8. Last Game: Souma/Kujo

Sabtu, Juni 10, 2017

Perhatikan gambar ini baik-baik.

[ alyanadrua.blogspot.com ]
Yang namanya Kujo yang mana? Aku dengar kalian bertanya. Jawabannya gampang: cewek yang rambutnya hitam panjang. Sekarang, aku juga dengar kalian bertanya, lalu yang namanya Souma yang mana? Apa jangan-jangan Souma itu bocah rambutnya kuning yang berdiri di sebelah Kujo? Bukan, itu Yanagi namanya. Sayang sekali tebakan kalian salah, karena, DING DONG:

Souma adalah bocah berambut coklat pakai jaket yang ada di tengah-tengah mereka.

Iya. IYA. Iya, saya ngepasangin dua orang yang sudah jelas-jelas nggak ada harapan bakal terwujud di akhir cerita. Jadi, maafkan mata saya yang begitu lihat gambar di bawah langsung fokus melingkari dua bocah yang warna kostumnya sama ini:

yes. sorry not sorry. [ source ]
Maaf sekali tapi saya nggak bisa menahannya. Sejak kali pertama Souma muncul di tengah-tengah cerita, saya langsung pengin sekali Souma bisa berakhir sama si protagonis gadis. Pada akhirnya, Souma memang lalu jatuh cinta sama Kujo, dan aku sudah sukses dibawa perasaan sama ceritanya, sampai akhirnya aku merasakan firasat buruk waktu Souma nembak, dan ternyata firasatku benar karena dia ditolak.

Apa salah Souma?

Satu-satunya kesalahan Souma adalah karena dia bukan tokoh utama. *lalu diamuk massa*

Saya selalu suka sama saat-saat di mana Souma main korban perasaan, dan itu sering sekali terjadi di cerita ini. Karena tahu cintanya nggak mungkin bisa terbalas, Souma sering mikir sudahlah mending mereka jadian saja sekalian jadi dialah yang seharusnya bertanggung jawab terhadap semua situasi di mana Yanagi dan Kujo bisa menghabiskan waktu berdua.

Kujo itu jadiin Souma tempat curhat. Mulai dari Kujo cerita kalau dia kayaknya suka sama Yanagi, ngerasa kalau dia di dekat Yanagi mendadak grogi, nggak bisa mikir, nggak tahu mau ngomong apa, ini-itu segala macam. Yah, gimana perasaannya Souma coba? Ada satu titik di mana dia kesel banget Kujo selalu ngecurhatin tentang Yanagi ke dia, dan dia bilang kalau, "Itu semua ilusi," ke Kujo. Bukan salahnya dia juga duh, Kujo dirimu peka dong kalau bocah yang selalu ngamatin kamu terus itu suka kamu. :')

Ada yang bagiku di sini Kujo benar-benar jadi gadis yang melakukan suatu dosa besar (?), karena di saat Souma mencoba untuk menunjukkan antara peduli dan nggak peduli di saat yang bersamaan, bisa-bisanya Kujo justru komentar, "Reaksimu kayak gitu mirip Yanagi." Nah. NAH. Maksudnya apa coba? Ya, makasih, sih, itu artinya Souma bisa mencapai titik yang bikin Kujo teringat sama Yanagi, tapi itu menyakitkan hati banget hah. Ekspresinya Souma sudah mendeskripsikan segalanya. :'D


Tuh, kan. Selalu seperti ini. Yang berbicara dengan niat untuk menyakiti hati lawan bicara adalah dirinya, tetapi mengapa ujung-ujungnya selalu dia sendiri yang sukses sakit hati?

[ dikutip dari fanfiksi berjudul Jarak atau Jarak?. ]


Souma ini ada di posisi yang nggak beruntung, sih. Kenapa? Karena Yanagi juga curhat ke dia XD Dan aku suka babak pas Yanagi bilang ke Souma kalau dia mau bicara, dan Souma sudah was-was mikir macam-macam apa yang kira-kira mau disampaikan sama Yanagi duluan. Eh ternyata Yanagi malah curhat tentang Kujo, diawali dari pertanyaan, "Menurutmu apa Kujo benci aku?" XD Soumanya langsung tatapan horor dan dia waktu itu rasanya pengin teriak; ini kenapa dua-duanya malah curhat ke aku?! LOL.
Mereka berdua ini persis sekali sama Obi dan Shirayuki walaupun kalau kasusnya Obi lebih ngebaperin karena sama posisinya, si laki-laki adalah tokoh pendamping dan si gadisnya itu tokoh utama yang sudah kelihatan sekali garis akhirnya dia bakal berakhir sama siapa sejak awal.

[ source ]
Lihatlah gambar di atas. Hanya dengan lihat Kujo senyum, itu sudah cukup buat Souma. Hahaha. Dengarkanlah tsunami air mataku gaes. :')

Souma ini tipe orang yang selalu merasa kurang. Baginya dunia itu sesederhana 'jadi nomor satu', jadi Souma selalu mengejar ini-itu, membuat perhitungan di sana-sini, dia nggak jadi dirinya sendiri karena berusaha menyenangkan semua orang. Sebenarnya kalaupun relasi antara mereka berdua mau diulas lebih banyak lagi di cerita, aku tetep mikir kalau mereka nggak bakal bisa bareng sih, karena Kujo nggak bisa memahami Souma di tahap itu.

Jadi, ada saat di mana Kujo tanya ke Souma, buat apa dia beli majalah fashion segala. Atau coba ikut kegiatan ini-itu, bergaul sama teman-teman yang punya peranan penting di kampus. Souma lalu jelasin kalau baginya, popularitas itu segalanya; dunia itu keras, kita nggak bisa benar-benar jadi diri sendiri kalau mau disenangin sama orang-orang. Sampai di situ aku paham maksudnya Souma dan aku setuju sebenernya.

Tapi sayangnya Kujo nggak ngerti. Kujo ini gadis yang sederhana, dia di kampus nggak jadi apa-apa, cuma gabung di klub astronomi saja. Temennya sedikit dan bisa dihitung jari. Makanya begitu Souma cerita kayak gitu, Kujonya bilang kalau dia tetep punya prinsip, apa pun yang terjadi, suka atau enggak suka orang lain sama sikapnya kita, ya kita tetap harus jadi diri kita sendiri. Kayak kutipan be yourself and don't care what others think.

Nah, di titik itu baru Souma sadar kalau Kujo nggak bakal bisa memahami dia. Itu yang bikin mereka berdua beda. ; v ;

You Might Also Like

0 comment(s)