cuma tentang takut.

Minggu, April 23, 2017

Hmm ... ada banyak yang mau aku omongin, sebenernya. 

Tapi nggak tahu kenapa begitu aku sudah di depan netbook, masuk akun blog, dan mulai klik postingan baru ... aku selalu nggak tahu apa yang mau aku tulis. Kenapa, ya? Soalnya, rasanya percuma gitu, sih, menurutku. Aku ngerasa kalau begitu aku pencet 'postingan baru', rasanya Bleepy udah tahu apa yang mau aku omongin dan dia udah dengerin bahkan sebelum aku mulai mengetikkan satu pun huruf di sini. Aku ngeposting sesuatu di sini untuk kuomongin ke Bleepy, dan kalau Bleepy sudah tahu; buat apa aku nulis lagi?

Oke, mungkin memang aku perlu nulis lagi, ya. Tapi daripada aku mengungkapkan apa yang pengen aku ungkapkan, aku lebih suka menceritakannya lewat perspektifnya Bleepy. Bukan perspektif juga, sih, gimana ya jelasinnya? Lebih ke ... aku kayak menceritakan ulang lewat Bleepy. Mungkin kalian ('kalian' siapa, Sya--blog ini sebenarnya punya pembaca nggak sih, lol) bisa ngerti begitu aku mulai.

Bleepy tahu kalau aku takut. 

Atau aku kadang ngerasa kalau Bleepy lebih tahu betapa takutnya aku, dibandingkan aku sendiri; aku, secara sederhana, takut. Takut itu perasaan yang lumrah, ya, tapi ini bukan perasaan takut kalau kita lagi sendirian di rumah dan tiba-tiba ada suara gedar-gedor pintu. Atau takut kita dapat nomor undian berapa dalam suatu presentasi. Bukan takut akan kemungkinan terjadi hal yang menakutkan, atau takut dengan suatu hal yang akan terjadi sementara kita nggak punya kuasa apa-apa ... tapi takut dengan suatu keadaan yang masih jauh di sana, di mana kita punya kuasa tapi kuasa itu juga menakutkan kita. Masih jauh. Jauh, jauh, jauh. Jauuuuuuuuh.

Namanya masa depan.

Aku berdiri, di depanku ada tiga cabang jalan terbentang. Tapi aku belum mengambil langkah. Aku menoleh ke jalan pertama, dan aku nggak punya klu apa pun tentang apa yang ada di ujung sana. Begitu juga dengan jalan yang kedua serta yang ketiga. Aku hanya bisa melihat tiga jalan terbentang yang siap untuk menyambutku. Hanya berdasarkan insting, aku akan mengambil langkah--entah ke kiri, lurus, atau ke kanan--tapi begitu aku mulai satu langkah lebih di depan dibandingkan aku yang sebelumnya ...

... dua jalan lainnya langsung amblas. Jejak yang tertinggal di belakangku berubah menjadi jurang. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, semuanya jurang. Nggak ada yang perlu diubah; ada opsi yang sudah kuambil dan itu artinya nggak ada jalan untuk kembali. Aku sudah telanjur memilih jalan dan satu-satunya yang harus kulakukan kemudian adalah menyusurinya.

#

Oke, ganti suasananya. Bleepy tahu kalau aku seharusnya menulis essay yang garis matinya besok, dan nyatanya aku malah menulis blog di sini. Haha.

You Might Also Like

0 comment(s)