game

21. Software

Sabtu, Juni 24, 2017

Sekarang hari terakhir Ramadan dan mendadak aku pengin bisa bikin software.

[ source ]
Nggak nyambung, jelas. (...)

Nggak ada kaitannya sekali antara hari terakhir Ramadan sama keinginanku bikin software. Memangnya jenis software macam apa yang aku buat, dan memangnya aku tahu apa tentang pemrograman kayak gitu, sementara sampai tadi aku masih tanya sama adekku, "Dek Dama, software tuh aplikasi bukan?" jadi jelas aku nol besar banget soal software ini.

Tapi terlepas dari aku mau bikin software kayak apa, aku pengin software itu 'seolah' terbagikan secara gratis ke semua orang, tapi sebenernya cuma orang-orang tertentu yang bisa buka karena aku kasih password. Sebenernya pertama kali mikirin ini, rencanaku cuma sampai situ, aku kasih kata kunci tapi toh sebenernya semua orang bisa minta kata kuncinya dengan kirim pesan ke aku. Tapi lalu aku berubah pikiran.

Ini masih kasar banget dan terlintas jam setengah tiga pagi di masjid pas aku iktikaf terakhir, dan aku jarang banget dapat ide di saat-saat kayak gitu, jadi menurutku, walaupun masih abu-abu di kepala, aku harus menuangkannya ke dalam bentuk tulisan karena siapa tahu ingatan ini bisa hilang. Entah juga sih ini ide besar atau semacam celetukan putus asa karena akhir-akhir ini aku nggak berselera menuangkan sisi humor di cerpen-cerpen yang aku bikin, tapi ya ... nggak papalah kita coba.

Ada satu sisi di mana aku pengin semua pengguna software ada dalam pengawasanku, tapi ada juga satu sisi di mana kata kuncinya itu adalah jawaban dari suatu teka teki. Ada pertanyaan, yang jawabannya terdiri dari satu kata dan sepuluh huruf, pertanyaan yang juga sudah datang ke kepalaku ... tapi sayangnya aku belum tahu jawabannya LOL. /dihantam

Tentu kalau aku pilih opsi kedua, aku berarti harus memakan risiko karena jelas akan ada orang di luar sana yang bisa mengakses software-nya secara sederhana karena dia tahu jawabannya, dan itu bakal tanpa sepengetahuanku. Kalau aku mau mereka membagi biodatanya, berarti masalahnya ada di kata-kata pembuka yang entah bagaimana bisa ngeyakinin mereka.

Lalu gimana sama orang-orang yang nggak tahu jawabannya? Aku mikir kalau mereka mungkin perlu bimbingan (?) atau setidaknya, aku mungkin perlu kasih beberapa klu ke mereka, klu yang bikin mereka jadi menyusuri jalan setapak yang sama kayak aku untuk mendapatkan jawaban ini. (Karena, iya, ini aku bilang lagi: aku juga belum tahu jawabannya.)

Mungkin kayak gini opsi buat mengirim pesannya:
  1. Kasih tebakan, aku cuma perlu jawab Benar / Salah
  2. Minta klu
  3. Minta klu setelah aku bilang Salah
Sekarang sudah lewat beberapa jam sejak pertanyaan itu muncul di kepalaku, tapi aku belum dapat jawabannya, dan ini sebenernya nggak lucu karena ya masa aku yang bikin tapi aku sendiri susah menemukan jawabannya? Tapi lalu kutipannya Conan terlintas di kepalaku:


Tidak ada misteri di dunia ini yang tidak bisa dipecahkan.
- Conan Edogawa (Detective Conan)


Lalu aku kepikiran juga; ya, mungkin jawaban dari teka-teki itu nggak datang dari aku? Waktu sahur terakhir tadi aku makan sambil mikirin itu. Mungkin aku butuh bantuan dari seseorang buat nemuin jawabannya? Tapi kalau kayak gitu, artinya aku main curang dong. Gimana aku bisa mengharapkan ada orang yang bisa jawab teka-teki ini sendiri kalau aku yang bikin pertanyaannya aja minta bantuan orang lain?

Tuh, kan, aku sudah kepikiran macam-macam padahal ini baru cari kata kunci cara masuk ke software yang aku bikin. Sebenernya aplikasinya kayak apa begitu kita berhasil masuk sudah ada di kepalaku, tapi aku nggak yakin bisa mewujudkannya seratus persen kalau aku mulai aja nggak tahu dari mana.

Tapi sebelum aku ketemu temen yang bakal ngajarin aku bikin software, mungkin aku harus cari jawabannya dulu ; v ; Jadi, teka-tekinya itu persis kayak soal bacaan tentang poster atau iklan di pelajaran bahasa Inggris. Disajikan gambar, lalu ada pertanyaan, dan kita menjawab pertanyaan itu dengan mengacu pada gambarnya.

Nah. Gambarnya sederhana:


Berbahagialah kalian karena hanya orang Indonesia yang punya kesempatan untuk bisa menjawab soal ini. (Iyalah, Sya.) Iya, gambarnya di kepalaku sesimpel itu; tulisan sepuluh huruf, yang barangkali itulah kalimat yang kalian baca pertama kali di TK. Pertanyaannya juga cukup sederhana, apalagi jawabannya juga sama; sepuluh huruf.

Tapi ... aku mau coba cari jawabannya dulu. Aku bakal langsung kasih pertanyaannya ke kalian begitu aku sudah ketemu jawabannya. XD /dihantam (2)

cerpen

20. [Fiction] Tentang Sebab-Akibat

Kamis, Juni 22, 2017

Pernah dengar hukum sebab-akibat?

Biasanya kalau dalam percakapan sehari-hari, kita menyebutnya karma, sih: menuai apa yang kamu tanam. Gampangnya, kalau kamu menyakiti hati seseorang, nanti ada saatnya seseorang menyakiti hatimu. Kalau kamu sudah punya pacar tapi buka cabang (?), suatu hari nanti orang yang kamu suka bakal mengkhianati kamu juga. Itu namanya karma, yang kalau aku lebih suka nyebutnya hukum sebab-akibat.

[ blog.udemy.com ]
Sayangnya, kadang hukum sebab-akibat bahkan nggak terjadi sejelas itu. Kita yang melakukan, bisa jadi yang kena akibatnya bukan kita, tapi orang terdekat kita. Nah, ini yang mau aku ceritain sekarang. Karena entah kenapa, ya walaupun sebenarnya kita nggak bisa tahu pasti tepatnya sebab yang mana dari akibat yang menimpa kita, tapi menurutku jauh lebih miris kalau yang menerima akibatnya justru bukan kita sendiri.

Tentang Sebab-Akibat

Daripada pakai alfabet yang bikin aku sendiri pusing, mending kita sebut si tokoh utama ini dengan nama Illia--aku ambil secuplik dari nama aslinya sih. Satu kata yang cukup untuk mendeskripsikan dia, dia ini playgirl. Sebutannya sudah nggak zaman, ya, tapi intinya dia nggak pernah benar-benar serius menjalani suatu relasi, dia deketin si ini, si itu, dan ajaibnya, selalu berhasil.

Dia punya sahabat namanya Ami--ini aku ambil dari nama aslinya juga. Aku sebenernya nggak pernah paham sama persahabatannya mereka, karena mereka berdua itu beda banget. Seisi sekolah jelas tahu kalau Illia ini anaknya sangat menjunjung tinggi sosialita, sementara Ami ini relatif biasa-biasa saja. Ami ini punya pacar, yang di sini kita sebut Romy.


PADA SUATU HARI YANG CERAH, Illia pamer ke Ami kalau dia baru saja dapat hadiah dari laki-laki yang lain, anak pecinta alam yang suka ngabsenin gunung satu-satu dengan menaklukannya. Dia dapat kertas tulisannya, "SEMANGAT BELAJARNYA:) 1726 MDPL", artinya tulisan itu dibuat waktu si laki-laki ini sudah sampai di puncak, ketinggian nyaris dua ribu meter dari permukaan laut.


Ami: Terus, kamu balas nggak?
Illia: Masa' cuma kayak ginian aku balas? Aku pulsek ada janjian makan sama si maniak sepak bola anak Aliansi Tenggara.
Ami: Hmm. Kasihan dianya naik gunung bawa-bawa kertas sama spidol, udah repot-repot.
Illia: Yaa nanti kalau dia tahu aku makan sama cowok lain lagi, aku tinggal bilang kalau dia cuma temen.
Ami: 'Lagi'? Memangnya dia langsung percaya? 
Illia: Nah, itu lho, Mik, masalahnya; iya, dia langsung percaya.


Illia sebenernya tahu sih kalau Ami ini nggak pernah bener-bener seratus persen dukung apa yang dia sukai; jalan sama si A, makan sama si B, terus malamnya chattingan sama yang lain lagi. Tapi secara Ami ini orangnya adem dan kalem, tipe-tipe yang sebisa mungkin mencari celah adanya jalan damai, jadi mereka nggak pernah ada konflik.

Dan Illia juga nggak pernah ngepermasalahin, sih. Mau Ami dukung dia atau enggak, toh yang ngelakuin kan, dia sendiri. Nanti kalau hukum sebab-akibat itu beneran ada, yang kapok kan dia? Ami nggak ada rugi-ruginya.


PULANG SEKOLAH, Illia langsung ngacir ke restoran deket sekolah, tempat dia janjian sama si maniak sepak bola ini. Kita panggil dia Sein (yap, aku ngacak dari nama aslinya, dan ... makan waktu agak lama betewe, namanya terlalu susah untuk diacak lol). Sein sudah nunggu, dan Illia nyamperin, lalu mereka ngobrol. Ya, secara Illia ini terlampau berpengalaman, dan dia punya sisi humor yang bagus, dan kebetulan dia lumayan tahu soal sepak bola, jadi seolah mereka nyambung.

Sampai datanglah perusak suasana. Laki-laki yang dari tadi ngelihatin mereka, lalu akhirnya memutuskan buat mendatangi meja tersebut dan mulai menyapa.


[???]: Illia?


Tebak dia siapa?

Begitu namanya dipanggil, Illia sudah berasa seolah disambar petir, sebelum dia menoleh, di dalam kepalanya sudah menampilkan daftar kemungkinan-kemungkinan siapa laki-laki yang manggil dia. Besar kemungkinan kalau yang manggil itu yang pernah dia deketin, dan alarm di otak sudah tersetel mode siaga satu karena gawat banget kalau yang manggil itu si anak gunung. Illia noleh, dan ...

Ternyata itu Romy. Adegannya kayak di sinetron di mana kamera ganti-gantian nge-close up wajah mereka berdua, lalu backsound suara drum, dan momennya berlangsung lambaaat banget berasanya.


Illia: Romy?
Romy: Haloo.
Sein: Siapa, nih?
Illia: ... Pacarnya sahabatku.


Untungnya jawaban itu skakmat buat Sein dan nggak ada alasan dia cemburu (ya kali cemburu sama pacar sahabat?) tapi sekarang Illia yang ... terguncang. Ami nggak bilang kalau dia ada agenda makan siang sama pacarnya, dan Illia juga tahu kalau Ami nggak suka tipe-tipe restoran fast food kayak gini, karena bahkan tuh bocah lebih pilih bawa bekal daripada jajan di kantin. Jadi kenapa Romy ada di sini?


Romy: Ami di mana?
Illia: Sudah langsung pulang.
Romy: Nah. Oke, deh.
Illia: Kamu ke sini ngapain? Makan sama siapa?
Romy: Mau kamu bilangin ke Ami?
Illia: Kamu makan sama cewek? Berdua?


Jelas Illia langsung bisa nebak dengan akurat. Ini yang lagi dia lakukan sekarang; dia juga lagi makan berdua sama cowok lain. Makanya Illia bisa nembak ke arah situ, tahu kalau Romy pasti punya janjian sama cewek lain yang entah siapa.


Romy: Cuma temen kok.
Illia: ...



HABIS NGOMONG KAYAK GITU, Romy-nya pergi. Sein-nya bingung, walaupun dia coba ngerti. Tapi sekarang Illia sudah nggak fokus lagi makan sama Sein, dia mikirin Ami yang hampir setiap hari pasti cerita soal Romy. Sebenernya Illia nggak pernah bener-bener dengerin, tapi pasti Ami cerita. Pasti kalau mereka berdua ngobrol, Ami bakal ujung-ujungnya ngomongin Romy juga. Dan sekarang, Ami nggak tahu kalau Romy lagi makan sama cewek lain.

Illia-nya diem. Waktu Romy bilang "cuma temen", rasanya jleb ke dia. Sekarang dia lagi makan sama Sein yang notabenenya, kalau semisal di sini ada sahabatnya si anak gunung yang memergoki mereka, Illia juga bakal bilang hal yang sama, kalau Sein itu cuma temennya. Persis kayak Romy yang bilang kalau cewek yang dia ajak makan ini cuma temennya juga. Akhirnya Illia nggak tahan.


Illia: Eh, Sein, aku boleh nyamperin Romy bentar nggak?
Sein: Dia tuh lagi makan sama cewek, padahal dia pacarnya sahabatmu?
Illia: Iya. Bentar aja, paling cuma motret mereka berdua terus udah.
Sein: Oke.


Untung Sein ngerti. Akhirnya Illia berdiri lalu pergi, dia nyari ke setiap tempat duduk, minimal dia mau tahu dia kenal nggak sama cewek yang makan bareng sama Romy. Setelah sibuk nyari, akhirnya Illia nemu Romy, duduk di tempat duduk luar, masih sendirian. Dia samperin deh. Romy-nya sudah notis duluan sebelum Illia sampai.


Romy: Belum dateng nih ceweknya.
Illia: Siapa emang?
Romy: Temen doang. Beda sekolah. Kamu nggak kenal.
Illia: Aku bakal bilang Ami.
Romy: Bilang aja. Ami tahu nama ceweknya kok. Seenggaknya, aku pernah nyebut sekali pas aku cerita soal event yang panitianya perwakilan dari sekolah-sekolah, aku sama dia sama-sama divisi Kehumasan. Tinggal ngingetin dia, bilang kalau aku pernah nyebut namanya, trus nekenin kalau kita cuma sama-sama anak Humas.
Illia: Enggak, nggak bakal cuma itu. Emangnya Ami percaya sama kamu?
Romy: Itu masalahnya, Li; Ami bakal percaya.



RASANYA KAYAK BERCERMIN, itu bagi Illia waktu dia ngobrol sama Romy. Jalan pikirannya Romy bener-bener persis seperti selama ini dia memperlakukan semua laki-laki yang dia deketin, jadi Illia bisa memprediksi juga ke mana arahnya. Illia juga tahu kalau semisal Ami nanti tahu, Romy bakal bisa ngeyakinin kalau dia dan si cewek cuma temen.

Sekalipun sempet marahan atau gimana, Illia percaya kalau Ami bakal percaya, Illia tahu pada akhirnya mereka bakal baikan kayak nggak ada yang terjadi. Karena itulah yang ia alami sama laki-laki yang pernah memergoki dia makan sama laki-laki lain, dia selalu sukses bikin mereka damai lagi.


Illia: Kalau Ami tahu, dia bakal sakit banget, Rom.
Romy: Percaya karma nggak, Li?
Illia: Emangnya bagian mana yang karma? Ami nggak pernah makan sama cowok lain.
Romy: Ami-nya enggak. Tapi kamu kan iya.
Illia: ...


Skakmat.

TAMAT


Ceritanya berakhir dengan sanggat nggantung, iya. Tapi itu yang mau kusampaikan sih. Memang hukum sebab-akibat itu misterius dan nggak ketebak tindakan mana berakibat apa, tapi apa yang kita lakukan bisa jadi berimbas ke sahabat kita. Kayak yang terjadi sama Illia sekarang. Dia suka makan sama cowok ini dan cowok itu, lalu ternyata pacarnya sahabatnya juga melakukan hal yang sama.

Walaupun nggak secara langsung nimpa Illia, tapi sebenernya Illia lebih-kurang sudah ngerasain akibatnya juga. Dia seolah 'dipertemukan' sama seseorang yang persis banget kayak dia, hanya saja kali ini seseorang itu berkhianat sama sahabatnya sendiri. Antara nggak terima karena sahabatnya yang sakit hati, tapi nggak bisa menyudutkan juga karena Illia sendiri tipe yang kayak gitu.

dedicated to

19. Tiga Tahun

Rabu, Juni 21, 2017

p o s t i n g a n   s e b e l u m n y a  }


Tiga tahun. Kalau di posisiku, aku menunggu tiga tahun.


Sebut saja namanya H. Dari hantu, LOL. Bercanda ding.

Dan sebenernya, ‘menunggu’ itu kosakata yang salah karena memangnya aku menunggu apa? Lebih tepatnya, aku ditinggal tiga tahun. Persis kayak yang aku ceritain sebelumnya tentang John Watson ditinggal Sherlock, aku pun begitu juga: selama tiga tahun itulah aku jungkir-balik nggak keruan dalam mode five stages of grief, masuk SMA dengan niat nggak membahas ini sama sekali ke teman-teman baru, ikut kepanitiaan, ikut ekskul, mengisi kegiatan sehari-hari dengan segala hal, mencoba sibuk agar melupakan.


[ kelas sepuluh ]

Ini di SMA Negeri 6 Yogyakarta.

Tahun pertama jelas susah. Aku masuk kelas X MIA EP di ruang 212, kelas dengan anak-anak yang ajaib, rumah kedua, keluargaku juga. Semua yang di situ sahabat, kita bahagia bareng, susah-seneng bareng, cunthel bahasa Prancis bareng. Kita berbagi cerita dan ada saat-saat yang sangat susah buatku untuk menahan diri agar nggak melakukan hal yang sama.

Aku ketemu dua sahabat di kelas itu, namanya Lisa dan Shelly. Kita bertiga dekeeet banget, ke mana-mana selalu bareng, gila-gilaan ya pernah, marahan ya pernah (dan sering lol), alay juga pernah. Saking deketnya kita ngerasa kalau kita bertiga ini bener-bener saling melengkapi, Shelly bilang kalau masing-masing dari kita ini sepertiganya kita. Kayak gitu, deh.

Lalu, aku lupa siapa di antara mereka yang mulai lebih dulu, tapi akhirnya aku nggak tahan juga untuk menceritakan tentang H ke mereka. Tapi, ya, aku nggak pengin bener-bener ketahuan, jadi aku ceritanya ke Lisa dan Shelly secara terpisah.


[ shelly ]

Jadi, aku masuk kelas sepuluh itu, aku punya satu akun media sosial yang kunonaktifkan. Kalau ditanya, aku selalu bilang kalau aku nggak punya, padahal aku sebenarnya pernah punya. Lewat akun itu aku sering ngobrol sama H ini; jadi saking alay-nya kita, kita mengunduh aplikasi chatting yang anti mainstream dan cuma sama H aku pakai aplikasi itu.

Waktu aku main di rumahnya Shelly, harusnya ada Lisa juga tapi Lisa belum datang, Shelly ngajak aku bikin akun di media sosial itu. Akunya sempet bereaksi kayak orang kena kejut listrik, karena aku sebenernya kadang-kadang sudah nyaris melupakan, terus tiba-tiba di siang bolong aku dibikin keinget lagi.

Akhirnya kita berdua bikin akun itu. Lalu janjian saling ngobrol di sana. Lambat laun, kita lebih sering pakai LINE, dan toh kita berdua ketemuan setiap hari, jadi akun itu terabaikan begitu saja. XD Cuma bertahan beberapa hari, ya? Toh kita berdua nggak ada yang nganggap ini berat-berat, jadi ya sudah, mari kita lupakan kalau kita pernah bikin akun di media sosial ini. XD


[ lisa ]

Kalau ke Lisa, aku cerita tentang H pas perjalanan yang aku lupa dari mana mau ke mana, tapi waktu itu kita lagi di motor dan aku boceng dia. Biasanya kalau aku mau inget H itu pas aku lagi sendirian dan lagi ngerasain angin, sementara itu posisinya kita lagi diem dan anginnya kenceng. Oh, aku inget. Ini waktu kita nyasar kayaknya. Eh, aku lupa juga, sih.

Sayangnya, aku malah cerita hal-hal tentang aku sama H yang nggak penting. Kita nggosip, kita ngomongin kemampuannya H yang bisa tahu seseorang bohong atau enggak, ngomongin sepak bola dan betapa anak-anak kos di deket rumah H ribut banget kalau bola masuk gawang, segala cerita dua-anak-bersahabat yang normaaaal banget.

Iya, aku nggak bilang ke Lisa kalau H sudah nggak ada. Jadi, aku malah nggak cerita bagian terpentingnya. :”) Waktu itu aku lagi butuh orang buat aku ceritain untuk mengenang bareng saat-saat aku sama H, dan Lisa yang lagi ada sama aku, jadi aku cerita aja. Aku pengin mengenang momen yang nyenengin, jadi aku cerita yang seneng-seneng aja. :”)


[ kelas sebelas ]

Naik ke kelas 2 SMA, aku di 11 IPA 6. Hah, alhamdulillah, aku punya banyak banget permasalahan di sini yang bikin aku stres LOL. Mulai dari ekskul, kakak kelas, kegiatan, sahabat, sekolah, dan lain-lain, sampai nggak bisanya aku berbaur sama temen-temen sekelasku. Pesan moralku dua semester di bangku kelas sebelas ini: aku bisa lupa. Aku bisa lupa! Yay. Kayaknya aku nggak pernah sekalipun ingat soal H di kelas sebelas ini. :)))


[ kelas dua belas ]

Aku di 12 IPA 5. Aku deket sama Jihan, Fatma, Afi, Dhiar, Oca … temen-temen sekelasku di sini seru dan asyik pakai banget. Kita punya banyak tekanan kelas dua belas yang sebentar lagi ujian, jadi untuk beberapa saat, aku masih lupa tentang H. Aku nggak ingat kapan persisnya, tapi yang jelas waktu itu pemicunya adalah aku sendiri, sih. Aku cuma lagi merenung, lalu tiba-tiba, datang tak diundang, aku inget H.

Yang ada di pikiranku cuma:


Wah, aku sudah bisa melupakan, ya?


Oke, tentu kalau aku ingat, artinya aku nggak lupa, dong. Waktu itu mungkin menjelang semester dua, aku mulai bisa buka akun media sosial yang nggak pernah kubuka lagi, cuma buat baca-baca ulang hasil chattingan-ku sama H. Dia ada masalah dan itu bikin dia harus pergi, dari sini. Aku sudah ngerasa nggak papa, aku sudah ngerelain kepergiannya dia yang tiba-tiba banget.


[ 2017 ]

Aku ngucapin dia selamat tahun baru. Aku ngetik di aplikasi itu, di chattingan-ku sama H. Waktu aku ngetik tanpa mikir lagi, aku mulai ngerasa kalau jangan-jangan aku sudah nggak waras kali, ya? Aku sudah tahu kalau H nggak mungkin bisa bales lagi, dan buat apa aku ngirim dia chat?


met taun baruuu /telat


Tapi, ya, tetep kukirim juga sih. (…)


[ kelulusan ]

Pas aku wisuda SMA, aku tiba-tiba keinget sama dia. H yang nggak pernah bisa bikin aku marah, H yang bilang kalau aku punya bakat jadi tukang bersih-bersih (dan bahkan sesering apa pun dia bilang ini, dia tetep nggak bisa bikin aku marah). Aku kadang-kadang memang keinget lagi, tapi sudah bukan dalam tahap untuk bikin aku sedih, tapi buat kukenang aja.

Aku mendadak ingat kali pertama kenalan sama H, begitu aku pindah rumah pas kelas 3 SMP. Dia kelas 3 SMA, jadi kuanggap kakak. Cuma setahun kita bareng, tapi rasanya kayak kita saudara yang sudah terpisah dari lahir. Menjelang aku persiapan ujian SMP, dia juga siap-siap mau lulus SMA, jadi akhir semester dua aku sudah nggak menyempatkan diri buat ngobrol.

Lalu, kita ngobrol pas aku nunggu pengumuman NEM SMP. Aku tanya, dulu NEM SMP-nya dia berapa, dan dia jawab 37,8. Iya, H ini pinter, tapi ada satu dan lain hal yang bikin dia ke SMA yang sangaaaat biasa-biasa saja, dan itu adalah masalah ekonomi dan transportasi. Dia pengin cari SMA yang murah dan deket sama rumah soalnya.

Di hari yang berdekatan dengan itu, H cerita kalau dia punya masalah yang ada kaitannya sama ekonomi, keluarga, dan berkas melengkapi kelulusan. Lalu kejadiannya cepet banget, dia bilang kalau ponselnya dia hilang. Akunya nggak langsung percaya, karena, ponselnya hilang? Iya, bertransformasi jadi uang, mungkin ya? Kenapa bilangnya hilang?

Lalu, begitu sajalah, dia pergi. Waktu itu tahun 2014.


[ john watson ]

LOL, kenapa langsung mendadak pindah ke sudut pandang blogernya Sherlock Holmes?

Ini yang kubilang di postingan sebelumnya, kalau postingan ini punya kaitan. Waktu aku kali pertama nonton “The Reichenbach Fall”, pas bagian Sherlock nelpon John dan nyuruh John ngelihatin dia terjun dari atas gedung, di situ Sherlock juga mengungkapkan kebohongan.

Dia bilang kalau dia bohong soal kepintarannya. Sebenernya dia selalu mengumpulkan data-data sebelum menganalisis, sebenernya musuh bebuyutannya dia cuma orang teater yang dia bikin untuk kepuasannya sendiri. Sherlock cerita semuanya ke John, terlalu nyata sampai aku nyaris percaya, tapi John cuma dengerin dan komentarnya dia:


Kenapa kamu bilang gitu?


Atau saat Sherlock datang lagi setelah dua tahun, semuanya menyambut dan orang-orang penasaran bagaimana bisa Sherlock pura-pura meninggal, menipu sahabatnya, semua orang, dan dunia, orang-orang saling berkumpul untuk membahas kira-kira bagaimana Sherlock melakukannya. Sherlock cuma pengin jelasin itu ke John, dan John bilang:


Aku nggak peduli bagaimana kamu melakukannya. Yang aku tanya, kenapa?


Memang, episode itu sedih, tapi aku nonton itu dalam posisi aku bisa ngerti perasaannya John bagaimana. Sedihnya, marahnya. Salah apa, aku harus melakukan apa sampai kamu mau cerita semuanya? Kenapa aku yang mau mendengarkan di sini, tapi kamu nggak memberiku ruang dan waktu untuk memberiku kesempatan memahami? Kenapa?


[ kembali ]

Kamu balik.

Hari Minggu kemarin, tepat jam setengah sembilan pagi.


[ kenapa? ]

Mungkin kata tanya kenapa itu kata yang paling emosional di antara kata tanya yang lainnya.

Tiga tahun, H. Tiga tahun.

Kamu pergi tiba-tiba, kamu nggak ngasih tahu tepatnya kapan, nggak ada ucapan selamat tinggal, berlalu dengan setumpuk pertanyaan yang nggak kaubiarkan aku untuk tahu. Dari kamu, aku bisa mendengar cerita-cerita aneh bin ajaib, tentang teman-temanmu di sekolah, sisi dunia yang nggak bisa kumasuki, celetukan sederhana yang receh, atau tentang geng tiga orang pecinta misteri yang kaubentuk dengan dua teman sekolahmu.

Lalu begitu kamu pergi, aku sadar kalau kamu mungkin cerita semuanya tentang dunia di sekelilingmu, tapi kamu nggak pernah cerita tentang kamu sendiri. Kamu bilang kalau sistem memilih anggota OSIS di SMA-mu itu sama sekali nggak layak dan harus diubah, tapi apa pendapat pribadimu sebenarnya?

Kenapa kamu nggak pernah cerita tentang kamu? Kenapa kamu bilang kalau ponselmu hilang? Kenapa kamu tiba-tiba pergi? Lalu sekarang, kenapa kamu tiba-tiba datang?

Semuanya kayak serba salah di kepalaku. Aku nggak serta-merta ingin kamu pergi, tapi aku juga marah melihat betapa gampang dan nggak bersalahnya kemunculanmu di depanku, tapi kamu yang membuat semuanya begini sekarang.


Setelah semua ini, serius?


[ sekarang ]

Sekarang, aku nggak tahu harus bagaimana. Tiga tahun ini terlalu lama, H. Aku sudah lupa, aku sudah mau menjalani hari tanpa inget kamu. Kamu butuh untuk kupukul, kucekik, kuhantam kepala lebih dulu dan bagiku ini nggak cukup untuk langsung menerimamu lagi, bermain-main, di sini. Ada rasa marah tapi ada juga rasa kangen. Kalau kamu beneran kakakku di dimensi lain, kujamin kamu itu kakak paling jahat dan paling berdosa besar di dimensi mana pun di semesta ini.

Campur aduk di kepala, nggak tahu mana yang harus dipikir duluan. Aku bisa sukses menamatkan kisah SMA-ku tanpa sedikit pun bercerita mengenai kedepresian tentang kamu ke teman-temanku, tanpa kusebut nama kamu, aku bahkan sudah lupa sama kamu. Aku. Marah. Banget. Semua kata-kata sumpah serapah rasanya ada di kepala, tapi aku nggak mungkin sanggup mengeluarkannya satu huruf pun juga, karena semuanya terakumulasi lebih dari cukup menjadi satu kata, yang diakhiri tanda tanya besar, KENAPA?


Kenapa datang lagi?
Aku mau kamu pergi.

nulis random

18. Dua Tahun

Rabu, Juni 21, 2017

Ada momen yang bikin baper kuadrat di Sherlock: waktu dia muncul lagi setelah dua tahun lamanya.


DUA TAHUN YANG LALU, disaksikan oleh sahabatnya sendiri, John Watson, Sherlock Holmes menjatuhkan diri dari gedung. Bruk, dan langsung dikerubungi orang-orang, John cuma kuat nyamperin untuk ngecek denyut nadi di pergelangan tangan. Setelah memastikan sendiri kalau Sherlock sudah meninggal, dia nggak mengikuti jejak orang-orang yang membawa si detektif itu ke rumah sakit, cuma diem di situ, setengah duduk, ditinggal sendirian sama kubangan darah dari kepala Sherlock.

John sengaja tinggal di situ terakhir setelah orang-orang yang datang ke pemakamannya Sherlock sudah pada pulang. Setelah sukses bilang kalau dia baik-baik saja ke semua orang yang tanya, akhirnya dia nangis juga—ngomong panjang lebar, dan dua kalimat ini yang bikin aku meleleh kayak mentega dikasih ke wajan panas:


Don’t be dead. I was so alone and I owe you so much.


Kalau mikir sisi jenakanya, John itu kehidupannya miris. Memprihatinkan, malah. Dia datang ke London pengin cari teman sekamar, dan begitu dapat Sherlock Holmes di 221B Bakerstreet, ekspektasinya hidup bahagia damai aman nyaman sentosa dan sejahtera abadi nan jaya, harus berubah seratus delapan puluh derajat:

Di mana dia bangun pagi-pagi dan lihat hasil karya Sherlock yang ngegantung manekin di samping meja makan. Di mana dia berharap menemukan makanan tapi justru ada kepala di dalam kulkas. Di mana yang Sherlock minum bukan sekadar teh susu biasa, tapi alih-alih nyemplungin es batu atau apa, objek yang mengambang di permukaan malah bola mata manusia. :")))

Terus sekejap, nggak pakai tedeng aling-aling, John baru mau masuk gedung itu waktu Sherlock nelpon dia, nyuruh dia nggak usah masuk dan lihat ke paling atas bangunan, cukup lihat sampai akhir begitu dia jatuh. Jelas Sherlock nggak punya perasaan memperlakukan koleganya sedemikian rupa, dan aku maraaaah banget karena cobaan macam apa lagi yang harus menimpa John plis?? Dia sudah sabar sampai tingkat yang nggak ada orang yang tahan.

Sherlock meninggal, Johnnya masuk mode five stages of grief, dia memutuskan untuk pindah tempat tinggal karena nggak mau melihat bekas-bekas kenangan kegiatan sehari-hari sama Sherlock, nggak mau ngurus kasus apa pun lagi, dia pergi, cari kerja, memulai tatanan kehidupan baru, begitulah. Mencoba melupakan.

look at this and think on your sins, sherlock. thank you.


DUA TAHUN KEMUDIAN, waktu John berniat melamar Mary di suatu restoran, tepat saat dia hampir ngomong, Sherlock dateng. (Perusak suasana banget emang.)

Iya, jadi Sherlock sebenarnya nggak meninggal. Itu tipuan, dan bagi Sherlock, sudah lebih dari cukup kalau dia berhasil bikin John percaya kalau dia meninggal, makanya dia pengin John yang jadi saksi mata dia ngejatuhin diri dari atas gedung. Molly tahu, orang tuanya juga tahu, dan bahkan orang-orang yang ngerubungin Sherlock dan bawa ke rumah sakit (total ada 25 orang, kata Sherlock ke John) itu juga sudah setingan. Semua sudah disetel, dan di latar itu, cuma John yang jadi sasaran Sherlock untuk ditipu.

Dia ngomong:


Not dead.


Plis. Sudah dua tahun, Sherlock. Dua tahun John menunggu, dan dua tahun secara harfiah karena dari episode Sherlock jatuh yang tayang 2012 dan episode dia muncul lagi yang tayang 2014 itu juga makan waktu dua tahun. Haha, baik kita dan John sama-sama teriksa dan bener-bener dipaksa memahami arti dua tahun ini kawan-kawan. :”)

Di saat kemunculannya Sherlock dapat hadiah pelukan dan tangisan tumpah-ruah dari Greg dan Mrs. Hudson, cuma dari John dia dapat satu pukulan, satu cekikan leher, dan satu hantaman kepala, di tiga seting berbeda. Pokoknya setiap kali Sherlock menampakkan diri untuk ngajak bicara, itu berakhir dengan dia luka memar atau hidung mimisan.

Jangan heran kalau John marah besar. Dia yang paling kehilangan, sebelum ketemu Sherlock dia selalu rutin ketemu sama ahli terapinya, tapi dia menghentikan itu semua setelah ketemu Sherlock, dan bikin jadwal ketemuan lagi sama terapisnya begitu Sherlock meninggal. Kegilaannya Sherlock yang nggak pernah bisa diprediksi siapa pun itu lebih-kurang sudah jadi obatnya John. Jelas dia marahlah, bener-bener langsung beralih ke mode I’m done with everything and everyone LOL.

Itu episode “The Reichenbach Fall”. Sayangnya kita sendiri, dari sisi penonton, nggak bertahan lama sedihnya karena posisinya kita sudah tahu kalau adegan meninggalnya Sherlock memang sudah dirancang. Tapi kalau ngingat John, yang notabenenya nggak tahu apa-apa, dia menderita banget tolong. :")


Terus, sebenernya aku nggak mau curang, tapi sekarang sudah tanggal 21 dan ini baru postingan nulis random ke-18, jadi … postingan satu ini akan ada kaitannya dengan postingan selanjutnya, ya. :”)

nulis random

17. Sherlock: Ya, Tidak, Bisa Jadi

Selasa, Juni 20, 2017

Tahu permainan "Yes, No, Maybe", nggak?

Kalau di Indonesia, permainannya itu ada dalam acara televisi namanya Eat Bulaga. Sederhananya, permainan ini bisa diikuti dua orang. Orang pertama ditempeli kertas di dahinya, kertas yang diberi tulisan bebas topik apa saja. Dia harus menebak kata apa itu, tapi jangan langsung tembak nama; dia harus nagih klu dari orang kedua yang di depannya. Tugas orang kedua cuma bisa jawab, "iya", "tidak", atau "bisa jadi".

Pas di SMA 6 ada kayak kegiatan semacam class meeting, atau untuk memperingati ulang tahun sekolah, kemerdekaan, Kartini, dan lain-lain segala macam, aku pasti nyempetin buat nonton acara yang ini. Walaupun biasanya nggak ramai, tapi seru banget dan kalau tebakan dari orang pertama tuh bener-bener nyerempet, bikin greget rasanya. XD

Kenapa aku nulis kayak gini?

Aku habis nonton serial televisi Sherlock episode The Sign of Three. Itu episode yang bakal kusebut kalau ada yang tanya apa episode di serial Sherlock yang paling lucu. Soalnya di episode itu kita bisa lihat sisi Sherlock yang ... sangat bukan Sherlock Holmes sekali. Di situ dia yang takut, dia yang panik, dia yang gugup, dia yang patah hati karena ditinggal nikah, aku nggak nyangka bakal ketawa terus, secara ini tuh, Sherlock gitu lho. :")

[ 123RF.com ]

Aku mau cerita soal momen yang aku tonton berulang-ulang. Di episode ini, dia dan sahabatnya, John Watson, main yes no maybe. Mereka nempel kertas di dahi, terus masing-masing dari mereka nulis kata yang harus ditebak oleh si subjek yang ditempeli kertas. Aku mau membagikan momen ini, sih, biar nggak ketawa sendirian aja. XD

JOHN WATSON

Sherlock nulis di dahinya John, "Madonna."


John: Sayuran?
Sherlock: Bukan.
John: Wanita?
Sherlock: Iya.
John: Cantik?
Sherlock: Orang menilai seseorang itu cantik atau tidak berdasarkan pengalaman masa kanak-kanak, pergaulan, dan tokoh panutan.


Sabar, ya, John.

Aku sering banget bilang kayak gitu ke John kalau nonton Sherlock. Soalnya gimana ya. John itu sabar banget astaga. Sudah nyariin taksi, dan begitu taksinya dateng, Sherlock bilang ke John mending dia cari taksi lagi soalnya ini taksi buat dia sendiri LOL. Aku kalau jadi John sudah milih minggat dan jadi tunawisma aja daripada harus menghabiskan hidup sama seseorang yang nyuruh kita ngambilin ponsel di SAKU JAKET YANG LAGI DIA PAKAI. :")))) Tolong.


John: Benar, tapi apa dia cantik?
Sherlock: ... Aku nggak tahu dia siapa.
John: Kamu yang milih namanya!
Sherlock: Aku cuma milih acak dari koran.


... Sabar, ya, John. (2)

Akhirnya John nggak bisa jawab dengan benar. Ya iyalah, ya, yang ngasih tebakan aja nggak bisa memberikan klunya. Sherlock kamu nih gimana, sih.


SHERLOCK HOLMES

Nah, ini. INI! Bagian yang aku suka. Dengan sangat cemerlangnya, mungkin hasil dari nguntit Sherlock selama bertahun-tahun, mencoba memahami jiwa dan cara berpikir sosiopat yang bisa main violin ini, sang sahabat menulis di dahi si konsultan detektif terkenal itu, "Sherlock Holmes."


Sherlock: Manusia?


Nah, lho, John! Sherlock manusia apa bukan? :))


John: Kadang-kadang.


Aku ketawa bagian itu. XD


Sherlock: Tidak boleh 'kadang-kadang'.
John: Ya, manusia.
Sherlock: Pria?
John: Yap.
Sherlock: Tinggi?
John: Ng ... nggak setinggi yang dibayangkan orang.
Sherlock: Hmm. Menyenangkan?


LOL. Aku sudah bayangin John itu ngelihatin Sherlock dengan tatapan kayak, "Plis, ini tuh ngebicarain kamu, ya kali kamu dan kata 'menyenangkan' itu saling kenal?"


John: Sedikit.
Sherlock: Cerdas?


Nggak cuma cerdas. XD


John: Aku akan bilang ya.
Sherlock: Hmm. Penting?
John: Untuk beberapa orang.
Sherlock: Disukai banyak orang?


Enggak pakai banget! John tampangnya udah bingung kenapa sampai sejauh ini, dan aku udah ketawa, ini Sherlock beneran nggak punya ide kalau yang John tulis di dahinya dia itu namanya dia sendiri? XD


John: Emm. Enggak. Dia memperlakukan orang-orang dengan cara yang salah.


Tolong. Ini sudah ketebak banget. Maksudnya, Sherlock, plis, John itu nggak punya siapa-siapa sejak dia ketemu kamu, dan dia bisa jelasin sedetail itu, bisa tahu kalau nggak setinggi yang dibayangkan orang-orang, dan lihat aja tatapannya. Jelas kamu lah. :") Kenapa kamu nggak nyadar-nyadar. :")


Sherlock: Oke. Raja Inggris?


HAHAHA:")))))) Sherlock nebaknya sampai ke Raja Inggris LOL. Aku udah nebak kalau dia pasti mikirnya kejauhan. XD Dan John juga udah ketawa, ya elah padahal orang yang ditulis di dahi itu ada persis di ruangan ini tapi kenapa mikirnya sampai ke kerajaan segala. :")


John: Kita nggak punya Raja.
Sherlock: Benarkah?


Yep, Sherlock, memang kita nggak bisa mengharapkan hal-hal yang sepele dari seorang jenius yang bahkan nggak tahu kalau Bumi berputar mengelilingi matahari.

Sabar, ya, John. (3)


Sherlock: Jadi ... manusia. Nggak setinggi yang dibayangkan orang. Agak menyenangkan, cerdas, penting bagi beberapa orang. Tapi dia memperlakukan mereka dengan cara yang salah.


Iya, iya, Sherlock. Oke, kamu sudah mulai nganalisis, dan terus sampai pada kesimpulan ...?


Sherlock: Kamu?
John: ...


Sabar, ya, John. (999+) :")))

***

Kenapa Sherlock bahkan sampai akhir nggak bisa nebak kalau itu adalah namanya dia? Mungkin kalau orang yang terlalu jenius kayak gitu, ya. Dia nggak mikir hal-hal yang sederhana, membayangkan hal-hal yang jauh padahal ada persis di depan matanya. Walaupun di sini Johnnya harus sabar banget, tapi menurutku John juga mikirnya ke situ. XD

Dia tahu kalau Sherlock pasti bisa nebak kalau dia nulis nama tokoh, kayak nama agen rahasia, atau seseorang yang memberi dana dalam jumlah besar ke rumah sakit yang nggak mau disebutkan namanya, nama komandan militer, dan lain-lain. Makanya daripada dia nulis nama yang sudah jelas Sherlock pasti lebih tahu daripada dia, akhirnya John pilih nama yang terlalu sederhana: namanya Sherlock sendiri. :") Brilian sekali. :"))

cerpen

16. [Short Story] White Truth

Senin, Juni 19, 2017

PROLOGUE

Manusia itu aneh.

Mereka bisa waspada dan lengah di saat yang bersamaan.

Kenapa? Kenapa harus waspada? Kenapa harus lengah? Itulah kenapa bisa ada manusia dengan tipe yang jarang ditemukan di antara manusia-manusia yang ada: mereka tahu apa yang membuat manusia menjadi waspada, mereka tahu apa yang perlu dilakukan agar lawan bicara mereka, tanpa sadar, menjadi lengah. (Makanya pembunuh bayaran lebih memilih untuk langsung minta maaf kepada pemimpin geng jalanan yang tak sengaja ia tabrak alih-alih membuat kegaduhan dengan menerima ajakan adu bogem mentah.)

Ini hanyalah cerita pendek tentang keduanyakejujuran maupun ketidakjujurandengan alasannya masing-masing.


SATU: WHITE TRUTH

"Bagaimana?"

"Meninggal."

Ada suara tawa yang lolos untuk balasan pertamanya. "Hah! Nggak mungkin." Kerutan terbentuk di kening, kedua mata yang sempat melempar pandang ke lain arahsebagai reaksi otomatis yang dikirimkan oleh sumsum tulang belakang dari saraf penghubungkembali memantulkan tatapan seorang dokter pribadi di hadapannya.

"Aku berkata jujur, sayangnya."

"Oh, ini baru kali pertama kita bertemu, 'kan?" Fathia menegakkan tubuh agar punggungnya menempel pada sandaran kursi. "Dan kali pertama aku mendengar namamu pula. Di sini, aku hanya diutus untuk mendapatkan informasi lalu menyampaikannya. Kaupikir aku langsung percaya pada jawaban yang kauberikan untuk membungkam pertanyaan pertama?"

Sang dokter pribadi, La Moma, sebagai satu-satunya yang bertanggung jawab menyampaikan informasi perihal keadaan seorang dengan kode nama 11351291, kedua siku bertumpu di atas meja, jemari tangannya saling bertautan, kelingking kanan menempel kelingking kiri, jari manis kanan menempel jari manis kiri, dan seterusnya. "Maka dari itu," dihelanya napas, "aku tahu kamu tidak percaya padaku, makanya aku langsung memberi tahumu yang sebenarnya."

"Aku tahu." Lawan bicara menyahut balasan yang tak disangka. Ulasan senyum berbahaya diberikan. "Aku tahu yang kamu beri itu kebenaran. Manusia itu aneh, iya, 'kan?"

"Itu sifat alami yang mereka bawa sampai mati," setimpal bagi La Moma apabila dirinya juga melempar senyuman yang sama, "suatu kesalahan untuk langsung memercayai relasi terdekat dan meragukan kebenaran hasil interaksi dengan orang asing. Aku menawarkanmu kebohongan."

"Kamu meremehkanku."

"Katakan padanya, 11351291 menjalani pengobatan di negeri seberang. Kemungkinan hidup masih ada, tapi sayangnya, dokter pribadinya menganjurkan agar dia mengasingkan diri begitu ditetapkan selamat; kehidupan baru, identitas baru. Si Kepala-Leher tak bisa lagi bertemu dengan orang-orang yang berkepentingan dengannya." Selama memaparkan satu paragraf tanpa putus itu, La Moma tak mengalihkan pandangannya sedikit pun.

Begitu pula dengan Fathia. Yang mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan. Yang mulai membuat hipotesis-hipotesis skenarionya sendiri. "Aku tak mungkin membohongi sahabatku sendiri," kalimat sangkalan meluncur keluar.

"Itulah poinnya."

"Aku tahu itulah poinmu," tukas si gadis. "Dhiarrafii berpikir bahwa aku tak mungkin memberinya informasi yang tidak benar. Itulah pikirannya, ia memercayai kesetiaanku."

(Fathia mengulang kembali perkataannya di kepala, dan—hei, terdengar seperti masalahnya sendiri, hm?)


DUA: BLACK LIE

"Heeei. Kau kembali."

Dhiarrafii bahkan tak menoleh ke arah daun pintu untuk memastikan bahwa sosok yang muncul di sana adalah rekan yang paling ia percaya. Justru, sang tuan rumah sedang membelakangi ruang depan, berurusan dengan dokumen-dokumen yang memenuhi meja makan hingga alasnya tak kelihatan. "Membawa berita apa? Perampokan bank? Petani menemukan kepala saat menggali ladangnya?"

Fathia menutup pintu. "Tentang 11351291, sebenarnya."

Gerakan tangan Dhiarrafii yang sibuk sendiri terhenti. Dibalikkannya badan agar kedua penutur kata bisa saling bertatapan. "Satu, satu, tiga, lima, satu, dua, sembilan, satu." Diucapkannya dengan gaya lamban, mata memandang ke mana saja asal bukan pada sang informan di hadapan. "Cukup panjang untuk sebuah kode nama."

Ada anggukan sebagai persetujuan. "Kebetulan merupakan Nomor Seri Standar Internasional daring dari jurnal spesialisasi medis THT edisi bulan Agustus tahun lalu, yang berjudul ...."

"Kepala dan Leher, aku tahu," memotong kalimat, Dhiarrafii melepaskan kacamata yang ia kenakan, memutar-mutar gagangnya. "Si Kepala-Leher. Membuat semuanya jadi sederhana. Tak ada yang peduli bahwa ejaan nomornya yang benar adalah satu-tiga belas-lima-dua belas-sembilan-satu, yang langsung mengarah pada namanya. Amelia."

Mulut Fathia membuka tapi tak keluar kata-kata. Ada dua pilihan dalam kepalanya; kejujuran atau ketidakjujuran? Sang dokter memberinya kejujuran di saat ia berekspektasi kalimat yang keluar sebagai jawaban bukan yang sebenarnya, apakah ia harus memberi sang tuan rumah ini kebohongan hanya untuk membuktikan pada keadaan bahwa ia pasti dipercaya? "Informasi langsung dari dokter pribadinya."

"Oke." Dhiarrafii menarik napas panjang, seperti menyiapkan diri dengan perubahan aura yang akan ia putuskan sendiri kapan tepatnya terjadi. Ia melangkah pelan, kedua kakinya berhenti saat jarak antara dirinya dan sang sahabat (iya, kata itu yang ia gunakan sebagai pengganti subjek, jangan suruh untuk mengulangi) hanya kira-kira satu meter lagi. "Dia bilang apa?"

Oh, Fathia tidak menyangka ruang dan waktunya akan seperti ini. Mata ketemu mata, ia berada dalam posisi yang terlampau mudah bagi Dhiarrafii untuk mengangkat sebelah tangan dan mencekiknya mati. "Katanya ...."

"Katanya?"

"Amelia di negeri seberang." Fathia mendadak lupa bagaimana caranya bernapas. "Pengobatan lebih lanjut."

"Dan apa itu artinya?"

"Dia tidak bisa menemui kita lagi."

Seolah detikan jam yang menempel di dinding samping mereka berhenti, suaranya tak terdengar dan yang tersisa hanyalah dengingan. Dhiarrafii mencoba mencari kebenaran dari kata-kata yang Fathia ucapkan dengan tidak melepaskan pandangan mata mereka, dan Fathia pernah dengar cara itu sebelumnya. Betapa pun inginnya ia untuk berpaling, tahanlah, tahanlah sedikit lagi, sebentar saja.

"Begitu, ya?" Dhiarrafii berbalik badan.

(—dan Fathia sekuat tenaga mencoba tidak terlihat sedang megap-megap mencari oksigen seperti habis dibenamkan ke dalam air.)


EPILOGUE

Tak peduli sekarang tahun delapan puluhan atau zaman di mana mesin pembaca pikiran benar-benar ada, tetapi manusia terus saja melakukan kesalahan yang sama.

Keanehan mereka. Untuk cenderung merasa nyaman dengan seseorang yang baru ditemui, yang barangkali kebetulan bersebelahan dalam perjalanan dua jam di kereta ekonomi, dan terpancing untuk mencerocos banyak hanya dari umpan pertanyaan, "Apa kabar?"

Keanehan mereka pula. Untuk cenderung menutup-nutupi keadaaan ia sebenarnya dengan sosok yang ditemui atas nama rutinitas, bagaikan sarapan pagi rasanya dan kalimat sambutan bak judul depan surat kabar, "Bagaimana harimu?"

Jujur pada orang yang kentara tampak curiga. Berbohong pada orang yang jelas akan percaya.

Kenapa, ya?

nulis random

15. #NulisRandom

Sabtu, Juni 17, 2017

Aku belum pernah cerita tentang #NulisRandom2017, ya. Kenapa sejak awal Juni ada label baru "nulis random", atau kenapa di arsip bulan Juni ini semua judulku aku awali dengan nomor. Memangnya kenapa dengan bulan Juni? Memangnya kenapa dengan label "nulis random"? Mumpung pas banget sih ini yang kelima belas, yang artinya ini di tengah-tengahnya, jadi aku jelasin sekarang: apa itu Nulis Random?


Kegiatan ini dicetuskan oleh NulisBuku.com, awal tahun 2013. Sebenarnya ketentuan mengatakan kalau tempat menulisnya di Facebook, tapi aku milih buat mengaplikasikan ini ke blog aja, biar blog ini nggak terabaikan. XD Oke, kalimat setelah ini kesannya kontradiktif sih, tapi: detailnya sederhana, kok! Cukup membuat tulisan rutin selama bulan Juni 2017.

Walaupun iya, sih, aku sering kelewatan. Bahkan seperti yang kalian ketahui, sekarang sudah tanggal 17 Juni dan ini postinganku untuk tanggal 15 Juni. Nggak konsisten hiks, tapi aku nggak berniat melewatkannya, kok. Aku bakal ngebut garap beberapa postingan dalam satu hari sekaligus, yang penting kita bersama-sama menyelesaikan postingan terakhir pada hari terakhir bulan Juni.

Ada yang tertarik?

Oke, telat sih ya, aku ngasih tahunya sekarang. (...)

dedicated to

14. Tentang Sahabat

Jumat, Juni 16, 2017

[ hdw7.com ]

Rasya, pernahkah intuisimu membaca bahwa ada seseorang yang tatapannya lebih tulus dari orang yang seharusnya menatapmu seperti itu?


Kalimatnya persis.

Waktu itu hari Jumat tanggal 24 Februari 2017.

Aku punya sahabat yang suka menceritakan sesuatu dengan cara begitu; ambil jalan memutar. Nggak langsung tembak mengeluarkan segala unek-unek, yang kadang aku lakukan kalau memang emosi menguasai, tapi tetap tenang, duduk di kursi panjang depan kelas, ngelihatin aku yang bolak-balik mungutin pesawat kertas lipatanku bekas lembar jawaban ujian, dan tiba-tiba mengatakan hal itu.

Kadang kalau kita sudah telanjur dekat banget sama sahabat kita, ada rasa gengsi yang tiba-tiba muncul untuk menanyakan sesuatu tentangnya, yang sebenarnya kita memang belum tahu; tapi seolah-olah otak bagian kemasukakalan menyeletuk saat kita sedang mengumpulkan keberanian yang tercecer di sana-sini, “Kamu serius mau tanya pertanyaan dasar kayak gitu, selama ini kamu sahabatnya atau apa?”

Ada saat-saat di mana kita lihat sahabat kita bikin IGStory, dan sekejap terdengar suara protes dari lubuk hati, “Hei, memangnya ada bagian dirimu yang seperti ini?” waktu melihat di layar tak terpampang apa pun kecuali hitam dan ada satu emoticon di tengahnya, emoticon yang tak pernah dipakai selama kalian bercengkerama. Ada seribu satu pertanyaan di kepala yang mengantre untuk diungkapkan, tapi semua ditebas dengan gerakan jari yang refleks mengetik kalimat tak berinti sebagai balasan, “betah amat jadi jomblo nenggggg?

Ada hari di saat kamu penasaran hal-hal yang sepele, seperti kira-kira saudaranya sahabatmu tahun ini naik ke kelas berapa, atau sebenarnya rambutmu panjangnya seberapa, atau bahkan yang tak kalah sepele, “Aku tahu kamu ulang tahun tanggal ini bulan ini, tapi aku nggak tahu tahunnya, jadi sebenarnya berapa umurmu sekarang?”

Pertanyaan tak terjawab yang membuatmu mengucapkan selamat ulang tahun padanya dengan kata-kata seperti, “selamat ulang ta000n! ku tak mau menyebut ini ultah yang keberapa karena yang perlu kita tahu hanyalah dirimu pokoknya bertambah tua okeys.”

Hah.

Kompleks.

Atau kamu yang sebenarnya menyusahkan diri sendiri, Sya? Rasa bersalah dan nggak enak yang muncul waktu di tengah-tengah istirahat kamu kehilangan jejak sahabatmu, lalu ada teman kelas sebelah yang datang untukmu dan bertanya, “Kamu lihat sahabatmu di mana?”

“…”

Untuk menjawab, “Nggak tahu,” pada pertanyaan seputar sahabat sendiri itu rasanya miris buatmu.


Jadi, sehabis aku memungut pesawat kertasku, dan kamu tiba-tiba bertanya hal seperti itu, rasanya seperti déjà vu. Ada seribu satu pertanyaan di kepalaku. Ini membicarakan siapa? Oke, kamu pernah menyebutkan beberapa nama cowok di pembicaraan kita, tapi itu beberapa, dan sudah lama sekali pula, jadi ini untuk cowok yang mana? Yang aku tahu? Yang belum aku tahu? Atau yang seharusnya aku tahu?

“Kamu lagi ngerasa gitu?”

“Iya.”

“…”

Iya siapa? Iya bagaimana?

Aku mau tanya lebih lanjut tapi aku takut kalau ini justru meruntuhkan hasratmu bercerita, karena siapa tahu kamu memang butuh jeda lagi untuk menyusun kata-kata. Aku ikut duduk di kursi panjang yang sama, di depan ruang kelas 107, kamu senderan di ujung kanan dan aku di ujung kiri.

Aku masih nunggu kamu ngomong. Aku tiba-tiba ingat zaman-zaman setelah ujian kenaikan kelas sebelas, saat-saat di mana yang masuk cuma anak-anak yang berkepentingan melengkapi nilai, dan aku cari kamu. Ke kelasmu. Siapa tahu kamu masuk hari ini.

Ketemu beberapa teman sekelasmu, lalu aku bertanya, dan salah satu di antara mereka menjawab, “Kamu kayak nggak tahu dia saja, toh, Sya, dia kan memang nggak pernah masuk kalau setelah UKK.”

Kamu kayak nggak tahu dia saja, toh, Sya.

Hahaha.

Kenyataannya, aku memang tidak bertanya hal-hal yang memasuki ranah privasimu, misalnya aku tahu kamu pernah izin saat jam pelajaran untuk ujian SIM tapi pada akhirnya kamu diterima atau enggak? Pada akhirnya, aku hanya tahu hal-hal tentangmu yang ada hubungannya denganku; karena persahabatan kadang memang terkesan seegois itu. Seolah-olah hanya peduli yang ada kaitannya saja, tapi sebenarnya ada yang dinamakan rasa takut, dan itu berlaku sekalipun pada sahabat sendiri.

“Mmm.” Aku susah mengatur kata-kata, tapi itu sebenarnya cuma bentuk gumaman yang keluar karena aku sibuk menahan ribuan pertanyaan di kepala. “Mau diem dulu?”

“Ayo.”

Itu gayung bersambut, dan begitulah akhirnya kami menghabiskan sisa hari sebelum ada percakapan-percakaan abu-abu yang berlanjut lagi. Aku ngelihatin tanaman-tanaman di depanku, keran, tangga naik ke lantai atas, ruang praktikum biologi, cukup lama diem, dan aku kepikiran untuk coba bertanya hal-hal yang aku perlu tahu tentang kamu.

Gimana kabar adikmu? Dua-duanya? Kakak sepupumu? Rencana masa depanmu? Kejadian di kelas, atau hal-hal yang pengin kamu ceritakan. Entah kenapa waktu selalu memberi kita ruang tapi kita yang nggak pernah memanfaatkannya.

Aku tiba-tiba ingat perkataannya Conan,


Ada yang nggak bisa disampaikan kalau nggak lewat kata-kata.
Conan Edogawa (Detective Conan)


Kutipan itu berlaku untuk kita (kamu), dan kita (aku) terlambat sadar.

Kita selalu ketemu, selalu papasan, selalu mengobrol, saling mengomentari IGStory, tapi kita nggak pernah benar-benar bicara. Ada banyak hal yang nggak bisa tersampaikan, yang kita sama-sama nggak tahu, karena kita melewati bagian itu; untuk berada dalam tahap benar-benar saling bicara.



Untuk dua sahabat yang dikemas dalam satu cerita,
sekarang sudah libur dan sekarang kamu jauh.

award

13. Tentang SBMPTN 2017

Rabu, Juni 14, 2017

Follow my blog with Bloglovin


Alhamdulillah aku diterima di Sastra Indonesia UGM. :""""""""""""""")


Aku ngecek ini di kamar. Akhirnya setelah sekian lama aku nge-refresh halaman terus, muncul juga hasilnya. Hasil kalau aku diterima di pilihan pertamaku, tempat yang aku pengenin sejak dulu ... ya Allah .... :')

Alhamdulillah ya Allah. Makasih, makasih, makasiiiih. :')

[ Sebelum SBMPTN ]

Bimbingan Antar Teman

Yang paling aku inget itu waktu aku dapat kabar kalau aku dibolehin ikut Bimbingan Antar Teman, atau yang disingkat BAT. Itu les bimbingan gratis yang hampir mirip sama Bidik Misi, cuma pengajar-pengajarnya tersebar dari universitas-universitas di Jogja. Kita dikelompokin ke dalam beberapa kelompok, dan nanti ada ketua dan wali kelas, terus bikin janjian ketemuan buat belajar bareng. Dapat modul, nanti modul itu kita kerjain bareng-bareng dan dibahas.

Aku seneng banget waktu dapat kesempatan buat ikut, bareng beberapa temenku yang lain, karena aku ikut jadi panitia SUNGKEM walaupun cuma jadi anggota Publikasi Konten. Soalnya waktu aku coba daftar lewat jalur manual, aku telat, dan kayaknya nggak ada harapan lagi. Aku sama Bundil sempet punya rencana daftar bimbel di INTEN aja, ikut yang eksklusif soalnya memang waktunya tinggal sebulan lagi, dan bzzZ masih banyak banget materi yang harus aku kejar. :')


Kayak gitu modulnya. Aku nulis namaku di bagian nama, dan waktu di kolom SCHOOL, aku pengin nulis nama SMA-ku waktu itu. Tapi, Afra, temen sekelompok BAT-ku, mengatakan sesuatu yang bijaksana, kalau di BAT ini kita nggak perlu bawa-bawa nama sekolah kita lagi. Aku kepikiran ini dan jadilah aku nulis kode program studi yang aku pengin, Sastra Indonesia alias 472102. :')

Awalnya aku bingung mau tetep daftar INTEN apa enggak, soalnya aku juga sudah ke sana dan ngisi formulir juga walaupun belum bayar. Bundil nyaranin aku, fokus aja sama bimbingan BAT-nya. Walaupun nggak setiap hari dan nggak semiliter (?) yang di INTEN, Bundil nyuruh aku ikut terus semua pertemuannya, lalu pengajar-pengajarnya yang ada di BAT dikontak kalau ada materi yang aku nggak ngerti. Alhasil aku nurut, deh. Bundil nganterin aku ke mana pun tempat pertemuannya diadakan, mau di GSP, atau bahkan di Pusda yang jauh banget dari rumahku. :')

terima kasih banyak sekaliii untuk mbak-mas pengajar BAT. :')
Di BAT itu, aku juga sering nemu informasi kalau ada Try Out. Temen sekelompokku juga, Dita, aku beli tiket Try Out KSE di dia dan jadinya nggak perlu ngehubungin kontak buat pesen-pesen dulu. Trus aku juga beli tiket dari temen BAT juga yang batal ikut Try Out, jadi atas namanya dia deh.

Modul Sosiologi

Jadi panitia SUNGKEM membuatku ketemu dengan Rahina, sosok ibu yang menjadi koordinator divisi Publikasi. Pertemuan pertama kita di KFC, dan di sana pembicaraan kita nyimpang ke hal-hal seputar kuliah. x) Terus kita banyak bertemu buat bahas ini-itu, dan pas kita ketemu di SMA 3, di situ Rahina ngasih aku modul Sosiologi. Banyak banget. :"") Terima kasih sekaliii Rahina. :") Aku fotokopi, dan bahkan aku justru baca buku paket itu di kantin sekolah padahal ada semacam uji coba USBN Fisika. orz

Malaikat 1.0

Lalu, ada malaikat datang kepadaku. Malaikat yang sayangnya aku nggak boleh nulis namanya dia di sini, tapi alhamdulillah aku seneng banget akhirnya dia berhasil masuk program studi yang dia pengin sejak dulu. Malaikat ini mengizinkan aku fotokopi modul INTEN-nya dia. :""") Ya Allah, aku bersyukur banget kalau inget ini, dirimu baik sekaliii sungguh, mudah-mudahan mendapat balasan yang dilipatgandakan. Makasih banget, banget, bangeeeet, yaaa. :") Dia diterima di pilihan pertamanya dia, dan aku ikut seneeeeng banget. :")

Modul TPA

Terus, ada pengajar, beliau ngajarin materi TPA, pada suatu siang yang agak mendung di GSP. Beliau ini Ekonomi UGM, dan memberikan tips yang langsung aku praktikkin sehabis pertemuan itu berakhir: bahwa modul persiapan SBMPTN khusus TPA yang terbaik itu nggak ada di toko buku manapun kecuali di ... SSCI! Iya, tim LBB SSCIntersolusi.

Begitu pertemuannya selesai dan Bundil jemput aku, aku langsung cerita itu, dan kami berdua langsung ke SSCI yang di deket SMA 3 Jogja. Aku masuk, bilang kalau aku mau beli buku persiapan TPA, dan ada mbak-mbak yang mengantarkanku ke atas, lantai dua, masuk suatu ruangan, ketemu ibu-ibu. Ibu-ibu itu kayak langsung tahu apa tujuanku dan memberikanku buku dengan judul "Text Book Ujian Masuk PTN TPA Edisi Revisi". Dimahalin sih karena aku bukan anak SSC.


Soal-soal yang di situ nggak ada Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika Dasar. Murni TPA, bener-bener TPA yang bakal keluar 45 soal pas SBMPTN. Tapi beliau bilang kalau kunci lolos itu harus dimaksimalkan TPA-nya, dan Bundil nemenin aku menaklukkan semua soal itu bareng-bareng. Yang pola, gambar, analisis, silogisme, semuanya ... kecuali satu. (...)

Yaitu numerik aljabar. (...) Aku pasrah kalau di antara 45 soal SBMPTN besok bakal ada tipe kayak gitu karena bener-bener bakal langsung aku loncatin, aku cuma kuat jawab sepuluh nomor pertama - itu pun belum dicocokin bener atau enggaknya - padahal total ada seratus soal di situ. Sebenernya selain karena itu bikin kepalaku makin sakit, waktunya juga sudah nggak sempet LOL, begitu beli dan buka-buka, ada perasaan nyesel kenapa nggak beli ini dari jauh-jauh hari.

Ketika Bahasa Inggris terakhir BAT

Mendekati hari H SBMPTN ... aku makin nggak siap. :")

Ada beberapa jam sebelum berangkat les BAT Bahasa Inggris terakhir, aku mencuri waktu cuma demi ngitung target harus ngerjain berapa soal biar ada di posisi aman Sastra Indonesia. Kasar bangetlah ini, apalagi aslinya UGM nggak pernah ngasih berapa tepatnya passing grade yang harus kita kejar, 'kan. Tapi ... udah mepet banget waktunya, aku malah jadi menyesal belajar USBN dan UN siang-malam dan baru bener-bener sadar betapa "nggak terpakai"-nya dua kerja keras waktu itu LOL.

Di titik itu, semua targetku nggak ada yang terpenuhi karena aku nggak pernah bener-bener nyicil Ekonomi dan Geografi. Ekonomi aku cuma yang bagian akuntansi yang ngitung-ngitung segala macam, dan itu pun sekali doang waktu BAT aku berasa kayak diprivat (?), karena aku murni nggak ngerti dan baik pengajarnya, atau Afra, Grace, Dita, Zahra, Mas Difa, baik banget huhuhu jelasinnya pelan-pelan dan mudah dimengerti, walaupun diem-diem kepalaku kayak pengin meledak. ; - ; Tapi kalau Geografi ... sama sekali nggak aku sentuh. Hah. Blas.

pembatas yang kukasih nama cuma sejarah dan sosiologi. orz
Aku waktu itu bener-bener baru paham istilah "otak penuh". Karena rasanya otakku sudah keisi semua ruang dan waktunya, di titik itu aku ngerasa kalau aku nggak bisa lagi dapat materi baru apa pun. Hari-hari yang harusnya aku isi dengan belajar Ekonomi dan Geografi justru aku pakai buat baca-baca lagi Sejarah, Sosiologi, sama TPA. Iya, aku di titik itu bahkan nggak nyentuh Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, sama Matematika Dasar sama sekali.

Persis sebelum berangkat, setelah menghitung segala macam sampai rasanya kalkulator jebol, pinjem rumus simulasi Try Outnya Gramedia + LOOP yang bobot TPA dan Soshum itu 30:70 karena aku nggak tahu pasti gimana cara perhitungan SBMPTN seharusnya bekerja, akhirnya aku punya target berapa soal yang harus aku jawab benar. TPA 45 soal, Bahasa Indonesia 15 soal, Sejarah 15 soal, dan Sosiologi 10 soal.

Lalu di tengah jalan aku berangkat ke Pusda, sambil terus nginget-inget formasi 45-15-15-10, aku mendadak jadi inget kalimatnya Menzies di The Imitation Game;


And you're going to trust of this all to statistics? To maths?
- Stewart Menzies (The Imitation Game)


Di situ aku baru bersyukur Pusda letaknya jauh dari rumahku karena aku bisa sambil mikir. (...)

Apa yang terjadi kalau aku hanya bertaruh sama formasi itu, dan ternyata semua orang juga kayak gitu? Alhasil nilaiku tenggelam dong? Apa jadinya sama orang-orang yang targetnya Ilmu Komunikasi, siapa tahu mereka nyantumin Sastra Indonesia di pilihan kedua atau ketiga, dan berarti apa yang mereka persiapin lebih berat dari aku, 'kan? Masa' iya aku bener-bener menggantungkan diriku sama perhitungan matematika abal-abal ini?

Mungkin harusnya aku nggak mikirin berat-berat, tapi aku waktu itu ngerasa butuh dikasih tahu kira-kira berapa target soal yang harus aku jawab benar biar nggak lupa diri di tengah-tengah dan justru kepancing untuk jawab semuanya. Aku ragu-ragu sama target yang kupasang sendiri, tapi memang cuma di mapel itulah yang aku paling bisa, masa' aku mau pasang target berapa harus jawab benar di Matematika Dasar? Jelas aku sama aja cari mati. Jadi daripada nyuri waktu bikin coret-coretan yang sebenernya nggak ada hubungannya sama SBMPTN, aku pasrah sama formasi yang aku bikin itu.

Malaikat 2.0

Waktu Bahasa Inggris terakhir BAT ini, akhirnya ketemu lagi dengan pengajar yang memberi tips luar biasa, kayak pengajar TPA itu. Beliau cerita, kalau anak-anak yang les di INTEN sebentar lagi bakal menghadapi Try Out terakhir mereka. Soalnya kan, anak-anak INTEN itu ada Try Out rutin, nah kalau kita punya temen yang baik hati di INTEN dan ngebolehin kita fotokopi Try Out mereka, mendingan fotokopi Try Out terakhir aja.

Sayangnya yang aku punya itu bukan sekadar temen yang baik hati, tapi malaikat. :"") Iyap, malaikat yang menolongku dengan memberikan modul-modul itu juga memperbolehkan aku fotokopi Try Out INTEN terakhir. Bundil nganterin aku ke INTEN dan di sana aku ketemuannya. Di rumah kubaca dan coba ngerjain Try Outnya. Jasamu bener-bener besar sekali, alhamdulillah, makasih ya Allah sudah mempertemukanku dengan malaikat ini. :"")

[ SBMPTN ]

Semangat H-1


Aku diberi ucapan semangat sama Wardah. :") Di grup BAT juga, Namche juga, atau di OA-OA LINE juga bertebaran di mana-mana. Bener-bener rasanya tuh ... ya Allah. Antara siap dan enggak siap, segala perasaan yang nggak bisa dijabarin dan hanya bisa aku jelaskan secara nggak jelas di postinganku yang ini. Aku nggak tahu mau mikir apa. Rasanya ... kosong banget.

Menjelang TKPA SBMPTN

Aku dapet lokasi di UPN. Di ruangan yang sudah aku cek sebelumnya kemarin. Alhamdulillah aku dapet lokasi tempat duduk yang aku suka, di pojok belakang. Kita semua udah harus dateng tiga puluh menit sebelum masuk, dan di depan ada beberapa kursi buat nunggu. Untung waktu aku dateng, ada satu kursi yang masih kosong.

Lalu diem.

Kanan-kiriku pada belajar, dan walaupun ada pengajar BAT yang pernah bilang kalau sebelum SBMPTN dimulai mendingan nggak usah buka buku apa-apa lagi, aku ... aku nggak bisa menahannya. :') Maksudku, kepalaku bener-bener kopong sementara kanan-kiriku persis lagi buka-buka buku, dan otakku serasa kayak bilang, "Sya, kamu serius nggak mau baca-baca lagi? Kamu serius sudah lebih siap daripada mereka-mereka yang sampai sekarang tetep masih belajar? Beneran, Sya, kamu nggak mau baca-baca lagi? Memangnya kamu tahu apaaaa?" TvT

Kata-kata otak itu rasanya masuk akal, dan semakin lama nunggu aku semakin nggak siap. Jadi aku buka ponsel dan langsung ngetik, 'kosa kata yang sering keluar di soal TPA' dan aku memanfaatkan waktu yang ada untuk baca satu-satu. Banyak banget betewe, dan sumpah, ini malah bikin panik dan aku nerusin baca aja sampai mentok nge-scroll dan baru sadar kalau aku nggak inget apa-apa dari yang barusan aku baca. (...)

Lalu aku gantian batin, "Sya, mungkin kamu nggak dilahirkan dengan kemampuan mengingat yang akan meningkat seiring dengan mepetnya waktu. Tutup ponselnya sekarang daripada kamu menggila." Akhirnya ponsel kumasukin tas, sambil lihat jam. Masih beberapa menit lagi. Grao, kita semua yang ada di sana bener-bener nggak punya klu apa pun soal kayak apa yang bakal keluar. Sama sekali.

Soal apa yang bakal kita temuin nanti? Di antara banyaknya Sejarah Indonesia, bagian mana yang keluar? Sejarah Dunia, mau negara mana yang keluar? Ratusan perjanjian, yang mana yang mau keluar? Banyak banget yang kita pelajarin dan semua itu dikemas dalam ketidakpastian. Aku lalu sadar kalau mikirin kayak gitu cuma bikin aku takut, dan akhirnya aku ... zikir. :') Ya Allah, aku pasrah. Aku zikir seolah-olah kayak aku bakal mati begitu aku masuk ruangan ini, dan rasanya aku nggak pernah sebegitu zikirnya kayak diriku yang waktu itu. :')

TKPA SBMPTN

Inget Rasya, inget. Formasi 45-15 untuk sesi yang pertama.

Di antara segala ketegangan yang bener-bener tegang, kayak setiap pergerakan kita itu ada aliran listriknya (oke ini mulai alay, tapi ... ya memang gitu rasanya. TvT) Dan aku nyesel karena ternyata di TPA nggak keluar tipe soal kosa kata. Walaupun belum tentu juga aku bisa jawab, tapi ini bikin aku yakin kalau meluangkan beberapa menit buat baca ponsel tadi tuh buang waktu dan malah bikin kepercayaan diriku yang sudah nggak ada dari awal berkurang. Tapi aku juga seneng banget tipe numerik aljabar nggak keluar. Hore. :')

Habis ngerjain TPA yang kujawab semuanya 45 soal itu, aku langsung ngelompatin Matematika Dasar LOL. Lalu baca soal Bahasa Indonesia. Aku mau nangis rasanya, ini soal Bahasa Indonesia bacaannya banyak banget dan kayak soal Bahasa Indonesia pada umumnya, pertanyaannya menjebak sekali dan opsinya banyak yang mirip. Aku ngerjain soal Bahasa Indonesia cuma selama Try Out dan les BAT aja soalnya.

ini modul soshum yang aku andalkan, aku dapet ini gratis setelah ikut try out gramedia + loop karena panitia sungkem ; v ;

dan ... aku nggak garap bagian tpa (karena berpedoman pada tpanya ssci) dan ... yang soshum cuma bagian sejarah sama sosio aja. (...)

Lalu karena nggak bisa ngerjain semua soal Bahasa Indonesia, otomatis aku harus nambal di Matematika Dasar atau Bahasa Inggris, biar memenuhi formasi 45-15. Karena aku pasrah mati di Matematika Dasar, aku serahin sisanya dengan coba jawab soal Bahasa Inggris. Akhirnya aku bisa nuntasin 45-15 walaupun ada sedikit perubahan, tapi terus ... aku mulai goyah. *yha* Gimana kalau nanti aku nggak bisa nuntasin formasi 15 Sejarah dan 10 Sosiologi, dan aku nggak bisa juga nggarap Ekonomi dan Geografinya? Aku mati dong? Akhirnya aku ngira-ngira aja, dan coba ngerjain Matematika Dasar. Kali aja ada yang bisa aku jawab.

... Nggak ada ternyata. /DITENDANG

Soal Matematika Dasarnya susah, dan karena aku jarang berkutat sama mata pelajaran satu ini, sih. Aku di soal-soal pertama sudah tumbang, dan sebenernya aku nggak ada niat buat coba ngitung satu-satu kalau nggak ada rasa takut gagal di sesi TKD Soshum. Aku takut nggak bisa jawab soal Sejarah dan Sosiologi sesuai target padahal dua itulah yang aku andalkan, jadi aku coba ngitungin satu-satu.

Alhamdulillah, aku nggak tahu kesambet apa, tapi aku bisa jawab dua soal sampai akhirnya waktu habis. Nggak tahu pakai rumus apa, aku masuk-masukin aja pilihan gandanya satu-satu, terus akhirnya ketemu opsi mana jawabannya. Aku lalu mikir, lumayanlah bisa surplus dua, kalau memang nanti Sejarah dan Sosiologinya susah banget, aku jawabnya cukup 14 dan 9 aja.

Peralihan ke sesi TKD Soshum

Itu menjelang jam dua belas, nyaris azan zuhur. Aku keluar ruangan. Ruanganku kan ada di lantai dua, dan dari atas aku bisa lihat Bundil duduk di lapangan parkir. Aku langsung nyamperin Bundil, dan persis kayak pas Try Out Gramedia + LOOP, Bundil bawain aku makanan biar aku nggak usah ke mana-mana lagi dan masih punya waktu buat salat atau baca-baca. :')

Bundil bawain aku minum, teh kotak, dan makanan roti banyaaaak banget. Aku yang awalnya nggak ada hasrat buat ngapa-ngapain akhirnya makan, karena lihat makanan itu jadi bikin sadar kalau sebenernya kita laper banget. Ngerjain soal TPA tadi berasa kayak medan perang, dan itu menguras banyak banget tenaga padahal cuma otak yang kerja. :')

Aku ngobrol-ngobrol sama Bundil sambil makan sambil minum. Makin lama makin kopong Soshum sebenernya, tapi aku takutnya kalau coba baca-baca nanti bakal kayak TPA tadi, ternyata yang aku baca malah nggak ada yang keluar. Lalu karena udah zuhur, tasku tak titipin Bundil, aku salat. Bundil sudah nyuruh aku nyimpen wudu dari rumah, jadi aku nggak perlu ikut antrean yang panjang banget.

Habis salat aku balik lagi ke tempatnya Bundil. Lanjut makan sama minum lagi sampai tinggal tiga puluh menit sebelum bel masuk. Aku akhirnya balik ke depan ruang ujianku, dan duduk di kursi yang ada di depan ruangan. Untung aku dapat tempat duduk lagi, dan ... kanan-kiriku juga belajar lagi. :')

Dan aku terpengaruh lagi. (...)

Sebenernya aku bisa aja kuat, karena otakku sekarang sudah lebih masuk akal, dia bilang, "Sya, inget, tadi waktu TPA kamu baca kosa kata banyak banget dan ternyata nggak ada yang keluar. Kalau yang Soshum ini, memangnya apa yang mau kamu baca?" dan aku sudah sepakat, ambil jalan damai, kami berdua jabat tangan. Nggak baca-baca lagi, apa pun. Oke.

Sampai lalu sebelahku ngajak ngobrol. Sebentar aja, sih, dan di akhir dia bilang, "Nggak belajar?"

Nah, lho, Sya, kamu mau jawab apa? Aku dihadapkan pada pertanyaan menjebak, dan pada akhirnya ... aku belajar, deh. Aku buka ponsel terus aku baca tentang ajaran-ajarannya Mahatma Gandhi sama Revolusi Prancis. Habis baca semuanya, dan lagi-lagi tetep nggak inget-inget banget, aku lalu ngobrol sama Ayah lewat Whatsapp.

aku ngeskrinsyut ini dari tab-nya ayah. x)
Habis itu ... yak, sesuai dengan yang aku bilang ke Ayah lewat chat; kami disuruh masuk.

TKD Soshum SBMPTN

Nggak ada soal Mahatma Gandhi. Nggak ada soal Revolusi Prancis. Ya nggak usah Revolusi Prancis, tentang Perang Dunia Kedua aja nggak ada. Aku baca soal Sejarahnya dan ... lemes banget rasanya. Aku panik kuadrat, dan itu suatu kesalahan karena gara-gara panik ngitung berapa soal yang aku bisa di halaman pertama dan cuma dapet tiga dari sembilan soal Sejarah yang ada, begitu kubalik ke halaman selanjutnya ... ada soal ditanya hasil sidang PPKI 18 Agustus DAN AKU LUPA.

Itu padahal soal terakhir Sejarah sebelum Geografi. Kepalaku bener-bener langsung kopong, rasanya ngeri banget, kayak keformat semua datanya, dan ini semua gara-gara kepanikan yang sebenernya nggak perlu; tapi semakin lama aku mikirin ini, aku tambah panik jadinya. Aku ngelihatin soal itu dan pengin teriak, "Demi apa ini hasil sidang PPKI 18 Agustus, Sya, kenapa kamu nggak tahu? Materi ini kayak ada di mana-mana, apa hasil sidang PPKI 18 Agustus, Sya, APA?!"


Aku nggak berani berkutat lama-lama di soal itu, dan aku nggak menaklukkan banyak di Sejarah, jelas-jelas formasi 15-10 nggak bisa aku terapkan di sini. Alhasil aku coba ngerjain yang Geografi dan Ekonomi, dan ngelebihin Sosiologi. Tapi aku udah takut banget, dan nggak tahulah mau ngapain habis ini.

[ H+ SBMPTN ]

Hah. Bingung. Antara libur dan enggak, antara pengin seneng-seneng dan ya kali kita seneng-seneng tapi masih belum tahu nasibnya bagaimana? Ini menyiksa karena enak banget yang SNMPTN, mereka sudah libur banget dari awal. Tapi ya mau gimana kalau aku nggak rezeki di SNMPTN wkwk. :') Aku nulis, ngobrol, ketemuan sama temen, dan karena masuk bulan Ramadhan juga, jadi mau ke mana-mana juga malah bikin makin laper.

Oh, aku punya hiburan baru: The Flash! Serial TV yang tokoh utamanya dapat penghargaan Teen Choice Award 2016 kemarin. Yang Season 4-nya bakal tayang akhir tahun ini. Aku ngisi liburan dengan kejar nonton tiga musim sekaligus, dan berakhir dengan lagi-lagi jatuh cinta sama kapal yang nggak akan bisa bebas berlabuh.

Dan lalu, ya, agak sedih kalau mikir ini adalah hari-hari kosong tanpa kepastian, tapi sekalinya lupa, ya kami tetep seneng-seneng. :')

[ Pengumuman SBMPTN ]

Semalem

Aku cuma bisa tidur satu jam. Habis itu nggak jelas ngapain, kayak setengah tidur setengah enggak, cuma merem doang. Akhirnya karena nggak ada harapan lagi buat tidur, aku turun ke bawah nemenin Bundil masak sahur. Aku bolak-balik ngitarin dapur, nggak tahu mau ngapain, sampai lalu jam tiga lebih, Ayah bangun dan nyuruh aku bangunin Dek Dama. Bundil nanya aku mau ikut sahur apa enggak soalnya aku nggak puasa, dan ya sudah akhirnya aku ikut sahur, tak anggap sarapan pagi karena aku tahu aku nggak bisa tidur lagi.

Jam 11:30

Sebelum jam ini aku melakukan hal-hal yang biasanya aku lakukan kemarin-kemarin, tapi semuanya berbeda mulai dari jam setengah dua belas. Kenapa dari jam segini? Karena dari jam segini aku sudah nggak tahu mau ngapain. Ayah sudah pergi kerja, Dek Dama ke sekolah ada kegiatan entah apa sama temen-temennya. Aku duduk di depan TV nemenin Bundil, biasanya aku nggak suka nonton TV jam-jam segini padahal.

Menjelang jam 14:00

Aku. Takut. Banget.

Aku takut nggak keterima. Kalau aku nggak keterima, aku mau daftar di mana? Aku mau ikut ujian mandiri apa? Jurusannya yakin masih mau Sastra Indonesia? Atau aku ngulang tahun depan aja? Aku nggak yakin aku sanggup menerima kenyataan kalau nanti aku nggak keterima, jadi aku muter-muter, jalan-jalan ke kamar terus keluar lagi, cuma untuk bilang ke Bundil, "Aku takut, Bundil, aku takuuttt banget."

Aku masih pengin Sastra Indonesia UGM, tapi lama-lama makin waktunya datang, aku jadi mikir mau keterima di pilihan mana saja nggak masalah. Mendekati menit-menit, aku mulai buka situs pengumuman SBMPTN-nya. Bundil masih ikut masuk kamar, dan aku sama Bundil masih ngomong soal aku takut, lalu aku harus pasrah, aku sudah baca kalau yang diterima nggak ada 15%-nya, 100 ribuan dari 700 ribuan yang daftar, aku sudah berjuang sebisaku dan hasilnya juga sudah ada, tinggal kucek aja, jadi tinggal menerima apa yang dikasih sama Allah ke kita karena itu yang terbaik.

14:00 + + +

Bundil keluar kamar, karena aku mau ngecek ini sendirian. Aku ngelihatin terus layarnya mulai dari kurang dua puluh menit lagi, aku corat-coret "bismillah, bismillah, bismillah" di kertas sampai penuh, banyak banget, pikiranku nggak tahu ke mana, aku nggak tahu harus mikir apa. Bentar lagi. Sampai lalu kurang dari sepuluh menit lagi, aku mulai berhenti corat-coret, ngelihatin hitung mundurnya terus.

Waktu bener-bener nggak bisa berhenti. Tinggal tiga menit lagi dan aku ngelakuin apa yang persis kulakuin pas sebelum masuk ruang ujian SBMPTN; aku zikir sampai waktunya habis. Aku pasrah, pasrah pasrah pasrah.

Di situs pengumuman SBMPTN-nya, hitung mundur sudah ada di angka Hari 00 Jam 00 Menit 00 Detik 00, dan diem lamaaa banget aku nggak tahu situsnya mau nunjukin apa. Aku sudah mikir kalau ini pasti bakal lama loading-nya karena banyak banget (banget) yang buka situs ini.

Terus tiba-tiba lamannya nggak respons. Aku pencet F5. Masih nggak respons. Aku pencet F5 terus, tapi masih nggak respons. Akhirnya aku coba ke situs minor pengumuman SBMPTN, bolak-balik, ganti-ganti link, sampai lalu akhirnya muncul tampilannya. Aku disuruh ngetik nomor pendaftaran sama tanggal lahir, terus baca CAPTCHA. Aku mulai ngetik, pelan-pelan banget.

Trus aku klik, "Cari", dan aku nunggu ... dan tiba-tiba lamannya nggak respons.

Aku diem. Bentar.

Aku pencet F5 lagi dan balik ke tampilan yang nomor pendaftaran, tanggal lahir, sama baca CAPTCHA-nya masih kosong. Aku isi lagi, pelan-pelan, terus aku klik, "Cari", tapi tampilannya tetep laman nggak respons. Aku F5 lagi dan balik ke tampilan yang semuanya masih harus diisi lagi. Aku bingung, tapi aku juga takut, aku nggak tahu ini lamannya harusnya gimana, apa mungkin kalau nggak diterima tuh tampilannya kayak gini?

Dari luar kamar, Bundil sudah manggil. Aku lihat jam, dan sudah 14:25. Aku bilang, "Belum, Bun, masih belum bisa dibuka," dan itu alasan doang karena aku takut aku sudah nggak keterima, soalnya lamannya memang nggak mau respons begitu aku nulis nomor pendaftaranku dan seterusnya. Aku kayak gitu berkali-kali, banyak banget, mulai dari aku ngetik nomor pendaftaran harus lihat kartu ujian dan ngecek angkanya satu-satu, sampai aku bisa hafal nomor pendaftaranku tanpa ngecek ulang.

Tapi habis aku klik "Cari", tampilannya selalu laman nggak respons.

Aku lalu mikir ... ya sudahlah, ya. Nggak papa.

Lalu aku ngecek ponselku yang sejak tadi aku kasih di belakang netbook, sengaja biar aku nggak tahu ada notif LINE masuk siapa-siapa yang sudah dapat kabar hasil SBMPTN mereka. Aku buka LINE, dan ... banyak banget pada dapet kabar gembira. Sudah jam 14:30, sebanyak apa pun yang ngecek situs itu, harusnya nggak sampai bikin lamannya nggak respons lagi, apalagi aku sudah buka situs itu dari sebelum jam dua.

Aku pengin ngucapin selamat sama orang-orang yang sudah bilang kalau mereka diterima, tapi aku nggak mau ditanya balik gimana hasilnya. Aku udah bingung dan takut juga, ini mungkin tampilannya kalau nggak keterima memang langsung nggak responding gitu, kan memang logikanya kalau nggak diterima berarti namaku nggak bisa ditemukan di daftar nama-nama yang berhasil lolos SBMPTN.

Dengan segala ketidakpastian, duniaku kayak abu-abu, ruwet banget di otak nggak tahu mau mikir apa duluan. Aku scroll LINE sampai semuanya sudah aku baca, ada juga yang bilang kalau nggak diterima, sampai akhirnya aku buka Browser lewat ponsel dan buka link pengumuman SBMPTN. Nggak bisa langsung kebuka, aku harus nge-refresh berkali-kali, atau sekalinya kebuka tulisan CAPTCHA-nya nggak kebaca, sama aja harus refresh lagi.

Akhirnya kebuka, aku ngisi nomor pendaftaran sama tanggal lahir, nulis CAPTCHA, klik "Cari", trus nggak responding lagi. Gitu aja terus. Aku coba-coba terus sampai nggak tahu sudah keberapa, ada rasa takut karena jangan-jangan aku memang nggak diterima, dan aku yang terus-terusan ngecek ini sebenernya bentuk sikap menyangkal kenyataan aja. Di tengah-tengah pemikiran yang nggak tentu itu, ada saatnya entah kali ke berapa, aku pencet "Cari" dan tampilannya adalah:


Aku diterima.

Aku baca itu ... lalu aku buka pintu kamar, nyamperin Bundil, lalu aku tunjukin. Bundil udah meluk aku duluan, lalu tanya, "Gimana?" dan aku masih nggak percaya waktu aku bilang, "Sastra Indonesia." Habis itu Bundil seneeeeng banget, aku sama Bundil sujud syukur, lalu pelukan lamaaaaa terus nangis. :') Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillaah. Ya Allah. Makasih ya Allah, terima kasih, aku diterima di pilihan pertamaku. :')

Habis pelukan sama Bundil, aku ngasih tahu Dek Dama kalau aku diterima. Dek Dama langsung bales, "ALHAMDULILLAH," lalu Dek Dama langsung dalam perjalanan pulang ke rumah. Habis itu Bundil nyuruh aku nelpon Ayah, aku nelpon Ayah dan ngasih tahu. Ayah waktu itu posisinya sudah coba nelpon aku sebelum ini tapi nggak kuangkat, lalu pas aku bilang hasilnya Ayah nangis. Aku masih nangis. :')

Aku ngelihatin layar ituuu terus ke Bundil, lalu pelukan terus, sampai lalu Dek Dama pulang, ngucapin selamat, seneeeeng banget. Aku bilang ke Bundil kalau aku pengin Wardah jadi temen yang kali pertama tahu, dan akhirnya aku ngasih tahu Wardah, atas balasan semangatnya H-1 SBMPTN waktu itu. Wardah sendiri sudah diterima duluan tahap SNMPTN di Sastra Inggris UGM.


Aku lihat hasil itu lagi dan ... Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Terima kasih ya Allah. :""""")