Perubahan: Makan

Kamis, Februari 15, 2018

PROLOG

Saat aku pertama kali baca kutipan yang artinya: "Kalau seseorang mengatakan padamu: 'Kamu berubah,' itu artinya kamu sudah berhenti bersikap sesuai dengan apa yang mereka inginkan," aku berpikir kalau perubahan bukan sesuatu yang bisa dipersepsikan semudah itu. Dan waktu aku berpikir begitu, aku juga berpikir kalau barangkali, pemikiranku yang seperti ini bisa berubah juga. Mungkin aku belum banyak mengembara di hutan kehidupan ini, dan mungkin kutipan itu dari seseorang yang sudah lebih tahu daripada aku, jadi, siapa tahu dia yang benar, dan aku yang salah; terlepas dari ada banyak situasi di dunia ini yang nggak bisa dibuat garis batas tegas benar-salah.

Tapi sampai sekarang aku menulis di sini, aku masih belum mengubah pemikiranku yang seperti itu. Aku masih berpikir kalau kalau ada yang mengataiku berubah, itu artinya aku, sesederhana itu, berubah. Aku memikirkan soal perubahan waktu aku datang ke acara kumpul-kumpul di tempat ngopi selatan Tugu, dan ada seseorang yang, yah, berubah. Dan sepanjang malam aku sibuk membuat persepsi sendiri, karena di kepalaku saat itu campur aduk:
  • Eh. Wow. Dia berubah.
  • Eh, tunggu--kalau kalau seseorang mengatakan padamu, "kamu berubah," itu artinya kamu sudah berhenti bersikap sesuai dengan apa yang mereka inginkan itu benar, apakah kesan tentang dia yang dulu adalah apa yang kuinginkan?
  • Nggak juga. Dia hanya berubah; bisakah seseorang bisa hanya berubah?
  • Hmm. Ada beberapa darinya yang nggak berubah.
  • Apakah aku berpikir seperti barusan karena yang dia lakukan tadi masih sesuai dengan apa yang kuinginkan?
  • Nggak juga. Bukan berarti aku ingin.
  • Mungkin ... mungkin dia memang hanya berubah. Aku nggak ketemu dia lama dan mungkin dia memang hanya berubah.
  • (Lalu ada suara ledakan. 
  • Kepala Rasya meledak.)

#

MASIH PROLOG

Waktu aku dengar kutipan yang artinya: "Pada akhirnya, semua orang akan berubah menjadi seseorang yang mereka sumpahi sejak awal mereka takkan berubah menjadi sepertinya," aku selalu menyangkal kalau barangkali itu benar. Aku baca itu nggak sengaja, lewat di twitter. Sampai sekarang, aku ingat kutipan itu lagi, dan kupikir: ah, benar. Ah, sial. Aku nggak mau aku keterusan.

Waktu aku pertama kali bolos upacara, aku takut. Sejak upacara dimulai sampai upacara selesai, yang aku lakukan cuma sembunyi di kamar mandi. Hening. Aku berusaha nangkep suara-suara dari luar, dari yang awalnya masih kedengeran komando hormat atau istirahat di tempat, sampai ada suara ribut-ribut dan lari-larian, tanda upacara sudah selesai.

Aku hanya sekadar bolos upacara karena pengin coba gimana rasanya bolos upacara, dan waktu itu aku pikir aku kapok, takut dan panik, pikiranku macam-macam, apa yang bakal kulakukan kalau aku ketahuan, kalau pintu ini digedor, sampai lalu aku berpikir kalau aku kapok dan aku nggak akan pernah bolos upacara lagi.

Tapi nyatanya apa? Hah. Aku bolos terus-terusan. Dari yang awalnya di UKS, lalu di kelas, lalu sengaja datang telat menyesuaikan jam upacara selesai like a boss, dan yang terakhir adalah duduk di kursi panjang di lorong kelas-kelas like a boss's boss

... Oke.

#

LAGI-LAGI MASIH PROLOG

Waktu di tahun-tahun terakhir SMA, pas beberapa temenku sudah mulai sehari-hari naik motor, aku belum. Dan sebelum aku dapat hak memonopoli motor, aku mengamati mereka-mereka yang pakai motor, dan beberapa berita tentang kecelakaan motor juga sempat aku baca atau aku tonton di TV. Waktu itu, aku berpikir begini:

Begitu kita punya motor nanti, Sya, apa pun yang terjadi, jangan bepergian kalau ngantuk. Sepenting apa pun kegiatan itu. Kalau kamu kecelakaan lalu ada yang patah, temen-temenmu bakal ngucapin belasungkawa dan jenguk dan sudah; bukan berarti lalu mereka akan membatalkan urusan mereka. Keselamatan lebih penting daripada apa pun. Oke, Sya?

Selain urusan ngantuk, aku juga janji nggak akan main hape di tengah jalan, atau teleponan dengan cara nyelipin hape di antara helm dan telinga. 

Tapi nyatanya apa? (2)

Rasanya sudah nggak kehitung berapa kali aku mengandalkan muscle memory-ku, dan aku suka nggak sadar sendiri tahu-tahu sudah sampai sini; atau tahu-tahu aku belok kiri sesuai rute arah pulang padahal mau beli bensin dulu; atau tahu-tahu sudah sampai sini. Aku bisa kirim chat LINE sambil tetep nyetir, aku pernah teleponan dengan cara nyelipin hape di antara helm dan telinga.

... Hhh.

#

TERIMA KASIH SUDAH BERSABAR, DAN INILAH, TEMAN: YANG INGIN KUSAMPAIKAN SESUNGGUHNYA

Waktu aku belum kuliah, aku pernah baca berita tentang mahasiswa yang ditemukan sudah meninggal di kamar kosnya, karena tetap memaksakan diri mengerjakan tugas padahal kelaparan. Aku nggak bisa membayangkan seberapa laparnya dia sampai-sampai meninggal karena kelaparan--terlepas dari kemungkinan faktor lain kayak jarang tidur atau kecapekan, tapi waktu itu aku berpikir:

Aku bakal tetap menyempatkan diri untuk makan di sela kesibukan kuliah.

Susah ternyata. Tapi aku berusaha. Berusaha banget, banget, banget. Pokoknya aku bakal makan dulu. Tentu saja ada pergeseran prinsip karena jadwal kuliah nggak memungkinkan aku untuk makan nasi, tapi pokoknya, ada sesuatu untuk dimakan walaupun hanya sekadar ganjal perut. Dari yang awalnya sempet beli nasi kuning, lalu nasi uduk, lalu onigiri, dan bertransformasi ke bentuk yang makin kecil dari dua arem-arem sampai akhirnya satu bolu kukus ...

... tapi pokoknya makan. Makan, Sya. Nggak boleh enggak. Kalau kamu nggak makan, kamu bisa mati; dan sangat ironis kalau kamu ditemukan mati kelaparan padahal tempat makan di mana-mana dan kamu punya cukup uang buat sekadar beli tempe atau bakwan. 

Pada suatu hari, aku belum makan siang dan aku harus masuk kelas yang jam empat; karena sebentar lagi jam empat. Di jalan mau ke kampus, aku berpikir kalau aku akan kuliah dengan keadaan lapar dan aku harus tahan, karena aku bakal bisa makan begitu kelas sudah selesai, yaitu jam enam. 

Aku hampir sampai kampus saat aku keingetan sama prinsipku yang itu: makan.

Dan akhirnya aku makan.
Aku beli makanan dan aku makan persis di depan kelasku yang pintunya sudah ditutup.
Aku makan, kuhabisin, lalu plastiknya kubuang ke tempat sampah, dan aku masuk.
Kupikir: wow. Aku bisa. Aku bisa menaklukkan keadaan genting.


Tapi, keadaan hari itu nggak segenting HARI INI.

1.

Aku belum makan pagi. 
Aku keingetan sama prinsipku yang itu: makan.
Aku berpikir, aku nggak bisa makan sekarang. Nggak untuk sekarang; alokasi waktu dari rumah ke kampus sangat ngepas, dan kalaupun nggak ngepas aku masih butuh mencuri waktu untuk baca ulang materi yang harus dikuasai. Intinya, aku nggak bisa makan.
Aku nggak makan dan berpikir akan makan waktu sebelum kelas siang.

2.

Aku nggak sempat makan sebelum kelas siang.
Aku bahkan nggak sempat beli apa pun. Aku hanya sempat minum air putih, tapi sekenyang apa pun aku minum air putih, itu bukan makanan. Dan aku belum makan pagi.
Aku keingetan sama prinsipku yang itu, yang tadi pagi sudah kulanggar: makan.

Lalu, kutipan itu muncul di kepalaku:


Aku punya prinsip untuk mementingkan makanan karena aku nggak ingin mati kelaparan, dan tadi pagi aku melanggarnya, aku mementingkan kuliah pagi daripada sarapan. Dan iya, aku berubah menjadi seseorang yang sudah aku yakini aku nggak akan berubah menjadi seperti itu. 

Aku sempat merasa tertampar, tapi kupikir, itu bukan berarti lalu aku bisa makan.
Karena kenyataannya, aku tetap nggak makan.
Mungkin sebelum kuliah sore.

3.

Sepanjang perjalanan aku ada niatan, kalau pas di depan gerbang kampus aku ngecek jam dan masih ada beberapa waktu sebelum jam empat, aku bakal mampir ke supermarket yang ada di pinggir jalan--tinggal lurus dan belok kiri dan belok kiri lagi, buat beli apa aja untuk ganjal perut. Aku berhentiin motorku di depan gerbang dan ngecek hape.

Jam empat kurang sedikit.

Dan aku berpikir: ah, aku nggak sempat makan. Aku nggak sempat makan apa pun.

Aku belum makan pagi, aku belum makan siang, dan kalau aku nggak makan sebelum aku kuliah sore, aku bakal baru bisa makan habis magrib. Prinsipku soal makan sudah entah bagaimana sekarang nasibnya, dia jelas-jelas sudah nggak bisa berharap apa-apa dariku, aku bakal melanggar prinsipku sebanyak tiga kali di hari yang sama. Kutipan yang kupikirkan tadi siang juga entah bagaimana kabarnya, aku sudah menjadi seseorang yang aku sudah yakini aku nggak akan seperti itu, dan aku bakal seperti itu untuk yang kedua kalinya.

Aku ngembaliin hape ke dalam tas dan aku berpikir: ini bahkan belum ada setahun dan aku sudah bisa nggak makan seharian? Aku lalu keingat sama berita tentang mahasiswa yang ditemukan meninggal karena kelaparan, lalu aku keingat sama diriku yang dulu yang ketagihan bolos upacara atau main hape di jalan setelah berhasil menaklukkan itu satu kali dengan sangat susah payah, lalu aku berpikir: apakah mungkin aku akan berakhir begitu juga? Kalau aku satu kali berhasil memaksakan diri nggak makan seharian, apakah nanti aku akan keterusan

Aku nggak mau aku keterusan dan lalu mati kelaparan.

Tapi, aku berpikir lagi. Aku pernah ada di situasi begini, dan akhirnya aku memilih untuk telat masuk. Aku tetap beli makan dan aku makan di depan pintu kelas yang tertutup. Aku tetap memilih untuk mempertahankan prinsipku, agar aku bisa tetap makan siang sekalipun aku sudah makan pagi; dan sekarang, aku seragu ini meskipun aku belum makan siang dan makan pagi?

Lalu kutipan ini muncul waktu aku mau nutup tas:


Lalu aku berpikir: serius? Serius, aku bakal berubah, setelah ini?

Kalau dipikir-pikir, perubahanku jadi suka bolos upacara; dari yang awalnya punya alasan kalau aku memang sakit sampai sesederhana memang ingin bolos saja, itu jelas-jelas bukan perubahan yang baik. Perubahanku jadi bisa main hape di tengah jalan juga bukan hal yang baik, dan aku yang bangga bisa tetap nge-chat sambil nyetir itu bukanlah hal yang bisa dibanggakan--walaupun, oke, aku bisa tetap ngetik sambil nyetir, wow! Dan aku bahkan masih sempat scroll untuk milih mana stiker yang mau kukirim--oke, lagi, itu jelas bukan hal yang bisa dibanggakan. Aku bisa mati kecelakaan.

Dan sekarang, aku bisa mati kelaparan.
Mati kelaparan setelah melanggar prinsip yang sama sebanyak tiga kali dan benci diri sendiri.
Itu bukan hal yang bagus sekali ....

Aku nggak mau berubah menjadi seseorang yang nggak aku inginkan.
Aku nggak mau berubah jadi seseorang yang terbiasa nggak makan.

Dan aku
sekarang
lapeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeer banget.

Aku mau makan.

Akhirnya aku nyalain motor dan aku makan.

#

KESIMPULAN (?)

Jadi ... apa yang mau disimpulkan di sini. Oke, pada dasarnya, ini tentang perubahan. Dan pilihan. Hidup jelas tentang pilihan, tapi ada beberapa kasus yang, kita pasti akan sadar, kita dihadapkan pada pilihan yang kita tahu seberapa pentingnya itu, bahwa pilihan itu akan membawa kita ke perubahan yang besar; bukan sekadar kamu memilih untuk mampir beli pulsa dan semua jadwalmu setelahnya berubah jadi mundur tiga menit dari yang seharusnya.

Pilihan yang membawa kita ke perubahan besar jelas ada banyak. Begitu juga aku, walaupun kalau aku disuruh nyebutin dengan cepat, yang pertama kali terlintas adalah saat aku memilih untuk bikin novel padahal harusnya aku mempersiapkan diri belajar UN SMP. Atau seperti yang kuceritakan di sini, saat aku memilih untuk bolos upacara sekali dan keterusan. Saat aku memilih untuk coba nyelipin hape di antara telinga dan helm dan keterusan. Saat aku memilih untuk ngetik sambil naik motor dan keterusan.

Dan ini; saat aku memilih untuk tetep memprioritaskan makan daripada masuk kelas. Aku tahu kalau ini adalah hal yang harus kuwanti-wanti, jelas pasti semesta akan menempatkanku dalam keadaan yang sama lagi soal ini; mengetes apakah aku bisa tetap nggak berubah seperti tadi atau nggak. Apalagi, kayak yang kubilang tadi, ini bahkan belum lewat tahun pertama kuliah dan aku sudah dapat ini dua kali.

Begitulaaaaaah. XD Jadi buat kalimat penutupnya, apa, ya.

Jangan lupa makan, ya, teman-teman. :")