5. Harvest Moon: Gray/Mary

Jumat, Juni 09, 2017

Hai! Oke, karena kapal Obi dan Shirayuki sudah pernah kuulas di sini, jadi kita langsung lompat ke kapal nomor dua. Gray dan Mary, pasangan bocah penambang batu dan gadis penjaga perpustakaan di Harvest Moon Friends of Mineral Town. Aku jatuh cinta sama mereka berdua kali pertama main game ini, dan sebenarnya masih ngerasa bersalah sama Mary karena player-ku kunikahin sama Gray XD Maaf, ya Mer, tapi dia yang paling suamiable di antara hero lainnya di sana gimana dong. (...)

gray/player :") [ annie820511.pixnet.net ]
Mary pakai kacamata, bawa buku ke mana-mana, mau jadi penulis di masa depan. Dia sama Gray ketemu kali pertama di perpustakaan, dan (kalau nggak diganggu sama player-nya) mereka adalah pasangan paling kiyut yang pernah ada di game ini :") Kisahnya mereka bener-bener pelan-pelan, mulai dari ketemu, trus lalu Gray nyempatin datang ke perpustakaan dari jam satu sampai jam empat demi nemenin Mary, lalu lama-lama suka. Sederhana sekaliiii.

Aku selalu suka sama ide tentang Mary yang sebenernya punya banyak suara yang pengin dia teriakkan. Maksudnya ... biasanya orang yang pendiam kayak gitu kan. Dan Gray ini orangnya juga pendiam. Dia pekerja keras, dan sifatnya dia yang independen ini persis kayak Mary. Yang bikin mereka nggak cocok sebenarnya itu sih, dan hanya Mary yang tahu. Mereka perfect couple di luar, tapi diem-diem Mary memendam.

Mereka berdua jadi OTP-ku karena Mary itu kelihatan punya banyak rahasia. Sebenarnya sifat independen Mary lebih besar karena nyatanya dia bisa menenggelamkan diri di buku-buku, bisa pergi sendiri ke gunung untuk merasakan sepi, atau untuk lihat air terjun sendiri. Dan Gray itu yang mengubah aktivitasnya sehari-hari, menyesuaikan sama aktivitasnya Mary.

Sisi itu lho yang mengerikan dari seseorang yang hobi membaca x)) Aku pengin ngulik lagi tentang itu. Mary ini penyendiri, tapi ia punya skrip naskah di kepala; yang bisa memprediksi ke mana Gray membawa hubungan mereka, punya speaker di hatinya untuk selalu berteriak kalau dia benci semua orang yang ada.


Sekalian sajalah ia tak pernah bertemu dengan buku dan bertingkah enerjik pada dunia, memberi tahu semua orang bahwa ia selalu penasaran dengan ini-itu dan menjadi pencari kebenaran, tetapi hanya semangat itu saja yang ia punya. Tanpa tekad apa pun, bahkan tanpa memperjuangkannya juga, untuk mencoba mencari tahu dengan membaca. Kalau begitu, ia akan bisa punya banyak teman yang sama sepertinya, hanya bermodal omongan tentang misi diri tanpa tindakan, begitu terus sampai ia mati dan semesta melenyapkan eksistensinya tanpa tahu ia pernah ada di sini.

[ dikutip dari judul fanfiksi Alasan. ]


Sifatnya Gray itu kayak gimana? Pada babak di mana Gray pengin nyerah karena ngerasa pekerjaan sebagai penambang batu itu nggak menjamin apa-apa, Mary datang dan nyemangatin, dan di situlah Gray baru benar-benar ngelihat Mary. Karena sebenarnya Gray itu tipe-tipe kepala keluarga yang bisa ada di mana-mana; dia nggak bisa hidup sendiri.

Aku ngrasa ada yang aneh di diri Mary dari sejak saat itu, sih. Maksudku, nyemangatin-orang-yang-lagi-putus-asa itu bisa dilakukan semua orang, dan semua orang tahu itu. Aku nggak yakin Mary bener-bener serius, karena walaupun di babak pertemuan pertama mereka sebenarnya Mary yang duluan ngajak ngobrol, tapi di antara mereka berdua, yang lebih dulu suka itu Gray.

Menurutku, sebenarnya Mary nggak terima. Dia diam-diam nggak terima kenapa Gray mau begitu saja nyerah sama pekerjaan; sementara di sini, dia dari jam sepuluh pagi jaga perpustakaan yang nggak didatangi orang-orang. Itu bisa saja dirasakan sama orang yang hobinya baca buku dan memutuskan untuk jadi penjaga perpustakaan yang sehari-harinya membaca buku - saat di mana seseorang melakukan hobinya berkali-kali dan mencapai puncak kulminasi.

Lalu jenuh.

Mary sudah sampai tahap itu. Dia jenuh. Dengan semuanya.

Gray; yang pakai topi. Mary; yang pakai kacamata. x)
Dan akhirnya aku kepikiran sesuatu yang mengubah pandanganku soal mereka berdua: sebenarnya Mary menjadikan Gray itu pelarian. DING DONG. Tapi Gray nggak tahu, karena Mary selalu tahu bagaimana caranya bersikap dan bereaksi. Bagi Mary, interaksi yang dia jalin dengan Gray ini bisa ditemukan di semua novel romansa yang klise; dan ia, secara sederhana, ikut memainkan peran sekarang.


Alih-alih menjadi pelaku dengan segala petualangannya, Mary lebih memilih berperan sebagai pengamat yang sekadar tahu.

[ dikutip dari judul fanfiksi Pluviophile. ]


Temanku sebangku waktu kelas 2 SMA secara nggak langsung membuatku sadar kalau nggak ada orang yang benar-benar pendiam di dunia. Ini berlaku untuk Mary. Semua orang di Mineral Town tahunya Mary orang yang pemalu; termasuk Gray, sayangnya. Mereka hanya menganggap kalau relasi Gray x Mary itu manis kayak kembang gula; termasuk Gray, sayangnya (2), tanpa menyangka kalau Mary hanya sebagai pemain, dalam permainan yang hanya ia yang tahu.

You Might Also Like

0 comment(s)