19. Tiga Tahun

Rabu, Juni 21, 2017

p o s t i n g a n   s e b e l u m n y a  }


Tiga tahun. Kalau di posisiku, aku menunggu tiga tahun.


Sebut saja namanya H. Dari hantu, LOL. Bercanda ding.

Dan sebenernya, ‘menunggu’ itu kosakata yang salah karena memangnya aku menunggu apa? Lebih tepatnya, aku ditinggal tiga tahun. Persis kayak yang aku ceritain sebelumnya tentang John Watson ditinggal Sherlock, aku pun begitu juga: selama tiga tahun itulah aku jungkir-balik nggak keruan dalam mode five stages of grief, masuk SMA dengan niat nggak membahas ini sama sekali ke teman-teman baru, ikut kepanitiaan, ikut ekskul, mengisi kegiatan sehari-hari dengan segala hal, mencoba sibuk agar melupakan.


[ kelas sepuluh ]

Ini di SMA Negeri 6 Yogyakarta.

Tahun pertama jelas susah. Aku masuk kelas X MIA EP di ruang 212, kelas dengan anak-anak yang ajaib, rumah kedua, keluargaku juga. Semua yang di situ sahabat, kita bahagia bareng, susah-seneng bareng, cunthel bahasa Prancis bareng. Kita berbagi cerita dan ada saat-saat yang sangat susah buatku untuk menahan diri agar nggak melakukan hal yang sama.

Aku ketemu dua sahabat di kelas itu, namanya Lisa dan Shelly. Kita bertiga dekeeet banget, ke mana-mana selalu bareng, gila-gilaan ya pernah, marahan ya pernah (dan sering lol), alay juga pernah. Saking deketnya kita ngerasa kalau kita bertiga ini bener-bener saling melengkapi, Shelly bilang kalau masing-masing dari kita ini sepertiganya kita. Kayak gitu, deh.

Lalu, aku lupa siapa di antara mereka yang mulai lebih dulu, tapi akhirnya aku nggak tahan juga untuk menceritakan tentang H ke mereka. Tapi, ya, aku nggak pengin bener-bener ketahuan, jadi aku ceritanya ke Lisa dan Shelly secara terpisah.


[ shelly ]

Jadi, aku masuk kelas sepuluh itu, aku punya satu akun media sosial yang kunonaktifkan. Kalau ditanya, aku selalu bilang kalau aku nggak punya, padahal aku sebenarnya pernah punya. Lewat akun itu aku sering ngobrol sama H ini; jadi saking alay-nya kita, kita mengunduh aplikasi chatting yang anti mainstream dan cuma sama H aku pakai aplikasi itu.

Waktu aku main di rumahnya Shelly, harusnya ada Lisa juga tapi Lisa belum datang, Shelly ngajak aku bikin akun di media sosial itu. Akunya sempet bereaksi kayak orang kena kejut listrik, karena aku sebenernya kadang-kadang sudah nyaris melupakan, terus tiba-tiba di siang bolong aku dibikin keinget lagi.

Akhirnya kita berdua bikin akun itu. Lalu janjian saling ngobrol di sana. Lambat laun, kita lebih sering pakai LINE, dan toh kita berdua ketemuan setiap hari, jadi akun itu terabaikan begitu saja. XD Cuma bertahan beberapa hari, ya? Toh kita berdua nggak ada yang nganggap ini berat-berat, jadi ya sudah, mari kita lupakan kalau kita pernah bikin akun di media sosial ini. XD


[ lisa ]

Kalau ke Lisa, aku cerita tentang H pas perjalanan yang aku lupa dari mana mau ke mana, tapi waktu itu kita lagi di motor dan aku boceng dia. Biasanya kalau aku mau inget H itu pas aku lagi sendirian dan lagi ngerasain angin, sementara itu posisinya kita lagi diem dan anginnya kenceng. Oh, aku inget. Ini waktu kita nyasar kayaknya. Eh, aku lupa juga, sih.

Sayangnya, aku malah cerita hal-hal tentang aku sama H yang nggak penting. Kita nggosip, kita ngomongin kemampuannya H yang bisa tahu seseorang bohong atau enggak, ngomongin sepak bola dan betapa anak-anak kos di deket rumah H ribut banget kalau bola masuk gawang, segala cerita dua-anak-bersahabat yang normaaaal banget.

Iya, aku nggak bilang ke Lisa kalau H sudah nggak ada. Jadi, aku malah nggak cerita bagian terpentingnya. :”) Waktu itu aku lagi butuh orang buat aku ceritain untuk mengenang bareng saat-saat aku sama H, dan Lisa yang lagi ada sama aku, jadi aku cerita aja. Aku pengin mengenang momen yang nyenengin, jadi aku cerita yang seneng-seneng aja. :”)


[ kelas sebelas ]

Naik ke kelas 2 SMA, aku di 11 IPA 6. Hah, alhamdulillah, aku punya banyak banget permasalahan di sini yang bikin aku stres LOL. Mulai dari ekskul, kakak kelas, kegiatan, sahabat, sekolah, dan lain-lain, sampai nggak bisanya aku berbaur sama temen-temen sekelasku. Pesan moralku dua semester di bangku kelas sebelas ini: aku bisa lupa. Aku bisa lupa! Yay. Kayaknya aku nggak pernah sekalipun ingat soal H di kelas sebelas ini. :)))


[ kelas dua belas ]

Aku di 12 IPA 5. Aku deket sama Jihan, Fatma, Afi, Dhiar, Oca … temen-temen sekelasku di sini seru dan asyik pakai banget. Kita punya banyak tekanan kelas dua belas yang sebentar lagi ujian, jadi untuk beberapa saat, aku masih lupa tentang H. Aku nggak ingat kapan persisnya, tapi yang jelas waktu itu pemicunya adalah aku sendiri, sih. Aku cuma lagi merenung, lalu tiba-tiba, datang tak diundang, aku inget H.

Yang ada di pikiranku cuma:


Wah, aku sudah bisa melupakan, ya?


Oke, tentu kalau aku ingat, artinya aku nggak lupa, dong. Waktu itu mungkin menjelang semester dua, aku mulai bisa buka akun media sosial yang nggak pernah kubuka lagi, cuma buat baca-baca ulang hasil chattingan-ku sama H. Dia ada masalah dan itu bikin dia harus pergi, dari sini. Aku sudah ngerasa nggak papa, aku sudah ngerelain kepergiannya dia yang tiba-tiba banget.


[ 2017 ]

Aku ngucapin dia selamat tahun baru. Aku ngetik di aplikasi itu, di chattingan-ku sama H. Waktu aku ngetik tanpa mikir lagi, aku mulai ngerasa kalau jangan-jangan aku sudah nggak waras kali, ya? Aku sudah tahu kalau H nggak mungkin bisa bales lagi, dan buat apa aku ngirim dia chat?


met taun baruuu /telat


Tapi, ya, tetep kukirim juga sih. (…)


[ kelulusan ]

Pas aku wisuda SMA, aku tiba-tiba keinget sama dia. H yang nggak pernah bisa bikin aku marah, H yang bilang kalau aku punya bakat jadi tukang bersih-bersih (dan bahkan sesering apa pun dia bilang ini, dia tetep nggak bisa bikin aku marah). Aku kadang-kadang memang keinget lagi, tapi sudah bukan dalam tahap untuk bikin aku sedih, tapi buat kukenang aja.

Aku mendadak ingat kali pertama kenalan sama H, begitu aku pindah rumah pas kelas 3 SMP. Dia kelas 3 SMA, jadi kuanggap kakak. Cuma setahun kita bareng, tapi rasanya kayak kita saudara yang sudah terpisah dari lahir. Menjelang aku persiapan ujian SMP, dia juga siap-siap mau lulus SMA, jadi akhir semester dua aku sudah nggak menyempatkan diri buat ngobrol.

Lalu, kita ngobrol pas aku nunggu pengumuman NEM SMP. Aku tanya, dulu NEM SMP-nya dia berapa, dan dia jawab 37,8. Iya, H ini pinter, tapi ada satu dan lain hal yang bikin dia ke SMA yang sangaaaat biasa-biasa saja, dan itu adalah masalah ekonomi dan transportasi. Dia pengin cari SMA yang murah dan deket sama rumah soalnya.

Di hari yang berdekatan dengan itu, H cerita kalau dia punya masalah yang ada kaitannya sama ekonomi, keluarga, dan berkas melengkapi kelulusan. Lalu kejadiannya cepet banget, dia bilang kalau ponselnya dia hilang. Akunya nggak langsung percaya, karena, ponselnya hilang? Iya, bertransformasi jadi uang, mungkin ya? Kenapa bilangnya hilang?

Lalu, begitu sajalah, dia pergi. Waktu itu tahun 2014.


[ john watson ]

LOL, kenapa langsung mendadak pindah ke sudut pandang blogernya Sherlock Holmes?

Ini yang kubilang di postingan sebelumnya, kalau postingan ini punya kaitan. Waktu aku kali pertama nonton “The Reichenbach Fall”, pas bagian Sherlock nelpon John dan nyuruh John ngelihatin dia terjun dari atas gedung, di situ Sherlock juga mengungkapkan kebohongan.

Dia bilang kalau dia bohong soal kepintarannya. Sebenernya dia selalu mengumpulkan data-data sebelum menganalisis, sebenernya musuh bebuyutannya dia cuma orang teater yang dia bikin untuk kepuasannya sendiri. Sherlock cerita semuanya ke John, terlalu nyata sampai aku nyaris percaya, tapi John cuma dengerin dan komentarnya dia:


Kenapa kamu bilang gitu?


Atau saat Sherlock datang lagi setelah dua tahun, semuanya menyambut dan orang-orang penasaran bagaimana bisa Sherlock pura-pura meninggal, menipu sahabatnya, semua orang, dan dunia, orang-orang saling berkumpul untuk membahas kira-kira bagaimana Sherlock melakukannya. Sherlock cuma pengin jelasin itu ke John, dan John bilang:


Aku nggak peduli bagaimana kamu melakukannya. Yang aku tanya, kenapa?


Memang, episode itu sedih, tapi aku nonton itu dalam posisi aku bisa ngerti perasaannya John bagaimana. Sedihnya, marahnya. Salah apa, aku harus melakukan apa sampai kamu mau cerita semuanya? Kenapa aku yang mau mendengarkan di sini, tapi kamu nggak memberiku ruang dan waktu untuk memberiku kesempatan memahami? Kenapa?


[ kembali ]

Kamu balik.

Hari Minggu kemarin, tepat jam setengah sembilan pagi.


[ kenapa? ]

Mungkin kata tanya kenapa itu kata yang paling emosional di antara kata tanya yang lainnya.

Tiga tahun, H. Tiga tahun.

Kamu pergi tiba-tiba, kamu nggak ngasih tahu tepatnya kapan, nggak ada ucapan selamat tinggal, berlalu dengan setumpuk pertanyaan yang nggak kaubiarkan aku untuk tahu. Dari kamu, aku bisa mendengar cerita-cerita aneh bin ajaib, tentang teman-temanmu di sekolah, sisi dunia yang nggak bisa kumasuki, celetukan sederhana yang receh, atau tentang geng tiga orang pecinta misteri yang kaubentuk dengan dua teman sekolahmu.

Lalu begitu kamu pergi, aku sadar kalau kamu mungkin cerita semuanya tentang dunia di sekelilingmu, tapi kamu nggak pernah cerita tentang kamu sendiri. Kamu bilang kalau sistem memilih anggota OSIS di SMA-mu itu sama sekali nggak layak dan harus diubah, tapi apa pendapat pribadimu sebenarnya?

Kenapa kamu nggak pernah cerita tentang kamu? Kenapa kamu bilang kalau ponselmu hilang? Kenapa kamu tiba-tiba pergi? Lalu sekarang, kenapa kamu tiba-tiba datang?

Semuanya kayak serba salah di kepalaku. Aku nggak serta-merta ingin kamu pergi, tapi aku juga marah melihat betapa gampang dan nggak bersalahnya kemunculanmu di depanku, tapi kamu yang membuat semuanya begini sekarang.


Setelah semua ini, serius?


[ sekarang ]

Sekarang, aku nggak tahu harus bagaimana. Tiga tahun ini terlalu lama, H. Aku sudah lupa, aku sudah mau menjalani hari tanpa inget kamu. Kamu butuh untuk kupukul, kucekik, kuhantam kepala lebih dulu dan bagiku ini nggak cukup untuk langsung menerimamu lagi, bermain-main, di sini. Ada rasa marah tapi ada juga rasa kangen. Kalau kamu beneran kakakku di dimensi lain, kujamin kamu itu kakak paling jahat dan paling berdosa besar di dimensi mana pun di semesta ini.

Campur aduk di kepala, nggak tahu mana yang harus dipikir duluan. Aku bisa sukses menamatkan kisah SMA-ku tanpa sedikit pun bercerita mengenai kedepresian tentang kamu ke teman-temanku, tanpa kusebut nama kamu, aku bahkan sudah lupa sama kamu. Aku. Marah. Banget. Semua kata-kata sumpah serapah rasanya ada di kepala, tapi aku nggak mungkin sanggup mengeluarkannya satu huruf pun juga, karena semuanya terakumulasi lebih dari cukup menjadi satu kata, yang diakhiri tanda tanya besar, KENAPA?


Kenapa datang lagi?
Aku mau kamu pergi.

You Might Also Like

0 comment(s)