29. Mind Palace

Jumat, Juni 30, 2017

Pernah denger soal "Mind Palace" alias Istana Pikiran, nggak?

Sebenernya biasa disebut Memory Palace Technique, tapi kalau yang nonton Sherlock pasti lebih familier sama sebutan Mind Palace ini. XD Tapi karena aku nonton Sherlock duluan sebelum tahu apa itu Memory Palace kayak yang aku baca di sini, apa yang aku pikirkan agak beda sama definisi aslinya.

Sherlock selalu bawa Mind Palace-nya ke mana-mana. Seperti apa yang dikatakan Tuan Magnussen di kasus His Last Vow, "Mengetahui adalah memiliki," dan apa yang aku tangkap dari komik Kungfu Boy (Sya, kamu sadar nggak kalau Sherlock dan Chinmi itu jauh banget?) waktu Chinmi bilang dasar dari menguasai pengetahuan adalah dengan menghayatinya, sebenarnya Mind Palace itu bisa dilakukan orang-orang biasa juga, walaupun nggak semaksimal itu.

Jadi gampangnya, yang dimaksud Mind Palace ini adalah ketika kita bisa membayangkan sesuatu, yang seolah-olah tampak nyata, padahal sebenarnya nggak ada; intinya tentang imajinasi.

re-watch scene ini berkali-kali. :"))
Seorang penyuka matematika yang bisa melakukan perkalian tiga digit dengan tiga digit tanpa coret-coretan, dia cukup menerawang dan di depannya dia ada angka-angka yang nggak bisa dilihat orang lain; angka-angka yang mengambang di udara itulah Mind Palace-nya dia. Seorang pemusik yang jari-jarinya bisa seperti sedang bermain di atas piano; piano itulah Mind Palace-nya dia.

Kalau kita sudah terlalu menyukai suatu hal, sampai menghayatinya, kita bisa membayangkan objek itu ada, persis dalam ukuran aslinya. Seenggaknya, secara kasar, itulah definisi Mind Palace. Atau artinya adalah istana pikiran; semua itu hanya nyata di pikiran kita. Orang lain nggak bisa melihatnya.

Aku baru ngeh kalau aku punya sedikit Mind Palace itu waktu tanggal 25 Februari 2016 di ruang TIK pas kelas 2 SMA. Satu komputer untuk satu-dua anak, dan aku kebetulan dapat komputer yang paling belakang. Komputernya nggak masalah sih, yang jadi masalah tuh keyboard-nya. Karena huruf-hurufnya sudah diacak; A jadi H, L jadi G, dan lain-lain, hampir semuanya keacak-acak.

Awalnya aku kesusahan. XD Terus pas aku coba ngetik cepet, aku baru sadar kalau yang perlu aku lakuin tuh tinggal natap layarnya aja, nggak usah mastiin dengan lihat keyboard aku neken huruf yang bener apa enggak, karena semua hurufnya nggak ada yang pas. Aku perlu ngehafalin susunan huruf-huruf yang bener, dan itu ternyata udah kecetak di pikiranku, jadi aku nggak mikir panjang dan langsung ngetik.

Aku kaget banget pas aku ternyata bisa! XD Lama-lama aku jadi keasikan, kan. Kalau netbook-nya perlu dicas dan nggak bisa kubawa-bawa, aku jadi suka main ngetik-ngetikan, jariku neken-neken huruf di keyboard yang cuma kebayang jelas di kepalaku. Begitu aku tahu soal Mind Palace dari hasil nonton Sherlock, aku jadi kepikiran kalau ternyata ini asik banget.

Lalu aku nonton Shigatsu wa Kimi no Uso yang dijadiin Drama Jepang, pas bagian Kousei 'main piano virtual' di atap sekolah. Atau pas dia lagi latihan di belakang panggung sebelum lomba. Gimana piano kayak ada di depannya, tapi orang-orang yang lewat cuma tahunya kalau dia lagi main piano-piano-an, padahal dalam pikirannya Kousei, piano itu beneran ada.

Piano itulah Mind Palace-nya Kousei. :")

Kalau di kasusnya Sherlock dan Tuan Magnussen, atau definisi Memory Palace, artinya lebih luas, sih. Tuan Magnussen tuh hebatnya kayak dia 'menciptakan' objek baru. Dia punya pengetahuan-pengetahuan, lalu dia ingat, dan di pikirannya berasa kayak kumpulan pengetahuan itu dikliping jadi satu, dibuat buku. Yang perlu dia lakukan kayak 'baca buku virtual', ya dia berlagak lagi ngebalik halaman dari buku di tangan, yang nggak bisa dilihat siapa pun kecuali dia sendiri.

mr magnussen nunjukin mind palace-nya dia ke sherlock dan john.
Hebatnya orang-orang dengan Mind Palace kayak gitu tuh, mereka bisa bener-bener 'nyimpen' di otak dan suatu saat bisa dibuka lagi. Keren banget, nyebelin asli, gimana coba caranya. :)) Kayak semuanya ada di kepala, dan ini bikin penasaran karena sebenernya kita bisa-bisa aja ngelakuin hal yang sama.

Masalahnya aku belum sampai tahap situ. Aku baru bisa membayangkan ada laptop persis seurutan QWERTY-nya di hadapanku. Tapi otomatis laptopku bakal langsung kesetel buka Office Word dan aku tinggal ngetik. Itu pun ngetik asal aja, aku belum bisa lalu bayangin seolah di layar laptopnya ada rentetan kalimat dari apa yang barusan aku ketik. Aku belum bisa klik Ctrl+S dan bikin dokumen itu bener-bener kesimpan di laptop itu.

Setiap kali aku ke Mind Palace-ku, laptop itu seolah kayak baru; isinya masih kosong. Aku harus ngisi dengan kalimat yang bakal aku lupain lagi. Yap, begitulah, ide yang tiba-tiba kelintas kalau nggak langsung dicatat aja bisa hilang begitu saja, gimana mau nyimpen sesuatu di bagian otak dan ngebuka lagi saat diperlukan? TvT

Kalau Mind Palace-nya Sherlock juga sama, dia butuh konsentrasi dan nggak boleh ada seorang pun yang melintasi zonanya. Makanya kalau Sherlock bilang ke John dia butuh berada di Mind Palace-nya, John praktis bakal langsung pergi. XD

h0w.
Sherl, dirimu bisa gampang banget gitu ... duh harus sepinter kamu dulu ya. :")

You Might Also Like

0 comment(s)