26. Satu Dari Dua: The Boy

Kamis, Juni 29, 2017

the boy

Ini terjadi saat hari pertama masuk sekolah. Setiap kursi diurutkan sesuai nomor presensi, jadi kemungkinannya kecil untuk bisa sebangku dengan teman bekas SMP atau kenalan baru yang sudah lebih dulu curi garis awal dengan berbincang. Aku kebetulan bersebelahan dengan seorang anak perempuan yang ... parasnya biasa-biasa saja (hei, bukan berarti aku membuat perhitungan dengannya hanya karena hal ini), rambutnya sebahu lebih sedikit. Mungkin sampai bagian tengkuknya.

Gadis ini sudah duduk lebih dulu, jadi aku yang menghampiri. Begitu langkah kakiku sudah sampai pada jangkauan pandangnya, dia menoleh. (Sejak tadi ia memalingkan muka ke arah jendela seperti seolah tak ada di dalam ruangan, persis yang dilakukan Sahara menjelang dimulainya lomba cerdas cermat bersama Ikal dan Lintang dalam Laskar Pelangi.)

"Kamu yang jadi teman sebangkuku?" ia bertanya bahkan sebelum aku duduk.

Ingin sekali aku menjawab, "Bukan," dan memulai percakapan pertama kami dengan lelucon garing yang kulontarkan--jelas-jelas aku teman sebangkunya, siapa lagi yang berjalan melewati meja demi meja sampai akhirnya berhenti di paling belakang pojok ruangan kalau bukan aku?--tapi rasanya ia ingin mengatakan sesuatu dan aku harus menyimpan leluconku untuk lain waktu karena sebentar lagi kakak kelas kami datang, "Iya."

Gadis itu mengangguk. Oke, aku akan satu bangku dengan dia selama tiga hari, selama Masa Orientasi Peserta Didik Baru berlangsung. Aku baru meletakkan tasku di kursi saat dia menyambung lagi. "Aku mau ngomong."

"Oh." Aku mencoba agar tidak tampak terkejut. Dua kali gadis ini mengajakku mengobrol dan dua kali aku dibuat terkejut. Kini aku duduk, agak kikuk juga karena apa yang kulakukan justru mempersempit jeda di antara kami, di mana apabila ditinjau dari percakapan ini seharusnya aku mulai menjauh sampai pada titik radius dua meter lebih. "Apa?"

"Tahu sistem MOPDB di sini kayak gimana, nggak? Kita bakal dimarahi?"

Itu pertanyaan macam apa? "Jelaslah kita bakal dimarahi," aku menjawab cepat-cepat, dari jauh aku sudah mendengar bentakan-bentakan, pastilah itu dari senior yang mulai memasuki kelas-kelas. Beruntunglah kami ada di kelas paling jauh jadi kalau waktu mulai agak terulur bagi kami, "ini MOPDB, lho. Kamu kalau nggak mau dibentak harusnya pakai pita kuning. Dengan begitu, kamu akan praktis terhindar dari gertak-menggertak."

Pita kuning itu bukan kata sandi, itu arti harfiah. Untuk murid baru yang merasa tidak sehat, seperti mudah pingsan, jantungnya lemah, atau hal-hal yang berkaitan dengan ketidaktahanan terhadap bentakan-bentakan, wajib mengikatkan pita kuning di tangan, seperti gelang. Pita kuning itu harus disiapkan dari rumah karena tidak disediakan panitia, dan gadis itu tidak memakai apa-apa sama sekali di pergelangannya--oh, hanya jam di tangan kanan.

"Aku nggak bisa, soalnya aku bakal ditanya kenapa dan aku nggak bisa jawab pertanyaan itu."

"Memangnya kamu kenapa?" tepat setelah aku menanyakannya, di dalam kepalaku langsung berbunyi alarm peringatan, tanda bahwa aku telah mengucapkan kalimat yang sudah dipastikan akan merepotkanku dalam beberapa waktu ke depan. Atau lebih buruk, akan mengubah kisahku yang selama ini kuberi deskripsi singkat dengan mencuri judul Harry Potter bab pertama dan menambahkannya sedikit--the boy who lived (and just alive)--menjadi benar-benar berbeda seutuhnya.

Gadis itu, dalam satu gerakan memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Masing-masing telunjuknya menempel di pelipis kanan dan kiri, gaya seorang pemikir yang berusaha keras mengingat sesuatu, "Di sini," dia mengetuk-ngetuk kedua sisi kepalanya, "ada orang lain di sini."

"HAH--"

Pintu dibuka keras-keras. "BERDIRI!"

Serentak otomatis semua anak dalam ruangan berdiri, dan kami berdua berhenti bicara. Aku meliriknya, dan gadis itu menggigit bibir, berharap aku bisa paham hanya dengan secuil petunjuk itu yang ia ucapkan, padahal kenyataannya tidak. Tidak sama sekali. Apa maksudnya ada orang lain di dalam kepalanya?

Aku pernah beberapa kali menonton film horor dan aku lumayan tahu tentang ada orang-orang yang mempunyai kepribadian ganda di dunia ini, tapi ... masa sih? Lagipula, kalau memang dia punya kepribadian ganda, kenapa harus mengatakannya padaku? Kepribadian ganda bukanlah sesuatu yang perlu untuk ditakutkan dan tak ada hubungannya dengan menghindari bentakan-bentakan MOPDB, 'kan?

(Heeeei, IYA KAN?)

Senior yang tadi meneriaki kami itu menutup pintunya. "Pasang kartu pengenal kalian!"

Kartu pengenal yang terbuat dari kertas asturo berukuran A4 dilaminating dan diberi tali rafia supaya bisa dikalungkan adalah properti MOPDB yang sudah kami siapkan di rumah sebelumnya. Isinya nama panggilan besar-besar, kemudian nama panjang, kelompok, dan moto hidup. Aku mengalungkan kartu pengenalku dan gadis itu melakukan hal yang sama.

Namanya Lisa.

Senior itu mengambil spidol papan tulis dan baru akan menuliskan sesuatu ketika pintu terbuka. Salah satu rekannya, sesama panitia, melongok dengan tampang siaga satu. "Lur, kok bola tenis buat pos tiga kurang satu, ya? Kamu belinya berapa buah?"

Pertanyaan itu diterima dengan reaksi waspada. Ia meletakkan kembali spidolnya, meninggalkan kelas tanpa bahkan mengatakan sesuatu kepada kami. "Lho, perasaan sudah pas jumlahnya?" ia menutup pintu dan percakapan di antara mereka tak terdengar lagi. Kelihatannya ada kesalahan teknis dan aku bersyukur kesalahan itu terjadi di situasi ini dan yang salah adalah senior yang menjaga kelas kami, karena itu artinya konversasi bisa tersambung lagi:

"Yang tadi, maksudnya apa?" aku menoleh, "Lis?" dan menyebutkan namanya spontan, dengan nada buru-buru agar dia setidaknya tahu kalau kami berdua tidak punya waktu, dan aku masih harus memacu otakku untuk bekerja lebih keras agar bisa memahaminya, karena setelah ni aku bertanggung jawab atas segala peristiwa yang akan terjadi. (Walaupun, tolong, semoga tak terjadi apa-apa!)

"Kayak kepribadian ganda tapi beda," gadis itu, Lisa, menjawab cepat. "Kalau kepribadian ganda bisa menyabotase jiwa, kalau di kasusku enggak. Dia cuma di dalam kepala sini, mengamatiku, menjagaku."

"Menjaga?"

"Dia bakal secara praktis menghapus memori buruk yang datang ke kepalaku," Lisa menjelaskan dan aku terlalu terkejut, karena kalaupun aku boleh berbicara maka sudah dipastikan mulutku akan penuh busa, mengatakan berulang-ulang, "Apa? Apa? APAAA?" jadi aku hanya diam. "Walaupun itu baru saja terjadi. Bisa saja habis ini senior itu akan datang dengan pistol di tangan lalu menembak seseorang, kemudian kita semua menjerit, berlarian kalang-kabut."

"... Lalu, kamu?"

"Aku awalnya akan ikut kabur, tapi nanti ada titik di mana aku malah menemuimu dan bertanya apa yang terjadi."

"..."

***

yak sekarang sudah tanggal 29 dan mari kita selesaikan utang postingan ini sekarang. grao. *seruput kopi*

You Might Also Like

0 comment(s)