23. [Short Story] Yang Bisa Diceritakan

Senin, Juni 26, 2017

her eyes. ;--;
|YANG HIDUP|

Gelap. Derap langkah. Kejar-mengejar. Napas memburu. Huh-huh-huh-huh.

.

Lima belas orang dalam satu ruangan, diundang secara resmi untuk menghadiri suatu acara yang resmi pula. Pembukaan sudah dimulai, sambutan dari seorang tokoh terkemuka yang dipanggil secara khusus untuk memberikan satu-dua patah kata telah usai. Suara tepukan tangan dari saya dan empat belas orang lain sebaya saya bahkan belum selesai, ketika pintu terbuka.

Tak ada yang bersuara seketika, kami semua menoleh ke belakang. Kedua daun pintu utama terbuka lebar-lebar, tak terlihat siapa sosok yang melakukannya. Hanya ada pesawat, drone murahan, yang dikendalikan dari jauh, mengangkut sebuah bingkisan kecil yang dihubungkan dengan tali—seperti seorang yang dinaikkan dengan balon udara.

Beberapa dari kami bertepuk tangan, kebanyakan dari kami buru-buru merogoh ponsel dan merekamnya. Saya berbalik badan untuk melihat air muka sang pemberi sambutan tadi—beliau tokoh besar teladan saya, jadi saya penasaran barangkali beliau ingin menyuarakan reaksinya. Namun mimik wajah beliau tampak kebingungan, justru memandang ke arah panitia di sisinya dengan raut bertanya-tanya. 

Kru yang ditanyai dalam diam malah melempar pandang ke rekan-rekannya yang berdiri di samping panggung. Beberapa wajah baru keluar dari balik tirai, ingin tahu. Saya mengerutkan kening. Ada yang tidak beres.

Drone pembawa bingkisan kecil itu terbang ke tengah ruangan, bersamaan dengan saya yang mulanya duduk di barisan terdepan paling ujung dan mulai berjalan perlahan mendekati jendela besar di kiri saya. Jendela besar yang ada untuk membiaskan cahaya matahari, namun karena sekarang nyaris tengah malam jadinya seperti untuk memberi tahu orang-orang jalanan bahwa sedang ada acara mewah di gedung ini yang bisa dihakimi dari cahaya lampu besar-besar yang berpendar.

Waktu saya cukup singkat karena bingkisan kecil itu telah dijatuhkan bahkan sebelum saya memastikan cara membuka jendela itu kalau-kalau saya perlu melompat keluar. Tak butuh waktu sedetik untuk sempat menarik napas, semua terlambat sadar kalau itu bom—ruangan itu meledak.

DUAR!

Saya terlempar keluar bangunan dari jendela.

.

Terpelanting, saya menubruk sesuatu dengan keras sekali—yang saya asumsikan pintu bangunan di seberang jalan. Kepala saya rasanya berdarah, badan saya sakit semua, benar-benar perih di setiap bagian tubuh. Mata saya berkunang-kunang dan rasanya saya sekarang berputar-putar. Sangat mudah untuk ambruk kapan saja karena toh sebenarnya sekarang saya bisa, hanya saja terdengar suara menarik atensi saya.

Bip bip bip bip bip bip bip—

Suara pin tersemat di saku atas kemeja saya. Pin warna hijau, bergambar semanggi berdaun empat—simbol keberuntungan. Karena memang dengan alasan itulah kami berlima belas dikumpulkan, semacam konferensi dengan perwakilan masing-masing daerah untuk menyumbangkan pendapat mengenai aksi sosial, bentuk terenyuh atas berita-berita kurangnya toleransi yang marak baru-baru ini.

Saya menunduk menatap pin yang kini berkelap-kelip itu. Belum sempat saya bertanya-tanya, saya mendengar suara teriakan yang saling menyahut satu sama lain dalam gedung di seberang. Cahaya lampu tergantikan dengan kobaran api, lalu lamat-lamat saya melihat bayangan seseorang dari kepulan asap.

Memandang saya. Menuding saya. Ada orang lain yang datang, melihat ke arah mana telunjuk orang pertama terarah, dan begitu menatap saya—atau sepertinya alih-alih bertatapan mata, kedua orang itu hanya menunjuk pin hijau menyala-nyala di saku saya karena hanya objek satu itulah yang tampak jelas di tengah kegelapan—ia melakukan hal yang sama; menuding.

Dor!

Astaga, kalau dia bukan menuding, tapi menembak! Tembakannya mengenai kenop pintu persis di atas kepala saya—sepertinya orang itu secara kasar mengira-ngira di mana tepatnya kening saya dengan memperhitungkan pin yang tersemat di saku kemeja—dan sukses membuat telinga saya berdenging hebat.

Lari, lari, lari!

Kedua tangan saya terlalu gemetaran untuk mencoba melepas pinnya, namun kaki saya cukup bisa diandalkan untuk refleks bangkit, walaupun terhuyung-huyung, menghilangkan diri dengan masuk ke dalam gang kecil samping bangunan. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di daerah ini jadi saya tak tahu harus lari ke mana.

Gelap. Satu-satunya yang terang hanyalah pin semanggi dan bip bip bip bip yang sepertinya menghantui saya, ujung gang membawa saya ke suatu rute jalanan baru di mana semua bangunannya seperti mati—tanpa suara, tidak tahu apa-apa, kota yang tidur. Jalanan yang sepi langsung saya terobos, saya memasuki gang sempit di antara dua bangunan lagi, saya hanya ingin lurus terus tanpa berpikir ambil kanan atau kiri.

Bip bip bip bip bip—

Astaga, astaga, apa suara dari pin semanggi ini tak bisa berhenti? Atau memang di sana poinnya? Barangkali suara inilah—bip bip bip bip—alarm kematian saya?

.

.

that look. :")
|YANG MATI|

Cause I don’t need this life.

.

Seseorang berdiri di atas perahu. Headphone terpasang. Kapak di tangan.

Malam ini, ada tiga hal sederhana yang harus ia lakukan. Pertama dan yang utama; memastikan semua seting dan objek berjalan sempurna. Malam hari ini cerah—sehingga ia tak perlu khawatir angin kencang akan menggoyangkan perahunya ke sana kemari dan berakhir dengan karam di suatu titik dan jasadnya tak pernah ditemukan, dan arus sungai yang deras—seperti malam-malam biasanya yang akan membuat perahu ini tepat sampai di kawasan pasar ketika arus mulai tenang pada pagi harinya.

Kedua, ia akan memutus tali tambang yang menghubungkan perahu ini dengan batu besar di daratan menggunakan kapak, sehingga sontak begitu terputus maka perahunya akan mulai bergerak mengikuti arus sungai.

Terakhir yang tak kalah sederhana, ia hanya perlu membunuh dirinya sendiri dengan kapak yang masih di tangannya, sekalipun ia belum sepenuhnya mempertimbangkan dengan cara apa. Putus pergelangan tangan? Tikam dada sendiri? Yah, toh ia punya waktu beberapa jam untuk memikirkannya.

Orang itu melihat pergelangan tangannya, sebentar lagi tengah malam tepat. Ia menatap kayu di tangannya, beralih pada tali yang terikat di batu besar, lalu lurus-lurus menatap ujung sungai tak terlihat yang akan ia susuri sepanjang malam sampai mencapai kawasan pasar.

Tubuhnya akan ditemukan orang-orang, dibawa ke darat di tengah-tengah jeritan. Kehidupan tak bergunanya selama ini setidaknya setimpal apabila kematiannya dapat sukses membuat surat kabar esok hari jadi tak laku.

.

And I will let the devil know that I was brave enough to die.

Dilepasnya headphone yang melingkari kepalanya seperti bando, lalu mengalungkannya. Lagu yang terputar terus-menerus berganti menjadi semilir angin yang akhirnya berhasil juga menyeruak masuk dalam jangkauan pendengarannya. Ia yang memilih mati hari ini, ia juga yang memilih lagu kematiannya sendiri.

Dor!

Tembakan itu membuat air sungai di samping perahunya beriak—seperti kalau seseorang melemparkan batu dan membuat airnya terciprat ke mana-mana. Ia menoleh, dan melihat sayup-sayup mendengar suara. Derap langkah. Seseorang muncul dari celah sempit yang menjadi jeda dua toko kecil, dan menangkap suara yang makin lama makin keras bunyinya.

Bip bip bip bip bip—

Mereka saling lihat—cukup sulit untuk memastikannya di tengah kegelapan, tapi setidaknya ia tahu bahwa keduanya bertemu muka. Dan orang itu berlari ke arahnya. Napasnya memburu. Kedua tangannya gemetaran, dan begitu orang itu berhenti berlari sekejap kedua kakinya menjadi gemetaran juga—dan orang itu tak perlu memastikan bahwa seluruh tubuh lawan mainnya berguncang hebat.

“Bantu! Ini! Bantu aku!” suaranya seperti tercekik, tangannya tak bisa berhenti bergetar memegang saku baju resmi yang dipakainya.

Bip bip bip bip bip—Rupanya suara itu berasal dari pin kelap-kelip hijau yang dipakainya. Kapak di tangan dijatuhkannya begitu saja, tak sempat pula mengecek sudah tepat tengah malamkah sekarang, ia buru-buru mencoba membantu melepas pinnya.

Suara derap langkah semakin terdengar. Sebenarnya melepas pin bisa saja sangat mudah, namun sekarang yang ada hanya gelap dan tekanan yang makin lama makin mencekam saja rasanya, mereka berdua jelas akan kehabisan waktu. Kalau mereka berdua ditemukan, ada kemungkinan ia akan ikut ditembak mati juga, dan sia-sia rencananya kalau mati dengan cara begitu.

Ia sudah tidak memakai headphone, tapi lagu itu masih berputar dan sebaris lirik yang seperti membangunkannya terdengar samar-samar.

And I don’t need this life; I just need somebody to die for.

Astaga. Ia butuh seseorang yang menjadi alasannya mati. Serius? Lagu favoritnya sepanjang masa kini menjelma menjadi nasihat tua yang membuatnya membuang rencana?

Ia berdecak kesal, seketika membenci dirinya sendiri.

“Sini!” ditariknya orang itu agar memasuki perahu. Kemudian dengan satu gerakan, ia melepas kemeja yang dipakai di mana pin semanggi terkutuk itu tersemat, kemudian dikenakannya sendiri. Seorang di hadapannya terlalu gemetaran untuk melakukan apa pun, jadi untung juga baginya. Tak sempat bercakap-cakap, baik ruang maupun waktu tak mengijinkan keduanya bisa sama-sama melakukan apa yang mereka inginkan.

Dipungutnya kapak, melompatlah ia keluar perahu.

Lalu tanpa berpikir lagi, ia memutuskan tali tambang yang mengikat pada batu.

Sungai bertindak gesit—membawa perahu dengan cepat dan menghilangkannya dari jangkauan pandang. Setidaknya, sekalipun nanti ketahuan bahwa ia bukanlah sosok yang sebenarnya harus mati kena tembak, itu sudah cukup untuk mengulur waktu. Tak cukup hanya untuk berdiam diri, ia melempar kapak ke dalam sungai. Ekor matanya menangkap sosok yang menyusul muncul dari gang sempit, ada beberapa, membawa senjata.

Dor!

Orang pertama menembak, meleset, mengenai air. Keberuntungan baginya untuk kemudian langsung berlari sekencang-kencangnya—ke arah yang berlawanan dari arus, mencuri perhatian semua penembak di situ—lalu segera masuk ke dalam gang sempit lain yang berjarak beberapa bangunan berikutnya.

Ini kota di mana ia lahir. Ia hafal mati setiap bagian daerah-daerah ini. Karena itulah orang itu juga tahu bahwa seharusnya ujung gang ini adalah rute jalan lain yang terbuka, bukannya buntu di mana dua orang dengan pistol di tangan mencegatnya di akhir.

Bip bip bip bip bip—

Don’t go gentle into that good night; rage on against the dying light ….

Dor!

.

.

cute but deadly. ;;
|YANG TERTINGGAL|

“Siapa kamu?” kamu bertanya di sela-sela tarikan napasmu.

“Seseorang.” Samar-samar kamu merasa dia tersenyum saat mengatakannya, tapi semuanya terlalu gelap, dan juga terlalu cepat. “Yang seharusnya mencabut nyawa sendiri tapi berakhir menyelamatkanmu.”

TAMAT

You Might Also Like

0 comment(s)