18. Dua Tahun

Rabu, Juni 21, 2017

Ada momen yang bikin baper kuadrat di Sherlock: waktu dia muncul lagi setelah dua tahun lamanya.


DUA TAHUN YANG LALU, disaksikan oleh sahabatnya sendiri, John Watson, Sherlock Holmes menjatuhkan diri dari gedung. Bruk, dan langsung dikerubungi orang-orang, John cuma kuat nyamperin untuk ngecek denyut nadi di pergelangan tangan. Setelah memastikan sendiri kalau Sherlock sudah meninggal, dia nggak mengikuti jejak orang-orang yang membawa si detektif itu ke rumah sakit, cuma diem di situ, setengah duduk, ditinggal sendirian sama kubangan darah dari kepala Sherlock.

John sengaja tinggal di situ terakhir setelah orang-orang yang datang ke pemakamannya Sherlock sudah pada pulang. Setelah sukses bilang kalau dia baik-baik saja ke semua orang yang tanya, akhirnya dia nangis juga—ngomong panjang lebar, dan dua kalimat ini yang bikin aku meleleh kayak mentega dikasih ke wajan panas:


Don’t be dead. I was so alone and I owe you so much.


Kalau mikir sisi jenakanya, John itu kehidupannya miris. Memprihatinkan, malah. Dia datang ke London pengin cari teman sekamar, dan begitu dapat Sherlock Holmes di 221B Bakerstreet, ekspektasinya hidup bahagia damai aman nyaman sentosa dan sejahtera abadi nan jaya, harus berubah seratus delapan puluh derajat:

Di mana dia bangun pagi-pagi dan lihat hasil karya Sherlock yang ngegantung manekin di samping meja makan. Di mana dia berharap menemukan makanan tapi justru ada kepala di dalam kulkas. Di mana yang Sherlock minum bukan sekadar teh susu biasa, tapi alih-alih nyemplungin es batu atau apa, objek yang mengambang di permukaan malah bola mata manusia. :")))

Terus sekejap, nggak pakai tedeng aling-aling, John baru mau masuk gedung itu waktu Sherlock nelpon dia, nyuruh dia nggak usah masuk dan lihat ke paling atas bangunan, cukup lihat sampai akhir begitu dia jatuh. Jelas Sherlock nggak punya perasaan memperlakukan koleganya sedemikian rupa, dan aku maraaaah banget karena cobaan macam apa lagi yang harus menimpa John plis?? Dia sudah sabar sampai tingkat yang nggak ada orang yang tahan.

Sherlock meninggal, Johnnya masuk mode five stages of grief, dia memutuskan untuk pindah tempat tinggal karena nggak mau melihat bekas-bekas kenangan kegiatan sehari-hari sama Sherlock, nggak mau ngurus kasus apa pun lagi, dia pergi, cari kerja, memulai tatanan kehidupan baru, begitulah. Mencoba melupakan.

look at this and think on your sins, sherlock. thank you.


DUA TAHUN KEMUDIAN, waktu John berniat melamar Mary di suatu restoran, tepat saat dia hampir ngomong, Sherlock dateng. (Perusak suasana banget emang.)

Iya, jadi Sherlock sebenarnya nggak meninggal. Itu tipuan, dan bagi Sherlock, sudah lebih dari cukup kalau dia berhasil bikin John percaya kalau dia meninggal, makanya dia pengin John yang jadi saksi mata dia ngejatuhin diri dari atas gedung. Molly tahu, orang tuanya juga tahu, dan bahkan orang-orang yang ngerubungin Sherlock dan bawa ke rumah sakit (total ada 25 orang, kata Sherlock ke John) itu juga sudah setingan. Semua sudah disetel, dan di latar itu, cuma John yang jadi sasaran Sherlock untuk ditipu.

Dia ngomong:


Not dead.


Plis. Sudah dua tahun, Sherlock. Dua tahun John menunggu, dan dua tahun secara harfiah karena dari episode Sherlock jatuh yang tayang 2012 dan episode dia muncul lagi yang tayang 2014 itu juga makan waktu dua tahun. Haha, baik kita dan John sama-sama teriksa dan bener-bener dipaksa memahami arti dua tahun ini kawan-kawan. :”)

Di saat kemunculannya Sherlock dapat hadiah pelukan dan tangisan tumpah-ruah dari Greg dan Mrs. Hudson, cuma dari John dia dapat satu pukulan, satu cekikan leher, dan satu hantaman kepala, di tiga seting berbeda. Pokoknya setiap kali Sherlock menampakkan diri untuk ngajak bicara, itu berakhir dengan dia luka memar atau hidung mimisan.

Jangan heran kalau John marah besar. Dia yang paling kehilangan, sebelum ketemu Sherlock dia selalu rutin ketemu sama ahli terapinya, tapi dia menghentikan itu semua setelah ketemu Sherlock, dan bikin jadwal ketemuan lagi sama terapisnya begitu Sherlock meninggal. Kegilaannya Sherlock yang nggak pernah bisa diprediksi siapa pun itu lebih-kurang sudah jadi obatnya John. Jelas dia marahlah, bener-bener langsung beralih ke mode I’m done with everything and everyone LOL.

Itu episode “The Reichenbach Fall”. Sayangnya kita sendiri, dari sisi penonton, nggak bertahan lama sedihnya karena posisinya kita sudah tahu kalau adegan meninggalnya Sherlock memang sudah dirancang. Tapi kalau ngingat John, yang notabenenya nggak tahu apa-apa, dia menderita banget tolong. :")


Terus, sebenernya aku nggak mau curang, tapi sekarang sudah tanggal 21 dan ini baru postingan nulis random ke-18, jadi … postingan satu ini akan ada kaitannya dengan postingan selanjutnya, ya. :”)

You Might Also Like

0 comment(s)