Annual Writing Self-Evaluation 2017

Jumat, Januari 05, 2018

can we just sit down and appreciate this @%&^$# beautiful creature????
asdfghjkl look at those smile or those eyes its just full of wounds and bloodsheds that time cannot erase.
[ Source: Alyssa Shalina 21 on Pinterest ]
List of works published this year (from oldest to latest):

Mari kita daftar sekaligus hitung bersama-sama, secara aku juga belum tahu jumlah tepatnya berapa.
Perlu kita hitung berapa jumlah katanya nggak, nih? Sekalian aja ya, mumpung di blog. Biar aku juga tahu berapa jumlah kata yang aku tulis setahun itu. XD

  1. Penerus Mimpi (2281)
  2. Berkat Kami (1990)
  3. Menjaga Penjaga (1335)
  4. Perayaan Ulang Tahun (2118)
  5. Tak Tersampaikan (2633)
  6. Makna Mutiara (2440)
  7. Kata Saudara (11263)
  8. Hormat Saya, Indonesia (691)
  9. True of Truth (2867)
  10. Kutukan Imperius (2037)
  11. Sesahabat Itu (2966)
  12. Kesalahan Kalian (1489)
  13. Dingin, Sepi, Sedingin Sepi (1831)
  14. Alasan (1199)
  15. Ralat Soal (857)
  16. pada pagi-pagi sebelum pagi ini (1416)
  17. Energi Sebelas Joule (2353)
  18. Bertentangan (1858)
  19. Bruk! (431)
  20. Dreary (423)
  21. Fidus Achates (2885)
  22. Though I may depart, you shall remain (2688)
  23. The Occupy (848)
  24. Red-And-White Roses (4549)
  25. confesión (289)
  26. Gelato (1809)
  27. Shoot the Breeze (1746)
  28. Causerie (1067)
  29. One's Second Self (1370)
  30. Kontradiktif (485)
  31. Okuda Manami's part (2119)
  32. Scrutinise (697)
  33. Struiswijk, 1811 (1662)
  34. (how it feels like to have) a heartbeat (547)
  35. you're the perfect example of frienemy (1034)
  36. percuma saya tulis kalau hanya saya yang bisa baca (894)
  37. Lajur Jalur (1816)
  38. i vow to (thee,) my country (791)
  39. the seagull: here i am talking to you (685)
  40. i want it that way (1515)
  41. (if it was) a dream (1194)
  42. (setidaknya) aku di sini (415)
  43. the beast inside (1950)
  44. (bukan) untukmu (3353)
  45. round the clock bombing (1934)
  46. cermin (1801)
  47. permainan (1291)
  48. ludah para bintang (424)
  49. Kecolongan (206)
  50. belum saatnya (1149)
  51. tak tersentuh (607)
Jumlah karya: 51
Jumlah kata: 88.298

Work you are most proud (and why):

Aduh. Aduh, aku bingung sebenarnya pilih mana dari 51 karya itu yang paling aku banggakan. :') Dan aku juga masih berusaha menguasai diriku sendiri karena, wow, aku nggak nyangka aku bisa bikin 51 tulisan dan totalnya pun 88 ribu kata?? Sangat banyak wow, aku kaget sendiri sekarang. Oke, tapi dari 51 karya itu aku harus ambil satu karya yang paling, paling, paling membanggakan, ya. Apa ya. Mungkin ... mungkin ini:

Makna Mutiara
Jumlah kata: 2440
Dibuat pada: 2 Februari 2017

Alasannya ... apa, ya. Aku habis baca ulang tulisan ini dan sekarang aku yakin, kalau tulisan itulah yang bikin Rasya menjadi Rasya yang sekarang. Di karya itu, aku sedang mencoba gaya bahasa baru, dan ternyata, gaya tulisan seperti itulah yang aku rasa nyamaaaaann banget untukku. Makanya aku bilang kalau dari tulisan itu, aku bisa menjadi seperti aku. Di situ aku eksperimen pakai kata toh, pakai kalimat dalam kurung, percakapan-percakapan pendek yang beneran aku praktikin dulu dengan ngomong sendiri sebelum aku ketik. 

Berkat tulisan itu, akhirnya sebagian besar tulisan-tulisan setelahnya, termasuk tulisan lain yang menurutku menjadi tulisan terbaikku tahun 2017, yaitu Red-And-White Roses, gaya bahasa yang kupakai adalah gaya bahasa yang kuujicobakan di Makna Mutiara itu. Itulah alasan aku bangga. Tulisan itu kayak, apa, ya, kayak awal dari segalanya. <3

Work you are least proud (and why):

HAHAHAHA. Sip. Oke ini adalah jawaban yang sangat mudah karena aku bahkan sudah tahu jawabannya pas aku ngedaftar karya-karya yang kutulis selama 2017:

Bruk!
Jumlah kata: 431
Dibuat pada: 5 April 2017

Alasannya apa? Ya ampon ini tulisan macam apa sih? Ketawa sendiri aku sekarang. Judulnya sudah menjelaskan banyak, bahkan lebih banyak daripada ceritanya sendiri. Oke. Bulan April adalah bulan-bulannya aku stres di kelas tambahan Ujian Nasional Fisika, dan aku dapet ide nulis ini waktu kelas lagi diisi sama Pak ......... astagfirullah aku lupa siapa namanya ....

AKU GAGAL SEBAGAI MURID.

Serius?? Aku lupa siapa namanya???? Bentar ini sangat penting aku masa lupa??

Aku sudah membuang waktu beberapa menit untuk coba mengingat siapa nama guru itu ... tapi ya ampun aku ... aku lupa namanya. Padahal wajahnya terpampang jelas di ingatanku sekarang (?) tapi aku lupa namanya. Aku merasa gagal sebagai murid ... walaupun oke aku memang murid yang gagal sih karena UN Fisika-ku jelek banget, maaf, Pak. 

Oke balik ke topik.

Waktu itu, aku terilhami dengan kalimat yang diucapkan beliau: "Selalu ada hukum kekekalan momentum dalam setiap tumbukan." Persis begini kalimatnya, dan lalu aku seperti terbangun ... dan mendapatkan ide untuk nulis. Akhirnya jadilah, kayaknya pada hari itu juga kok, tulisan sebanyak 431 kata dengan judul Bruk!.

Dan cerita ini sangat nggak penting banget. 8'D Seolah-olah cerita ini meneriakkan kestresan seorang Rasya semakin mendekati Hari H Ujian Nasional. Oke. Pokoknya itu adalah karya yang paling tidak kubanggakan. 8'DDD

A favourite excerpt from your writing:

1. 
Mereka saudara dengan batas waktu.
(Makna Mutiara)


2.
dan bagaimana bisa ke tengah danau
kalau tak punya perahu angsa
?
(Kutukan Imperius)

3.
“Memangnya kaupikir aku apa, seseorang sangat berengsek yang tidak bisa merasa bersalah?”
“Seseorang sangat berengsek yang tidak bisa merasa bersalah.”
“Kurang ajar.”
“Enggak, serius, aku sungguh mengira begitu.”
“Aku juga.”
((bukan) untukmu)

4.
Terlalu banyak kisah sejarah yang dilupakan karena orang-orang berdalih mereka sudah memaafkan.
(Red-And-White Roses)

Share or describe a favourite comment you received:

Ya ampun. Sebagai penulis amatiran, jelas sekali aku sangat, sangat, sangat lemah, kalau ada komentar yang masuk di salah satu tulisanku. Aku seneng banget baca komentar-komentar yang masuk, semuanya selalu aku baca, dan seperti yang kubilang di awal karena aku sangat lemah sama beginian: semua komentar yang masuk pokoknya selalu jadi favoritku! XD

Yang jelas aku selalu suka kalau aku baca-baca komentar dari Teh Rana. Komentarnya ceria banget hehe, dan karena aku sama Teh Rana udah saling baca tulisan satu sama lain sejak tahun lalu kita akrab pas IFA 2016, aku jadi tahu gaya bahasanya Teh Rana dan Teh Rana juga jadi tahu gaya bahasaku. Dan aku selalu suka kalau di komentarnya Teh Rana, selalu ada bagian Teh Rana ngomentarin potongan tulisanku dan bilang, "Rasya banget kan ini?" XD

Oke. Ehem. Ada, sih, satu hal, yang bener-bener bikin aku selalu bangkit lagi.

Itu dari Nana. Bukan komentar-komentarnya Nana di tulisanku, tapi komentarnya Nana yang Nana kasih lewat pesan personal, dan diawali dengan, "Boleh nggak saya ngasih komentar soal tulisannya Rasya?" atau semacam itu ... yang pokoknya kamu izin dulu. Aku belum sempet bilang apa-apa karena aku lagi menata hati (??) (alay) tapi terus kamu langsung ngomong panjang ... lebih fokus soal tulisanku yang Dingin, Sepi, Sedingin Sepi, dan itu pertama kalinya dalam hidupku ada yang sampai ngehubungin sendiri untuk ngasih komentar semacam itu.

Kayaknya itu adalah momen terfavoritku mengenai hal ini :"""")

Oh, ada lagi satu!!! Itu dari Nail, kamu ngasih aku komentar secara langsung, pas kita di kampus. Kebanyakan kamu komentar soal Lajur Jalur, tapi ada beberapa di luar itu yang lalu kamu ngasih komentar soal tulisanku secara umum, terutama bagian gaya bahasa. Kamu harus tahu kalau aku sangat lemah sama kayak gitu dan aku bingung banget harus ngasih reaksi kayak apa. Dan aku suka kamu kasih komentar soal gaya bahasa!! Itu gaya bahasa yang kutetapkan setelah aku nulis Makna Mutiara (yang aku ceritain di awal ini) dan aku lalu mikir kalau sepertinya aku bakal tetap bertahan dengan gaya bahasa seperti ini sampai beberapa saat ke depan. Aku suka banget momen waktu itu. :""")

Dan, mungkin ini bukan komentar sih, tapi sekalian aja. Aku suka momen waktu Mbil, waktu itu kita belum deket, ngehubungin aku dan bilang kalau kamu pengin bikin sekuel dari tulisanku yang judulnya Penerus Mimpi. Tahu nggak? Aku kaget banget jumpalitan waktu itu, aku nggak nyangka. Makasih ya, Mbil, itu juga bikin aku tambah semangat. XD

A scene or character you wrote that surprised you:


Di karyaku i want it that way, aku meminjam karakter seorang penulis, yang ... aku agak menaruh potongan jiwaku di karakter itu sih. Dan penulis itu diceritain punya seseorang yang sangat sayang sama dia; dan walaupun si penulis ini suka jalan-jalan entah ke mana, setiap kali dia pulang, seseorang yang sangat sayang ini selalu menunggu dia di bandara. Pas aku mulai bikin tulisan ini, aku nggak mikir apa pun sebenarnya, aku cuma datang dengan niat pokoknya hubungan mereka pengin kurusak.

Dan wow, aku nggak nyangka aja akan jadi kayak gitu LOL. Maksudku, aku nggak nyangka aja kalau aku akhirnya bikin scene mematahkan hati; si penulis bilang kalau orang itu selama ini hanya jadi penghambatnya dan dia pengin mengejar mimpinya sendiri, sendirian. Terus udah gitu aja, si penulis akhirnya pergi lagi. Aku masih kaget aja sih sampai sekarang. XD

Lalu, ada lagi, di the beast inside. Di sini aku sangat kaget karena ceritanya bisa selesai LOL. Sumpah aku nggak nyangka aja bisa tamat nyelesaiin tulisan ini. Karena ini tulisan yang aku bikin waktu aku lagi marah, marah, marah banget pokoknya. Aku lagi sangat marah dan pikiranku berputar-putar tentang apa pun yang serba kemarahan, dan akhirnya aku tuangin aja ke tulisan. Dan ... dan ternyata bisa tamat??? XDDD Kaget banget. XD

How did you grow up as a writer this year:

Aku kaget dengan berbagai macam hal yang kualami tahun ini. Ada UN, ada SBMPTN, dan tulisan-tulisanku di awal tahun memperlihatkan aku yang lagi sangat stres akan hari-hari itu. Apalagi pas SBMPTN udah selesai dan aku melalui hari-hari menjelang UTUL UGM, asdfghjkl aku bener-bener nggak bisa mikir dan aku sempet bikin beberapa tulisan. Aku ketawa aja baca notes yang kutulis di akhir karya, aku berdoa untuk diriku sendiri semoga aku bisa lolos. Ya ampun. :")

Dan ada banyak hal baik di tahun 2017 ini. Aku akhirnya, akhirnya, seperti yang kutulis di awal, aku bisa tahu seperti apa cerita yang pengin kubikin. Aku bisa nemuin gaya bahasaku, yang barangkali ini belum khas-khas banget, dan pokoknya bakal aku pertajam lagi! Dan aku dapet sahabat baru juga yang jadi motivasiku buat nulis, ada Nail, dan ada kalian berdua, Nana sama Mbil; aku nggak akan capek-capek bilang kalau aku bersyukur ketemu kalian wkwk.

Lalu, serius. Sejarah. Aku nggak bisa lebih hidup lagi kalau lagi menekuni subjek satu ini. :")

How did you hope to grow next year:

Ah aku udah telanjur bilang di yang sebelumnya. (...)

Entah di tahun ini aku akan jadi seperti apa, barangkali aku bakal nemu gaya bahasa lain atau gimana. Tapi gaya bahasaku sekarang, menurutku, adalah gaya bahasa yang sangat aku; dan rasanya aku nggak akan ngubah ini. Tahun ini aku berniat buat terus nulis, biar gaya bahasa ini terasah terus, gitu sih. :")

Who was your greatest positive influence this year as a writer (could be another writer or beta or cheerleader or muse or etc):

Aku baca ini sekali dan aku langsung tahu jawabannya.

Dan aku malu nyebutnya. /ngeng

Jadi ... ada satu, penulis, yang karyanya sangat ... sangat ... sangat aku suka. Gaya bahasanya sangat khas asdfghjkl aku pengin banget bisa jadi kayak dia. Aku selalu suka caranya dia mendeskripsikan taman, kota, teater, hal-hal yang aku nggak bisa karena aku selalu berakhir dengan lebih condong memperkuat interaksi antarkarakter dan bukan seting tempatnya. Masih jadi PR besar buatku sih biar bisa begitu. 

Aku udah bikin satu karya di tahun 2018 ini dan sebisa mungkin di antara interaksi tokoh aku seselin informasi tentang gimana tata letak atau suasana cafe tempat mereka ngobrol, dan hal-hal semacam itu. Ya ampun aku sangat ngefans sama kamu, walaupun lama-lama kamu udah jarang nulis lagi. Pokoknya kamu selalu bikin aku jadi termotivasi untuk lebih ngembangin diri lagi dan aku sangat berterima kasih sama kamu. :")

Anything from your real life show up in your writing this year:

Ada sih, yaitu aku; secara harfiah. Karakter yang aku tulis entah kenapa selalu aku jejelin karakterisasi tentang aku. Cara pemikirannya, cara pandangnya, cara menyelesaikan masalah. Pasti ada sepenggal karakterisasi yang sebenarnya itu adalah bagian dari diriku sendiri. o(--(

Tapi aku nggak menyesal dengan itu sih, karena ... begini. Sempet ada tips yang aku baca; janganlah memasukkan bagian dari diri kita ke dalam suatu karakter di karya yang kita tulis, karena kita nanti nggak akan tega untuk memberikan nasib jelek ke karakter itu secara karakter itu punya sifat yang merupakan bagian dari diri kita sendiri.

Nah, sayangnya aku nggak memenuhi syarat itu. Maksudku, aku bisa aja ambil karakter dan masukin beberapa hal tentang aku menjadi karakterisasi dari tokoh itu, dan, ya, nyatanya aku bisa-bisa aja bikin dia sengsara. (...) Jadi karena nggak berlaku di aku, dan aku juga ngerasa terbantu dengan salah satu sifat diriku sendiri yang ada di dalam cerita, kupikir aku bakal terus pakai cara ini.

Any new wisdom you can share with other writers:

Di tahun 2017 ini, aku ketemu sama Chase Goehring, seorang penulis lagu sekaligus penyanyi, yang sangat membuka mataku karena liriknya bener-bener ... mengena di hati. Dari dia, aku jadi makin percaya sama pilihan yang aku tetapkan ini; menulis. Kita itu penulis, dan penulis adalah orang yang menulis; sesederhana itulah. Kita nggak perlu memberikan bukti dengan jadi terkenal, dengan punya buku fisik di tangan ... kita cukup menulis.

Dan nggak ada yang lebih rendah di dunia ini kecuali penulis yang nggak mampu menulis LOL, ini sangat menusuk, Bung!!!! XD Dan sangat benar juga, sebenarnya. Kita penulis, jadi, ya, kita menulis. Segampang itu, dan sesulit itulah. :")

Any projects you're looking forward to starting (or finishing) in the new year:

Aku pengin bisa nulis pakai bahasa Inggris. Ini mimpiku, sebenarnya. Tahun 2017 aku udah coba memberanikan diri bikin satu tulisan pakai bahasa Inggris, dan ternyata susah banget. XD Mudah-mudahan aja aku bisa memberanikan diri untuk bikin lagi tahun ini.


#

Selesai! Terima kasih sudah baca. x)