6. Assassination Classroom: Karma/Okuda

Jumat, Juni 09, 2017

Ah, sampai juga kita di kapal minor (karena kalah sama Karma/Nakamura) yang nggak jadi kenyataan. Yang satu bocah ajaib nan bisa ditemukan di banyak cerita romansa tapi langka sekali spesiesnya di dunia nyata: berandalan, suka main pukul, ngomong kasar, seenak bebek, ngasih nama julukan ke guru yang diikuti temen-temen sekelas, asal nyeletuk tanpa dipikir, suka cari mati, punya pengalaman diskors, selalu menang adu mulut, serampangan, tapiiii punya jiwa memimpin, ganteng, dan pinter. Tiga kriteria yang bisa membuat kamu dimaafkan walau ngebom kota.

Pinternya matematika lagi.

Sementara si cewek, Okuda, tipe kutu buku (yap, hampir sama kayak Mary, iya) yang jago pelajaran Kimia. Jadi, dia ahlinya untuk membuat ramuan mematikan, dan Karma sebenarnya tertarik sama Okuda karena itu; dia pengin ngejahilin orang pakai ramuan biar bikin dia jadi punya kesan penyihir. Yap, daripada menganggap mereka itu pasangan, bisa dikatakan kalau keduanya friendship goals sih.

so kiyut ; v ; [ himavvari-0312.tumblr.com ]
Sayangnya mereka nggak jadi pasangan sungguhan di ceritanya (Ansastsu Kyoushitsu atau Assassination Classroom) karena ... mereka memang cuma sebatas sahabat saja, sih. Mereka satu kelas di tahun terakhir SMP, dan di situlah mereka mulai kenal satu sama lain. Okuda tipe cewek kutu buku tapi dia bukan orang yang bener-bener pendiam; dan Karma ngerasa kalau Okuda itu satu-satunya gadis yang bikin dia ngerasa nyaman untuk berbincang.

Tapi walaupun itu yang Karma bilang tentang Okuda, Karma nggak pernah benar-benar meluangkan waktunya untuk bahas hal-hal yang bakal bikin mereka tambah dekat lagi. Karma tahu kalau Okuda ini gadis yang bakal bisa mengerti dia; tapi Karma nggak coba membuktikan itu.


Okuda memutuskan untuk berhenti, karena ia juga tiba-tiba tidak tahu harus melakukan apa. Astaga. Kesalahan apa yang ia buat sehingga kedatangan Karma bagaikan karma baginya?

[ dikutip dari fanfiksi berjudul Sekelebat. ]


just date already, thank you. [ source ]
Aku punya spekulasi kalau Karma itu takut. Seperti yang dia bilang ke Okuda waktu mereka sempat punya waktu berdua, saat Karma bilang kalau dia sebenarnya phobophobia; punya rasa takut terhadap rasa takut itu sendiri. Takut kalau jangan-jangan dia sebenarnya harus merasa takut, merasa ada yang kurang kalau bisa melewati hari tanpa keraguan sama sekali, menyusun rencana dengan asal terjang tanpa berpikir lagi. Menurutku hal itu cuma dia ungkapkan ke Okuda, karena mana mungkin Karma mau mengakui itu ke teman-temannya yang cowok di saat mereka menganggap dia jagoan?

Bahkan setelah mengakui hal yang satu itu, Okuda masih mau nerima Karma. Atau setelah Karma dapat nilai jelek matematika, Okuda juga masih ada. Tapi kenapa mereka bisa-bisanya nggak jadian?

Karena Karma yang lari.

they're just so precious i cant [ source ]

Sejak Karma sampai titik di mana dia tahu bisa populer dengan semua yang dia punya, baik itu kemampuannya berantem atau otak jeniusnya untuk sukses jawab soal matematika anak kuliah saat SMP, dia punya rasa gengsi yang besar untuk mengakui kalau dia butuh seseorang. Ada saat-saat, waktu SMA, kuliah, atau sekarang jadi birokrat, dia ngerasa sepi. Dan dia tahu itu kenapa. Tapi nggak mau mengakuinya.

Mungkin sebenarnya ada saat-saat Karma pengin ketemu Okuda. Karena selepas SMP mereka nggak pernah ketemu lagi, dan salahnya dia yang nggak datang reuni membuat semuanya makin nggak ada harapan. Karma butuh seseorang untuk diajak bicara, dan itu Okuda, tapi, sampai sekarang, dia masih punya waktu untuk terus menangkis perasaan yang datang.

Aku nggak punya perasaan jelek tentang mereka, cuma, yah mereka karam karena sampai tamat pun belum jadian juga. Tapi menurutku karena masalah waktu, sih. Okuda satu-satunya gadis yang nggak menyayangkan itu di saat semua cewek lagi membahas betapa emannya Karma harus berandalan padahal bisa jadi suami idaman.

Okuda kan menunggu. <3

You Might Also Like

0 comment(s)