13. Tentang SBMPTN 2017

Rabu, Juni 14, 2017

Follow my blog with Bloglovin


Alhamdulillah aku diterima di Sastra Indonesia UGM. :""""""""""""""")


Aku ngecek ini di kamar. Akhirnya setelah sekian lama aku nge-refresh halaman terus, muncul juga hasilnya. Hasil kalau aku diterima di pilihan pertamaku, tempat yang aku pengenin sejak dulu ... ya Allah .... :')

Alhamdulillah ya Allah. Makasih, makasih, makasiiiih. :')

[ Sebelum SBMPTN ]

Bimbingan Antar Teman

Yang paling aku inget itu waktu aku dapat kabar kalau aku dibolehin ikut Bimbingan Antar Teman, atau yang disingkat BAT. Itu les bimbingan gratis yang hampir mirip sama Bidik Misi, cuma pengajar-pengajarnya tersebar dari universitas-universitas di Jogja. Kita dikelompokin ke dalam beberapa kelompok, dan nanti ada ketua dan wali kelas, terus bikin janjian ketemuan buat belajar bareng. Dapat modul, nanti modul itu kita kerjain bareng-bareng dan dibahas.

Aku seneng banget waktu dapat kesempatan buat ikut, bareng beberapa temenku yang lain, karena aku ikut jadi panitia SUNGKEM walaupun cuma jadi anggota Publikasi Konten. Soalnya waktu aku coba daftar lewat jalur manual, aku telat, dan kayaknya nggak ada harapan lagi. Aku sama Bundil sempet punya rencana daftar bimbel di INTEN aja, ikut yang eksklusif soalnya memang waktunya tinggal sebulan lagi, dan bzzZ masih banyak banget materi yang harus aku kejar. :')


Kayak gitu modulnya. Aku nulis namaku di bagian nama, dan waktu di kolom SCHOOL, aku pengin nulis nama SMA-ku waktu itu. Tapi, Afra, temen sekelompok BAT-ku, mengatakan sesuatu yang bijaksana, kalau di BAT ini kita nggak perlu bawa-bawa nama sekolah kita lagi. Aku kepikiran ini dan jadilah aku nulis kode program studi yang aku pengin, Sastra Indonesia alias 472102. :')

Awalnya aku bingung mau tetep daftar INTEN apa enggak, soalnya aku juga sudah ke sana dan ngisi formulir juga walaupun belum bayar. Bundil nyaranin aku, fokus aja sama bimbingan BAT-nya. Walaupun nggak setiap hari dan nggak semiliter (?) yang di INTEN, Bundil nyuruh aku ikut terus semua pertemuannya, lalu pengajar-pengajarnya yang ada di BAT dikontak kalau ada materi yang aku nggak ngerti. Alhasil aku nurut, deh. Bundil nganterin aku ke mana pun tempat pertemuannya diadakan, mau di GSP, atau bahkan di Pusda yang jauh banget dari rumahku. :')

terima kasih banyak sekaliii untuk mbak-mas pengajar BAT. :')
Di BAT itu, aku juga sering nemu informasi kalau ada Try Out. Temen sekelompokku juga, Dita, aku beli tiket Try Out KSE di dia dan jadinya nggak perlu ngehubungin kontak buat pesen-pesen dulu. Trus aku juga beli tiket dari temen BAT juga yang batal ikut Try Out, jadi atas namanya dia deh.

Modul Sosiologi

Jadi panitia SUNGKEM membuatku ketemu dengan Rahina, sosok ibu yang menjadi koordinator divisi Publikasi. Pertemuan pertama kita di KFC, dan di sana pembicaraan kita nyimpang ke hal-hal seputar kuliah. x) Terus kita banyak bertemu buat bahas ini-itu, dan pas kita ketemu di SMA 3, di situ Rahina ngasih aku modul Sosiologi. Banyak banget. :"") Terima kasih sekaliii Rahina. :") Aku fotokopi, dan bahkan aku justru baca buku paket itu di kantin sekolah padahal ada semacam uji coba USBN Fisika. orz

Malaikat 1.0

Lalu, ada malaikat datang kepadaku. Malaikat yang sayangnya aku nggak boleh nulis namanya dia di sini, tapi alhamdulillah aku seneng banget akhirnya dia berhasil masuk program studi yang dia pengin sejak dulu. Malaikat ini mengizinkan aku fotokopi modul INTEN-nya dia. :""") Ya Allah, aku bersyukur banget kalau inget ini, dirimu baik sekaliii sungguh, mudah-mudahan mendapat balasan yang dilipatgandakan. Makasih banget, banget, bangeeeet, yaaa. :") Dia diterima di pilihan pertamanya dia, dan aku ikut seneeeeng banget. :")

Modul TPA

Terus, ada pengajar, beliau ngajarin materi TPA, pada suatu siang yang agak mendung di GSP. Beliau ini Ekonomi UGM, dan memberikan tips yang langsung aku praktikkin sehabis pertemuan itu berakhir: bahwa modul persiapan SBMPTN khusus TPA yang terbaik itu nggak ada di toko buku manapun kecuali di ... SSCI! Iya, tim LBB SSCIntersolusi.

Begitu pertemuannya selesai dan Bundil jemput aku, aku langsung cerita itu, dan kami berdua langsung ke SSCI yang di deket SMA 3 Jogja. Aku masuk, bilang kalau aku mau beli buku persiapan TPA, dan ada mbak-mbak yang mengantarkanku ke atas, lantai dua, masuk suatu ruangan, ketemu ibu-ibu. Ibu-ibu itu kayak langsung tahu apa tujuanku dan memberikanku buku dengan judul "Text Book Ujian Masuk PTN TPA Edisi Revisi". Dimahalin sih karena aku bukan anak SSC.


Soal-soal yang di situ nggak ada Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika Dasar. Murni TPA, bener-bener TPA yang bakal keluar 45 soal pas SBMPTN. Tapi beliau bilang kalau kunci lolos itu harus dimaksimalkan TPA-nya, dan Bundil nemenin aku menaklukkan semua soal itu bareng-bareng. Yang pola, gambar, analisis, silogisme, semuanya ... kecuali satu. (...)

Yaitu numerik aljabar. (...) Aku pasrah kalau di antara 45 soal SBMPTN besok bakal ada tipe kayak gitu karena bener-bener bakal langsung aku loncatin, aku cuma kuat jawab sepuluh nomor pertama - itu pun belum dicocokin bener atau enggaknya - padahal total ada seratus soal di situ. Sebenernya selain karena itu bikin kepalaku makin sakit, waktunya juga sudah nggak sempet LOL, begitu beli dan buka-buka, ada perasaan nyesel kenapa nggak beli ini dari jauh-jauh hari.

Ketika Bahasa Inggris terakhir BAT

Mendekati hari H SBMPTN ... aku makin nggak siap. :")

Ada beberapa jam sebelum berangkat les BAT Bahasa Inggris terakhir, aku mencuri waktu cuma demi ngitung target harus ngerjain berapa soal biar ada di posisi aman Sastra Indonesia. Kasar bangetlah ini, apalagi aslinya UGM nggak pernah ngasih berapa tepatnya passing grade yang harus kita kejar, 'kan. Tapi ... udah mepet banget waktunya, aku malah jadi menyesal belajar USBN dan UN siang-malam dan baru bener-bener sadar betapa "nggak terpakai"-nya dua kerja keras waktu itu LOL.

Di titik itu, semua targetku nggak ada yang terpenuhi karena aku nggak pernah bener-bener nyicil Ekonomi dan Geografi. Ekonomi aku cuma yang bagian akuntansi yang ngitung-ngitung segala macam, dan itu pun sekali doang waktu BAT aku berasa kayak diprivat (?), karena aku murni nggak ngerti dan baik pengajarnya, atau Afra, Grace, Dita, Zahra, Mas Difa, baik banget huhuhu jelasinnya pelan-pelan dan mudah dimengerti, walaupun diem-diem kepalaku kayak pengin meledak. ; - ; Tapi kalau Geografi ... sama sekali nggak aku sentuh. Hah. Blas.

pembatas yang kukasih nama cuma sejarah dan sosiologi. orz
Aku waktu itu bener-bener baru paham istilah "otak penuh". Karena rasanya otakku sudah keisi semua ruang dan waktunya, di titik itu aku ngerasa kalau aku nggak bisa lagi dapat materi baru apa pun. Hari-hari yang harusnya aku isi dengan belajar Ekonomi dan Geografi justru aku pakai buat baca-baca lagi Sejarah, Sosiologi, sama TPA. Iya, aku di titik itu bahkan nggak nyentuh Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, sama Matematika Dasar sama sekali.

Persis sebelum berangkat, setelah menghitung segala macam sampai rasanya kalkulator jebol, pinjem rumus simulasi Try Outnya Gramedia + LOOP yang bobot TPA dan Soshum itu 30:70 karena aku nggak tahu pasti gimana cara perhitungan SBMPTN seharusnya bekerja, akhirnya aku punya target berapa soal yang harus aku jawab benar. TPA 45 soal, Bahasa Indonesia 15 soal, Sejarah 15 soal, dan Sosiologi 10 soal.

Lalu di tengah jalan aku berangkat ke Pusda, sambil terus nginget-inget formasi 45-15-15-10, aku mendadak jadi inget kalimatnya Menzies di The Imitation Game;


And you're going to trust of this all to statistics? To maths?
- Stewart Menzies (The Imitation Game)


Di situ aku baru bersyukur Pusda letaknya jauh dari rumahku karena aku bisa sambil mikir. (...)

Apa yang terjadi kalau aku hanya bertaruh sama formasi itu, dan ternyata semua orang juga kayak gitu? Alhasil nilaiku tenggelam dong? Apa jadinya sama orang-orang yang targetnya Ilmu Komunikasi, siapa tahu mereka nyantumin Sastra Indonesia di pilihan kedua atau ketiga, dan berarti apa yang mereka persiapin lebih berat dari aku, 'kan? Masa' iya aku bener-bener menggantungkan diriku sama perhitungan matematika abal-abal ini?

Mungkin harusnya aku nggak mikirin berat-berat, tapi aku waktu itu ngerasa butuh dikasih tahu kira-kira berapa target soal yang harus aku jawab benar biar nggak lupa diri di tengah-tengah dan justru kepancing untuk jawab semuanya. Aku ragu-ragu sama target yang kupasang sendiri, tapi memang cuma di mapel itulah yang aku paling bisa, masa' aku mau pasang target berapa harus jawab benar di Matematika Dasar? Jelas aku sama aja cari mati. Jadi daripada nyuri waktu bikin coret-coretan yang sebenernya nggak ada hubungannya sama SBMPTN, aku pasrah sama formasi yang aku bikin itu.

Malaikat 2.0

Waktu Bahasa Inggris terakhir BAT ini, akhirnya ketemu lagi dengan pengajar yang memberi tips luar biasa, kayak pengajar TPA itu. Beliau cerita, kalau anak-anak yang les di INTEN sebentar lagi bakal menghadapi Try Out terakhir mereka. Soalnya kan, anak-anak INTEN itu ada Try Out rutin, nah kalau kita punya temen yang baik hati di INTEN dan ngebolehin kita fotokopi Try Out mereka, mendingan fotokopi Try Out terakhir aja.

Sayangnya yang aku punya itu bukan sekadar temen yang baik hati, tapi malaikat. :"") Iyap, malaikat yang menolongku dengan memberikan modul-modul itu juga memperbolehkan aku fotokopi Try Out INTEN terakhir. Bundil nganterin aku ke INTEN dan di sana aku ketemuannya. Di rumah kubaca dan coba ngerjain Try Outnya. Jasamu bener-bener besar sekali, alhamdulillah, makasih ya Allah sudah mempertemukanku dengan malaikat ini. :"")

[ SBMPTN ]

Semangat H-1


Aku diberi ucapan semangat sama Wardah. :") Di grup BAT juga, Namche juga, atau di OA-OA LINE juga bertebaran di mana-mana. Bener-bener rasanya tuh ... ya Allah. Antara siap dan enggak siap, segala perasaan yang nggak bisa dijabarin dan hanya bisa aku jelaskan secara nggak jelas di postinganku yang ini. Aku nggak tahu mau mikir apa. Rasanya ... kosong banget.

Menjelang TKPA SBMPTN

Aku dapet lokasi di UPN. Di ruangan yang sudah aku cek sebelumnya kemarin. Alhamdulillah aku dapet lokasi tempat duduk yang aku suka, di pojok belakang. Kita semua udah harus dateng tiga puluh menit sebelum masuk, dan di depan ada beberapa kursi buat nunggu. Untung waktu aku dateng, ada satu kursi yang masih kosong.

Lalu diem.

Kanan-kiriku pada belajar, dan walaupun ada pengajar BAT yang pernah bilang kalau sebelum SBMPTN dimulai mendingan nggak usah buka buku apa-apa lagi, aku ... aku nggak bisa menahannya. :') Maksudku, kepalaku bener-bener kopong sementara kanan-kiriku persis lagi buka-buka buku, dan otakku serasa kayak bilang, "Sya, kamu serius nggak mau baca-baca lagi? Kamu serius sudah lebih siap daripada mereka-mereka yang sampai sekarang tetep masih belajar? Beneran, Sya, kamu nggak mau baca-baca lagi? Memangnya kamu tahu apaaaa?" TvT

Kata-kata otak itu rasanya masuk akal, dan semakin lama nunggu aku semakin nggak siap. Jadi aku buka ponsel dan langsung ngetik, 'kosa kata yang sering keluar di soal TPA' dan aku memanfaatkan waktu yang ada untuk baca satu-satu. Banyak banget betewe, dan sumpah, ini malah bikin panik dan aku nerusin baca aja sampai mentok nge-scroll dan baru sadar kalau aku nggak inget apa-apa dari yang barusan aku baca. (...)

Lalu aku gantian batin, "Sya, mungkin kamu nggak dilahirkan dengan kemampuan mengingat yang akan meningkat seiring dengan mepetnya waktu. Tutup ponselnya sekarang daripada kamu menggila." Akhirnya ponsel kumasukin tas, sambil lihat jam. Masih beberapa menit lagi. Grao, kita semua yang ada di sana bener-bener nggak punya klu apa pun soal kayak apa yang bakal keluar. Sama sekali.

Soal apa yang bakal kita temuin nanti? Di antara banyaknya Sejarah Indonesia, bagian mana yang keluar? Sejarah Dunia, mau negara mana yang keluar? Ratusan perjanjian, yang mana yang mau keluar? Banyak banget yang kita pelajarin dan semua itu dikemas dalam ketidakpastian. Aku lalu sadar kalau mikirin kayak gitu cuma bikin aku takut, dan akhirnya aku ... zikir. :') Ya Allah, aku pasrah. Aku zikir seolah-olah kayak aku bakal mati begitu aku masuk ruangan ini, dan rasanya aku nggak pernah sebegitu zikirnya kayak diriku yang waktu itu. :')

TKPA SBMPTN

Inget Rasya, inget. Formasi 45-15 untuk sesi yang pertama.

Di antara segala ketegangan yang bener-bener tegang, kayak setiap pergerakan kita itu ada aliran listriknya (oke ini mulai alay, tapi ... ya memang gitu rasanya. TvT) Dan aku nyesel karena ternyata di TPA nggak keluar tipe soal kosa kata. Walaupun belum tentu juga aku bisa jawab, tapi ini bikin aku yakin kalau meluangkan beberapa menit buat baca ponsel tadi tuh buang waktu dan malah bikin kepercayaan diriku yang sudah nggak ada dari awal berkurang. Tapi aku juga seneng banget tipe numerik aljabar nggak keluar. Hore. :')

Habis ngerjain TPA yang kujawab semuanya 45 soal itu, aku langsung ngelompatin Matematika Dasar LOL. Lalu baca soal Bahasa Indonesia. Aku mau nangis rasanya, ini soal Bahasa Indonesia bacaannya banyak banget dan kayak soal Bahasa Indonesia pada umumnya, pertanyaannya menjebak sekali dan opsinya banyak yang mirip. Aku ngerjain soal Bahasa Indonesia cuma selama Try Out dan les BAT aja soalnya.

ini modul soshum yang aku andalkan, aku dapet ini gratis setelah ikut try out gramedia + loop karena panitia sungkem ; v ;

dan ... aku nggak garap bagian tpa (karena berpedoman pada tpanya ssci) dan ... yang soshum cuma bagian sejarah sama sosio aja. (...)

Lalu karena nggak bisa ngerjain semua soal Bahasa Indonesia, otomatis aku harus nambal di Matematika Dasar atau Bahasa Inggris, biar memenuhi formasi 45-15. Karena aku pasrah mati di Matematika Dasar, aku serahin sisanya dengan coba jawab soal Bahasa Inggris. Akhirnya aku bisa nuntasin 45-15 walaupun ada sedikit perubahan, tapi terus ... aku mulai goyah. *yha* Gimana kalau nanti aku nggak bisa nuntasin formasi 15 Sejarah dan 10 Sosiologi, dan aku nggak bisa juga nggarap Ekonomi dan Geografinya? Aku mati dong? Akhirnya aku ngira-ngira aja, dan coba ngerjain Matematika Dasar. Kali aja ada yang bisa aku jawab.

... Nggak ada ternyata. /DITENDANG

Soal Matematika Dasarnya susah, dan karena aku jarang berkutat sama mata pelajaran satu ini, sih. Aku di soal-soal pertama sudah tumbang, dan sebenernya aku nggak ada niat buat coba ngitung satu-satu kalau nggak ada rasa takut gagal di sesi TKD Soshum. Aku takut nggak bisa jawab soal Sejarah dan Sosiologi sesuai target padahal dua itulah yang aku andalkan, jadi aku coba ngitungin satu-satu.

Alhamdulillah, aku nggak tahu kesambet apa, tapi aku bisa jawab dua soal sampai akhirnya waktu habis. Nggak tahu pakai rumus apa, aku masuk-masukin aja pilihan gandanya satu-satu, terus akhirnya ketemu opsi mana jawabannya. Aku lalu mikir, lumayanlah bisa surplus dua, kalau memang nanti Sejarah dan Sosiologinya susah banget, aku jawabnya cukup 14 dan 9 aja.

Peralihan ke sesi TKD Soshum

Itu menjelang jam dua belas, nyaris azan zuhur. Aku keluar ruangan. Ruanganku kan ada di lantai dua, dan dari atas aku bisa lihat Bundil duduk di lapangan parkir. Aku langsung nyamperin Bundil, dan persis kayak pas Try Out Gramedia + LOOP, Bundil bawain aku makanan biar aku nggak usah ke mana-mana lagi dan masih punya waktu buat salat atau baca-baca. :')

Bundil bawain aku minum, teh kotak, dan makanan roti banyaaaak banget. Aku yang awalnya nggak ada hasrat buat ngapa-ngapain akhirnya makan, karena lihat makanan itu jadi bikin sadar kalau sebenernya kita laper banget. Ngerjain soal TPA tadi berasa kayak medan perang, dan itu menguras banyak banget tenaga padahal cuma otak yang kerja. :')

Aku ngobrol-ngobrol sama Bundil sambil makan sambil minum. Makin lama makin kopong Soshum sebenernya, tapi aku takutnya kalau coba baca-baca nanti bakal kayak TPA tadi, ternyata yang aku baca malah nggak ada yang keluar. Lalu karena udah zuhur, tasku tak titipin Bundil, aku salat. Bundil sudah nyuruh aku nyimpen wudu dari rumah, jadi aku nggak perlu ikut antrean yang panjang banget.

Habis salat aku balik lagi ke tempatnya Bundil. Lanjut makan sama minum lagi sampai tinggal tiga puluh menit sebelum bel masuk. Aku akhirnya balik ke depan ruang ujianku, dan duduk di kursi yang ada di depan ruangan. Untung aku dapat tempat duduk lagi, dan ... kanan-kiriku juga belajar lagi. :')

Dan aku terpengaruh lagi. (...)

Sebenernya aku bisa aja kuat, karena otakku sekarang sudah lebih masuk akal, dia bilang, "Sya, inget, tadi waktu TPA kamu baca kosa kata banyak banget dan ternyata nggak ada yang keluar. Kalau yang Soshum ini, memangnya apa yang mau kamu baca?" dan aku sudah sepakat, ambil jalan damai, kami berdua jabat tangan. Nggak baca-baca lagi, apa pun. Oke.

Sampai lalu sebelahku ngajak ngobrol. Sebentar aja, sih, dan di akhir dia bilang, "Nggak belajar?"

Nah, lho, Sya, kamu mau jawab apa? Aku dihadapkan pada pertanyaan menjebak, dan pada akhirnya ... aku belajar, deh. Aku buka ponsel terus aku baca tentang ajaran-ajarannya Mahatma Gandhi sama Revolusi Prancis. Habis baca semuanya, dan lagi-lagi tetep nggak inget-inget banget, aku lalu ngobrol sama Ayah lewat Whatsapp.

aku ngeskrinsyut ini dari tab-nya ayah. x)
Habis itu ... yak, sesuai dengan yang aku bilang ke Ayah lewat chat; kami disuruh masuk.

TKD Soshum SBMPTN

Nggak ada soal Mahatma Gandhi. Nggak ada soal Revolusi Prancis. Ya nggak usah Revolusi Prancis, tentang Perang Dunia Kedua aja nggak ada. Aku baca soal Sejarahnya dan ... lemes banget rasanya. Aku panik kuadrat, dan itu suatu kesalahan karena gara-gara panik ngitung berapa soal yang aku bisa di halaman pertama dan cuma dapet tiga dari sembilan soal Sejarah yang ada, begitu kubalik ke halaman selanjutnya ... ada soal ditanya hasil sidang PPKI 18 Agustus DAN AKU LUPA.

Itu padahal soal terakhir Sejarah sebelum Geografi. Kepalaku bener-bener langsung kopong, rasanya ngeri banget, kayak keformat semua datanya, dan ini semua gara-gara kepanikan yang sebenernya nggak perlu; tapi semakin lama aku mikirin ini, aku tambah panik jadinya. Aku ngelihatin soal itu dan pengin teriak, "Demi apa ini hasil sidang PPKI 18 Agustus, Sya, kenapa kamu nggak tahu? Materi ini kayak ada di mana-mana, apa hasil sidang PPKI 18 Agustus, Sya, APA?!"


Aku nggak berani berkutat lama-lama di soal itu, dan aku nggak menaklukkan banyak di Sejarah, jelas-jelas formasi 15-10 nggak bisa aku terapkan di sini. Alhasil aku coba ngerjain yang Geografi dan Ekonomi, dan ngelebihin Sosiologi. Tapi aku udah takut banget, dan nggak tahulah mau ngapain habis ini.

[ H+ SBMPTN ]

Hah. Bingung. Antara libur dan enggak, antara pengin seneng-seneng dan ya kali kita seneng-seneng tapi masih belum tahu nasibnya bagaimana? Ini menyiksa karena enak banget yang SNMPTN, mereka sudah libur banget dari awal. Tapi ya mau gimana kalau aku nggak rezeki di SNMPTN wkwk. :') Aku nulis, ngobrol, ketemuan sama temen, dan karena masuk bulan Ramadhan juga, jadi mau ke mana-mana juga malah bikin makin laper.

Oh, aku punya hiburan baru: The Flash! Serial TV yang tokoh utamanya dapat penghargaan Teen Choice Award 2016 kemarin. Yang Season 4-nya bakal tayang akhir tahun ini. Aku ngisi liburan dengan kejar nonton tiga musim sekaligus, dan berakhir dengan lagi-lagi jatuh cinta sama kapal yang nggak akan bisa bebas berlabuh.

Dan lalu, ya, agak sedih kalau mikir ini adalah hari-hari kosong tanpa kepastian, tapi sekalinya lupa, ya kami tetep seneng-seneng. :')

[ Pengumuman SBMPTN ]

Semalem

Aku cuma bisa tidur satu jam. Habis itu nggak jelas ngapain, kayak setengah tidur setengah enggak, cuma merem doang. Akhirnya karena nggak ada harapan lagi buat tidur, aku turun ke bawah nemenin Bundil masak sahur. Aku bolak-balik ngitarin dapur, nggak tahu mau ngapain, sampai lalu jam tiga lebih, Ayah bangun dan nyuruh aku bangunin Dek Dama. Bundil nanya aku mau ikut sahur apa enggak soalnya aku nggak puasa, dan ya sudah akhirnya aku ikut sahur, tak anggap sarapan pagi karena aku tahu aku nggak bisa tidur lagi.

Jam 11:30

Sebelum jam ini aku melakukan hal-hal yang biasanya aku lakukan kemarin-kemarin, tapi semuanya berbeda mulai dari jam setengah dua belas. Kenapa dari jam segini? Karena dari jam segini aku sudah nggak tahu mau ngapain. Ayah sudah pergi kerja, Dek Dama ke sekolah ada kegiatan entah apa sama temen-temennya. Aku duduk di depan TV nemenin Bundil, biasanya aku nggak suka nonton TV jam-jam segini padahal.

Menjelang jam 14:00

Aku. Takut. Banget.

Aku takut nggak keterima. Kalau aku nggak keterima, aku mau daftar di mana? Aku mau ikut ujian mandiri apa? Jurusannya yakin masih mau Sastra Indonesia? Atau aku ngulang tahun depan aja? Aku nggak yakin aku sanggup menerima kenyataan kalau nanti aku nggak keterima, jadi aku muter-muter, jalan-jalan ke kamar terus keluar lagi, cuma untuk bilang ke Bundil, "Aku takut, Bundil, aku takuuttt banget."

Aku masih pengin Sastra Indonesia UGM, tapi lama-lama makin waktunya datang, aku jadi mikir mau keterima di pilihan mana saja nggak masalah. Mendekati menit-menit, aku mulai buka situs pengumuman SBMPTN-nya. Bundil masih ikut masuk kamar, dan aku sama Bundil masih ngomong soal aku takut, lalu aku harus pasrah, aku sudah baca kalau yang diterima nggak ada 15%-nya, 100 ribuan dari 700 ribuan yang daftar, aku sudah berjuang sebisaku dan hasilnya juga sudah ada, tinggal kucek aja, jadi tinggal menerima apa yang dikasih sama Allah ke kita karena itu yang terbaik.

14:00 + + +

Bundil keluar kamar, karena aku mau ngecek ini sendirian. Aku ngelihatin terus layarnya mulai dari kurang dua puluh menit lagi, aku corat-coret "bismillah, bismillah, bismillah" di kertas sampai penuh, banyak banget, pikiranku nggak tahu ke mana, aku nggak tahu harus mikir apa. Bentar lagi. Sampai lalu kurang dari sepuluh menit lagi, aku mulai berhenti corat-coret, ngelihatin hitung mundurnya terus.

Waktu bener-bener nggak bisa berhenti. Tinggal tiga menit lagi dan aku ngelakuin apa yang persis kulakuin pas sebelum masuk ruang ujian SBMPTN; aku zikir sampai waktunya habis. Aku pasrah, pasrah pasrah pasrah.

Di situs pengumuman SBMPTN-nya, hitung mundur sudah ada di angka Hari 00 Jam 00 Menit 00 Detik 00, dan diem lamaaa banget aku nggak tahu situsnya mau nunjukin apa. Aku sudah mikir kalau ini pasti bakal lama loading-nya karena banyak banget (banget) yang buka situs ini.

Terus tiba-tiba lamannya nggak respons. Aku pencet F5. Masih nggak respons. Aku pencet F5 terus, tapi masih nggak respons. Akhirnya aku coba ke situs minor pengumuman SBMPTN, bolak-balik, ganti-ganti link, sampai lalu akhirnya muncul tampilannya. Aku disuruh ngetik nomor pendaftaran sama tanggal lahir, terus baca CAPTCHA. Aku mulai ngetik, pelan-pelan banget.

Trus aku klik, "Cari", dan aku nunggu ... dan tiba-tiba lamannya nggak respons.

Aku diem. Bentar.

Aku pencet F5 lagi dan balik ke tampilan yang nomor pendaftaran, tanggal lahir, sama baca CAPTCHA-nya masih kosong. Aku isi lagi, pelan-pelan, terus aku klik, "Cari", tapi tampilannya tetep laman nggak respons. Aku F5 lagi dan balik ke tampilan yang semuanya masih harus diisi lagi. Aku bingung, tapi aku juga takut, aku nggak tahu ini lamannya harusnya gimana, apa mungkin kalau nggak diterima tuh tampilannya kayak gini?

Dari luar kamar, Bundil sudah manggil. Aku lihat jam, dan sudah 14:25. Aku bilang, "Belum, Bun, masih belum bisa dibuka," dan itu alasan doang karena aku takut aku sudah nggak keterima, soalnya lamannya memang nggak mau respons begitu aku nulis nomor pendaftaranku dan seterusnya. Aku kayak gitu berkali-kali, banyak banget, mulai dari aku ngetik nomor pendaftaran harus lihat kartu ujian dan ngecek angkanya satu-satu, sampai aku bisa hafal nomor pendaftaranku tanpa ngecek ulang.

Tapi habis aku klik "Cari", tampilannya selalu laman nggak respons.

Aku lalu mikir ... ya sudahlah, ya. Nggak papa.

Lalu aku ngecek ponselku yang sejak tadi aku kasih di belakang netbook, sengaja biar aku nggak tahu ada notif LINE masuk siapa-siapa yang sudah dapat kabar hasil SBMPTN mereka. Aku buka LINE, dan ... banyak banget pada dapet kabar gembira. Sudah jam 14:30, sebanyak apa pun yang ngecek situs itu, harusnya nggak sampai bikin lamannya nggak respons lagi, apalagi aku sudah buka situs itu dari sebelum jam dua.

Aku pengin ngucapin selamat sama orang-orang yang sudah bilang kalau mereka diterima, tapi aku nggak mau ditanya balik gimana hasilnya. Aku udah bingung dan takut juga, ini mungkin tampilannya kalau nggak keterima memang langsung nggak responding gitu, kan memang logikanya kalau nggak diterima berarti namaku nggak bisa ditemukan di daftar nama-nama yang berhasil lolos SBMPTN.

Dengan segala ketidakpastian, duniaku kayak abu-abu, ruwet banget di otak nggak tahu mau mikir apa duluan. Aku scroll LINE sampai semuanya sudah aku baca, ada juga yang bilang kalau nggak diterima, sampai akhirnya aku buka Browser lewat ponsel dan buka link pengumuman SBMPTN. Nggak bisa langsung kebuka, aku harus nge-refresh berkali-kali, atau sekalinya kebuka tulisan CAPTCHA-nya nggak kebaca, sama aja harus refresh lagi.

Akhirnya kebuka, aku ngisi nomor pendaftaran sama tanggal lahir, nulis CAPTCHA, klik "Cari", trus nggak responding lagi. Gitu aja terus. Aku coba-coba terus sampai nggak tahu sudah keberapa, ada rasa takut karena jangan-jangan aku memang nggak diterima, dan aku yang terus-terusan ngecek ini sebenernya bentuk sikap menyangkal kenyataan aja. Di tengah-tengah pemikiran yang nggak tentu itu, ada saatnya entah kali ke berapa, aku pencet "Cari" dan tampilannya adalah:


Aku diterima.

Aku baca itu ... lalu aku buka pintu kamar, nyamperin Bundil, lalu aku tunjukin. Bundil udah meluk aku duluan, lalu tanya, "Gimana?" dan aku masih nggak percaya waktu aku bilang, "Sastra Indonesia." Habis itu Bundil seneeeeng banget, aku sama Bundil sujud syukur, lalu pelukan lamaaaaa terus nangis. :') Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillaah. Ya Allah. Makasih ya Allah, terima kasih, aku diterima di pilihan pertamaku. :')

Habis pelukan sama Bundil, aku ngasih tahu Dek Dama kalau aku diterima. Dek Dama langsung bales, "ALHAMDULILLAH," lalu Dek Dama langsung dalam perjalanan pulang ke rumah. Habis itu Bundil nyuruh aku nelpon Ayah, aku nelpon Ayah dan ngasih tahu. Ayah waktu itu posisinya sudah coba nelpon aku sebelum ini tapi nggak kuangkat, lalu pas aku bilang hasilnya Ayah nangis. Aku masih nangis. :')

Aku ngelihatin layar ituuu terus ke Bundil, lalu pelukan terus, sampai lalu Dek Dama pulang, ngucapin selamat, seneeeeng banget. Aku bilang ke Bundil kalau aku pengin Wardah jadi temen yang kali pertama tahu, dan akhirnya aku ngasih tahu Wardah, atas balasan semangatnya H-1 SBMPTN waktu itu. Wardah sendiri sudah diterima duluan tahap SNMPTN di Sastra Inggris UGM.


Aku lihat hasil itu lagi dan ... Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Terima kasih ya Allah. :""""")

You Might Also Like

2 comment(s)

  1. Alhamdulillah Rasyaa selamaattt 🙌🙌
    aku nangis terharu seriously bacanya :"))
    feelingnya dapet banget deg-deg an nya, geregetannyaa XD
    Barakallah yaakk, sukses selaluu 😇😇

    BalasHapus
    Balasan
    1. fathimaaaah makasih sekaliii yaaa :"))
      selamaaat buat dirimu, alhamdulillah kamu udah diterima :")
      aamiin, sukses buat kamu juga fathimahhh 🙌

      Hapus