20. [Fiction] Tentang Sebab-Akibat

Kamis, Juni 22, 2017

Pernah dengar hukum sebab-akibat?

Biasanya kalau dalam percakapan sehari-hari, kita menyebutnya karma, sih: menuai apa yang kamu tanam. Gampangnya, kalau kamu menyakiti hati seseorang, nanti ada saatnya seseorang menyakiti hatimu. Kalau kamu sudah punya pacar tapi buka cabang (?), suatu hari nanti orang yang kamu suka bakal mengkhianati kamu juga. Itu namanya karma, yang kalau aku lebih suka nyebutnya hukum sebab-akibat.

[ blog.udemy.com ]
Sayangnya, kadang hukum sebab-akibat bahkan nggak terjadi sejelas itu. Kita yang melakukan, bisa jadi yang kena akibatnya bukan kita, tapi orang terdekat kita. Nah, ini yang mau aku ceritain sekarang. Karena entah kenapa, ya walaupun sebenarnya kita nggak bisa tahu pasti tepatnya sebab yang mana dari akibat yang menimpa kita, tapi menurutku jauh lebih miris kalau yang menerima akibatnya justru bukan kita sendiri.

Tentang Sebab-Akibat

Daripada pakai alfabet yang bikin aku sendiri pusing, mending kita sebut si tokoh utama ini dengan nama Illia--aku ambil secuplik dari nama aslinya sih. Satu kata yang cukup untuk mendeskripsikan dia, dia ini playgirl. Sebutannya sudah nggak zaman, ya, tapi intinya dia nggak pernah benar-benar serius menjalani suatu relasi, dia deketin si ini, si itu, dan ajaibnya, selalu berhasil.

Dia punya sahabat namanya Ami--ini aku ambil dari nama aslinya juga. Aku sebenernya nggak pernah paham sama persahabatannya mereka, karena mereka berdua itu beda banget. Seisi sekolah jelas tahu kalau Illia ini anaknya sangat menjunjung tinggi sosialita, sementara Ami ini relatif biasa-biasa saja. Ami ini punya pacar, yang di sini kita sebut Romy.


PADA SUATU HARI YANG CERAH, Illia pamer ke Ami kalau dia baru saja dapat hadiah dari laki-laki yang lain, anak pecinta alam yang suka ngabsenin gunung satu-satu dengan menaklukannya. Dia dapat kertas tulisannya, "SEMANGAT BELAJARNYA:) 1726 MDPL", artinya tulisan itu dibuat waktu si laki-laki ini sudah sampai di puncak, ketinggian nyaris dua ribu meter dari permukaan laut.


Ami: Terus, kamu balas nggak?
Illia: Masa' cuma kayak ginian aku balas? Aku pulsek ada janjian makan sama si maniak sepak bola anak Aliansi Tenggara.
Ami: Hmm. Kasihan dianya naik gunung bawa-bawa kertas sama spidol, udah repot-repot.
Illia: Yaa nanti kalau dia tahu aku makan sama cowok lain lagi, aku tinggal bilang kalau dia cuma temen.
Ami: 'Lagi'? Memangnya dia langsung percaya? 
Illia: Nah, itu lho, Mik, masalahnya; iya, dia langsung percaya.


Illia sebenernya tahu sih kalau Ami ini nggak pernah bener-bener seratus persen dukung apa yang dia sukai; jalan sama si A, makan sama si B, terus malamnya chattingan sama yang lain lagi. Tapi secara Ami ini orangnya adem dan kalem, tipe-tipe yang sebisa mungkin mencari celah adanya jalan damai, jadi mereka nggak pernah ada konflik.

Dan Illia juga nggak pernah ngepermasalahin, sih. Mau Ami dukung dia atau enggak, toh yang ngelakuin kan, dia sendiri. Nanti kalau hukum sebab-akibat itu beneran ada, yang kapok kan dia? Ami nggak ada rugi-ruginya.


PULANG SEKOLAH, Illia langsung ngacir ke restoran deket sekolah, tempat dia janjian sama si maniak sepak bola ini. Kita panggil dia Sein (yap, aku ngacak dari nama aslinya, dan ... makan waktu agak lama betewe, namanya terlalu susah untuk diacak lol). Sein sudah nunggu, dan Illia nyamperin, lalu mereka ngobrol. Ya, secara Illia ini terlampau berpengalaman, dan dia punya sisi humor yang bagus, dan kebetulan dia lumayan tahu soal sepak bola, jadi seolah mereka nyambung.

Sampai datanglah perusak suasana. Laki-laki yang dari tadi ngelihatin mereka, lalu akhirnya memutuskan buat mendatangi meja tersebut dan mulai menyapa.


[???]: Illia?


Tebak dia siapa?

Begitu namanya dipanggil, Illia sudah berasa seolah disambar petir, sebelum dia menoleh, di dalam kepalanya sudah menampilkan daftar kemungkinan-kemungkinan siapa laki-laki yang manggil dia. Besar kemungkinan kalau yang manggil itu yang pernah dia deketin, dan alarm di otak sudah tersetel mode siaga satu karena gawat banget kalau yang manggil itu si anak gunung. Illia noleh, dan ...

Ternyata itu Romy. Adegannya kayak di sinetron di mana kamera ganti-gantian nge-close up wajah mereka berdua, lalu backsound suara drum, dan momennya berlangsung lambaaat banget berasanya.


Illia: Romy?
Romy: Haloo.
Sein: Siapa, nih?
Illia: ... Pacarnya sahabatku.


Untungnya jawaban itu skakmat buat Sein dan nggak ada alasan dia cemburu (ya kali cemburu sama pacar sahabat?) tapi sekarang Illia yang ... terguncang. Ami nggak bilang kalau dia ada agenda makan siang sama pacarnya, dan Illia juga tahu kalau Ami nggak suka tipe-tipe restoran fast food kayak gini, karena bahkan tuh bocah lebih pilih bawa bekal daripada jajan di kantin. Jadi kenapa Romy ada di sini?


Romy: Ami di mana?
Illia: Sudah langsung pulang.
Romy: Nah. Oke, deh.
Illia: Kamu ke sini ngapain? Makan sama siapa?
Romy: Mau kamu bilangin ke Ami?
Illia: Kamu makan sama cewek? Berdua?


Jelas Illia langsung bisa nebak dengan akurat. Ini yang lagi dia lakukan sekarang; dia juga lagi makan berdua sama cowok lain. Makanya Illia bisa nembak ke arah situ, tahu kalau Romy pasti punya janjian sama cewek lain yang entah siapa.


Romy: Cuma temen kok.
Illia: ...



HABIS NGOMONG KAYAK GITU, Romy-nya pergi. Sein-nya bingung, walaupun dia coba ngerti. Tapi sekarang Illia sudah nggak fokus lagi makan sama Sein, dia mikirin Ami yang hampir setiap hari pasti cerita soal Romy. Sebenernya Illia nggak pernah bener-bener dengerin, tapi pasti Ami cerita. Pasti kalau mereka berdua ngobrol, Ami bakal ujung-ujungnya ngomongin Romy juga. Dan sekarang, Ami nggak tahu kalau Romy lagi makan sama cewek lain.

Illia-nya diem. Waktu Romy bilang "cuma temen", rasanya jleb ke dia. Sekarang dia lagi makan sama Sein yang notabenenya, kalau semisal di sini ada sahabatnya si anak gunung yang memergoki mereka, Illia juga bakal bilang hal yang sama, kalau Sein itu cuma temennya. Persis kayak Romy yang bilang kalau cewek yang dia ajak makan ini cuma temennya juga. Akhirnya Illia nggak tahan.


Illia: Eh, Sein, aku boleh nyamperin Romy bentar nggak?
Sein: Dia tuh lagi makan sama cewek, padahal dia pacarnya sahabatmu?
Illia: Iya. Bentar aja, paling cuma motret mereka berdua terus udah.
Sein: Oke.


Untung Sein ngerti. Akhirnya Illia berdiri lalu pergi, dia nyari ke setiap tempat duduk, minimal dia mau tahu dia kenal nggak sama cewek yang makan bareng sama Romy. Setelah sibuk nyari, akhirnya Illia nemu Romy, duduk di tempat duduk luar, masih sendirian. Dia samperin deh. Romy-nya sudah notis duluan sebelum Illia sampai.


Romy: Belum dateng nih ceweknya.
Illia: Siapa emang?
Romy: Temen doang. Beda sekolah. Kamu nggak kenal.
Illia: Aku bakal bilang Ami.
Romy: Bilang aja. Ami tahu nama ceweknya kok. Seenggaknya, aku pernah nyebut sekali pas aku cerita soal event yang panitianya perwakilan dari sekolah-sekolah, aku sama dia sama-sama divisi Kehumasan. Tinggal ngingetin dia, bilang kalau aku pernah nyebut namanya, trus nekenin kalau kita cuma sama-sama anak Humas.
Illia: Enggak, nggak bakal cuma itu. Emangnya Ami percaya sama kamu?
Romy: Itu masalahnya, Li; Ami bakal percaya.



RASANYA KAYAK BERCERMIN, itu bagi Illia waktu dia ngobrol sama Romy. Jalan pikirannya Romy bener-bener persis seperti selama ini dia memperlakukan semua laki-laki yang dia deketin, jadi Illia bisa memprediksi juga ke mana arahnya. Illia juga tahu kalau semisal Ami nanti tahu, Romy bakal bisa ngeyakinin kalau dia dan si cewek cuma temen.

Sekalipun sempet marahan atau gimana, Illia percaya kalau Ami bakal percaya, Illia tahu pada akhirnya mereka bakal baikan kayak nggak ada yang terjadi. Karena itulah yang ia alami sama laki-laki yang pernah memergoki dia makan sama laki-laki lain, dia selalu sukses bikin mereka damai lagi.


Illia: Kalau Ami tahu, dia bakal sakit banget, Rom.
Romy: Percaya karma nggak, Li?
Illia: Emangnya bagian mana yang karma? Ami nggak pernah makan sama cowok lain.
Romy: Ami-nya enggak. Tapi kamu kan iya.
Illia: ...


Skakmat.

TAMAT


Ceritanya berakhir dengan sanggat nggantung, iya. Tapi itu yang mau kusampaikan sih. Memang hukum sebab-akibat itu misterius dan nggak ketebak tindakan mana berakibat apa, tapi apa yang kita lakukan bisa jadi berimbas ke sahabat kita. Kayak yang terjadi sama Illia sekarang. Dia suka makan sama cowok ini dan cowok itu, lalu ternyata pacarnya sahabatnya juga melakukan hal yang sama.

Walaupun nggak secara langsung nimpa Illia, tapi sebenernya Illia lebih-kurang sudah ngerasain akibatnya juga. Dia seolah 'dipertemukan' sama seseorang yang persis banget kayak dia, hanya saja kali ini seseorang itu berkhianat sama sahabatnya sendiri. Antara nggak terima karena sahabatnya yang sakit hati, tapi nggak bisa menyudutkan juga karena Illia sendiri tipe yang kayak gitu.

You Might Also Like

0 comment(s)