14. Tentang Sahabat

Jumat, Juni 16, 2017

[ hdw7.com ]

Rasya, pernahkah intuisimu membaca bahwa ada seseorang yang tatapannya lebih tulus dari orang yang seharusnya menatapmu seperti itu?


Kalimatnya persis.

Waktu itu hari Jumat tanggal 24 Februari 2017.

Aku punya sahabat yang suka menceritakan sesuatu dengan cara begitu; ambil jalan memutar. Nggak langsung tembak mengeluarkan segala unek-unek, yang kadang aku lakukan kalau memang emosi menguasai, tapi tetap tenang, duduk di kursi panjang depan kelas, ngelihatin aku yang bolak-balik mungutin pesawat kertas lipatanku bekas lembar jawaban ujian, dan tiba-tiba mengatakan hal itu.

Kadang kalau kita sudah telanjur dekat banget sama sahabat kita, ada rasa gengsi yang tiba-tiba muncul untuk menanyakan sesuatu tentangnya, yang sebenarnya kita memang belum tahu; tapi seolah-olah otak bagian kemasukakalan menyeletuk saat kita sedang mengumpulkan keberanian yang tercecer di sana-sini, “Kamu serius mau tanya pertanyaan dasar kayak gitu, selama ini kamu sahabatnya atau apa?”

Ada saat-saat di mana kita lihat sahabat kita bikin IGStory, dan sekejap terdengar suara protes dari lubuk hati, “Hei, memangnya ada bagian dirimu yang seperti ini?” waktu melihat di layar tak terpampang apa pun kecuali hitam dan ada satu emoticon di tengahnya, emoticon yang tak pernah dipakai selama kalian bercengkerama. Ada seribu satu pertanyaan di kepala yang mengantre untuk diungkapkan, tapi semua ditebas dengan gerakan jari yang refleks mengetik kalimat tak berinti sebagai balasan, “betah amat jadi jomblo nenggggg?

Ada hari di saat kamu penasaran hal-hal yang sepele, seperti kira-kira saudaranya sahabatmu tahun ini naik ke kelas berapa, atau sebenarnya rambutmu panjangnya seberapa, atau bahkan yang tak kalah sepele, “Aku tahu kamu ulang tahun tanggal ini bulan ini, tapi aku nggak tahu tahunnya, jadi sebenarnya berapa umurmu sekarang?”

Pertanyaan tak terjawab yang membuatmu mengucapkan selamat ulang tahun padanya dengan kata-kata seperti, “selamat ulang ta000n! ku tak mau menyebut ini ultah yang keberapa karena yang perlu kita tahu hanyalah dirimu pokoknya bertambah tua okeys.”

Hah.

Kompleks.

Atau kamu yang sebenarnya menyusahkan diri sendiri, Sya? Rasa bersalah dan nggak enak yang muncul waktu di tengah-tengah istirahat kamu kehilangan jejak sahabatmu, lalu ada teman kelas sebelah yang datang untukmu dan bertanya, “Kamu lihat sahabatmu di mana?”

“…”

Untuk menjawab, “Nggak tahu,” pada pertanyaan seputar sahabat sendiri itu rasanya miris buatmu.


Jadi, sehabis aku memungut pesawat kertasku, dan kamu tiba-tiba bertanya hal seperti itu, rasanya seperti déjà vu. Ada seribu satu pertanyaan di kepalaku. Ini membicarakan siapa? Oke, kamu pernah menyebutkan beberapa nama cowok di pembicaraan kita, tapi itu beberapa, dan sudah lama sekali pula, jadi ini untuk cowok yang mana? Yang aku tahu? Yang belum aku tahu? Atau yang seharusnya aku tahu?

“Kamu lagi ngerasa gitu?”

“Iya.”

“…”

Iya siapa? Iya bagaimana?

Aku mau tanya lebih lanjut tapi aku takut kalau ini justru meruntuhkan hasratmu bercerita, karena siapa tahu kamu memang butuh jeda lagi untuk menyusun kata-kata. Aku ikut duduk di kursi panjang yang sama, di depan ruang kelas 107, kamu senderan di ujung kanan dan aku di ujung kiri.

Aku masih nunggu kamu ngomong. Aku tiba-tiba ingat zaman-zaman setelah ujian kenaikan kelas sebelas, saat-saat di mana yang masuk cuma anak-anak yang berkepentingan melengkapi nilai, dan aku cari kamu. Ke kelasmu. Siapa tahu kamu masuk hari ini.

Ketemu beberapa teman sekelasmu, lalu aku bertanya, dan salah satu di antara mereka menjawab, “Kamu kayak nggak tahu dia saja, toh, Sya, dia kan memang nggak pernah masuk kalau setelah UKK.”

Kamu kayak nggak tahu dia saja, toh, Sya.

Hahaha.

Kenyataannya, aku memang tidak bertanya hal-hal yang memasuki ranah privasimu, misalnya aku tahu kamu pernah izin saat jam pelajaran untuk ujian SIM tapi pada akhirnya kamu diterima atau enggak? Pada akhirnya, aku hanya tahu hal-hal tentangmu yang ada hubungannya denganku; karena persahabatan kadang memang terkesan seegois itu. Seolah-olah hanya peduli yang ada kaitannya saja, tapi sebenarnya ada yang dinamakan rasa takut, dan itu berlaku sekalipun pada sahabat sendiri.

“Mmm.” Aku susah mengatur kata-kata, tapi itu sebenarnya cuma bentuk gumaman yang keluar karena aku sibuk menahan ribuan pertanyaan di kepala. “Mau diem dulu?”

“Ayo.”

Itu gayung bersambut, dan begitulah akhirnya kami menghabiskan sisa hari sebelum ada percakapan-percakaan abu-abu yang berlanjut lagi. Aku ngelihatin tanaman-tanaman di depanku, keran, tangga naik ke lantai atas, ruang praktikum biologi, cukup lama diem, dan aku kepikiran untuk coba bertanya hal-hal yang aku perlu tahu tentang kamu.

Gimana kabar adikmu? Dua-duanya? Kakak sepupumu? Rencana masa depanmu? Kejadian di kelas, atau hal-hal yang pengin kamu ceritakan. Entah kenapa waktu selalu memberi kita ruang tapi kita yang nggak pernah memanfaatkannya.

Aku tiba-tiba ingat perkataannya Conan,


Ada yang nggak bisa disampaikan kalau nggak lewat kata-kata.
Conan Edogawa (Detective Conan)


Kutipan itu berlaku untuk kita (kamu), dan kita (aku) terlambat sadar.

Kita selalu ketemu, selalu papasan, selalu mengobrol, saling mengomentari IGStory, tapi kita nggak pernah benar-benar bicara. Ada banyak hal yang nggak bisa tersampaikan, yang kita sama-sama nggak tahu, karena kita melewati bagian itu; untuk berada dalam tahap benar-benar saling bicara.



Untuk dua sahabat yang dikemas dalam satu cerita,
sekarang sudah libur dan sekarang kamu jauh.

You Might Also Like

0 comment(s)