di situlah Amerika menghilangkan Konfederasi Amerika.
Selain alasan latar belakang pembuatan tulisan itu, aku suka tulisan ini juga karena judulnya. Hidup atau hilang—karena itu kan, yang bikin mereka jadi personifikasi negara. Mereka nggak bisa mati, mereka bisanya hilang. Terus, selama Perang Saudara itu juga diceritain betapa masih terhantuinya Amerika dengan Perang 1812 dan dibakarnya Gedung Putih, jadi ada deskripsi juga—hal yang jarang kulakukan di awal tahun karena aku masih suka serbadialog. Dan aku suka cara Amerika ngehilangin Konfederasi Amerika. Dicekik cuy, ntaps memang.
Work You Are Least Proud And Why
BANYAK BANGET INI. Aduh. Tahun lalu adalah tahun yang sangat bertentangan, aku paling produktif sekaligus paling males, aku paling seneng sekaligus paling sedih, dan aku pikir semesta mulai berjalan terlalu cepat karena tahu-tahu sudah tahun baru aja, tapi ternyata ada banyak kejadian yang kupikir sudah lama terjadinya tapi ternyata baru tahun ini toh.
Ada beberapa karya yang ketika aku baca ulang menjelang Annual Writing Self-Evaluation ini aku langsung merasa sangat tidak bangga … dan sebenernya, novelku itu salah satu di antaranya. Tapi aku bingung karena keberhasilanku membuat novel itu adalah hal yang paling bikin bangga walaupun isi novelnya sangat tidak membanggakan. Dan karena ada banyak, sementara aku harus menentukan satu, maka ini adalah tulisan yang 100% SANGAT TIDAK BANGGA.
Saradan
Jenis tulisan: Cerpen
Jumlah kata: 2.411 kata
Dibuat pada: 24 November 2018
Oke. Ini adalah cerpen yang kubuat untuk lomba, tapi akhirnya nggak kukirim dan kubiarkan berdebu di folder dokumen selama-lamanya. Ceritanya sangat anak-anak banget, konfliknya bisa lebih kuat lagi tapi masalahnya aku nggak melakukan itu jadinya jelek … dan karakterisasinya sangat dangkal dan permasalahannya berusaha-anti-mainstream-tapi-malah-gitu.
A Favourite Excerpt From Your Writing
Hidup atau Hilang
Jenis tulisan: Fanfiksi
Jumlah kata: 1.512 kata
Dibuat pada: 07 Januari 2018
Tulisan ini dibuat saat aku sedang lihat-lihat catatan lama. Ada sebuah catatan yang kuambil dari tumblr, tentang Amerika lagi batin begini:
Sometimes I wonder what Canada would do if I told him he once had a little brother? I wonder what Canada would have thought about him. They seem very similar, sometimes so much so it hurts. I know it's too late, but all I can say now is that I am sorry, Canada, for killing a brother you never knew, and I am sorry Confederacy, for making sure you'd never meet him.Catatan itu rupanya kusimpan dengan nama: semoga suatu hari nanti aku paham ini.
Waktu aku baca catatan itu, aku mikir; wah, aku nggak ada perkembangan sama sekali LOL, sampai sekarang aku baca ini, aku masih belum paham juga. Akhirnya aku mulai mencoba untuk searching, dan kemudian aku berkenalanlah dengan tokoh baru, namanya Konfederasi Amerika. Kemudian aku baca-baca soal Perang Saudara, upaya menghapus perbudakan, blablabla-lalala, sampai aku paham orz Akhirnya sebagai bentuk permohonan maafku, kubuatlah fanfiksi ini.
Dan meskipun sampai sekarang masih tanda tanya besar bagiku bagaimana seorang personifikasi negara menjalani hidup di tengah-tengah masyarakatnya dan bagaimana dia bisa masih tetap hidup sampai sekarang, tapi aku lumayan mulai bikin jawaban sendiri dalam tulisan ini. Cerita ini dimulai saat Amerika dan Konfederasi Amerika saling ketemu, kemudian saling memperkenalkan diri, kemudian keduanya sama-sama terlibat dalam Perang Saudara. Dan ketika Perang Saudara berakhir, keduanya bertemu lagi dan di situlah Amerika menghilangkan Konfederasi Amerika.
Selain alasan latar belakang pembuatan tulisan itu, aku suka tulisan ini juga karena judulnya. Hidup atau hilang—karena itu kan, yang bikin mereka jadi personifikasi negara. Mereka nggak bisa mati, mereka bisanya hilang. Terus, selama Perang Saudara itu juga diceritain betapa masih terhantuinya Amerika dengan Perang 1812 dan dibakarnya Gedung Putih, jadi ada deskripsi juga—hal yang jarang kulakukan di awal tahun karena aku masih suka serbadialog. Dan aku suka cara Amerika ngehilangin Konfederasi Amerika. Dicekik cuy, ntaps memang.
Work You Are Least Proud And Why
BANYAK BANGET INI. Aduh. Tahun lalu adalah tahun yang sangat bertentangan, aku paling produktif sekaligus paling males, aku paling seneng sekaligus paling sedih, dan aku pikir semesta mulai berjalan terlalu cepat karena tahu-tahu sudah tahun baru aja, tapi ternyata ada banyak kejadian yang kupikir sudah lama terjadinya tapi ternyata baru tahun ini toh.
Ada beberapa karya yang ketika aku baca ulang menjelang Annual Writing Self-Evaluation ini aku langsung merasa sangat tidak bangga … dan sebenernya, novelku itu salah satu di antaranya. Tapi aku bingung karena keberhasilanku membuat novel itu adalah hal yang paling bikin bangga walaupun isi novelnya sangat tidak membanggakan. Dan karena ada banyak, sementara aku harus menentukan satu, maka ini adalah tulisan yang 100% SANGAT TIDAK BANGGA.
Saradan
Jenis tulisan: Cerpen
Jumlah kata: 2.411 kata
Dibuat pada: 24 November 2018
Oke. Ini adalah cerpen yang kubuat untuk lomba, tapi akhirnya nggak kukirim dan kubiarkan berdebu di folder dokumen selama-lamanya. Ceritanya sangat anak-anak banget, konfliknya bisa lebih kuat lagi tapi masalahnya aku nggak melakukan itu jadinya jelek … dan karakterisasinya sangat dangkal dan permasalahannya berusaha-anti-mainstream-tapi-malah-gitu.
A Favourite Excerpt From Your Writing
1.
“Pokoknya, begitu aku bangun nanti, aku sudah mati, ya.”
Aku tidak memasang ekspresi yang berarti. “Kamu nggak bisa bangun kalau kamu sudah mati.”
Aku tidak memasang ekspresi yang berarti. “Kamu nggak bisa bangun kalau kamu sudah mati.”
[ Kutukan Sebuah Peradaban ]
2.
“Jangan tertawa makanya.” Ludwig merasa perlu menyalahkan.
“Jangan melucu kalau begitu.”
“Aku nggak pernah berniat melucu, selera humormu saja yang sinting.”
“Jangan melucu kalau begitu.”
“Aku nggak pernah berniat melucu, selera humormu saja yang sinting.”
[ ia, dan hati nurani yang selalu bisa mati ]
3.
“Memangnya kamu pikir aku dukun, apa?”“Jadi yang namanya malaikat maut itu cuma bisa nyabut nyawa saja?”
[ Pilihan Yang Kauambil ]
4.
Ada Perang Tujuh Tahun di Skandinavia
Ada Perang Tujuh Tahun di tengah Eropa
Lihat, lihat, kebanyakan perang dan kita kehabisan nama
Ada Perang Tujuh Tahun di Skandinavia
Ada Perang Tujuh Tahun di tengah Eropa
Lihat, lihat, kebanyakan perang dan kita kehabisan nama
[ Eropa ]
5.
Cukup adil, sepertinya. Ia meninggalkan Arthur sendirian dan Arthur menghancurkan tempatnya pulang.
[ Bukan Putih, Gedung Putih Itu ]
Share or Describe a Favourite Comment You Received
Seperti yang aku sampaikan di bagian Work You Are Least Proud And Why, aku masih berada di ambang antara menerima-atau-tidak bahwa beberapa kejadian yang kupikir sudah sangat lama itu ternyata baru terjadi di tahun 2018 itu. Ada tulisan-tulisan yang bikin aku berpikir, "Oh, rupanya tulisan ini kubuat tahun lalu, toh?" dan aku jadi perlu bener-bener baca ulang ceritaku agar dapat kesan yang sama lagi, karena apa yang terbekas di ingatan nggak sebanyak itu awalnya.
Tapi meskipun begitu, komentar dari Teh Rana tetep yang paling terbaik, sih. XD (Tahu-tahu topik pembicaraannya langsung belok.) Tahun ini kayaknya kami lebih sering ngobrol? Atau mungkin sebenernya sama seringnya kayak tahun lalu, tapi entah kenapa banyak banget yang dibahas. Dia ke Inggris tahun ini. Terus dari Teh Rana itu aku juga dikenalin sama Postcrossing, Slowly ... terus kita juga surat-suratan! Ini yang paling keren, sih. Aku suka banget surat-suratan gini.
Seperti yang aku sampaikan di Annual Writing Self-Evaluation tahun lalu, karena aku sama Teh Ran memang terbiasa saling baca tulisan masing-masing, jadi hafal apa yang khas, gitu. Di fanfiksiku yang judulnya bagiku; itu cinta, namanya itu kupersembahkan untuk memperingati hari ulang tahunnya Teh Ran. Seneng banget baca komentarnya! Baca komentar Teh Ran itu bikin ketawa sendiri, habis bahasanya kayak bener-bener kita lagi ngobrol langsung gitu. Dan bulan Desember lalu, kita baru saling ngaku kalau kita suka banget bacain komentar satu sama lain. XD
Terus, aku juga suka komentarnya Nai di salah satu fanfiksiku yang judulnya Yang Palsu Teriak Palsu, itu kukasih untuk memperingati ulang tahunnya. Aku juga seneng waktu baca ulang komentar ini. Baca komentar kalau seseorang suka sama hadiah yang kita kasih itu ternyata bikin seneng, ya.
Oh, ya, tahun ini aku bikin proyek sama Anggi. Itu proyek yang namanya belum kita sepakatkan, tapi yang pasti sejauh ini adalah kita bikin satu tulisan setiap minggu. Sebenernya, yang bikin aku banyak-banyak bikin cerpen sepanjang tahun 2018 ini disebabkan oleh alasan itu; +/-67%-nya sendiri. Terus kadang-kadang Anggi ngasih komentar juga soal tulisanku, walaupun lebih ke mengonfirmasi sesuatu di dalam ceritaku yang memang bikin bingung aja. Tapi aku tetep seneng gitu. XD
Dan terakhir, ini adalah supporting system yang selalu menemaniku sepanjang tahun, sih, LOL, yaitu dua sahabatku di grup Trio Panzer, Nana dan Mbil. Kita sering ngobrol sekaligus jarang ngobrol, dan mulai akhir tahun ini sepertinya kita bertiga sama-sama dilanda suatu permasalahan sendiri-sendiri ya. Mungkin kita sama-sama tahu, tapi mungkin juga enggak, tapi aku suka dengan sikap kita yang sama-sama menghargai satu sama lain.
Oh ngomong-ngomong, Nana komentar di fanfiksiku yang judulnya o x y m o r o n, itu fanfiksi yang kupersembahkan untuk ulang tahunnya dia walaupun telat ;v; Tentang Inggris dan Jerman yang ngobrol tentang negara mereka pasca-Perang Dunia Kedua. Aku bikin tulisan itu karena aku suka Inggris, dan Nana suka Jerman. Komentarnya dia di fanfiksiku yang itu bikin aku seneng banget!
Oke balik lagi ke Trio Panzer. Di awal tahun kita punya proyek, dan menurutku itu seru, bikin pengin lagi. XD Akhir-akhir ini kalian punya hobi baru yang bikin aku nggak ada temennya di Hetalia, tapi entah kenapa aku nggak pernah berpikir kalau aku sendirian. Aku suka waktu kita bikin grup juga di DM Twitter dan mulai ngobrol di situ. Terus aku suka waktu kita saling ngucapin selamat tahun baru, kayaknya itu adalah ucapanku pertama … semoga kita bisa awet terus, ya. Dan kalau punya masalah apa pun, aku terbukaaaaa banget untuk jadi pendengar, kok. <3
A Scene or Character You Wrote That Surprised You
dalam labirin tanpa peta. Ini tentang dua orang yang berpacaran, dan si cowok kewalahan menghadapi pacarnya yang sangat negatif, apa-apa di kepalanya itu serbasedih-sedih, dan akhirnya dia nampar si gadis LOL. Di sini, menjelang bagian akhir cerita, harusnya bisa tamat—dan memang kurencanakan untuk tamat, sebenarnya. Tapi entah kenapa tuh ya, tiba-tiba si gadis jadi melankolis lagi … padahal akhirnya udah bagus. Mereka udah baikan, dan terus si gadisnya udah senyum … tapi tiba-tiba dia nyeletuk hal yang negatif lagi.
Si cowoknya pun, seperti baca pikiranku (?), terus dia bilang, "Kamu bisa usir pembunuh suasana bahagia untuk saat ini saja nggak?"
Si cowoknya pun, seperti baca pikiranku (?), terus dia bilang, "Kamu bisa usir pembunuh suasana bahagia untuk saat ini saja nggak?"
Tapi akhirnya nggak diusir, dan mereka pun bahas lagi. Ceritanya jadi panjang, tapi aku kaget karena cerita ini menyembuhkanku lebih dari apa yang aku inginkan. Kalau saja ceritanya aku hentikan sampai saat itu, ceritanya akan bahagia dengan dua-duanya sama-sama senang, tapi sebenarnya masih ada lagi yang si gadis pendam, hanya saja dia tahan karena dia nggak mau "membunuh suasana bahagia". Tapi, ternyata si gadis memutuskan untuk mengatakannya saja—dan jadilah begitu. Mereka akhirnya damai lagi, tapi di titik itu, si gadis sudah nggak lagi menyimpan pikiran negatif lain.
How Did You Grow Up As A Writer Last Year
Sebelum aku menjawab ini, mari kita lihat apa harapanku di tahun 2017 lalu.
Entah di tahun ini aku akan jadi seperti apa, barangkali aku bakal nemu gaya bahasa lain atau gimana. Tapi gaya bahasaku sekarang, menurutku, adalah gaya bahasa yang sangat aku; dan rasanya aku nggak akan ngubah ini. Tahun ini aku berniat buat terus nulis, biar gaya bahasa ini terasah terus, gitu sih. :")
Uh, ini sudah sangat tepat, sih? Meskipun sayangnya nggak begitu lancar. Jadi, iya, aku memang menemukan gaya bahasa lain. Tapi masih agak terombang-ambing, dan sepanjang tahun 2018 ini aku menyebut gaya bahasaku di tahun 2017, yang serbadialog, sebagai "zona nyaman". Kemudian di akhir tahun 2018 aku baca Gadis Pantai-nya Pram, dan aku terkesan sama cara pengarang menyeimbangkan antara percakapan dan deskripsi cerita. Akhirnya beberapa ceritaku mulai kutambahkan deskripsinya sedikit demi sedikit.
How Did You Hope To Grow Next Year
Aku seneng banget sama genre historikal. Tahun ini aku mulai berani bikin tulisan historikal yang setingnya di Indonesia, misalnya di Kerajaan Pagaruyung (Piobang), Laut Sulawesi semasa Kasultanan Sulu (Quo Vadis?: Hendak Ke Mana?), dan Kasultanan Siak (Selera Humor, Harta dalam Pekarangan). Aku pengin terus nulis kayak gini, sih. Dan aku pengin mulai nulis tentang negara-negara di Afrika dan Timur Tengah juga, biar nggak melulu berputar-putar di Eropa. Sejarah adalah pelampiasanku kalau lagi nggak suka Sastra Indonesia LOL.
Jadi, harapanku, semoga aku terus nulis historikal. Dan semoga aku makin cinta Sejarah! Sejauh ini aku nggak pernah benci bidang satu ini dan semoga seterusnya selalu begitu. :')
Who Was Your Greatest Influence This Year As A Writer
Who Was Your Greatest Influence This Year As A Writer
(could be another writer or beta or cheerleader or muse or etc)
Tahun lalu aku mendeskripsikan seseorang yang, jujur aja, masih berpengaruh sampai sekarang. Hanya saja sudah nggak dalam bidang nulis lagi, sih. Jadi jawaban untuk tahun ini harus diganti. Tentu saja aku tetap nggak akan menyebutkan nama soalnya aku masih malu kalau ngasih nama terang-terangan. Hmm, tapi … hm. Siapa, ya.
Oh, ada, ding.
Karena orang ini, aku jadi nggak takut dengan betapa kerennya teman-teman di sekitarku. Tulisanku masih jelek, bahkan sampai sekarang. Dan sepertinya akan selalu begitu? Karena kalau aku berpikir tulisanku itu bagus, maka yang perlu kulakukan hanyalah bangun-tidur-bangun-tidur sampai hari-hari berlalu, dan kemudian aku akan berubah pikiran. Tapi dia bikin aku nggak merasa terganggu dengan kenyataan itu.
Orang ini juga punya karya, dan dari karya-karyanyalah aku bisa dapat pesan itu. Tetep nulis lagi aja, kalau nanti ada ide. Tapi kalau nggak ada, nggak usah dipaksain, toh kamu tetep penulis meskipun kamu nggak sedang nulis, yang penting kamu percaya aja kalau kamu penulis, karena yang menentukannya itu kamu dan bukan yang lain. Kalau aku baca karya-karyanya, itulah kesan yang aku rasakan; karya-karyanya dia itu asli, berani, blak-blakan. Aku saluuuut banget. ;—;
Orang ini juga punya karya, dan dari karya-karyanyalah aku bisa dapat pesan itu. Tetep nulis lagi aja, kalau nanti ada ide. Tapi kalau nggak ada, nggak usah dipaksain, toh kamu tetep penulis meskipun kamu nggak sedang nulis, yang penting kamu percaya aja kalau kamu penulis, karena yang menentukannya itu kamu dan bukan yang lain. Kalau aku baca karya-karyanya, itulah kesan yang aku rasakan; karya-karyanya dia itu asli, berani, blak-blakan. Aku saluuuut banget. ;—;
Anything From Your Real Life Show Up In Your Writing This Year
Nggak ada yang berubah dari tahun lalu, tetap soal diriku sendiri, dan kali ini aku bisa jawab dengan yakin karena aku menulis untuk sembuh. Ketika aku sedang punya pikiran apakah aku siap mati atau enggak, aku bikin tokoh tentang orang yang mengobrol soal hal itu dengan sahabatnya—hal yang nggak bisa kulakukan karena aku nggak tahu mau ngomong ke siapa. Atau ketika aku punya pikiran soal bertemu dengan diriku dari masa depan, aku bikin tokoh tentang orang yang bertemu dengan dirinya sendiri dari masa depan—hal yang nggak bisa kulakukan juga.
Banyaaaak banget. Barangkali itulah kenapa aku berpikir novelku itu nggak bagus, karena aku nggak menyembuhkan apa pun soal diriku di situ. Aku mulai nulis novel dengan tujuan untuk sembuh, tapi ada beberapa hal yang terjadi di luar rencanaku saat aku menyusun plotnya dan pada akhirnya problem yang dirasakan salah satu tokoh bahkan nggak dimunculkan sama sekali sampai akhir.
Banyaaaak banget. Barangkali itulah kenapa aku berpikir novelku itu nggak bagus, karena aku nggak menyembuhkan apa pun soal diriku di situ. Aku mulai nulis novel dengan tujuan untuk sembuh, tapi ada beberapa hal yang terjadi di luar rencanaku saat aku menyusun plotnya dan pada akhirnya problem yang dirasakan salah satu tokoh bahkan nggak dimunculkan sama sekali sampai akhir.
Apa lagi ya. Lebih ke soal hal-hal internal, sih.
….. Oh sial ada satu (…………….). Cerpenku yang judulnya Terlibat Menderita. Ini bener-bener menceritakan soal kehidupanku satu hari penuh, mulai dari dialog, konflik, latar tempat, benda-benda di sekitar yang kupakai, komplet dan lengkap banget—karena aku bener-bener butuh penyembuhan yang nggak memberikan solusi, jadilah aku cuma nempelin gitu aja keseharianku di tulisan ini.
Udah, kayaknya. Lainnya bener-bener cuma soal perasaan; jadi emosiku terbagi-bagi ke beberapa tokoh yang kemudian saling ngobrol.
A New Wisdom You Can Share With Others
Menulis itu menyembuhkan. Ini adalah apa yang aku sadari di tahun 2018, ketika aku punya banyak kemungkinan-kemungkinan di kepala, dan daripada aku berputar-putar di tempat karena kalau kebanyakan pikiran kemudian aku malah nggak bisa memikirkan apa pun, maka aku nulis aja. Di awal tahun aku masih bingung whether writing is healing or destroying me (ini dari sajaknya Rupi Kaur), dan kemudian aku tahu kalau jawabannya adalah menyembuhkan.
Any Projects You’re Looking Forward To Starting (Or Finishing) In The New Year
LOL tahun lalu aku berharap untuk bisa nulis cerpen bahasa Inggris dan satu-satunya cerpen yang kubuat adalah Truth or Dare. Terima kasih, harapanku di tahun 2017, dan terima kasih juga, Rasya-di-masa-lalu yang telah mewujudkan itu, karena sekarang aku jadi sadar kalau nulis cerpen berbahasa Inggris bukanlah apa yang aku bisa (………….).
Sekarang aku berharap apa ya, untuk tahun ini. Aku pengin bisa bikin cerita sedih ;v; Di tahun 2018 aku baca tulisan yang menyayat hatiiii banget sampai aku nggak berani baca lagi sampai sekarang saking perihnya cerita itu. Terus, ada juga di tahun 2017 (iya, udah 2017 padahal) cerita yang pas kubaca bikin aku nangis LOL betapa lemahnya. Dan di tahun 2018 ketika kubaca ulang cerita itu, aku masih nangis lagi bETAPA LEMAHNYA(2).
Terus, aku pengin tetep bisa nulis historikal. Karena menurutku masih kurang banget ini, dan aku masih belum bisa mendeskripsikan hal-hal di sekitar itu—lebih tepatnya aku belum berani karena takut nggak akurat. Padahal nggak apa-apa, main tembak aja. Semoga tahun ini aku mulai bisa!
Dan, ngomong-ngomong, uhhh, 100k+ kata ya tahun lalu … aku nggak yakin bisa nyalip (…….).
Terus, aku pengin tetep bisa nulis historikal. Karena menurutku masih kurang banget ini, dan aku masih belum bisa mendeskripsikan hal-hal di sekitar itu—lebih tepatnya aku belum berani karena takut nggak akurat. Padahal nggak apa-apa, main tembak aja. Semoga tahun ini aku mulai bisa!
Dan, ngomong-ngomong, uhhh, 100k+ kata ya tahun lalu … aku nggak yakin bisa nyalip (…….).
*
Sudah! Terima kasih sudah baca ;v;
Comments
Post a Comment