17. Sherlock: Ya, Tidak, Bisa Jadi

Selasa, Juni 20, 2017

Tahu permainan "Yes, No, Maybe", nggak?

Kalau di Indonesia, permainannya itu ada dalam acara televisi namanya Eat Bulaga. Sederhananya, permainan ini bisa diikuti dua orang. Orang pertama ditempeli kertas di dahinya, kertas yang diberi tulisan bebas topik apa saja. Dia harus menebak kata apa itu, tapi jangan langsung tembak nama; dia harus nagih klu dari orang kedua yang di depannya. Tugas orang kedua cuma bisa jawab, "iya", "tidak", atau "bisa jadi".

Pas di SMA 6 ada kayak kegiatan semacam class meeting, atau untuk memperingati ulang tahun sekolah, kemerdekaan, Kartini, dan lain-lain segala macam, aku pasti nyempetin buat nonton acara yang ini. Walaupun biasanya nggak ramai, tapi seru banget dan kalau tebakan dari orang pertama tuh bener-bener nyerempet, bikin greget rasanya. XD

Kenapa aku nulis kayak gini?

Aku habis nonton serial televisi Sherlock episode The Sign of Three. Itu episode yang bakal kusebut kalau ada yang tanya apa episode di serial Sherlock yang paling lucu. Soalnya di episode itu kita bisa lihat sisi Sherlock yang ... sangat bukan Sherlock Holmes sekali. Di situ dia yang takut, dia yang panik, dia yang gugup, dia yang patah hati karena ditinggal nikah, aku nggak nyangka bakal ketawa terus, secara ini tuh, Sherlock gitu lho. :")

[ 123RF.com ]

Aku mau cerita soal momen yang aku tonton berulang-ulang. Di episode ini, dia dan sahabatnya, John Watson, main yes no maybe. Mereka nempel kertas di dahi, terus masing-masing dari mereka nulis kata yang harus ditebak oleh si subjek yang ditempeli kertas. Aku mau membagikan momen ini, sih, biar nggak ketawa sendirian aja. XD

JOHN WATSON

Sherlock nulis di dahinya John, "Madonna."


John: Sayuran?
Sherlock: Bukan.
John: Wanita?
Sherlock: Iya.
John: Cantik?
Sherlock: Orang menilai seseorang itu cantik atau tidak berdasarkan pengalaman masa kanak-kanak, pergaulan, dan tokoh panutan.


Sabar, ya, John.

Aku sering banget bilang kayak gitu ke John kalau nonton Sherlock. Soalnya gimana ya. John itu sabar banget astaga. Sudah nyariin taksi, dan begitu taksinya dateng, Sherlock bilang ke John mending dia cari taksi lagi soalnya ini taksi buat dia sendiri LOL. Aku kalau jadi John sudah milih minggat dan jadi tunawisma aja daripada harus menghabiskan hidup sama seseorang yang nyuruh kita ngambilin ponsel di SAKU JAKET YANG LAGI DIA PAKAI. :")))) Tolong.


John: Benar, tapi apa dia cantik?
Sherlock: ... Aku nggak tahu dia siapa.
John: Kamu yang milih namanya!
Sherlock: Aku cuma milih acak dari koran.


... Sabar, ya, John. (2)

Akhirnya John nggak bisa jawab dengan benar. Ya iyalah, ya, yang ngasih tebakan aja nggak bisa memberikan klunya. Sherlock kamu nih gimana, sih.


SHERLOCK HOLMES

Nah, ini. INI! Bagian yang aku suka. Dengan sangat cemerlangnya, mungkin hasil dari nguntit Sherlock selama bertahun-tahun, mencoba memahami jiwa dan cara berpikir sosiopat yang bisa main violin ini, sang sahabat menulis di dahi si konsultan detektif terkenal itu, "Sherlock Holmes."


Sherlock: Manusia?


Nah, lho, John! Sherlock manusia apa bukan? :))


John: Kadang-kadang.


Aku ketawa bagian itu. XD


Sherlock: Tidak boleh 'kadang-kadang'.
John: Ya, manusia.
Sherlock: Pria?
John: Yap.
Sherlock: Tinggi?
John: Ng ... nggak setinggi yang dibayangkan orang.
Sherlock: Hmm. Menyenangkan?


LOL. Aku sudah bayangin John itu ngelihatin Sherlock dengan tatapan kayak, "Plis, ini tuh ngebicarain kamu, ya kali kamu dan kata 'menyenangkan' itu saling kenal?"


John: Sedikit.
Sherlock: Cerdas?


Nggak cuma cerdas. XD


John: Aku akan bilang ya.
Sherlock: Hmm. Penting?
John: Untuk beberapa orang.
Sherlock: Disukai banyak orang?


Enggak pakai banget! John tampangnya udah bingung kenapa sampai sejauh ini, dan aku udah ketawa, ini Sherlock beneran nggak punya ide kalau yang John tulis di dahinya dia itu namanya dia sendiri? XD


John: Emm. Enggak. Dia memperlakukan orang-orang dengan cara yang salah.


Tolong. Ini sudah ketebak banget. Maksudnya, Sherlock, plis, John itu nggak punya siapa-siapa sejak dia ketemu kamu, dan dia bisa jelasin sedetail itu, bisa tahu kalau nggak setinggi yang dibayangkan orang-orang, dan lihat aja tatapannya. Jelas kamu lah. :") Kenapa kamu nggak nyadar-nyadar. :")


Sherlock: Oke. Raja Inggris?


HAHAHA:")))))) Sherlock nebaknya sampai ke Raja Inggris LOL. Aku udah nebak kalau dia pasti mikirnya kejauhan. XD Dan John juga udah ketawa, ya elah padahal orang yang ditulis di dahi itu ada persis di ruangan ini tapi kenapa mikirnya sampai ke kerajaan segala. :")


John: Kita nggak punya Raja.
Sherlock: Benarkah?


Yep, Sherlock, memang kita nggak bisa mengharapkan hal-hal yang sepele dari seorang jenius yang bahkan nggak tahu kalau Bumi berputar mengelilingi matahari.

Sabar, ya, John. (3)


Sherlock: Jadi ... manusia. Nggak setinggi yang dibayangkan orang. Agak menyenangkan, cerdas, penting bagi beberapa orang. Tapi dia memperlakukan mereka dengan cara yang salah.


Iya, iya, Sherlock. Oke, kamu sudah mulai nganalisis, dan terus sampai pada kesimpulan ...?


Sherlock: Kamu?
John: ...


Sabar, ya, John. (999+) :")))

***

Kenapa Sherlock bahkan sampai akhir nggak bisa nebak kalau itu adalah namanya dia? Mungkin kalau orang yang terlalu jenius kayak gitu, ya. Dia nggak mikir hal-hal yang sederhana, membayangkan hal-hal yang jauh padahal ada persis di depan matanya. Walaupun di sini Johnnya harus sabar banget, tapi menurutku John juga mikirnya ke situ. XD

Dia tahu kalau Sherlock pasti bisa nebak kalau dia nulis nama tokoh, kayak nama agen rahasia, atau seseorang yang memberi dana dalam jumlah besar ke rumah sakit yang nggak mau disebutkan namanya, nama komandan militer, dan lain-lain. Makanya daripada dia nulis nama yang sudah jelas Sherlock pasti lebih tahu daripada dia, akhirnya John pilih nama yang terlalu sederhana: namanya Sherlock sendiri. :") Brilian sekali. :"))

You Might Also Like

0 comment(s)