"You don't know the power of dark side."

Selasa, Februari 21, 2017

Kamis, 3 November 2016. Pelajaran Bahasa Prancis. Katakan saja kelas ini sedang dalam keadaan ditinggal pergi sang guru, tapi, yah, kami yang mengalami tentu tahu cerita aslinya enggak sekadar begini.

Aku buka-buka galeri di ponselku, di bagian screenshot dan lihat kalau aku pernah nyimpen foto tentang kutipan film Star Wars. Kalimatnya persis kayak yang aku tulis di judul blogku sekarang dan entah kenapa itu yang pengen aku bahas. Kita nggak tahu, dan mungkin nggak akan pernah tahu, seberapa besar kekuatan sisi jahat kita. Yang bisa jadi sisi jahat itu masih tidur, menunggu saat yang tepat untuk bikin kita kalap entah karena apa.

Oke huhuhu sekarang jam dua belas dan tinggal dua jam lagi aku bakal ada Simulasi UN Bahasa Inggris. Iya, aku di sesi tiga dan sesi tiga itu ada positif dan enggaknya.  

Negatifnya kamu udah bakal capek, temen-temenmu udah pada kelar duluan pada bebas pada terbang pada ke mal, makan, atau nonton (?), kamu berangkat sekolah pakai seragam panas-panas, suasananya kerontang berasa angin dunia aja ikut kering merayakan keberangkatanmu ikut ujian. Bayangin aja, dari jam dua sampai jam empat. Whao. Mesin komputernya udah panas. Udah nggak asik lagi lah. Sekolah udah nggak ada aura tegang-tegangnya menyambut kita-kita ini.

Positif nya jelas ada. Kita bisa belajar lebih lama! XD Oke walaupun kesannya itu nggak penting karena justru belajar lebih lama lah yang bikin capek, tapi worth it banget menurutku. Kita bisa ngisi waktu menunggu kita sambil belajar. Beneran. Kemaren aku Simulasi UN Fisika dan seenggaknya aku bisa hafal rumus bunyi yang mungkin nggak akan aku hafal soalnya aku nggak sempet belajar itu malamnya, kalau aku nggak punya waktu besok hari.

.:.

Oke balik lagi ke pembahasan awal. Soal sisi jahat. Sisi jahat itu bukan berarti tiba-tiba muncul keinginan buat ngerampok atau membunuh orang, tapi mungkin sisi jahat semacam kita bad mood seharian dan mendadak tebar kejutekan ke orang-orang. Kayak ada rasa kita nggak pengen ngapa-ngapain, tidur enggak belajar enggak, cuma pengen ngeluh aja nggak tau mau ke siapa, atau cuma lagi pengen ambil batu trus mecahin kaca. Keinginan sepele yang kesannya itu bukan kita. Gitu, sih.

Karena sisi jahat itu ... harus dilawan sih ya. Tapi gimana bisa ngelawan kalau kita nggak tahu seberapa besar kekuatannya? Sisi jahat itu mengerikan sih, dia tahu (dan dia nunggu) sampai ada keadaan yang bikin kita terpicu, dan tada. Kita jadi jahat. 

Kayak di foto yang kukasih itu. Kamis, 3 November 2016. Bukan, yang kumaksud jahat bukan tiga orang yang ada di foto HAHAHA XD Tapi seisi kelas. Serius. Aku nggak akan cerita lengkapnya, tapi kita waktu itu sedang ditempatkan dalam keadaan yang kita semua bisa ketawa dan mentertawakan pihak ... yang seharusnya kita hormati. Dan alasan kita ketawa bukan hanya karena kita punya objek humor yang lucu. Bukan. Tapi kita ketawa karena kita marah, banget, dan kita butuh untuk memperolok itu demi menunjukkan betapa superiornya kita. Intinya itu sih. 

Itu tadi yang kumaksud the power of dark side. Waktu itu suara kita nggak didengar, kita hanya dihakimi sepihak kalau kita ini cuma murid yang butuh seorang guru dan kita yang salah. Kita marah, tapi kita mentertawakan itu semata-mata agar kita terlihat: ini, lho, kami, pihak yang nggak paitan sengit dan bisa mengambil sisi humor dari kejadian ini. 

.:.

Kemarin Jumat, 17 Februari 2017. Waktu itu pelajaran Matematika. Sisi jahat lagi menguasaiku jadi aku lagi bete banget seharian di sekolah. Aku di kelas, sebelahan sama Fatma, di depanku ada Afi. Kita lagi ngerjain tugas yang dikasih sama si guru. Posisinya aku yang lagi bete jadi semakin bete karena kita tadi habis dari kantin dan aku belum buka makanan yang aku beli, padahal aku pengen banget makan.

Iya. Emang ini sepele banget tapi aku dasarnya udah nggak mood ngapa-ngapain waktu itu (didukung sama pelajaran yang seharian nggak ada enak-enaknya juga sih) jadi menghadapi keadaan di mana kelas sudah dimulai dan aku nggak bisa makan itu makin menyiksa rasanya.

Aku ngeliatin Fatma sama Afi yang lagi ngerjain tugas. Dan aku akhirnya nyeletuk. 

Aku: Aku pengen makan.
Afi: ... Makan aja.

Deretan meja kita satu garis lurus sama meja guru. Meja Afi ada di paling depan persis. Mejaku dan Fatma cuma meja kedua dari depan. Cari mati lah kalau aku makan. Dan jelas sebenernya apa pun tindak-tanduk kita bertiga bakal keliatan sama guru yang seratus delapan puluh derajat ada di depanku ini. Nggak mungkin banget aku makan.

Aku baru mau komentar sampai Afi dengan sangaaaat santainya ngambil buku tulis, dia buka, dan dia jadiin itu SEKAT. Blek. Satu detik kemudian sebuah dinding besar dari buku sukses dibangun buat ngehalangin pandangan antara aku sama si guru.

Dan itu ... SUMPAH YA =)))) Pik demi apa itu keliatan banget dinding terbentang lebar di depan beliau jelaslah beliau bakal pengen tahu kira-kira apa yang akan kulakukan di balik dinding itu dan cepat atau lambat jelas aku tetep bakal ketahuan kalau aku lagi makan =)) DEMI APAA dan kamu santai banget ngelakuinnya seolah itu solusi terjenius dalam abad ini =)) Begitu Afi ngelakuin itu, Fatma sama aku langsung ketawa. 

Tapi aku ketawa lebih lamaaaaa =))) 

Aku ketawa soalnya itu koplak banget. Aku ketawa lamaaaaaaaa sampai perutku sakit. 

Aku: Pik, sumpah ya, mood booster banget itu!! XD

Pada akhirnya aku memang nggak jadi makan karena sibuk ketawa. Mungkin itu kesannya biasa-biasa aja tapi menurutku itu lucu, dan nyatanya kalau memang sereceh itu, itu udah cukup buat ngebunuh semua sisi jahatku. Tergantikan sama perasaan seneng karena aku terhibur sama tingkah semacam itu, sekaligus perasaan kangen karena mungkin cuma sekali aku bisa ketawa kayak tadi. Atau bisa dapet lelucon kayak tadi.

Beneran deh, Pik, kamu keren banget. :"))) 

.:.

Okay, perhaps I don't know the power of dark side.
But I believe you don't know the hidden healing power of humour.

Rasya Swarnasta, 17.

You Might Also Like

0 comment(s)