27. Dua Dari Dua: The Writer (?)

Kamis, Juni 29, 2017

Penggalan ceritanya bisa dibaca di sini. Dan postinganku ini bukan buat melanjutkan ceritanya, maaf ya. XD Seperti biasa (walaupun aku baru melakukannya satu kali) setelah selesai cerpen satu, aku bakal cerita latar belakang kenapa cerpen ini bisa ada. Nah, persis kayak alasan yang sebelumnya, lagi-lagi ini hasil mimpiku.

Aku masih inget waktu kelas 2 SMP pas pelajaran membatik di luar kelas, sahabatku, di depan temen-temen sekelas yang lagi membatik, bilang mau nunjukin aku sesuatu. Aku nggak mikir apa-apa, aku cuma ngira kalau seenggaknya mungkin bukan hal yang buruk, dan ternyata dia ngeluarin serangga yang jadi fobiaku banget, banget, BANGET.

Untungnya aku terlalu syok sampai cuma bisa memalingkan muka, tapi sumpah waktu itu, kalau nggak inget aku lagi di depan temen-temenku dan kalau nggak denger suara ketawanya mereka, rasanya kayak kena setrum. Aku kayak perlu mikir dulu buat harus menggerakkan anggota badan, dan beberapa malam setelah kejadian itu, aku mimpiin serangga itu dalam ukuran yang besar, di depan pintu kamar, dan kepalanya bahkan seukuran pintu.

Sampai sekarang aja aku masih kebayang gimana ngerinya. Temen sekelasku pas kelas 2 SMA, tepat hari ulang tahunnya, seisi tasnya dikasih benda fobianya dia dan aku denger dari mereka kalau dia langsung teriak, banting laptop, dan kabur. Akhirnya aku sama dua sahabatku ngeberesin karena mereka-mereka juga cuma main tinggal pulang aja, dan sebenernya aku ngelakuin itu lebih buat ke diriku sendiri. Fobia tuh, ya, fobia. Nggak bisa dibuat mainan, sekoplak apa pun fobia itu.

Hubungannya apa sama mimpi dan cerpenku?

Aku kebawa mimpi karena sebelum tidur aku baca ulang chattingan-ku sama sahabatku, dan terus aku inget kejadian pas kelas 1 SMA yang aku nggak bisa lupa. Waktu itu aku sama dia lagi bareng temen-temen yang lain, di luar gerbang, entah lagi ngomongin apa, sampai lalu salah satu temenku nuding kerudungku, "Ras, di kerudungmu ada #####!"

Nggak mungkin bohong di saat-saat kayak gitu.

Waktu langsung berjalan lambaaaat banget, aku kayak kena setrum virtual lagi, walaupun aku tahu serangganya cuma satu, tapi rasanya langsung ada banyak banget ngerubungin, di tangan, di kaki, di muka, kayak langsung ada banyak banget dan di mana-mana, jadi aku langsung nutup mukaku pakai kedua tangan, terlalu takut sampai nggak bisa ngapa-ngapain, aku cuma refleks madep sahabatku di sebelah sambil bilang, "Tolongin tolongin tolongin tolonginnnn."

Aku nunduk dalem banget, kepalaku tak gerak-gerakin, aku geleng sana geleng sini, harapanku sih bisa bikin serangganya langsung jatuh walaupun nggak mungkin segampang itu, aku tetep nutup muka, aku panik kuadrat. Yang aku lakuin itu malah bikin sahabatku jadi kesusahan ngambil serangganya dari kerudungku, dan walaupun dia bilang, "Jangan gerak-gerak," tapi ya aku tetep aja geleng-gelengin kepala terus-terusan.

Akhirnya serangganya bisa keambil, dan temen-temenku yang kelihatannya bingung kenapa aku bisa setakut itu akhirnya tahu kalau serangga itu fobiaku, dan reaksi mereka campuran antara, "Sumpah? Itu? Fobia? Kamu? SUMPAH?" dan, iya, rata-rata orang memang pada komentar gitu, sih. Kalau yang kita takutin itu hal-hal lumrah dan nggak mengundang pertanyaan, bukan fobia namanya.

Terus, setelah aku mengalami kejadian mati-sekali-dan-hidup-lagi pas akhir semester satu kelas 2 SMA, terlalu banyak hal yang berubah dariku dan rasanya berimbas juga ke caraku memperlakukan lingkungan di sekitarku (persis kayak orang habis hidup lagi dari mati suri, coba aja lihat tayangan ulangnya Kick Andy) (aku nggak banyak cerita soal mati-sekali-dan-hidup-lagi sih, tapi mungkin kalian bisa nebak-nebak apa yang terjadi dengan baca-baca postinganku di September dan Oktober 2015 dan lama-lama gaya nulisku beda) dan fobiaku ke serangga itu sekarang nggak parah-parah banget kayak dulu.

Gara-gara keingetan kejadian itu sebelum aku tidur, aku jadi mimpi, deh. Tentang fobiaku yang baru. Yang aku ceritain seuplik di cerpen bagian satu sebelumnya.

Omong-omong, itu bukan cerpen sih. XD Makanya nggak aku lanjutin. /dihantam

Sebenernya itu novel, yang sempet berhenti kukerjain karena diserang berbagai macam cobaan mulai dari ujian praktik sampai akhirnya pengumuman SBMPTN. Novelnya belum komplet sayangnya, aku sudah tahu gimana awal dan akhirnya, tapi ada satu scene yang aku masih harus banyak baca-baca adegan beginian dan latihan terus, biar kata-kata yang aku pakai bisa mendeskripsikan persis kayak yang aku bayangkan di kepala. :"D

You Might Also Like

0 comment(s)