arthie.

Sabtu, Mei 13, 2017

ada kalanya arthie sudah puas dengan hanya duduk bersila di lantai kamar dan mendengarkan detikan jam. lama-kelamaan waktu jadi menakutkan baginya, dan semakin ia terus berpikir bahwa apa yang ia perjuangkan sekarang demi masa depan, ada sisi dirinya yang menyeletuk barangkali masa depan bukan segalanya pula di dunia.

lantas, apa?

arthie merasa sekarang ia berada di titik antara rasa takut dan berani; hati-hati dan seenaknya; was-was dan terserah saja. sebentar lagi tanggal enam belas dan arthie sebenarnya tahu apa yang terjadi dengannya sekarang; ia hanya terlalu panik.

panik.
p a n i k.

waktu terus bergerak maju dan mungkin itulah tujuan eksistensi waktu sebenarnya; untuk berjalan dan begitu terus, untuk menunjukkan pada setiap manusia bahwa ada juga hal yang kita tak punya kuasa apa-apa untuk menjadikannya mundur atau berhenti.

kepanikan membuatnya merasa tidak benar-benar siap. ia tahu ia masih bisa tertawa bersama teman-temannya tapi ia ... ia tertawa dalam ketidakpastian. usai bimbingan belajar ia akan jalan beriringan bersama teman-temannya ke tempat parkir motor, masih terus berbincang tentang betapa ironisnya hal lucu yang tadi terjadi di kelas, atau sekadar gembar-gembor mengumumkan setelah sampai rumah akan langsung tidur tanpa buka buku lagi (yang tak tahu deh jujur atau tidak).

keluar dari gerbang bimbingan belajar arthie akan mengambil jalan ke kanan; beberapa temannya ada yang mengambil sisi yang lain. ada teman yang masih menempelinya di belakang dan kadang klakson mereka masih bersahut-sahutan seolah mereka yang punya jalan saja.

tapi begitu sampai di perempatan pertama, hanya arthie yang belok kiri, sementara teman-temannya yang tadi searah berhenti di perempatan. ia akan membunyikan klakson terakhir yang dibalas dengan teriakan, "awas kalau masih belajar di rumah!" dan ia akan menoleh sekilas untuk tertawa.

tapi ditolehkannya kepala kembali, menghadap depan, dan ekspresinya berubah, seperti kebanyakan orang yang bisa mengaktifkan mode otomatis apabila tiba-tiba menjadi sendiri.

apa tawanya ini bisa dipertanggungjawabkan?
sudah berapa detikan yang terbuang sekarang?

arthie menarik napas. berdiri. ia memandangi meja yang penuh terisi buku-buku terbentang hingga alas mejanya saja tidak terlihat.

mungkin ia sebaiknya belajar saja sekarang.
lagi.

You Might Also Like

0 comment(s)