cerita tentang ketidakadilaaaaann /o/

Kamis, Mei 18, 2017

aku punya kenalan, dan walaupun ini terlalu didramatisir, tapi intinya, dia lagi merasakan ketidakadilan dunia. mari kita panggil dia andi saja mulai sekarang. (ambil salah satu nama dari buku paket sd bahasa indonesia.) 

gara-gara dia, aku jadi sadar kalau situasi 'tidak adil' itu macem-macem ternyata. selama ini aku pikir 'tidak adil' itu bisa masalah ekonomi; kita nggak punya uang, kita kemalingan, dompet kita jatuh di jalan. atau bisa masalah kehidupan; kita gagal misalnya (duh ;--;), atau segala kejadian menyedihkan yang nggak bagus lainnya. nuansa 'tidak adil' itu kayak warna abu-abu dan oranye, datang dari kanan dan kiri, lalu ketemu di tengah, menyampur jadi spiral abu-abu dan oranye sekaligus. (gimana.) (kenapa abu-abu dan oranye.)

tapi waktu andi datang lalu cerita tentang ketidakadilannya dia; rasanya segala pengetahuanku tentang 'tidak adil' itu jadi beda banget sekarang. waktu aku pertama kali denger, yang jadi komentarku cuma ... whew. ternyata ada juga jenis 'tidak adil' yang kayak gitu.
percakapan di antara kami berjalan seperti ini
andi : dunia ini nggak adil.
rasya : lol. kaget aku.
andi : -_-
rasya : ... mmm. emang sih.
andi : lol
rasya : kenapa e
andi : jadi to
andi : aku minta maaf sama budi
rasya : ... budi siapa?
andi : ... ya budi yang itu lah. siapa lagi?
rasya : lah kirain beda orang lol
rasya : kalo gitu ... berarti kamu minta maaf sama budi
rasya : setelah semua ini?
andi : (((SETELAH SEMUA INI)))
andi : yha sih
andi : iya aku minta maaf sama budi tadi
rasya : emang budi nya masih mau maafin?
andi : ...
andi : nah itu masalahnya:(
rasya : =)))))
rasya : bagian mana yang nggak adil coba
rasya : jelas budi udah nggak mau lah
andi : NAH
rasya : ya masa begitu kamu balik dia trus nerima lagi
andi : SYA ITU MASALAHNYA SYA
rasya : hah apa
andi : NAH ITU MASALAHNYA
andi : HARUSNYA DIA UDAH NGGAK MAU
andi : CAPS JEBOL
rasya : hah wait
rasya : HAH
rasya : DIA MASIH MAU?
andi : *read*
rasya : MASIH??
andi : *read*
rasya : JAWAB
andi : mbak rasya, maaf ini mamanya andi. andi harus belajar dulu mbak, chatnya dilanjut besok nggih. nuwun. :)
rasya : =)))))
rasya : nggak manjur betewe
andi : yah:(
andi : manjur buat yang lain betewe:(
rasya : ok balik ke pertanyaanku
andi : g mao:(
rasya : I REALLY THINK IM ENTITLED TO AN ANSWER TO THAT QUESTION
andi : ...
andi : ...
andi : ...
andi : yes
rasya : ...........................................................
andi : nggak adil kan .....................................
rasya : ternyata ada jenis ketidakadilan seperti ini

oke ternyata percakapan via chat itu panjang juga ya kalo disalin. habis itu kita masih ngobrol, tapi pokoknya ya gitu deh obrolan kita. obrolan gaje (?) ala-ala chat gitu deh :") oke mari kita balik ke topik.

andi ini merasa dunia nggak adil karena dia masih dimaafkan (dan masih disukai) sama seseorang yang sudah dia sakiti sedemikian rupa. ('sedemikian rupa' ini rasya yang ngedramatisir oke.) ('sakiti' secara psikis kok.) oke seperti yang terbaca di atas, mari kita sebut orang yang andi suka ini namanya budi. (ambil lagi salah satu nama dari buku paket sd bahasa indonesia.) (sya bukannya andi-budi itu nama cowok semua, ya /...) (lol ini cowok-cewek kok, biar nggak ketahuan aja yang cowok siapa yang cewek siapa /?) (bisa ketebak ding)

ini jenis ketidakadilan yang aneh (soalnya kita sama-sama aneh /?) tapi pokoknya begitu. inilah 'tidak adil' versi andi ... yang menurutku memang ada ketidakadilan kayak gini. ketidakadilan yang sangaaaaaaaaaaaaaaatttt ... alay (........). alay, norak, malu-maluin, diriku gagal paham karena entah kenapa sang penasib (?) ketidakadilan ini masih sanggup-sanggupnya menghadapi rintangan kehidupan yang mengadang.

gitu sih.
andi ngerasa nggak adil mendapat kebaikan (???) kayak gitu. yak marilah kita mulai cerita tentang mereka berdua:

andi&budi

my only love sprung from my only hate; too early seen unknown and known too late.
(ngambil taglinenya romeo&juliet lol)



jadiiiii alkisah pada suatu hari. (ngeng.) di awal-awal masuk sekolah, ada seseorang bernama budi yang suka sama andi. oke budi ini bukan 'suka lalu deketin' tapi 'kelamaan deket jadinya suka', soalnya mereka ini emang kebetulan sering ngobrol bareng. entah sekelompok, entah sama-sama belom ngerjain pr, entah sama-sama kertas tugasnya hilang, mulai dari kesamaan yang klise ala sinetron, sampai yang aneh kayak merek motor mereka sama (...). /dor

tapi kalau soal motor, entah kenapa percakapan mereka lama-lama jadi nggak ada faedahnya. jadi pernah ada percakapan begini, ini pas awal-awal mereka tau kalau mereka punya merek motor yang sama:

andi : eh bud buuud kemarin motorku mendadak kayak oleng gitu kenapa ya?
budi : hah? ya aku nggak tau lah, emangnya aku jadi bisa tau gitu?
andi : aku nggak tau juga. ya siapa tau kamu juga lagi ngerasain gitu sama motormu
budi : ya enggak laaaah, kamu kok stupid e
andi : weeeeeeh!!!
(trus mereka balang-balangan-_-)

waktu itu andi nya doang yang alay dan sampai lalu mereka jadi sama-sama alay:

andi : buddd motorku oleng lagi coba
budi : haaaaaah oleng gimana emang?
andi : ya mendadak nggak seimbang gitu
budi : loh kok aneh ya? eh aku juga ngerasa gitu looooo
andi : oh kamu juga? aku jugaaaaaaa
budi : eh kok kita bisa samaan gini ya?
andi : jangan-jangan kitaaaaaa ...
budi : ada di motor yang sama!!
(-____- gaje banget sumpah-_-)

pokoknya mereka aneh tapi cocok soalnya sama-sama aneh.

trus gara-gara percakapan nggak jelas yang lama-lama terjadi setiap hari, lama-lama budi suka andi deh. oke aku bisa tahu gara-gara feeling doang sih, soalnya kan nggak mungkin budinya ngasih tau aku, dan aku deketnya sama andi. aku ngerasa budi suka soalnya ... ya keliatan tuh. lama-lama budi yang ngajak andi ngobrooool terus :3 kalo andi mah dari dulu emang woles as always, alay sejak dia lahir, jadi begitulah, andi nya nggak peka deh.

trus datanglah suatu kejadian

yang

sangat

...

menyakitkan.

(......................)

emang sangaaat menyakitkan; beda banget sama kesehariannya mereka yang tiap hari jitak-jitakan pake buku. mungkin emang bener ya kata kutipan, kalau kita terlalu bahagia, waspadalah akan ada hal yang terjadi (?) nah mereka berdua ini terlalu bahagia setiap hari, jadi datanglah saatnya di mana 'hal yang diwaspadai terjadi' yang sudah terakumulasi oleh kebahagiaan-kebahagiaan mereka, membuat semuanya BOOOMMM; hancur.

yap.

budi nembak andi.
andinya kaget. (dia beneran nggak peka lol.) (oke bukan saatnya ketawa.)

oke.

sebenernya andinya peka.

sebenernya dia udah tau kalo bakal ditembak.

trus ... aku nggak liat langsung kejadiannya sih, aku cuma diceritain sama andi. tapiii gimana ya nyeritainnya. intinya sih; ditolak. tapi cara nolaknya itu ... kalimat yang dia pakai buat nolak itu .....

rasya : kamu bilang gitu ke dia?
andi : mmm iiiya.
rasya : ... (nenggelemin kepala di atas meja)
andi : sya
andi : SYA kok kamu nangis????
andi : sya eh sumpah SYAA
rasya : ... (angkat kepala) (ulangin persis kalimat yang andi pake ke budi buat nolak.) (total ada tiga kalimat.)
rasya : sakit nggak?
andi : .....................
andi : aku nggak tau ah
rasya : sakit banget betewe
andi : iya
andi : aku nggak tau kenapa ngomong gitu
andi : ......... udah telanjur sya

itu tiga kalimat yang ... sakit :"""" pengen nonjok andi banget rasanya.

  • kalimat pertama enam kata.
  • kalimat kedua sembilan kata.
  • kalimat ketiga enam kata; lima kata dia ucapin dulu, lalu berhenti, lalu nyambung satu kata terakhir.

JAHAT. ITU KALIMAT JAHAT BANGET.

SADISLAH.

andi dosa besar. oke. saking jahatnya tiga kalimat itu, aku masih hafal persis sampai sekarang ._. begitu andi ngomong kayak gitu ke budi, budi diem. lama. banget. lalu, dia bilang, "aku nggak mau," trus pergi. (tebak kalimatnya apa hayo.)

lalu mereka kayak orang yang nggak pernah kenal.

BLAS nggak pernah ngobrol.

habis itu, yah, semesta menghargai keputusan mereka sih, jadi entah kenapa mereka dibikin nggak sekelompok lagi. trus jam masuk sekolahnya juga jadi beda-beda (biasanya mereka entah kenapa bisa masuk kelas bareng), lalu jadi anteng di kelas. andi ributnya sama siapa, budi juga sama siapa. whao, benar-benar perubahan yang sangat ... drastislah.

tapi ada kalanya mereka emang harus bareng; di suatu ... apa ya namanya. anggaplah suatu pertemuan rutin; di mana mereka berdua sama-sama jadi anggotanya. jadi seahli apa pun mereka berdua saling menghindar, mereka mau nggak mau harus ketemu di pertemuan rutin ini. aku nggak tergabung dalam pertemuan rutinnya sih, tapi yah, sebenernya biasa aja. mereka sama-sama dateng, trus kalau sudah selesai, ya mereka juga lalu pergi sendiri-sendiri.

hhhmmmmmmm.

hhhmmmmmmmmmmmmmmmmmmm.

kadang-kadang si andi ngajak ngomong sih.
tapi ya budi nimpalinnya biasa aja udahan.
malah kadang dikacangin.

dan tamatlah cerita di antara mereka.

.

.

belum tamat ding.

sampai andi ngechat; percakapan yang kusalin di atas, dan lalu kita ngobrol, dan setelah sekian lamaaaaaaaaa, akhirnya kita ngobrolin budi lagi. setelah sekian lama; di saat aku udah nyerah dan kayaknya cerita di antara mereka berdua nggak ada lanjutannya lagi, ternyata ada juga saatnya andi cerita tentang budi. kalau dia kayaknya ngerasa bersalah sama budi setelah semua ini.

SETELAH SEMUA INI DIA BARU SUKA BUDI. 

dan setelah semua ini budi masih suka dia.

iya.

masih.

m a s i h .

MASIH SUKA COBA. akhirnya aku sama andi ngobrol beneran kan, dan di tengah-tengah dia cerita pertemuannya sama budi, aku jadi kebayang tiga kalimat yang masih kuinget sampai sekarang. tiga kalimat yang andi bilang ke budi, tiga kalimat jahat BANGET, yang kalau aku muter itu ulang di kepalaku aku masih ngerasain perihnya.

tiga kalimat itu jahat banget. sejahat-jahatnya kalimat jahat. rasanya sakiiitt, perihhh, ninggalin luka permanen tersendiri; dan itu aku yang nggak denger secara langsung dan kalimat itu bahkan nggak ditujukan buatku. aku yang diceritain aja bisa ngerasain kayak gini, gimana budi yang denger langsung? apalagi, untuk segala jenis dosa besar yang ada; andi ngomong itu MATA KETEMU MATA. mereka lagi hadap-hadapan, dan andi bahkan nggak menghindar atau gimana; MAKSUDNYA APA?

itu pembunuhan. 
kalau aku jadi budi, ada bagian dari diriku yang mati waktu itu.

kalau aku jadi budi, andi udah tak tendang. bakal kutolak mentah-mentah, dan sekalipun misalnya aku masih suka sama andipun, aku lebih cinta sama harga diriku dan aku bakal bilang, "maaf ya, kamu suka aku baru sekarang? telat, gubernur jakarta udah mau ganti!" (nggak nyambung sya) tapi ya intinya itu. 
aku nggak bakal mau nerima andi balik.
dan di pertemuan antara aku sama andi, kita ngobrol:

andi : dia masih mau maafin aku sya
rasya : ... ada orang berhati malaikat kayak gitu ya
andi : ... iya
rasya : ........... nggak adil
andi : ............. iya, nggak adil
rasya : trus ... trus gimana?
andi : ... aku takut e sya
rasya : hah TAKUT GIMANA COBA
andi : nggak tau. takut aja.
andi : aku jahat banget waktu itu.
rasya : banget. aku marah besar sama kamu gara-gara itu. untung kamu yang jadi sahabatku, soalnya kalo yang jadi sahabatku si budi, kamu nggak bakal tak maafin.
andi : ...
rasya : gimana kamu minta maafnya?

trus, andi cerita; inilah percakapan antara dia sama budi waktu itu. mereka berdua nggak sengaja ketemuan, nggak sengaja banget. soalnya sekolah udah libur dan mereka kebetulan ke sekolah soalnya sama-sama harus ngurus surat keterangan lulus. andinya udah selesai, pas budinya baru mau masuk. andi nggak ngajak aku soalnya aku udah ngurus kemarin, dan budi juga nggak ngajak temen-temennya; jadi waktu itu semesta bener-bener ngasih waktu buat mereka berdua tok.
(papasan)
andi : weh
budi : ...
(krik KRIK KRIKKKK)
andi : ... halo
budi : halo. udah selesai ngurusnya?
andi : baru aja.
budi : cepet ya?
andi : iya, kok tau?
budi : aku tadi udah di sekolah soalnya tapi motormu belum ada. aku lalu pergi lagi buat foto di studio soalnya foto kelas dua belas yang ada di BK kan warnanya hitam putih.
andi : wkwk. selo banget.
budi : biar nggak ribet, masa harus pulang lagi.
andi : aku pakai foto kelas sepuluh.
budi : weh ada po?
andi : ada.
budi : bukannya harus yang terbaru ya fotonya?
andi : ya kan terbaru nggak harus lima menit yang lalu. maksudnya tuh jangan foto pas SMP gitu. kalau pas masih kelas sepuluh mah nggak papa.
budi : mutusi. kan ada juga orang yang beda drastis dari kelas sepuluh ke dua belas.
andi : yaaaaa bisaaa.
(krik KRIK KRIKKKKK /2)
budi : liat coba
andi : nggak mau
budi : kenapa?
andi : nilainya jelek
budi : aku nggak liat nilainya, aku liat fotonya
andi : .... oh. (ngeliatin surat keterangan lulusnya.)
budi : (liat bentar) (dibalikin lagi) iya. kalo kamu mah nggak papa.
andi : apanya
budi : pakai foto kelas sepuluh. kamu nggak ada bedanya.
(dan pas andi cerita ini kenapa malah aku yang melting)
andi : hmmm alay
(tapi di sini budi diem aja. dan trus, yah, thanks to andi, dia udah mulai peka dan bisa langsung mikir, jadi dia posisinya tahu kalau seharusnya dia menanggapi segala kalimat dengan serius dan bukan malah mengalihkan pembicaraan.)
andi : wajahnya doang yang nggak beda
budi : ... emang yang beda apa?
andi : hmmmmmmmmmmmmmmmm. .......................... perasaan?
budi : ................................................ maksudnya?
andi : ................................................. nggak jadi
budi : eh apa? kenapa? bilang aja
andi : aku nggak enak ngomongnya
budi : ....... baru sekarang tau kalau berani ngomong tuh emang nggak enak?
andi : .....................................
(krik KRIK KRIKKKKK /3)
andi : aku minta maaf ya bud
budi : iya
andi : yang dulu
budi : iya aku tau persis kok yang kamu maksud yang mana. aku juga minta maaf.
andi : hah kenapa?
budi : tadi. aku malah bilang 'baru tau kalau berani ngomong tuh nggak enak'
andi : ..... ya ampun itu nggak papa betewe.
budi : aku ngurus ini, kamu jangan pulang dulu
andi : .............. oke

trus ... 

aku bahagia. banget.

saking bahagianya, waktu andi cerita itu, selalu kupotong terus gara-gara aku kesenengen :")
termasuk yang sekarang; ceritanya andi kupotong karena aku jerit :")

dengerin percakapan itu aja aku bahagia banget. bisa bayangin mereka ngobrol aku udah seneeeeng banget. ada rasa nggak adil, ada rasa nggak habis pikir sama jalan isi kepalanya budi kenapa bisa langsung bilang 'iya' tanpa ngomong apa apa. percakapannya mereka biasa banget tapi tapiiii budi baik banget asli. terlalu baik malah; bayangin aja kamu maafin orang yang sudah membunuhmu ._.

rasya : (atur nafas setelah terlalu bahagia) oke fix. budi masih maafin kamu berarti budi masih suka kamu.
andi : ya nggak gitu juga
rasya : tapi kamu kan sekarang suka dia
andi : ... iya 
rasya : YES FIX kalau budi tau kamu suka dia, dia pasti MASIH mau nerima kamu
andi : hmmm nggak tau sih itu
rasya : lah kok nggak tau? emang iya kan?
andi : sya, kan aku ceritanya belum selesai ...
rasya : (ngerasain firasat nggak enak)
rasya : yaaa. bukannya ... dia ngajak ngobrol kamu habis dia selesai ngurus ... trus ... kamu bilang kalau kamu sekarang suka ... trus ... dia bilang kalau dia masih suka ya? 
andi : kejadiannya ... nggak kayak gitu
rasya : ... AKU NGGAK MAU DENGER
andi : gimana sih
rasya : ... WAIT
andi : jadi to sya--
rasya : JANGAN BILANG KALAU--
andi : aku langsung pulang.
rasya : ................................................................
rasya : .......................................................... bohong
andi : aku nge-LINE dia--
rasya : KENAPAAAAAA?!?!?!?
andi : 'aku pulang duluan soalnya harus cepetan'--
rasya : .................................................................

.

.

.

karena kehidupan nyata nggak seindah ending film picisan.
karena kehidupan nyata nggak seberwarna komik webtoon.

...

tapi ya nggak gini juga.

iya, budi suka andi. iya, andi dulu nggak suka. iya, sekarang andi ngerasa bersalah. trus minta maaf. iya, trus budi maafin. trus andi sekarang suka. trus budi masih suka. iyaaa kalau aja andi mau nungguin budi sampai budi selesai ngurusin surat keterangan lulus, dan mereka punya waktu buat ngobrol, kujamin pasti kehidupan mereka berdua BERUBAH selamanya. dan aku akan menceritakan kisah ini dengan perasaan bahagia soalnya tamat dengan indah.

aku sampai beberapa menit ke depan masih ngomel-ngomel, aku marah, aku teriak, aku keseeeel banget sama andi sampai tuh bocah pengen kubuang ke kali depan rumah rasanya. aku nggak paham jalan pikirannya dia, dia tinggal selangkah lagi sampai ke zona kebahagiaan, tapi dia milih buat pulang.

PULANG.

WHY.

rasya : (setelah capek teriak-teriak) haaaaah. oke kenapa kamu langsung pulang?
andi : ya itu tadi sya.
rasya : apa?
andi : dunia itu nggak adil
rasya : wait KAMU yang bikin semua ini jadi nggak adil betewe
andi : budi masih mau maafin aku. budi mungkin masih mau nerima aku kalau tau aku sekarang suka sama dia. itu nggak adil.
rasya : .....

oke. mau marahin andi?

aku buka jasa sumbangan sandal, silakan taruh sandalnya di sini dan biar aku aja yang balang andi tepat di muka. aku udah lama kenal andi dan menurutku dia memang tipe yang jalan pikirannya aneh, nggak ada yang tahu persis apa yang sebenernya dia mau, apa yang sebenernya dia cari di dunia, apa yang sebenernya dia pengen kecuali dia yang ngomong sendiri.

tapi ini balik ke 'tidak adil' versi andi sih. andi nganggap ini nggak adil. dia baru sadar betapa jahat tiga kalimat - tiga puluh satu kata yang dia ucapin ke budi, dan dia nganggap seharusnya budi nggak bakal maafin dia selamanya sekalipun dia minta maaf sampai ngemis-ngemis. tapi yang ada, budi malah maafin dia secara spontan, mana malah minta maaf balik pula.

gitu deh. aku nggak yakin ada kesempatan lagi untuk mereka yang tersisa.
 
oke fix.  

cerita tentang mereka tamat di sini.
nggak adil memang. kita sama-sama berusaha menerima ya.

You Might Also Like

0 comment(s)