21. Software

Sabtu, Juni 24, 2017

Sekarang hari terakhir Ramadan dan mendadak aku pengin bisa bikin software.

[ source ]
Nggak nyambung, jelas. (...)

Nggak ada kaitannya sekali antara hari terakhir Ramadan sama keinginanku bikin software. Memangnya jenis software macam apa yang aku buat, dan memangnya aku tahu apa tentang pemrograman kayak gitu, sementara sampai tadi aku masih tanya sama adekku, "Dek Dama, software tuh aplikasi bukan?" jadi jelas aku nol besar banget soal software ini.

Tapi terlepas dari aku mau bikin software kayak apa, aku pengin software itu 'seolah' terbagikan secara gratis ke semua orang, tapi sebenernya cuma orang-orang tertentu yang bisa buka karena aku kasih password. Sebenernya pertama kali mikirin ini, rencanaku cuma sampai situ, aku kasih kata kunci tapi toh sebenernya semua orang bisa minta kata kuncinya dengan kirim pesan ke aku. Tapi lalu aku berubah pikiran.

Ini masih kasar banget dan terlintas jam setengah tiga pagi di masjid pas aku iktikaf terakhir, dan aku jarang banget dapat ide di saat-saat kayak gitu, jadi menurutku, walaupun masih abu-abu di kepala, aku harus menuangkannya ke dalam bentuk tulisan karena siapa tahu ingatan ini bisa hilang. Entah juga sih ini ide besar atau semacam celetukan putus asa karena akhir-akhir ini aku nggak berselera menuangkan sisi humor di cerpen-cerpen yang aku bikin, tapi ya ... nggak papalah kita coba.

Ada satu sisi di mana aku pengin semua pengguna software ada dalam pengawasanku, tapi ada juga satu sisi di mana kata kuncinya itu adalah jawaban dari suatu teka teki. Ada pertanyaan, yang jawabannya terdiri dari satu kata dan sepuluh huruf, pertanyaan yang juga sudah datang ke kepalaku ... tapi sayangnya aku belum tahu jawabannya LOL. /dihantam

Tentu kalau aku pilih opsi kedua, aku berarti harus memakan risiko karena jelas akan ada orang di luar sana yang bisa mengakses software-nya secara sederhana karena dia tahu jawabannya, dan itu bakal tanpa sepengetahuanku. Kalau aku mau mereka membagi biodatanya, berarti masalahnya ada di kata-kata pembuka yang entah bagaimana bisa ngeyakinin mereka.

Lalu gimana sama orang-orang yang nggak tahu jawabannya? Aku mikir kalau mereka mungkin perlu bimbingan (?) atau setidaknya, aku mungkin perlu kasih beberapa klu ke mereka, klu yang bikin mereka jadi menyusuri jalan setapak yang sama kayak aku untuk mendapatkan jawaban ini. (Karena, iya, ini aku bilang lagi: aku juga belum tahu jawabannya.)

Mungkin kayak gini opsi buat mengirim pesannya:
  1. Kasih tebakan, aku cuma perlu jawab Benar / Salah
  2. Minta klu
  3. Minta klu setelah aku bilang Salah
Sekarang sudah lewat beberapa jam sejak pertanyaan itu muncul di kepalaku, tapi aku belum dapat jawabannya, dan ini sebenernya nggak lucu karena ya masa aku yang bikin tapi aku sendiri susah menemukan jawabannya? Tapi lalu kutipannya Conan terlintas di kepalaku:


Tidak ada misteri di dunia ini yang tidak bisa dipecahkan.
- Conan Edogawa (Detective Conan)


Lalu aku kepikiran juga; ya, mungkin jawaban dari teka-teki itu nggak datang dari aku? Waktu sahur terakhir tadi aku makan sambil mikirin itu. Mungkin aku butuh bantuan dari seseorang buat nemuin jawabannya? Tapi kalau kayak gitu, artinya aku main curang dong. Gimana aku bisa mengharapkan ada orang yang bisa jawab teka-teki ini sendiri kalau aku yang bikin pertanyaannya aja minta bantuan orang lain?

Tuh, kan, aku sudah kepikiran macam-macam padahal ini baru cari kata kunci cara masuk ke software yang aku bikin. Sebenernya aplikasinya kayak apa begitu kita berhasil masuk sudah ada di kepalaku, tapi aku nggak yakin bisa mewujudkannya seratus persen kalau aku mulai aja nggak tahu dari mana.

Tapi sebelum aku ketemu temen yang bakal ngajarin aku bikin software, mungkin aku harus cari jawabannya dulu ; v ; Jadi, teka-tekinya itu persis kayak soal bacaan tentang poster atau iklan di pelajaran bahasa Inggris. Disajikan gambar, lalu ada pertanyaan, dan kita menjawab pertanyaan itu dengan mengacu pada gambarnya.

Nah. Gambarnya sederhana:


Berbahagialah kalian karena hanya orang Indonesia yang punya kesempatan untuk bisa menjawab soal ini. (Iyalah, Sya.) Iya, gambarnya di kepalaku sesimpel itu; tulisan sepuluh huruf, yang barangkali itulah kalimat yang kalian baca pertama kali di TK. Pertanyaannya juga cukup sederhana, apalagi jawabannya juga sama; sepuluh huruf.

Tapi ... aku mau coba cari jawabannya dulu. Aku bakal langsung kasih pertanyaannya ke kalian begitu aku sudah ketemu jawabannya. XD /dihantam (2)

You Might Also Like

0 comment(s)