16. [Short Story] White Truth

Senin, Juni 19, 2017

PROLOGUE

Manusia itu aneh.

Mereka bisa waspada dan lengah di saat yang bersamaan.

Kenapa? Kenapa harus waspada? Kenapa harus lengah? Itulah kenapa bisa ada manusia dengan tipe yang jarang ditemukan di antara manusia-manusia yang ada: mereka tahu apa yang membuat manusia menjadi waspada, mereka tahu apa yang perlu dilakukan agar lawan bicara mereka, tanpa sadar, menjadi lengah. (Makanya pembunuh bayaran lebih memilih untuk langsung minta maaf kepada pemimpin geng jalanan yang tak sengaja ia tabrak alih-alih membuat kegaduhan dengan menerima ajakan adu bogem mentah.)

Ini hanyalah cerita pendek tentang keduanyakejujuran maupun ketidakjujurandengan alasannya masing-masing.


SATU: WHITE TRUTH

"Bagaimana?"

"Meninggal."

Ada suara tawa yang lolos untuk balasan pertamanya. "Hah! Nggak mungkin." Kerutan terbentuk di kening, kedua mata yang sempat melempar pandang ke lain arahsebagai reaksi otomatis yang dikirimkan oleh sumsum tulang belakang dari saraf penghubungkembali memantulkan tatapan seorang dokter pribadi di hadapannya.

"Aku berkata jujur, sayangnya."

"Oh, ini baru kali pertama kita bertemu, 'kan?" Fathia menegakkan tubuh agar punggungnya menempel pada sandaran kursi. "Dan kali pertama aku mendengar namamu pula. Di sini, aku hanya diutus untuk mendapatkan informasi lalu menyampaikannya. Kaupikir aku langsung percaya pada jawaban yang kauberikan untuk membungkam pertanyaan pertama?"

Sang dokter pribadi, La Moma, sebagai satu-satunya yang bertanggung jawab menyampaikan informasi perihal keadaan seorang dengan kode nama 11351291, kedua siku bertumpu di atas meja, jemari tangannya saling bertautan, kelingking kanan menempel kelingking kiri, jari manis kanan menempel jari manis kiri, dan seterusnya. "Maka dari itu," dihelanya napas, "aku tahu kamu tidak percaya padaku, makanya aku langsung memberi tahumu yang sebenarnya."

"Aku tahu." Lawan bicara menyahut balasan yang tak disangka. Ulasan senyum berbahaya diberikan. "Aku tahu yang kamu beri itu kebenaran. Manusia itu aneh, iya, 'kan?"

"Itu sifat alami yang mereka bawa sampai mati," setimpal bagi La Moma apabila dirinya juga melempar senyuman yang sama, "suatu kesalahan untuk langsung memercayai relasi terdekat dan meragukan kebenaran hasil interaksi dengan orang asing. Aku menawarkanmu kebohongan."

"Kamu meremehkanku."

"Katakan padanya, 11351291 menjalani pengobatan di negeri seberang. Kemungkinan hidup masih ada, tapi sayangnya, dokter pribadinya menganjurkan agar dia mengasingkan diri begitu ditetapkan selamat; kehidupan baru, identitas baru. Si Kepala-Leher tak bisa lagi bertemu dengan orang-orang yang berkepentingan dengannya." Selama memaparkan satu paragraf tanpa putus itu, La Moma tak mengalihkan pandangannya sedikit pun.

Begitu pula dengan Fathia. Yang mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan. Yang mulai membuat hipotesis-hipotesis skenarionya sendiri. "Aku tak mungkin membohongi sahabatku sendiri," kalimat sangkalan meluncur keluar.

"Itulah poinnya."

"Aku tahu itulah poinmu," tukas si gadis. "Dhiarrafii berpikir bahwa aku tak mungkin memberinya informasi yang tidak benar. Itulah pikirannya, ia memercayai kesetiaanku."

(Fathia mengulang kembali perkataannya di kepala, dan—hei, terdengar seperti masalahnya sendiri, hm?)


DUA: BLACK LIE

"Heeei. Kau kembali."

Dhiarrafii bahkan tak menoleh ke arah daun pintu untuk memastikan bahwa sosok yang muncul di sana adalah rekan yang paling ia percaya. Justru, sang tuan rumah sedang membelakangi ruang depan, berurusan dengan dokumen-dokumen yang memenuhi meja makan hingga alasnya tak kelihatan. "Membawa berita apa? Perampokan bank? Petani menemukan kepala saat menggali ladangnya?"

Fathia menutup pintu. "Tentang 11351291, sebenarnya."

Gerakan tangan Dhiarrafii yang sibuk sendiri terhenti. Dibalikkannya badan agar kedua penutur kata bisa saling bertatapan. "Satu, satu, tiga, lima, satu, dua, sembilan, satu." Diucapkannya dengan gaya lamban, mata memandang ke mana saja asal bukan pada sang informan di hadapan. "Cukup panjang untuk sebuah kode nama."

Ada anggukan sebagai persetujuan. "Kebetulan merupakan Nomor Seri Standar Internasional daring dari jurnal spesialisasi medis THT edisi bulan Agustus tahun lalu, yang berjudul ...."

"Kepala dan Leher, aku tahu," memotong kalimat, Dhiarrafii melepaskan kacamata yang ia kenakan, memutar-mutar gagangnya. "Si Kepala-Leher. Membuat semuanya jadi sederhana. Tak ada yang peduli bahwa ejaan nomornya yang benar adalah satu-tiga belas-lima-dua belas-sembilan-satu, yang langsung mengarah pada namanya. Amelia."

Mulut Fathia membuka tapi tak keluar kata-kata. Ada dua pilihan dalam kepalanya; kejujuran atau ketidakjujuran? Sang dokter memberinya kejujuran di saat ia berekspektasi kalimat yang keluar sebagai jawaban bukan yang sebenarnya, apakah ia harus memberi sang tuan rumah ini kebohongan hanya untuk membuktikan pada keadaan bahwa ia pasti dipercaya? "Informasi langsung dari dokter pribadinya."

"Oke." Dhiarrafii menarik napas panjang, seperti menyiapkan diri dengan perubahan aura yang akan ia putuskan sendiri kapan tepatnya terjadi. Ia melangkah pelan, kedua kakinya berhenti saat jarak antara dirinya dan sang sahabat (iya, kata itu yang ia gunakan sebagai pengganti subjek, jangan suruh untuk mengulangi) hanya kira-kira satu meter lagi. "Dia bilang apa?"

Oh, Fathia tidak menyangka ruang dan waktunya akan seperti ini. Mata ketemu mata, ia berada dalam posisi yang terlampau mudah bagi Dhiarrafii untuk mengangkat sebelah tangan dan mencekiknya mati. "Katanya ...."

"Katanya?"

"Amelia di negeri seberang." Fathia mendadak lupa bagaimana caranya bernapas. "Pengobatan lebih lanjut."

"Dan apa itu artinya?"

"Dia tidak bisa menemui kita lagi."

Seolah detikan jam yang menempel di dinding samping mereka berhenti, suaranya tak terdengar dan yang tersisa hanyalah dengingan. Dhiarrafii mencoba mencari kebenaran dari kata-kata yang Fathia ucapkan dengan tidak melepaskan pandangan mata mereka, dan Fathia pernah dengar cara itu sebelumnya. Betapa pun inginnya ia untuk berpaling, tahanlah, tahanlah sedikit lagi, sebentar saja.

"Begitu, ya?" Dhiarrafii berbalik badan.

(—dan Fathia sekuat tenaga mencoba tidak terlihat sedang megap-megap mencari oksigen seperti habis dibenamkan ke dalam air.)


EPILOGUE

Tak peduli sekarang tahun delapan puluhan atau zaman di mana mesin pembaca pikiran benar-benar ada, tetapi manusia terus saja melakukan kesalahan yang sama.

Keanehan mereka. Untuk cenderung merasa nyaman dengan seseorang yang baru ditemui, yang barangkali kebetulan bersebelahan dalam perjalanan dua jam di kereta ekonomi, dan terpancing untuk mencerocos banyak hanya dari umpan pertanyaan, "Apa kabar?"

Keanehan mereka pula. Untuk cenderung menutup-nutupi keadaaan ia sebenarnya dengan sosok yang ditemui atas nama rutinitas, bagaikan sarapan pagi rasanya dan kalimat sambutan bak judul depan surat kabar, "Bagaimana harimu?"

Jujur pada orang yang kentara tampak curiga. Berbohong pada orang yang jelas akan percaya.

Kenapa, ya?

You Might Also Like

0 comment(s)