Ternyata Bukan Seratus Persen Limited Edition

Selasa, Januari 09, 2018

Edisi langka ini, Rasya lagi galau. /nggak gitu

Aku masih inget postingan blog super bodohku tentang niatku untuk nggak kuliah. Yang aku sangat naif dan berpikir kalau mungkin akan lebih baik kalau aku nggak kuliah dan justru belajar jahit atau belajar masak atau melakukan kegiatan sosial atau nulis nulis nulis. Baru kemarin aku baca ulang dan aku berpikir kalau itu barangkali adalah salah satu momen ternaifku ... tapi karena siang tadi aku lagi menyimpulkan bahwa aku-aku yang dulu membuat aku bisa menjadi aku yang sekarang, aku jadi nggak berpikir untuk menghapusnya. Jadi, iya, postingannya masih ada di sini, bisa dicari.

Sebenernya aku nggak berpikir untuk ngeposting ini. Mungkin aku bisa minta Bleepy, atau siapa pun selain Bleepy yang punya akses ke blog ini (siapa?), kalau postingan ini hanyalah bukti kenaifanku yang lain dan lebih baik dihapus aja; tapi itu kalau postingan ini benar-benar akan berakhir demikian. Tapi, tapi, tapi, mungkin memang ini fase yang harus aku lewati, mungkin aku sekarang perlu untuk senaif ini lagi atas nama diriku di masa depan.

Hah. Aku habis baca ulang semua artikel INFJ yang aku suka dan, entahlah aku akan nyesel bilang ini atau enggak--mungkin ini fase kenaifanku juga, oke, semua aja kunamai fase kenaifan--tapi memang INFJ itu begitu ya; atau setidaknya, ini poin INFJ yang bisa kupenuhi, kalau, gimana bilangnya ya, kami nggak bener-bener bisa sepenuhnya hidup di kehidupan ini. Ironis, ya, nggak hidup di kehidupan yang jelas-jelas merupakan kesempatan untuk hidup.

Seperti yang sudah bisa diketahui, tiga paragraf di atas hanyalah basa-basi. Bukan basa-basi, sih, kalau dibilang, karena sebenarnya aku cuma mencoba membuat kalian (siapa? /2) terbiasa sama gaya bahasaku yang ini ... agak beda sama postingan-postinganku yang biasa, mungkin ini gaya bahasa yang kupakai kalau aku lagi pakai label edisi langka ini. (Atau sebenarnya, ini gaya bahasa yang kupakai kalau aku lagi nulis dan lagi senang sama apa yang aku tulis.)

Ada dua cerita yang kubaca, salah satunya adalah cerita yang direkomendasikan, dan satunya lagi adalah tulisan yang aku temukan sendiri; aku kebetulan lewat, dan aku kebetulan lihat, dan akhirnya aku baca. Yang satu ditulis oleh penulis yang aku nggak kenal, dia orang Rusia, aku baru pertama kali baca karyanya, dan aku baca tulisannya dalam bahasa Inggris. Yang kedua adalah orang yang aku kenal. Dan aku pernah baca satu karya dia sebelumnya.

Dua-duanya hampir sama: si tokoh mati bahagia karena cinta.

CERITA PERTAMA

Si tokoh utama, orang Inggris, sedang ada di dalam pesawat. Mesinnya rusak, dan kru pesawat sedang mencoba untuk memperbaikinya, tapi ada informasi bahwa, jaga-jaga saja, kemungkinan terburuknya, dalam lima belas menit, pesawat itu akan jatuh, sehingga semua penumpang disarankan untuk menghubungi orang yang mereka cintai untuk setidaknya mengucapkan kata-kata terakhir sebelum mati. Dan si tokoh utama ini nggak mempunyai orang yang dia cintai--karena bahkan faktanya, dia bisa ada di dalam pesawat itu karena keberadaannya nggak diinginkan sejak awal.

Mau menelepon siapa, dia nggak tahu. Dan awalnya dia berpikir, mungkin lebih baik begini, mungkin lebih baik dia nggak perlu menelepon siapa-siapa, karena nggak akan ada yang merindukan dia dan dia juga nggak merindukan siapa pun. Tapi saat dia berpikir begitu, seorang nenek yang duduk di sebelahnya menyarankan untuk tetap menelepon, siapa pun. Asal menelepon.

Akhirnya si tokoh utama itu asal memencet nomor. Sungguhan acak.

Dan panggilan itu tersambung ke ponsel milik seorang Italia; yang awalnya berbicara pakai bahasa Italia, kemudian mengubahnya menjadi bahasa Inggris begitu tahu kalau lawan bicaranya nggak mengerti bahasa yang dia pakai. Orang Italia ini sempet bingung, jelas; orang ini siapa, ada keperluan apa, siapanya ... orang ini siapa, pokoknya?

Orang Italia itu hampir berpikir untuk menutup telepon sampai si tokoh utama, orang Inggris ini, bilang kalau dia hanyalah orang yang memencet nomor secara acak, karena dia perlu menelepon seseorang, siapa pun, untuk menjadi teman terakhirnya karena dia sedang berada di dalam pesawat yang sebentar lagi akan jatuh.

Sial betul. Ketika akhirnya orang Italia ini mau memenuhi permintaannya, mereka langsung berdebat siapa mau membicarakan siapa; si orang Italia menyarankan bahwa lebih baik orang Inggris ini yang menceritakan apa saja soal dirinya, sementara orang Inggris itu menolak, karena, untuk apa dia menceritakan soal dirinya, toh sebentar lagi dia akan mati, dan tidak ada gunanya mengingat orang yang sudah mati.

Belum apa-apa sudah melankolis, dan orang Inggris itu berpikir kalau barangkali ini tidak akan bekerja, barangkali memang sudah takdirnya untuk mati tanpa mengajak bicara siapa-siapa, jadi ia mematikan teleponnya. Di ujung sana, orang Italia membatu dan nggak tahu harus memikirkan apa, sampai akhirnya dia memutuskan untuk menelepon balik. Begitu telepon itu diangkat, orang Italia ini langsung marah--dia bilang kalau dia peduli, dia di sini, dan dia ingin mendengarkan cerita tentang orang Inggris ini karena dia memang ingin dengar.

Akhirnya mereka saling cerita. Sampai ada kabar dari pilot kalau semua mesinnya rusak, tidak ada harapan, dan mereka harus memutuskan sambungan. Orang Inggris itu mengucapkan beberapa kata penutup, bilang terima kasih, dan juga bilang kalau dia suka padanya, dan semoga orang Italia ini bisa hidup bahagia. Kemudian telepon ditutup, dan dia memejamkan mata sementara pesawat itu jatuh dan kemudian dia bukan lagi siapa-siapa, bukan lagi apa pun.

Tapi dia meninggal dengan bahagia, karena cinta itu.

CERITA KEDUA

Cerita ini agak panjang, sebenarnya. Tentang penyakit namanya batuk bunga; itu penyakit fiksi yang bisa menyerang seseorang yang sedang jatuh cinta. Penyakit itu berarti ada bunga yang tumbuh di paru-parunya dan membuat orang itu akan batuk bunga; memuntahkan kelopak bunga. Awalnya barangkali kelopaknya hanya sejumlah dua, atau tiga, tapi kemudian bisa semakin lama-semakin banyak, ditambah darah juga. Lama-kelamaan, bunga di paru-paru akan terus tumbuh sampai penuh sampai bikin sesak dan orang itu akan mati kesulitan bernapas karena penuh bunga di paru-parunya.

Cara menyembuhkan penyakit ini hanya ada dua. Yang pertama, operasi; tapi itu artinya orang itu akan kehilangan perasaan apa pun pada orang yang menjadi alasannya terkena penyakit batuk bunga ini. Dan yang kedua; adalah apabila perasaan itu berbalas.

Di cerita ini, seseorang terkena penyakit batuk bunga. Dan dia tahu dia jatuh cinta pada siapa: seseorang yang nggak akan mungkin mencintainya balik, sehingga dia nggak berpikir untuk menyatakan perasaan juga, karena toh, nggak akan berbalas, kan. Awalnya dia mencoba untuk terus menyembunyikan penyakit batuk bunganya, sampai lalu karena semakin lama semakin sering, dia jadi tidak bisa, dan ada satu momen ketika dia batuk bunga persis di depan orang yang dia suka.

Tapi dia tetap nggak bilang itu siapa. Orang yang dia suka itu justru marah-marah, bilang kalau seharusnya dia operasi saja, kalau perasaannya tidak berbalas lebih baik dibunuh saja di meja operasi, toh itu juga cuma cinta--dan jelas saja dia menolak mati-matian untuk operasi. Sampai lalu makin parah karena sudah lewat beberapa bulan, sampai lalu akhirnya ketahuan.

Lalu orang yang dia suka itu mencoba untuk membalas perasaannya, tapi jelas, nggak bisa semudah itu. Dia masih memaksa untuk lebih baik operasi, tapi usulan itu benar-benar langsung ditolak. Setelah setahun lebih beberapa bulan, akhirnya dia meninggal.

Tapi dia meninggalkan surat, semacam surat wasiat, yang di situ tertulis kalau dia nggak menyesal. Nggak menyesal untuk nggak operasi, karena kalau dia disuruh untuk memilih cara dia mati pun tidak ada opsi lain yang lebih baik daripada ini. Karena itulah dia memilih untuk terus mempertahankan perasaan itu, dan di akhir, dia bilang kalau dia akan masih terus cinta, selamanya, dia dan seluruh reinkarnasinya.

#

Lagi, kubilang, dua cerita itu hampir sama. Sama-sama mati, sama-sama bahagia, sama-sama karena cinta juga.

Dan aku lagi galau karena dua cerita itu. Bacanya bikin aku tercenung, atau entah, mungkin sebenarnya rasa galau dan tercenung ini sudah ada sejak lama, cuma aku butuh baca tulisan yang memicu aja untuk akhirnya bisa merasa demikian. Biasanya juga begitu kan, di mana-mana, barangkali kecuali semesta, nggak ada yang benar-benar langsung ada ... pelan, pelan, pelanpelanpelan, dan yang bikin semuanya jadi tiba-tiba itu karena kita terlambat sadar.

Terus aku mau bilang apa, sebenarnya?
Kenapa aku selalu sulit untuk menyampaikan apa yang pengin aku sampaikan?

Beberapa hari yang lalu aku habis menerjemahkan 62 pertanyaan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Itu semacam tes untuk memastikan sebenarnya pandangan kita terhadap politik itu berdiri di mana tepatnya, dan pertanyaannya susah dan jelimet, dan akhirnya aku memutuskan untuk menerjemahkan semuanya, 62 pertanyaan itu, siapa tahu ada yang kesulitan juga dan butuh terjemahan.

Aku lupa bilang terima kasih sama kalian yang pada akhirnya mau ngisi. Makasih ya. Sudah kemalaman kalau aku bilang sekarang, mungkin besok ... akhir-akhir ini pembicaraan kita lebih sering daripada sebelum-sebelumnya, mungkin karena kita punya proyek tanggal lima belas dan sebentar lagi semakin dekat tenggat waktunya.

Terus aku jadi inget artikel INFJ yang bahas soal ini, soal menerima tawaran pertolongan. Tapi kupikir ini nggak sepenuhnya berarti sakit hati kalau tawaran pertolongan itu nggak diterima, karena, seperti pelajaran IPS SD, manusia itu makhluk sosial yang nggak bisa hidup tanpa manusia juga, dan kita perlu merasakan gimana rasanya melihat keadaan dengan memakai sepatu orang lain.

Oke. Akhirnya, aku nggak bisa menjelaskan bagian mana yang membuat aku galau dari dua cerita itu. Bukan galau yang seperti apa yang dipikirkan; entah juga, sih, ya, aku kan bukan cenayang yang tahu apa tebakan kalian (siapa? /3), tapi mungkin aku tipe kedua dari kategori ada manusia yang lebih suka langsung cerita dan ada yang perlu ditanya, jadi, ya, begitulah, ya.

Aku harus ganti judulnya dari "Limited Edition" ke "Ternyata Bukan Seratus Persen Limited Edition".