namche

a sampai z tentang prom night.

Minggu, April 23, 2017

Masih agak lama sebenarnya, cuma sebentar lagi sekolahku ada prom. Iya, pesta dalam rangka perpisahan itu. Bleepy tahu kalau aku pengin banget ikut, sebenarnya. Bleepy tahu kalau aku tahu betapa pentingnya itu buatku. Soalnya, serius, deh. Ini belum ada apa-apanya daripada libur panjang dalam rangka menunggu pengumuman tes masuk universitas, tapi sekarang aku kangen berat sama sekolah. Kangen sama temen-temen. Tapi pada les, pada belajar, pada reuni sama temen-temen yang lain ... dan sekadar saling komentar di foto Instagram, "Rindu berat!" itu nggak merubah apa pun.

Aku kangeeeen banget. 

Dan aku pengin banget ikut prom karena semahal apa pun acaranya, itu bakal tetap setimpal sama kenangannya. Kalau aku bisa dateng, kapan tepatnya jam buka gerbang prom, aku bakal datang sebelumnya--berlawanan banget sama aku yang biasa telat kalau berangkat sekolah. Aku mau lihat satu-satu temen-temenku dateng. Aku mau ketemu. Aku kangen ada di sekeliling temen-temenku yang semuanya saling bicara satu sama lain, dan aku mengamati.

Karena bakal canggung jadinya, kalau sebenarnya aku kangen sama temen-temen di sekolah yang bahkan ngobrol pun jarang, tapi saking kangennya aku nge-chat mereka, "Ayo, kita ketemuan!" ... itu kan, aneh? Mengerikan malah, ketika dapat pesan dari orang yang nggak begitu kita kenal di sekolah, tapi ternyata orang itu tiba-tiba nge-chat di suatu subuh yang cerah, ngajak ketemuan sambil ngaku kalau dia kangen. 

Ada nggak terhitung orang, lebih dari jumlah tangan dan jumlah kaki, dan mereka kukangenin bukan untuk lalu kita makan, main, atau ngobrol. Tapi karena aku seneng lihat mereka ketawa, atau mereka jalan menggerombol, atau mereka saling teriak keras-keras, atau hanya mententeng di luar kelas ... dan aku nggak mungkin kan, bikin multichat lalu bilang kalau aku pengen tahu kapan mereka ada janjian ketemu, biar lalu aku bisa ikut dateng? Lol. Creepy banget, Sya.

Mengamati mereka; itu yang paling kukangenin. Nggak ada orang yang spesifik, aku nggak kangen pada satu-dua nama yang jelas. Karena kalau kita kangen sama orang yang kita tahu siapa, kita bisa membayar rasa kangen kita dengan janjian ketemu. Atau chat. Tapi kalau jenis kangen yang ini? Kangen tarik napas dalam-dalam sebelum buka pintu kelas yang sudah ketutup karena aku telat. Kangen sama mereka yang gerombol ngehalangin jalan di koridor dan kadang bikin aku milih buat batal lewat, atau malah ambil jalan mutar. Kangen sama mereka yang di kantin, mereka yang di kajur, mereka yang di fotokopian, mereka yang di BK ...

Agak aneh memang. Tapi iya, aku kangen sekolah. Ngeng.

Oke, ini bukan kangen yang pengen aku ulang lagi. Aku tetep mau lulus, lho, ya. Libur bikin aku nggak ada ide nulis; dan cerpen-cerpen yang kubuat akhir-akhir ini benar-benar garing dan nggak ada menarik-menariknya;
  1. Di tengah-tengah ujian, ada pengumuman ralat soal yang nggak penting; 2 halaman. (Lol.)
  2. Dua sahabat masuk sekolah ketika libur panjang; 2 halaman.
  3. Dua orang baru bertemu dan mengobrol tentang pengaplikasian fotolistrik dalam kehidupan dan kaitannya dengan motivasi; 6 halaman. (Iya, ini Fisika. Maaf, saking stresnya diri ini waktu itu.)
  4. Sahabat yang dijahili sahabat-sahabatnya gara-gara April Mop; 6 halaman. 
  5. Dua orang berpapasan di koridor sekolah pada jam istirahat; 1 halaman.
  6. Sahabat yang rindu dengan bekas sahabatnya; 1 halaman. (Semi-puisi, sih, soalnya suku kata di akhir kalimatnya berima.)
  7. Orang yang ketumpahan air panas di dapur; 6 halaman. (Ide nggak jelas--yang sampai sekarang masih nggak paham kenapa bisa jadi sepanjang itu cerpennya--yang mendadak kepikiran di tengah-tengah masak.)
  8. Perspektif seorang sahabat yang berperan sebagai pengamat, terjebak di tengah interaksi ribut yang nggak jelas bersama sahabat-sahabatnya. Dia diam, tapi dia menganggap ini berharga, dan betapa penginnya dia kalau mereka bisa terus bersahabat selamanya; 10 halaman. (Iya, aku main perasaan di sini ngeng. Nggak heran jadi beleber satu dasawarsa jumlah halamannya.)
Iya, ada delapan. Iya, aku nggak pernah bikin delapan cerpen nyaris berturut-turut kayak gini. Tapi, cerpenku bisa ditebak. Semuanya aku nulis didasarkan dengan satu kata; kangen. Kecuali yang ketumpahan air panas di dapur itu sih, lol, mungkin kalau aku nggak membayar rasa kangenku ini, lama-lama cerpenku bakal bertransformasi di mana seting waktunya adalah saat libur panjang akhir semester.

#

Balik ke topik tentang prom. 

Dan tentang aku yang nggak ikut. Mau tahu alasannya? Aku pembukaan dulu, ya. Tapi sebelum ini aku mau bilang; kemungkinan besar ini opini yang nggak populer. #siapsiapdigiling

Aku nggak pernah menganggap prom adalah acara yang nggak-tahu-faedahnya-apa. 

Karena aku tahu faedahnya. Kita prom untuk seneng-seneng, untuk mengenang, dan sekalipun ini hanya satu malam yang bakal tergantikan dengan malam-malam lain, yang penting itu kenangannya. Kalau mereka-mereka pikir prom itu adalah malam yang bakal dilupakan; abadikan. Aplot banyak di Instagram. Banjirin tuh IG Story. Buat mereka yang nggak ikut dengan alasan kayak gitu jadi males buka Instagram karena isinya prom semua. 

Oke, prom mahal. Tapi, kalau alasan kalian karena itu, aku bakal menganggapnya sebagai dalih. Itu bukan alasan. Itu cari-cari alasan. Kalau kalian sebenernya pengen banget, kalian nggak bakal bilang itu. Kalian bakal nganggap itu setimpal. Dan sebenernya, panitia-panitia yang mengurusi prom itu mikirin kemungkinan ada yang nggak bisa karena mahal kok. Kalian tinggal bilang; dan mereka pasti bantu. Sesederhana itu. Kalau kalian dasarnya emang pengin ikut lho.

Ini kenapa Rasya jadi marah-marah sih.

Aku soalnya pengin ikut sejak ide itu dicetuskan. Sebelum aku tahu tempatnya di mana, sebelum aku tahu tanggalnya kapan, sebelum aku tahu harganya berapa, aku sudah pengin ikut. Aku membujuk teman-temanku yang sudah ada tanda-tanda bakal kasih lampu merah soal ini lol dan aku sosialisasi dari dalam. 

Ada yang nggak ikut prom karena teman-temannya nggak ikut. Aku gagal paham soal kalimat ini, karena 'teman-temannya' itu juga mengatakan hal yang sama. Jadi mereka, segerombol, pakai alasan karena teman-teman mereka nggak ikut? Rasanya pengin banget aku telusurin; sebenernya siapa yang mulai? Karena menurutku itu aneh dan alasannya nggak bisa dipertanggungjawabkan. 

Kayaknya buang-buang waktu kalau aku serius tentang ini, cuma rasanya sayang kalau generasi sekarang jadi semakin kreatif menyalahgunakan dalih sebagai alasan. Kalian nggak ikut karena teman-teman kalian nggak ikut, padahal 'teman-teman kalian' itu kalian-kalian sendiri, 'kan? I'm sorry, I don't want to hear your lame excuses.

Kalian pikir, panitianya sebodoh itu sampai nggak mikir kalau sebenarnya kalian emang dari awal nggak mau? Aku menjunjung tinggi prinsip diri sendiri dan prinsip orang tua, jadi kalau kalian nggak ikut prom karena masalah prinsip atau nggak dibolehin orang tua, itu memang nggak bisa ditolong lagi. Tapi buat yang berdalih; aku saranin mending kalian bilang aja. Nggak usah malu sama prinsip kalau kalian memang nggak mau dan sejak awal nggak tertarik sama prom. 

Kenapa aku bilang ini opini yang nggak populer? Yah, karena pasti banyak yang nggak setuju, dan aku juga nggak bakal berpihak ke mana pun karena toh, aku juga nggak ikut prom. Yang nggak ikut prom dengan dalih bakal nggak suka dengan tulisanku karena ini tepat sasaran, yang ikut prom bakal nggak suka karena ... oke, aku nulis ini dan aku sendiri nggak ikut prom?

Lol. 

Oke, Rasya, ayo. Ngomong. Kamu udah marah-marah di blogmu sendiri, dan di sini kita semua mau dengar apa alasanmu nggak ikut prom.

.

.

.

Kalau ditanya kenapa aku nggak ikut prom, aku bakal bilang kalau ini masalah prinsip. Tapi kalau ditanya prinsip bagian yang mana ... aku pelit buat berbagi sih. *minta digiling* Ranahnya personal soalnya. Buat kalian yang menganggap prinsip itu sepele; oke, setelah ini kalian bakal lihat betapa memang sepele prinsip itu sebenarnya.

Prinsip itu adalah pokok dasar. Kita punya prinsip, artinya kita punya dasar; kita tahu kenapa kita harus melakukan suatu tindakan, kenapa kita harus merenungkan suatu pemikiran, kenapa kita harus mengutarakan suatu perkataan, itu karena kita punya prinsip. Prinsip memang sepenting itu, sekaligus sesederhana itu. Apa yang bikin sederhana? Adalah apabila ada hal yang bertetangan sama prinsip kita, nggak peduli sekecil apa pun itu, kita akan langsung kasih lampu merah. Tanpa ganggu gugat. Tanpa pikir dua kali. Enggak. Titik.

Terakhir kali aku kasih lampu hijau ke prom itu pada hari di mana angkatanku ngadain sosialisasi prom. Pengumumannya di grup chat angkatan, dan aku dateng--sambil nyeret paksa temenku biar kalau ada yang masih nggak sreg, dia bisa tanya di situ, lol. Sosialisasinya di aula. Aku udah salut banget sama panitianya. Mereka jawab pertanyaan, mereka menanggapi masukan, mereka menerima kritik. Mereka menyatakan terang-terangan kalau mereka mau bantu semisal ada peminat yang nggak sanggup bayar biaya prom. 

Setelah itu, sosialisasi ditutup; kita balik. Yey.

Menurutku, sosialisasi prom adalah momen di mana kita bener-bener mantap mau lanjut atau berhenti, karena di sini panitianya membuka kesempatan sebesar-besarnya untuk kita bertanya apa pun. Aku ke luar dari aula, aku masih seneng sama diriku sendiri karena prinsipku masih terus jalan; di sana, kita bakal senang-senang.

Aku belum bener-bener pulang, aku masih di sekitaran aula waktu itu, karena belum semua anak ke luar dari aula juga. Aku berhenti di tengah-tengah jalan, tapi aku di tepi, biar nggak menghalangi orang lewat. Ketika saat itu datang, ada mereka. Yang bakal kukangenin karena kehebohannya, bagaimana mereka mendominasi peran, bagaimana mereka mencuri lampu sorot ... nah, mereka ini salah satu dari banyak mereka-mereka yang punya kemampuan seperti itu.

Mereka terdiri dari beberapa orang. Entah mau ke mana. Koridor begitu sempit untuk jalan bergerombol, jadi mereka melewatiku satu per satu. Aku kepikiran untuk menyapa, hanya saja aku kalah cepat. Seseorang yang berada di paling depan menyapa lebih dulu. 

Tapi, yang dia katakan itu bukan sapaan. 

Itu kalimat. 

Hanya satu kalimat. Yang dia katakan sambil lalu. Yang dia katakan tanpa pikir. Dia mengatakannya sambil menepuk pundakku lalu pergi begitu saja. Tapi kalimat itu berlaku untukku, dan kupikir hanya aku yang tersinggung dengan itu. Karena dia bisa saja mengatakan kalimat yang sama pada orang lain dan justru mendapat cengiran di muka sebagai balasan. Bukan reaksi membeku yang masih bertahan setelah semua orang yang tergabung dalam 'mereka' itu habis melewatiku semuanya.

Aku nggak datang prom karena kalimat itu.

#

Tebak aja kira-kira itu kalimat apa. Atau kira-kira siapa yang bilang. Tapi sayangnya aku pelit berbagi itu tadi ehe jadi jawabannya nggak akan kukasih. Aku masih menyayangkan sampai sekarang sih, betapa bahayanya menyeletuk sesuatu tanpa mikir kalau kalimat itu berbalik. Walaupun orangnya juga pasti sudah nggak ingat juga, tapi justru di situ kan, yang bikin bahaya? Karena lawan bicaranya nggak akan pernah lupa.

Sudah yaaaa.

dilema

cuma tentang takut.

Minggu, April 23, 2017

Hmm ... ada banyak yang mau aku omongin, sebenernya. 

Tapi nggak tahu kenapa begitu aku sudah di depan netbook, masuk akun blog, dan mulai klik postingan baru ... aku selalu nggak tahu apa yang mau aku tulis. Kenapa, ya? Soalnya, rasanya percuma gitu, sih, menurutku. Aku ngerasa kalau begitu aku pencet 'postingan baru', rasanya Bleepy udah tahu apa yang mau aku omongin dan dia udah dengerin bahkan sebelum aku mulai mengetikkan satu pun huruf di sini. Aku ngeposting sesuatu di sini untuk kuomongin ke Bleepy, dan kalau Bleepy sudah tahu; buat apa aku nulis lagi?

Oke, mungkin memang aku perlu nulis lagi, ya. Tapi daripada aku mengungkapkan apa yang pengen aku ungkapkan, aku lebih suka menceritakannya lewat perspektifnya Bleepy. Bukan perspektif juga, sih, gimana ya jelasinnya? Lebih ke ... aku kayak menceritakan ulang lewat Bleepy. Mungkin kalian ('kalian' siapa, Sya--blog ini sebenarnya punya pembaca nggak sih, lol) bisa ngerti begitu aku mulai.

Bleepy tahu kalau aku takut. 

Atau aku kadang ngerasa kalau Bleepy lebih tahu betapa takutnya aku, dibandingkan aku sendiri; aku, secara sederhana, takut. Takut itu perasaan yang lumrah, ya, tapi ini bukan perasaan takut kalau kita lagi sendirian di rumah dan tiba-tiba ada suara gedar-gedor pintu. Atau takut kita dapat nomor undian berapa dalam suatu presentasi. Bukan takut akan kemungkinan terjadi hal yang menakutkan, atau takut dengan suatu hal yang akan terjadi sementara kita nggak punya kuasa apa-apa ... tapi takut dengan suatu keadaan yang masih jauh di sana, di mana kita punya kuasa tapi kuasa itu juga menakutkan kita. Masih jauh. Jauh, jauh, jauh. Jauuuuuuuuh.

Namanya masa depan.

Aku berdiri, di depanku ada tiga cabang jalan terbentang. Tapi aku belum mengambil langkah. Aku menoleh ke jalan pertama, dan aku nggak punya klu apa pun tentang apa yang ada di ujung sana. Begitu juga dengan jalan yang kedua serta yang ketiga. Aku hanya bisa melihat tiga jalan terbentang yang siap untuk menyambutku. Hanya berdasarkan insting, aku akan mengambil langkah--entah ke kiri, lurus, atau ke kanan--tapi begitu aku mulai satu langkah lebih di depan dibandingkan aku yang sebelumnya ...

... dua jalan lainnya langsung amblas. Jejak yang tertinggal di belakangku berubah menjadi jurang. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, semuanya jurang. Nggak ada yang perlu diubah; ada opsi yang sudah kuambil dan itu artinya nggak ada jalan untuk kembali. Aku sudah telanjur memilih jalan dan satu-satunya yang harus kulakukan kemudian adalah menyusurinya.

#

Oke, ganti suasananya. Bleepy tahu kalau aku seharusnya menulis essay yang garis matinya besok, dan nyatanya aku malah menulis blog di sini. Haha.