24. Dibalik No. 23

Senin, Juni 26, 2017

Yap, ini behind the story, sih. Aku mau cerita tentang apa yang terjadi dibalik pembuatan cerpen untuk postingan #nulisrandom hari ke dua puluh tiga. Jadi sebaiknya kalian baca dulu cerpenku yang itu sebelum ke postingan ini. Cuma cukup scroll aja kok, atau klik di archive juga boleh. XD Atau klik tautan ini juga bisa oke. 

Ehem, mulai. Aku jadiin poin-poin aja, ya.

SATU

Jadi, Yang Bisa Diceritakan ini adalah satu dari sedikit cerpen yang dimulai dengan tanpa niat membuat cerpen sama sekali. (...) Awalnya aku bikin tulisan itu tuh dengan tujuan untuk postingan blog, cukup. Awal-awal sengaja aku bikin dramatis, tapi ceritanya nanti bakal dihentikan di tengah jalan lalu aku balik ke gaya bercerita yang biasanya. Soalnya susah bangun seting (yang bangunan, lima belas orang, drone, bingkisan, dst.) kalau nggak diceritain kayak cerpen, takutnya nanti bosen, deh.

Yak, dan terus aku keasikan keterusan. (...)

DUA

Ini aslinya dari mimpi! XD Makanya aku bikin kayak gini. Aku pengin cerita soal mimpiku. Aku nggak tahu ini mimpi di malam sebelumnya atau yang sebelumnya lagi, tapi pokoknya aku mimpi bau-bau aksi kayak gitu karena kepengaruh Sherlock Holmes: The Final Problem. Nggak ada persis-persisnya sama sekali sebenernya, tapi ... pokoknya melibatkan pistol.

Kayaknya (kalau aku nggak salah ingat), walaupun di kasusnya Sherlock sebelumnya juga sudah dilihatin adegan tembak-menembak, tapi baru di kasus terakhir inilah bener-bener dilihatin betapa gemeterannya seseorang yang mencoba narik pelatuk pistolnya. Aku belum pernah megang pistol seumur hidupku, tapi aku cuma pernah denger kalau pistol itu--apa pun yang ada di bayangan setiap orang--pokoknya selalu, "Sebenernya lebih berat dari kelihatannya."


Oke, memangnya seberat apa? Aku penasaran banget. Atau di kasusnya The Hounds of Baskerville, seseorang yang megang pistol pakai dua tangan dan meleset, terus John datang dan megang pistol dengan sebelah tangan aja--yah, karena tentara, sih, ya--dan cuma satu peluru doang dan bisa tepat sasaran. Whao. Kayaknya gara-gara kepenasarananku akan pistol yang bikin aku keterusan dan kebawa mimpi, deh. (...)

TIGA

Aku nggak tahu aku yang mana di mimpi itu. Yap, beneran. Makanya postinganku nggak jelas yang mana yang cowok atau yang cewek, karena di situ bener-bener gelap. Terlalu gelap bahkan aku nggak tahu aku yang mana--jangan-jangan aku yang malah ngendaliin drone-nya malah. (...)

Waktu aku jadi perwakilan buat hadir konferensi di dalam gedung, ruangannya kan terang-benderang tuh. Aku yakin kalau itu aku. Tapi begitu bom meledak dan aku terlempar ke luar, lalu aku kejar-kejaran sama teroris (?) nya, kan lalu kamera berpindah, 'kan? Jadi nge-syuting (?) anak yang mau bunuh diri pakai kapak di atas perahu.

Nah, pas adegan itu, bener-bener gelap banget. Tapi rasanya nyata, dan terus seketika tokoh utamanya jadi dia. Soalnya pas si anak konferensi itu datang, yang disorot dan mendominasi emosi batin itu si tokoh di atas perahu--jadi kayaknya ada pergantian tokoh utama di sini. Terus aku malah ngerasa kalau yang di atas perahu itu aku juga.

Mimpi memang membingungkan. (...)

EMPAT

Sebenernya, ending-nya nggak kayak gitu. Jelaslah, ya, kita nggak bisa mengharapkan hal yang wajar dari mimpi. Aslinya aku nggak langsung mati di ujung gang. Kayak gini aslinya:

(01)

Aku lari dari kejaran teroris yang nyegat aku di gang.

Aku bisa melawan, dia kupukul, lalu aku curi semacam radio yang jadi alat komunikasinya mereka, habis itu aku lari lagi. Tiba-tiba aja rasanya aku tahu harus sembunyi di mana, harus lari ke mana, pokoknya yang bisa bener-bener kabur. Setingnya jadi ninja-ninjaan gitu, deh. Aku manjat sana-sini, lompat dari gedung ke gedung, ngeng berasa malam hanya milikku seorang.

(02)

Akhirnya aku kena tembak. Sakit banget, rasanya kayak nyata. :') /sya

Tapi aku tahu bagaimana cara bertahan dari tembakan pistol dari depan. Aku nggak tahu bener apa enggak, tapi aku bener-bener ngikutin penjelasan demi penjelasannya Sherlock pas dia ditembak Mary di His Last Vow (EH, ini spoiler. Maafkan daku. :"D /dihantam). Begitu dia ditembak; waktu langsung berhenti dan dia mendengarkan penjelasan dari orang-orang terdekatnya tentang apa yang harus dia lakukan kalau dia kena tembak.

Jawabannya sederhana, mempraktikkannya yang susah; menumbangkan diri. Kalau ditembak dari depan, tumbangin ke belakang. Kalau ditembak dari belakang, tumbangin ke depan. (Nggak tahu kalau ditembak dari depan dan belakang gimana.) Susah astaga, tapi yang penting jangan melawan arah pelurunya karena nanti bakal semakin ngerobek kamu dan salah-salah malah nembus.

Trus aku menumbangkan diri, kan.

(03)

Nah, ternyata nasibku baik, LOL.

Namanya juga tokoh utama di mimpi sendiri, kayaknya nggak mungkin kalau aku dibikin mati. Aku disekap di suatu ruangan yang kayak kamar rumah sakit pas Sherlock dibekep mulutnya di The Lying Detective. (Ini kenapa semua seting mimpiku dari Sherlock terus? Namanya juga kebawa mimpi, ya, LOL.) Tapi tanpa kasur. Bener-bener ruangan kosong.

Jadi, aku diselamatkan karena aku punya reaksi cepet untuk langsung menumbangkan diri begitu ditembak; soalnya, serius, itu susah, kita cuma punya waktu sebentaaar banget buat jatuh tanpa berpikir. Semoga aku nggak harus mengalami beneran karena aku di dunia nyata nggak mungkin bisa melakukannya. (...) /apaini

Akhirnya aku diancam, keluargaku bakal dibunuh kalau aku nggak mau menerima jadi agennya mereka. Ding dong. Alhasil aku jadi agen rahasia. Orang-orang tahunya aku sudah mati padahal aku cuma bersembunyi. (?) Dan akhirnya (akhirnya) mimpiku berakhir di sini.

LIMA

Lagu yang aku putar di cerpen, Somebody to die for, itu ... baper sekali. :")

Aku lihat video klip buatan fans yang bener-bener menggambarkan seseorang yang rela mati, rela bohong, rela dimusuhi, apa pun biar sahabatnya nggak dicelakai. Akhirnya dia baikan sama sahabatnya tapi si sahabat nggak seratus persen percaya lagi sama dia. Dia mau nggak mau harus nerima karena itu konsekuensinya kalau dia bohong ke si sahabat, walaupun tanpa pengetahuan si sahabat sebenernya dia melakukan itu untuk kebaikan. :")

Tapi dengerin lagunya tok sudah terlampau cukup untuk didengarkan. :'D Atau minimal kalau nggak tahu lagunya, anggap liriknya itu semacam kutipan juga sudah cukup memicu terjadinya tsunami air mata kok. :") Aku kepikiran buat masukin lagu ini begitu sadar dengan sangat terlambat kalau tulisanku bakal menjelma menjadi cerpen. XD

ENAM

Bagian akhirnya, "Yang Tertinggal", itu aku gatel banget pengin bikin mereka berdua berinteraksi.

Ceritanya percakapan itu pengin aku selipin di adegan menjelang potong tali tambang, tapi aku bayangin adegan itu dan rasanya saat-saat kayak gitu mencekam banget, apalagi si anak konferensi masih gemeteran nggak sanggup ngapa-ngapain. Alhasil mereka bener-bener nggak ada interaksi, dan aku jadi pengin bikin lanjutannya, soalnya duh nggantung banget itu. Dia sekarang di atas perahu terombang-ambing, bisa-bisa dia trauma seumur hidupnya, kebayang adegan sosok penyelamat dalam hidupnya melulu. :")

Awalnya aku pengin bikin si bocah perahu selamat. Tapi ya, nanti panjang ceritanya. Terus jadi romansa deh, mereka ternyata sama-sama selamat dan ketemu lagi waktu sudah besar, gitu? Yak, terlalu bahagia dan walaupun kejadian ini nggak realistis, jangan buat makin tidak realistis. (...)

Akhirnya tetap deh aku bikin dia mati, tapi aku nggak bisa menahan diriku buat nggak ngasih tambahan di akhirnya. Kayak dialog singkat keduanya seandainya semesta memberi waktu untuk mereka. :'D

You Might Also Like

0 comment(s)