Song Fiction: Shattered

Minggu, Juli 30, 2017

And I've lost who I am, and I can't understand.
Why my heart was so broken rejecting your love?


THE DEUTERAGONIST: ARVYAN CAHYO NUGROHO

"Awas, Cahyo!"

DUAK!

Tepat setelah aku mendengar suara peringatan itu, kepalaku terbentur keras. Sakit sekali rasanya, kepala bertemu kepala, aku membuka mata dan melihat lawan tabrakku; Fariz, satu angkatan denganku (untung, karena repot kalau aku menabrak seorang senior), aku kenal dia namun sayangnya relasi yang terjalin di antara kami tidak begitu baik. Dia bersama dengan rombongannya yang membuntuti seperti anak ayam, memandangiku tak senang.

"Nggak sengaja," kataku datar; seperti mesin otomatis.

"Tapi tetap sakit, rasanya kayak aku hilang ingatan," dia mengusap kepalanya, "sayang aku habis ini ada jadwal tanding, jadi selesaikan saja sekarang dengan kita benturan lagi."

Aku tahu ke mana dia akan membawa percakapan ini, dan sekalipun aku sudah berusaha menahannya mati-matian, tetap saja aku langsung naik pitam. Seorang di sampingku yang refleks berteriak memperingatkan tadi, Ahmad namanya, juga menyadarinya, karena justru dia yang menyahut.

"Maksudnya apa?" Ahmad bertanya dengan nada tenang terkontrol.

"Kok tanya balik? Kalau ada orang tabrakan yang bikin dia hilang ingatan, cara mengatasinya gampang; tinggal disuruh tabrakan lagi saja biar ingatannya balik," Fariz menjawab enteng, tapi setiap penggalan katanya malah semakin meningkatkan emosiku, "bukan malah diladeni mengeja alfabet dan bantu mengerjakan tambah-tambahan."

Tak ada lagi yang perlu kukatakan, aku maju selangkah dan sedetik kemudian sudah mendaratkan bogem mentah ke pelipis kanannya - membuat Fariz bisa terjatuh kalau rekan-rekannya tidak buru-buru menahannya. Aku mencoba melanjutkan ke serangan kedua tetapi Ahmad mencegahku.

Fariz justru mengulum senyum menerima pukulan barusan. Kemenangan di pihaknya karena dialah yang berhasil menyulut emosiku. Karena menang dan kalah dalam perkelahian memang kadang dapat ditentukan secepat itu - bukan siapa yang terakhir berdiri yang menang, tetapi siapa yang melepas tembakan pertamalah yang kalah.

"Begini-begini," dia menunjuk wajahnya sendiri, tepat ke arah luka memar yang baru terbentuk, "aku masih baik, nggak akan membalas. Sebentar lagi aku main, dan hei, bintang sekolah pantang dilukai."

Aku bergeming, membiarkan ia dan rombongannya berjalan melewatiku. Memang seharusnya aku nggak boleh melawannya, toh suka-suka dia mengatakan apa pun. Aku masih ingat apa yang Ahmad sempat bilang padaku, sekarang sudah berbulan-bulan setelah kejadian itu, jadi aku seharusnya lebih stabil dan bisa mengatasi tanpa emosi. Aku hanya tidak menyangka akan sesulit ini.

"Omong-omong, Cahyo," panggilan Ahmad membuatku menoleh padanya, tapi ia tidak memandangku. Ia memandang lurus menatap suatu ruang kelas, aku tak tahu kelas berapa tepatnya namun hanya ruang kelas milik anak kelas satu saja yang belum istirahat, "Dino melihatmu, tuh."

Aku mencoba membaca ke arah mana mata Ahmad tertuju, dan benar saja - di salah satu jendela di ruang kelas itu, aku melihat Dino - rupanya itu ruang kelasnya. Dia buru-buru mengembalikan pandangan ke arah papan tulis ketika sadar aku memergokinya.

Kuhela napas. Sudah pasti dia melihat kejadian barusan.

Without love gone wrong, lifeless words carry on;
But I know - all I know - is that the end's beginning.

THE PROTAGONIST: ADINOVA INDRA PERMANA

Aku membunyikan bel dan menunggu seseorang membukakan pintu. Teringat perkataan tuan rumah terakhir kali aku ke sini; anggap saja rumah sendiri. Seluruh penghuni rumah ini sudah repot-repot membuatkan kunci cadangan untuk kubawa ke mana-mana agar aku bisa langsung masuk begitu saja, tapi tak pernah sekalipun aku memakainya. Kunci itu berakhir menjadi hiasan di kunci motorku.

Kudengar suara langkah di garasi sebelum pintu terbuka; dengan menebak cara jalannya yang menyeret itu membuatku langsung tahu siapa sosok di baliknya. Tebakanku benar, pintu terbuka dan senior satu tahun di atasku menatapku dengan cara itu - misterius dan tak tertebak.

Tekanan yang harus ia terima beberapa minggu terakhir ini membuat raut wajah Cahyo menjadi beberapa tahun lebih tua dari yang seharusnya. Aku menganggukan kepala canggung, belum menggerakkan satu pun anggota tubuhku sampai ia mempersilakanku. Aku mengikutinya memasuki rumah, melewati garasi, ruang tamu, meja makan, hingga ke halaman belakang.

"Lagi apa?" aku bertanya seperti itu karena melihat kertas HVS dan seperangkat krayon di tangannya.

"Belum melakukan apa-apa, aku baru pulang sekolah juga," jawabnya dengan nada seperti terbebani yang membuatku merasa tidak enak - tapi aku tak mau mengutarakannya kali ini karena Cahyo selalu berdalih bahwa dirinyalah yang seharusnya merasa begitu, "tapi tadi aku sempat bertemu Ibu, katanya Dita minta disiapkan alat-alat gambar, jadi aku melakukannya."

Aku mengangguk dan kemudian melihat Dita sedang duduk bersila di halaman belakang, tertawa sendiri, bermain dengan tanah; membuat gunung-gunungan atau sekadar membentuk kepalan dan melemparkannya entah ke mana - kotor sekali, kukunya jadi hitam-hitam. Kulirik Cahyo yang sempat menguasai diri lebih dulu sebelum mulai memanggilnya.

"Dita, kakak sudah ada krayonnya, nih!" sekejap saja raut wajahnya berubah, menjadi sosok kakak laki-laki yang penyayang dan penuh pengertian. Aku seperti tersindir karena tak bisa melakukan hal yang sama.

Dita mendongak dan langsung sumringah, ia berdiri dan berlari menuju kami. "Gambar! Gambar!" katanya sambil bertepuk tangan. Suaranya kekanakan - sangat berbeda dari apa yang selalu terngiang di kepalaku, membuatku selalu merasa perih dan ingin rasanya memalingkan muka. Cahyo jelas menyadari bahwa aku berusaha keras menahan diri, tapi ia berlagak tak peduli.

"Tolong ambilkan meja lipat yang kusandarkan di tembok itu, Din," Cahyo memberiku perintah yang langsung kuturuti, aku mengambil meja lipat yang bersandar di tembok dekat pintu ke halaman yang baru saja kami masuki tadi, membawanya kembali ke tempat mereka berdua duduk, dan membentangkannya. Cahyo meletakkan kertas dan krayon di atas meja yang kubuka. "Mau gambar apa?"

Dita mengambil satu warna krayon - merah, lalu begitu mulai menggambar, ia menatap kami berdua, lalu menyeringai malu-malu. "Nggak boleh dilihat," katanya merajuk.

Aku tersenyum melihat ekspresinya, terserang kilas balik hebat pada saat-saat di mana Dita kerap kali memintaku membocorkan apa yang keluar saat ulangan. Tentu saja aku menolaknya mentah-mentah karena itu akan membuat nilaiku yang sudah kujamin jelek bakal lebih rendah darinya, tapi toh pada akhirnya kuberi tahu juga.

"Oke, kami nggak lihat, deh," aku berdiri. "Nanti Dita yang panggil kalau sudah selesai, ya."

Who I am from the start? Take me home, to my heart.
Let me go and I will run; I will not be silent.

WOMEN IN DISTRESS: YUSUF AYUDITA NUGRAHANI

Namanya Dita. Adik perempuan satu-satunya Cahyo, dan dia seharusnya satu angkatan denganku sekarang, sama-sama kelas sepuluh. Kecelakaan membuatnya hilang ingatan total, dan di antara jenis-jenis hilang ingatan yang ada, Dita melupakan semua memori yang membuatnya harus mulai belajar membaca dan berhitung dari awal.

Aku dan Cahyo hanya duduk di ruang tamu beberapa menit, tanpa mengobrol, sibuk dengan ponsel masing-masing, sampai kemudian terdengar suara mesin mobil dari kejauhan. Ibunya pulang, Cahyo menyambut untuk menawarkan supaya ia saja yang mengambil alih kemudi, dan aku bantu membukakan pintu garasi. Ibunya turun membawakan barang belanjaan.

"Eh, ada Dino," beliau tersenyum begitu melihatku. Aku menganggukan kepala, tanganku tergerak untuk membawakan plastik besar di tangannya, namun beliau menolak halus. "Dita lagi gambar, ya?"

"Iya, Tante, nggak boleh dilihat katanya," aku menjawab, mengikuti beliau masuk rumah sementara Cahyo masih memarkirkan mobil di garasi. Ibunya tertawa mendengarku - tapi aku tahu bahwa ada sedikit kepahitan di sana. Dita menjelma menjadi anak kecil dalam satu kedipan mata, dan aku tak bisa membayangkan betapa dalamnya luka yang dirasakan ibunya karena seolah harus mengulang hari-hari yang pernah terjadi.

Beliau menaruh barang belanjaan di meja makan. "Dino langsung dari sekolah, ya?" beliau menebak, dan tebakan itu jelas benar karena aku masih mengenakan seragam. "Nggak ada kegiatan ekskul di sekolah?"

"Saya nggak ikut apa-apa," jawabku pelan, berharap Cahyo belum selesai memarkir mobil dan tidak mendengarnya - karena jelas dia tahu hari ini seharusnya ada ekstrakurikuler peleton inti di mana aku sudah resmi keluar dari keanggotaan beberapa hari setelah Dita divonis hilang ingatan.

"Ada tonti harusnya," terdengar suara Cahyo dari belakang yang membuatku merah padam - jelas tak mungkin makan waktu lama baginya memarkir mobil. "Mau pakai kaosku?"

"Nggak usah," aku menolak, tapi Cahyo sudah berjalan ke kamarnya.

"Nggak apa-apa, sana disusul Cahyonya," begitu ibunya berkata, membuatku mengarahkan pandangan lagi pada beliau yang mulai mengeluarkan barang belanjaan satu per satu, "biar setelah ini Dita sama Ibu saja."

Aku tak tahu harus melakukan apa selain menurut, sengaja melambat-lambatkan diri saat berbalik badan dan mulai mengikuti jejak Cahyo ke kamarnya. Baru beberapa langkah, aku mendengar suara ibunya memanggilku, "Dino," membuatku berbalik lagi, melihat beliau memandangku keibuan, "makasih ya selalu menyempatkan ke sini."

Ah. Kehangatan beliau membekukanku. Aku hanya bisa tersenyum pahit, senyum yang langsung memudar begitu aku berbalik badan, yang tersisa hanya rudungan rasa tak enak. Ada yang salah ....

All this time spent in vain, wasted years, wasted gain.
All is lost. Hope remains.
And this war's not over ....

MAKES SENSE OF CONFLICT

"Nggak usah ke sini lagi."

Aku langsung berkata begitu melihat Dino di ambang pintu. Aku memandangnya yang membatu, dan nostalgia menyerangku. Aku tak pernah membayangkan akan berada dalam kejadian ini dengan Dino; junior yang sudah kuwanti-wanti sejak awal karena mendekati Dita dari hari pertama masuk sekolah.

Kupikir karena Dino satu ekstrakurikuler denganku - peleton inti - dan tabiatnya juga tidak buruk-buruk amat, obrolan kami juga sedikit-banyak ada kesinambungannya karena sama-sama suka membaca buku tentang perang dan sejarah, jadi kudiamkan saja saat Dita senang sekali menceritakannya padaku di hari mereka berdua jadian. Kalau mereka berdua memang suka, walaupun aku kesal diam-diam karena berasa dilangkahin, tapi biarinlah.

Kabar kecelakaan Dita kuketahui dari pesan di grup LINE event yang aku dan Dita sama-sama jadi panitianya. Itu pun bukan dari ponselku sendiri gara-gara bateraiku habis. Karena tak mau terlalu memperlihatkan kalau kami saudara (walaupun satu sekolah sudah tahu sih), Dita kubiarkan pulang duluan begitu event-nya selesai, sementara aku masih berkumpul bersama teman-teman untuk mengobrol apa saja.

Aku masih ingat, benar-benar ingat, aku masih mengajak bicara anggota Divisi Perlengkapan di depan panggung, untuk merekapitulasi jumlah tepatnya meja dan kursi yang harus dikembalikan ke tiap-tiap kelas, ketika dari jauh kulihat Ahmad berlari, cepat sekali. Napasnya sudah habis padahal langkahnya baru mencapai deretan kursi paling belakang, jadi jarak di antara kami berdua kurang-lebih sepanjang satu lapangan, makanya Ahmad berasa perlu berteriak keras-keras agar aku mendengar, "Cah, Dita kecelakaan!"

Sepertinya berita Dita kecelakaan juga diberi tahu di grup LINE angkatannya dia, karena begitu aku sampai di rumah sakit bersamaan dengan Dino yang memarkirkan motornya. Suasananya malam dan dingin tapi dia hanya memakai kaus oblong dan sandal jepit, helmnya pun miring. Wajahnya pucat seperti orang kena tipus, dan dia tidak melihatku yang berjarak tiga-empat motor di sampingnya. Dia memarkirkan motornya buru-buru dan berlari masuk ke rumah sakit.

Ada kerusakan pada otak yang menyebabkan Dita tidak hanya kehilangan ingatan; tapi dia juga kehilangan dirinya sendiri. Dokter menyebutnya demensia, bukan amnesia, aku tak begitu tahu apa artinya tapi Ibu hanya bilang kalau intinya hampir sama. Hanya saja demensia diambil dari bahasa Latin yang artinya gila, dan orang sebodoh apa pun tahu apa maksudnya. Intinya Dita jadi gila. Atau dia membuat semua orang di sekelilingnya jadi gila - setidaknya berlaku untukku

Tingkah Dita jadi seperti anak kecil, aku masih ingat betapa menyebalkannya Dita waktu dia merengek minta permen dan hobinya main pasaran setiap saat apabila aku ingin bersama teman-teman sekampungku yang laki-laki main sepeda atau pergi ke rumah kosong. Rasanya kayak mengulang waktu, tapi seratus kali lipat lebih menyakitkan karena aku tidak bisa berhenti melihat Dita seperti Dita yang sebenarnya di saat dia menangis keras minta permen padaku seperti saat masih kecil dulu.

Jelas aku harus belajar mengontrol kesabaran diri sendiri, tapi lama-kelamaan semakin melihat kondisi Dita, mau tak mau ingatanku kembali pada Dino yang seperti orang kesurupan saat memarkirkan motornya di rumah sakit dan melesat masuk tanpa menyadari ada aku, saat hari di mana Dita kecelakaan itu. Aku selalu bangun di pagi hari dan bertaruh apakah Dino masih kuat untuk berkunjung ke rumah, dan nyatanya masih, sekalipun lebih banyak diam dan hanya memandangiku yang melakukan ini dan itu.

Melihat dia terus berkunjung rasanya menyakitkan, apalagi wajahnya seperti bertambah tua setahun setiap harinya. Memang mereka pacaran, tapi mereka hanya pacaran, dan Dino masih kelas sepuluh, dia tidak perlu ikut menanggung beban seberat ini. Memangnya kalau dilanjutkan, mau bagaimana? Dita tidak akan bisa sembuh.

There's a light, there's the sun ... taking all. Shattered ones.
 To the place we belong,
and his love will conquer all.

wall.alphacoders.com
DODECAHEDRON ENDING

Dino memandangku. Diam. Aku tahu dia dengar, dan dia cukup bisa menguasai diri untuk tidak bereaksi spontan memintaku mengulanginya lagi. Lebih-lebih, dia bahkan tidak membantah.

"Nggak usah bahas itu," ujarnya pelan.

"Aku beneran," aku jadi makin bersikeras, menekankan kata-kata yang entah akan kusesali atau tidak, karena aku tahu Dino; dia takkan membantah perintahku, aku yang lebih punya kuasa di sini, dan apabila ini berjalan sesuai apa yang kurancang maka aku akan benar-benar sendiri. "Kamu suka Dita itu nanti ketumpuk dengan kamu kasihan sama dia."

"Nggak usah bahas itu."

"Dita bakal selamanya kayak gitu. Kamu pikir, ingatannya kembali ke umur lima tahun lalu kamu mau menunggu sampai lambat laun jiwanya berumur lima belas tahun untuk memulai semuanya dari awal?" kugertak juga akhirnya. "Ini kelainan jiwa sungguhan, bukan yang di film-film. Jiwanya anak kecil sampai mati. Lama-lama bahkan lebih parah, dia pernah minta makan permen lalu lima menit kemudian datang untuk minta permen lagi!"

Aku tahu Dino sekarang memikirkan apa yang kupikirkan; masa depan. Jelas masih terlalu jauh untuknya (dan sebenarnya untukku juga), tapi bagaimanapun keadaan memaksa, dan kini dalam waktu singkat Dino harus mengira-ngira apa yang terjadi lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi? Ia perlu mengesampingkan perasaan dan berpikir rasional, karena bukankah cara pikir lelaki seharusnya seperti itu?

Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. "Aku tahu kok," katanya, dan dari segala reaksi yang kubayangkan, aku tak menduga kalimat ini yang keluar dari mulutnya, "aku sudah baca di internet."

Uh-oh, aku nggak mengira yang satu itu. Tiba-tiba perasaan kalah yang seharusnya tak wajar ada menyerangku, menyindir aku yang tidak pernah berani mencari tahu sendiri apa itu penyakit Dita dan ke mana nanti arahnya. Aku membayangkan jadinya, yang dirasa Dino saat mencarinya di internet itu apa?

Aku berdiri saat Dino sudah tidak menambahkan kalimat apa pun. Dino jelas tak tahu lagi harus bagaimana membalas perkataanku sampai pintu di belakang punggungnya diketuk yang membuatnya nyaris terlompat saking kagetnya. Dino berbalik dan membuka pintu, melihat Ibu dan Dita.

"Dita selesai gambar!" adikku itu berujar senang.

"Mana, lihat, lihat!" aku mendekati pintu dan membentangkannya lebih lebar. Dita menyembunyikan kertas di balik punggungnya, lalu berlari seolah tak ingin aku melihat hasilnya, dan dari tawanya aku tahu kalau Dita mengajak main kejar-kejaran. Jelas tidak kuladeni - aku tak pernah suka permainan itu karena susah untukku sengaja melambatkan laju dan tidak menangkapnya.

Aku memanfaatkan kesempatan selagi hanya ada kami bertiga. "Bu, Dino mau pamit. Aku sudah bilang."

Dino mengangkat kepala kaget, baru sadar bahwa usaha Ibu memaksa Dino ke kamarku dengan alasan memakai kaosku hanyalah akal-akalan kami berdua saja. Ini sudah kesepakatanku dan Ibu, untuk tidak menyertakan Dino dalam perjalanan yang berliku nan penuh kesabaran ini. Sekalipun Dino sudah kuanggap adik sendiri, tapi dia bukan bagian dari keluarga kecil kami, dan biarlah aku dan Ibu saja yang melalui semua ini.

Aku tahu di kepala Dino penuh dengan segala macam bentuk pertentangan, antara memenangkan hati atau logika, tapi kini Dino tak bisa berkutik, Ibu sudah memeluk dan mengelus punggungnya. "Makasih sudah nemenin Dita sampai sekarang. Kejar cita-citamu, ya, Le."

Kuantarkan Dino sampai pintu garasi, kubiarkan dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Kecelakaan Dita murni kecelakaan; dia yang terlalu lelah dan oleng di tengah jalan. Tak ada yang perlu disesalkan - bahkan kalau pun ada maka akulah yang menanggungnya karena membiarkan Dita pulang duluan tanpa pengawasanku. Dino nggak perlu merasa sebersalah ini.

Aku yakin, jauh di dalam dirinya, sudah ada suara yang memberi tahu bahwa kisah cinta mereka takkan berakhir dengan indah.

Begitu pula kisah ini.

Yesterday I died.
Tomorrow's bleeding.
 Fall into your sunlight.
TAMAT

You Might Also Like

0 comment(s)