Menunggu Desember

Jumat, Mei 18, 2018

Pada suatu hari di bulan Januari (nggak ada maksud buat jadi berima lho) aku ketemuan sama sahabatku di KFC. KFC yang ada di depan SMA-ku, dan entah kenapa setiap kali aku ke situ, aku nggak pernah nggak ketemu sama temen seangkatan. Mungkin karena waktunya ngepas, atau memang karena kita semua sama-sama sepakat kalau di situlah tempat reuni terbaik, tapi pasti ketemu entah satu atau dua.

Waktu itu, dia bilang, "Kita nggak bisa ketemu dulu sampai Desember."

Lama banget, ya.

Awal-awal masih bisa dilalui. Januari, Februari, Maret. Apalagi kan di jurusanku juga kebetulan fokus Festival Sastra, walaupun aku nggak sesibuk anak-anak acara atau ketuanya yang sampai tertekan banget, lumayan buat mendistraksikan pikiran. Kadang-kadang kepikiran, soalnya. Apalagi kan jarang chattingan karena entah gimana kami chattingan kalau memang mau bikin janjian buat ketemu doang. Paling cuma saling pantau IG story masing-masing.

Makin ke sini makin kepikiran elah. Udah lama banget nggak ketemu. Pernah sekali, aku bikin IG story tentang apa yang akan terjadi di bulan Desember besok, apa yang harus aku persiapkan, sudah jadi apa aku, dan terus kebaperanku buyar karena Amanda justru bales, "Pegawai bank." (.........)

KESEL LAGI NIH.

Baru kemarin, kapsul waktuku ketemu. Aku kira hilang ditelan semesta. Aku bikin surat, waktu aku masih bocah, yang ditujukan untuk diriku sendiri saat wisuda kelas 3 SMA. Karena aku sudah pindah(-pindah) rumah, jadinya aku wajar waktu coba nyari suratku dan nggak ketemu. Sampai adik kelasku baru selesai wisuda, masih nggak ketemu. Kalau keinget lagi rasanya sedih dikit, tapi ya bisa baca surat dari masa lalu itu rasanya cuma terjadi di sinetron-sinetron.

Sampai lalu ketemu.
Dan lalu aku baca.

Isi suratnya nggak gitu penting, aku cuma ketawa sama tulisanku yang masih jelek waktu itu. Aku nyebutin beberapa nama orang di situ, aku di masa lalu nulis dan nanyain gimana kabar mereka, sementara aku di masa sekarang bener-bener nggak punya petunjuk mereka di mana, aku bahkan udah nggak deket lagi sama nama-nama yang sudah aku sebutin itu.

Jurusanku sekarang beda sama jurusan yang diimpikan sama aku di masa lalu ternyata LOL. Yah aku nggak kaget sih, karena aku baru siap masuk Sastra Indonesia bulan Februari 2017, dan selama itu aku selalu ganti-ganti program studi pilihanku setiap kali ditanya. Aku cuma kaget karena aku sempet berharap diriku di masa depan masuk di jurusan yang disebutin sama aku di masa lalu itu.

Karena surat itu ditulis sebelum aku mencicipi masa SMA (iyalah) aku jadi terharu sendiri membayangkan aku di masa lalu sangat penuh dengan harapan. Oke, Rasya Kecil, maaf karena aku nggak bisa mengabulkan keinginanmu dengan jadi PMR di SMP maupun SMA LOL, tapi setidaknya motivasimu tercapai kok. Kamu pengin aku masuk PMR biar aku nggak usah upacara, kan? Aku nggak masuk PMR tapi aku selalu bolos dan bahkan nggak inget upacara terakhirku kok.

Aku seneng aku bisa mengabulkan keinginanmu dengan masuk OSIS sama Pramuka wkwk. Kayaknya ekskul yang ada di pikiran bocah kayak kamu cuma itu-itu aja, ya: PMR, OSIS, Pramuka ... tapi aku masuk jadi OSIS di Seksi Bidang Sastra dan Budaya sama ikut Pramuka kok.

Tapi jelas-jelas aku merasa bersalah karena ekspektasimu ketinggian tentangku, duh. Kamu waktu masih bocah nggak tahu apa-apa soal usaha dana sama sistem kepanitiaan, ya (iyalah). Maaf ya karena gedung SMA-ku dan semua kejadian di dalamnya justru merupakan titisan dari neraka. Tapi di sini aku ketemu sahabat-sahabat baik, kok.

....

Stop.

Nah.

Gara-gara pemikiran itulah yang membuatku jadi keingetan soal dia, sahabatku yang baru bisa kutemuin Desember itu. Lama banget ya ampun. Bahkan belum ada setengah tahun berlalu dan aku udah gateel banget sampai luka bakar (?) dan aku nge-chat dia dulu akhirnya, kayak gini:

"Kalau mau ketemu, bilang, ya."

Lah Sya kan dia udah bilang kalau bakal bisa ditemuinnya Desember jadi chat-mu itu sama sekali nggak ada pengaruhnya tahuu? Aku juga tahu itu sebelum aku ngirim pesan ke dia, tapi entah kenapa ego (?) ku sudah sampai pada batasnya dan aku akhirnya maksa buat ketemuan.

Ya, tetep nggak bisa, sih.

Ngomong-ngomong soal ego, aku mau cerita soal menengok ke belakang. Dulu waktu aku SD, aku sangat jago lari, tapi aku sangat payah kalau disuruh balap lari mundur karena aku pasti jatuh. Ya ngapa sih ya lari mundur segala faedahnya apa? Tapi waktu itu aku masih bocah, jadi aku terima aja materi lari mundur itu dan alhasil aku jatuh setiap kali begitu praktik. Kejadian itu nggak ada hubungannya sama egoku yang nggak mau disuruh noleh ke belakang sih, tapi entah kenapa aku jadi keingetan.

Tadi aku lagi berdebat sama diriku sendiri apakah aku harus noleh apa enggak, karena aku cuma berani lihat dari kaca spion. Tapi terus akhirnya aku berani nengok ke belakang dan aku seketika sadar kalau yang kutantang adalah waktu dan bukannya yang lain, dan begitu aku selesai mengumpulkan keberanian untuk noleh ke belakang ternyata udah nggak ada siapa-siapa di sana.

Iyalah, Sya, kan kamu kelamaan.

Mari kita balik lagi ke soal sahabatku ini. Aku gampang banget beleber ke mana-mana kalau disuruh cerita, tapi untungnya aku selalu inget apa yang sebenernya mau aku omongin.

Karena hari ini pertama kalinya puasa di 2018, tadi aku tidur waktu nunggu kelas selanjutnya mulai. (Ini belum apa-apa udah beleber lagi.) Setengah jam sih. Sama sekali nggak nyenyak walaupun bisa tidur, tapi itu justru bikin aku sangat kelabu sampai sekarang aku lagi nungguin kelas jam 4 sore.

Selamat puasa, ya, teman-teman.

OKE MARI KITA BALIK KE TOPIK.

SUSAH AMAT SIH BILANGNYA.
SUSAH
AMAT.

Intinya adalah aku kangen sama sahabatku itu. Aku cuma kaget betapa benernya pernyataan roda itu berputar dan aku sekarang yang jadi di posisi ini; aku baca, baca, baca, baca, baca banyak buku, biar lalu bisa kuceritain ke kamu. Karena selama SMA selalu kamu yang punya bahan obrolan dan pengetahuan yang seru dan aku cuma dengerin.

Sekarang aku punya. Ada stoknya. Aku pengin cerita.

Dan iya, bakal kutunggu kamu sampai Desember.