“Pantaslah negara ini masih terbelakang. Orang seperti dia masih saja ada.”

Senin, Februari 13, 2017

Aku dan Suryo || Grha Sabha Pramana UGM || Minggu, 22 Januari 2017
AKU baca kalimat itu pertama di suatu cerita pendek. Entah kenapa, mungkin karena aku waktu itu baca-baca cerpen dengan niat nyomot kutipan atau kalimat-kalimat yang menarik biar jadi inspirasiku bikin cerita sendiri, jadi begitu aku sampai di bagian kalimat itu, aku langsung suka. Nggak tahu kenapa. Yang mengucapkan adalah tokoh jenius, nyeletuk ke salah satu sahabatnya yang sifatnya narsis dan nggak punya malu.

Jatuhnya, aku pernah pakai itu di proyek novel yang kupakai. Aku juga pernah pakai itu di beberapa cerpen. Puisiku juga ada yang terinspirasi dari kalimat itu. Menurutku kalimat itu sangaaaat realistis sekali: karena memang selalu ada di setiap negara, orang-orang yang menjadi faktor mengapa negara tersebut tidak maju-maju juga.

Kalau ada suatu permasalahan di negara ini, atau apa pun topik yang jadi viral, yang ada aku cuma geleng-geleng kepala, sekadar nyimak, sampai akhirnya batin, “Ini, nih, yang bikin negara ini masih terbelakang sampai sekarang.” Sejak kali pertama aku tahu kalimat itu, nggak terhitung aku menggumamkannya setiap saat.

.

SAMPAI, datang juga harinya. Saat itu, hari kedua pembekalan ekstrakurikuler Jurnalistik untuk melantik angkatan 2019. Aku yang sudah kelas dua belas diundang sama adik kelas selaku panitia untuk sekadar pengawas dan pemberi masukan waktu evaluasi aja. Aku dateng waktu malam hari pertama, kita di sana ngobrol macam-macam, aku ikut lihat-lihat waktu games atau ajang saling sharing. Seru banget.

Pagi harinya, ada permainan pos. Rutenya dari sekolah sampai ke GSP UGM. Shelly jalan duluan sama Arka. Aku sama Suryo awalnya ngebuntutin kelompok—kalau kelompok itu pindah pos kita juga pindah pos, tapi lama-lama capek juga. Akhirnya sampai di lapangan GSP, aku sama Suryo duduk nungguin sampai kelompok terakhir selesai di pos itu.

Agak lama, kan. Jadinya, kita ngobrol. Dari obrolan mainstream kelas dua belas kayak apa, sih, rencana setelah lulus SMA, sampai hal-hal yang saking non-mainstream nya sampai-sampai jatuhnya terlalu sensitif. Kita bahas soal kasus-kasus yang lagi ramai di negara ini. Mulai dari sejarahnya, orang-orangnya, sistemnya, segala macam sampai pada akhirnya pembicaraan kita jatuh ke soal negara itu sendiri. Indonesia.

Dan ngomongin Indonesia itu nggak ada habisnya. Lebih ke masalah toleransi dan keberagaman yang memang lagi melanda negara ini.

.

KEBANYAKAN yang kita singgung adalah obrolan tentang golongan tertentu. Pembicaraan yang menyinggung SARA kayaknya kalau dibicarakan. Aku sama Suryo sama-sama mengutarakan pendapat, mendengar, didengar. Banyaaaaak banget yang dibicarain sampai aku menyeletuk,

“Pantaslah Indonesia masih terbelakang. Orang-orang seperti mereka masih saja ada.”

Dan apa hasilnya? Aku pikir kalimatku akan diabaikan, tetapi Suryo membalas,

“Ray, kamu tahu? Yang bikin suatu negara masih terbelakang adalah karena masih ada orang di negara tersebut yang bilang bahwa ada suatu kelompok—siapapun mereka itu—yang dengan keberadaannya bikin negaranya masih terbelakang.”

... Aku. Kaget. Banget.

Seumur hidup begitu aku dikenalkan dengan kalimat itu, aku nggak pernah berpikir dengan sudut pandang seperti ini. Bagaimana kalau aku, orang yang seenak bebek selalu ngomentarin setiap berita dengan, “Pantaslah negara ini masih terbelakang. Orang seperti dia masih saja ada,” adalah orang yang dimaksud itu?

Kalau dipikir lagi, kerjaanku apa, sih? Aku hanya berkomentar saja bisanya. Aku asal saja nyeletuk pedas kalau keberadaan mereka bikin Indonesia terbelakang, tapi sebenarnya keberadaanku lah yang membuat negara ini masih demikian. Aku yang cuma bisanya nyimpen suara dan nggak berani terbuka.

Whao.

Itu membuka pandanganku sekali, serius.

Pantaslah negara ini masih terbelakang. Orang seperti aku masih saja ada.

Hahaha.

.

SEJAK saat itu, sih, aku berusaha ekstra keras untuk nggak berkomentar dengan mengatakan hal seperti tadi. Karena semua orang berpotensi untuk menghambat berkembangnya Indonesia, dan karena semua orang pula punya kemampuan untuk memajukan negara kita sekarang.

You Might Also Like

2 comment(s)