12. World Only God Knows: Keima/Shiori

Selasa, Juni 13, 2017

Lagi-lagi, setelah Harvest Moon dan Assassination Classroom, kita bertemu lagi denganku yang menjadi awak kapal di mana si gadis adalah anak kutu buku. Sampai di titik ini aku baru sadar, kok rasa simpatiku banyak juga yang tertarik ke karakter tipe-tipe kayak gini; seorang yang hobinya bawa buku ke mana-mana. Yap, Shiori namanya, dan dua hal yang perlu diketahui dari dia yaitu, satu:

[ source ]
Pemalu. Dan yang kedua:

[ source ]
Kebanyakan mikir. (...)

Shiori ini punya banyak - terlalu banyak malah - skenario di kepala. Bagaimana kalau dia balas pakai kalimat ini, bagaimana kalau kalimat itu, dan pada akhirnya selalu berakhir dengan enggak ngomong kalimat apa pun. Sementara sayangnya, si bocah, Keima, adalah seseorang yang sama; punya banyak skenario juga di kepalanya, tapi dia seolah bisa mikir selangkah lebih maju karena bisa ngomong dengan ringan kayak tanpa beban.

Anime ini, World Only God Knows, atau Kami Nomi zo Shiru Sekai, adalah anime pertama yang aku tonton seumur hidupku. (Ya, terlepas dari Tsubasa atau Naruto yang kulihat di TV, sih.) Suatu hari di kelas 3 SMP, secara nggak sengaja aku lihat temen-temen sekelasku nonton, dan aku penasaran, dan lalu minta semua episodenya, dan pada akhirnya berakhir menjadi seseorang yang malah paling suka sama anime ini dibandingkan yang lain karena aku sampai ngikutin komik dan bikin fanfiksinya. (...)

Keima adalah tokoh yang menarik perhatianku pertama kali. Dia itu hobi main game, jenisnya visual novel, jadi mengharuskan dia terlibat sama tokoh-tokoh komputer yang mengajak ngobrol, lalu disajikan pilihan kalimat untuk dibalas yang bakal menentukan jalannya cerita kemudian.


Misalnya, muncul seseorang di depan layar dan ada sebaris kalimat yang dia ucapkan, kayak, "Hei! Yang kamu pegang itu topiku, bisa tolong kembalikan?" dan lalu di bagian bawah gambar ada opsi, persis kayak deretan pilihan ganda di soal-soal ujian, mungkin sekitar tiga-empat pilihan, kayak:

[A] "Maaf, kayaknya kamu keliru karena aku yakin seratus persen ini topiku."
[B] "Eh, kamu pikir kamu bisa minta begitu aja kalau kita nggak kenalan dulu?"
[C] "Oke, ini."
[D] "Nggak."


Nah, kayak gitu. XD Dan apa jawaban kita nanti, bakal mempengaruhi reaksi lawan bicara kita. Tugas kita adalah gimana caranya si tokoh komputer itu tertarik sama kita dan mau untuk kita deketin. Salah-salah jawab, dia justru tersinggung ... dan kita gagal, deh. Oke, nah, Keima ini adalah ahlinya game itu. Dia bisa membaca puluhan langkah lebih maju, apa yang bakal terjadi kalau dia pilih opsi A, apa yang bakal terjadi kalau dia pilih opsi B, dan lainnya.

[ source ]
Hampir mirip, tapi beda, sih. Tapi aku selalu suka sama momen-momen waktu mereka berdua sama-sama diam, terus tiba-tiba terdengar suara tik-tok-tik-tok jarum jam. Kayak keheningan mereka itu sama-sama dimanfaatkan untuk coba menganalisis situasi, apa kira-kira kalimat yang bisa jadi topik pembicaraan, atau apa yang terjadi kalau mengucapkan kalimat ini, lama banget waktu terbuang hanya untuk mikir. XD

[ source ]
[ source ]
Kenapa mereka nggak bisa bareng sampai akhir? Inilah yang bedain Shiori sama Mary di Harvest Moon. Mereka sama-sama punya banyak skenario di kepala, sama-sama tahu kalau sekalipun dua sosok yang muncul di hadapan mereka (Gray untuk Mary, Keima untuk Shiori) itu mau mencoba mengerti, tapi sebenarnya nggak ada seorang pun yang bisa mengerti mereka.

Kalau Mary itu 'menipu diri sendiri' dengan memainkan peran sebagai tokoh protagonis di cerita romansa bersama Gray, Shiori memutuskan untuk sendiri. Jadi, terlepas dari kedatangan Keima sebenarnya ingin menolong Shiori saja tanpa mau meninggalkan perasaan suka, Shiori merasa kalau dia cukup berterima kasih saja pada Keima, lalu tetap balik menjalani kehidupan mereka sendiri-sendiri.

Aku suka banget sama betapa kompleksnya relasi mereka berdua seandainya aja dibahas lebih lanjut, tapi aku punya perasaan kalau mereka ada kemungkinan bisa bareng di akhir. Seharusnya, lho. Karena aku nggak setuju besar-besaran sama akhirnya Keima memutuskan sama siapa (- iya, Chihiro, ini tentang dirimu) dan entah kenapa aku ngerasa pada akhirnya Keima ngerasa ada yang kurang walaupun sudah ada Chihiro.

[ source ]
Gimana, ya. Aku entah kenapa ngerasa yakin, sih. Mereka sama-sama punya tebakan-tebakan di kepala, mempertimbangkan ini-itu. Mereka berdua mirip banget soalnya, dan aku ngerasa kalau mereka punya suatu koneksi, dan ini yang bikin Shiori beda dari cewek yang lain untuk Keima.

Misalnya, nanti suatu hari Shiori benar-benar jadi penulis, dan seperti yang dia bilang kepada Keima kalau dia pengin bikin tulisan tentang dirinya sendiri, dan Keima akhirnya baca buku itu, aku yakin sesulit apa pun isinya, Keima pasti langsung paham. Dan aku mikir ini bisa bener-bener jadi, karena dua orang yang mirip kayak mereka itu memang harusnya bikin jeda dulu dan baru bareng-bareng nanti, menunggu waktu yang memberi jalan. *tiba-tiba dapat ide bikin fanfiksi*

Long live Keima/Shiori! XD

You Might Also Like

0 comment(s)