Certain Lifestyle

Rabu, Juli 19, 2017

Mungkin kalau John Watson disuruh milih satu kalimat Sherlock Holmes padanya yang nggak akan pernah bisa dia lupakan, dia bakal pilih kalimat ini:


John, you are addicted to a certain lifestyle; abnormally attracted to dangerous situations and people.


Kalimat itu jleb banget. Bahkan buatku. Karena mungkin kalimat itulah yang sebenernya kita butuhkan tapi kita nggak pernah sadar. Begitu pun John Watson, dia waktu itu mempertanyakan kenapa seorang yang paling dia percaya mengkhianatinya, dan komentar Sherlock kayak gitu yang membuat semua seolah berbalik; sebenarnya John Watson sendiri yang secara alamiah punya ketertarikan sama orang-orang yang nggak bisa dipahami jalan pikirannya.

Segala macam permasalahan atau apa pun yang ada di sekitar kita dan orang-orang di sekeliling kita itu membuat kita berpikir kalau itulah yang mengubah kita menjadi kita yang sekarang, padahal sebenarnya sejak awal kita yang mengundangnya.

Ketika aku mempertanyakan kenapa temen-temenku nggak pernah ada saat aku bener-bener butuh mereka, itu sebenarnya salahku yang sejak awal lebih cocok bergaul dengan orang-orang yang nggak akan ada di sampingku ketika seharusnya mereka harus. Ketika John Watson nggak pernah habis pikir kenapa selalu situasi mengerikan dan berbahaya yang menimpanya, sebenarnya salahnya yang sejak awal condong memerhatikan tanda-tanda akan adanya kejadian itu.

Seharusnya aku nggak heran lagi. Karena aku jadi tahu kalau di sela-sela obrolan waktu aku ketawa bareng sama temen-temenku, ada suara yang memperingatkan kemungkinan absennya mereka di momen terburukku, dan aku denger. Tapi aku abaikan. Nyatanya aku tetep bergaul juga sama mereka.

Aku kayak mengutuk diriku sendiri. Jadi kenapa aku mempertanyakan hal yang terjadi padaku, yang sejak awal aku tahu kalau aku sendirilah yang membuat kriteria itu terpenuhi? Kenapa aku mengeluhkan apa yang datang padaku kalau akulah yang mengundangnya?

Ada saat-saat aku tahu kalau suatu hari nanti aku bakal dikecewakan, tapi nyatanya aku tetap meneruskannya. Setiap kali aku kira aku bisa mengatasinya, aku tetap bisa membuat dia ada di sampingku di momen yang kupikir sedang kubutuhkan, aku jadi berpikir kalau mungkin sebenarnya dialah orangnya - yang nggak akan membuatku sendirian.

Itu salahku. Kita ngobrol sampai berjam-jam di telepon, saling cerita satu sama lain, mendengarkan dan didengarkan, kalau rahasiaku sebenarnya itu kayak kue lapis dan yang terbesar ada di lapisan terakhir, lama-lama terambil satu lapisan, lalu satu lagi, lalu lagi, lagi, lagi ... sampai tinggal tersisa lapisan terakhir.

Lapisan yang selama kita ngobrol rasanya sudah pengin aku kasih, tapi kuputuskan buat mengulur-ulur waktu karena aku juga sambil menguatkan diri untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi lalu pada percakapan tertentu, kamu mengatakan hal yang membuatku nggak tahan lagi kalau terus kupendam sendiri. Jadi ketika kamu bilang di telepon,

"Aku nggak tahu apa-apa tentang kamu."

Aku jadi mikir mungkin aku harusnya nggak membuatmu sebersalah itu karena itu salahku yang nggak pernah bener-bener terbuka, dan kamu harusnya kubiarkan tahu itu sejak dulu. Aku pikir kalau kalimat yang ditujukan Sherlock Holmes untuk John Watson yang membuatku sadar kalau apa pun kejadian yang menimpa kita itu salah kita sejak awal itu nggak berlaku untukku, karena toh nyatanya, ketika aku lagi butuh seseorang, aku bisa membuatmu tetep di sampingku.

Lalu aku jadi inget saat-saat Cinderella pengin ngaku ke Pangeran kalau dia bukan seorang putri di halaman belakang istana, Conan pengin ngaku ke Ran kalau dia sebenarnya Shinichi di restoran tempat ayahnya ngelamar ibunya, Barry pengin ngaku ke Iris kalau dia sebenarnya The Flash di ruang kerjanya tempat dia kesambar petir ... sekarang gantian aku.

Rasanya ini saat yang aku tunggu, jadi aku mulai bilang,

"Jadi ...."

Lalu tiba-tiba bel jam dua belas malam berdentang dan momen pengakuan Cinderella hilang, lalu tiba-tiba ada jeritan seseorang lihat mayat dan momen pengakuan Conan hilang, lalu tiba-tiba ada berita di televisi bank yang dirampok dan momen pengakuan Barry hilang ....

Teleponnya mati. Dan momen pengakuanku hilang.

Aku otomatis lihat layar teleponku, dan aku telepon balik. Aku mulai mikir; jangan. Jangan. Plis, jangan. Aku sudah berusaha keras banget biar kamu tetep ada, biar aku bisa ngatur saat-saat aku butuh temen dan aku menghibur diri karena kamu di sini, dan biar aku bisa percaya kejadian-kejadian di film yang seolah alam semesta menentang momen pengakuan seseorang itu nggak ada.

Tapi di rumahmu mati lampu.

Aku nggak boleh marah atau merasakan apa pun kalau memang sebenarnya sejak awal ini gara-gara aku, aku yang memaksakan ini-itu, yang mencoba merancang begini dan begitu, tapi memang ada kejadian di luar kendaliku, dan itu nggak bisa kulawan. Nggak ada angin nggak ada hujan, kenapa di rumahmu bisa mati lampu di saat aku memulai momenku?

Itu salahku. (Lagi.)

You Might Also Like

0 comment(s)