“Marilah kita berdoa untuk kesuksesan acara kita, dan kesuksesan masa depan kita.”

Senin, Februari 13, 2017

Panitia Sungkem 2017 Pertemuan Pertama || Warung Klangenan, Patangpuluhan || Kamis, 26 Januari 2017
Saat Ketua mengatakan itu untuk mengakhiri pertemuan pertama, terus terang saja, saya terkesima. (Iya, saya justru terlambat berdoa jadinya.) Yang kali pertama terbesit di kepala saya adalah perasaan sayang, mengapa saya tak pernah mengatakan dengan cara seperti itu saat memimpin jalannya rapat di sekolah saya.

Awal mula adanya pertemuan.

Kejadiannya begitu tiba-tiba. Saya menerima pesan LINE dari teman SD saya, isinya berupa ajakan untuk berperan aktif dalam kegiatan suatu organisasi sosial. Ia menyarankan saya untuk menempati posisi Divisi Media.

Kegiatan itu adalah bentuk untuk bersyukur atas lulusnya kami, bulan Mei mendatang. Total panitia hanya belasan siswa-siswi perwakilan se-Daerah Istimewa Yogyakarta, semuanya duduk di bangku 3 SMA. Target kami adalah seluruh pelajar DIY dengan kuantitas lima ribu peserta. Hari pelaksanaan akan dilangsungkan bersamaan dengan Hari Kelulusan SMA, dengan bentuk syukurannya berupa membagi-bagikan nasi bungkus dan susu untuk warga-warga dengan titik kumpul yang kami tentukan.

Soal komitmen, cita-cita, dan peraturan.

Kami sama-sama kelas 3 SMA, berjuang untuk ujian, berusaha agar bisa lulus dengan nilai terbaik, yang kelulusannya akan kami rayakan dengan bentuk kegiatan sosial yang sudah kami persiapkan acaranya dari sekarang. Terlalu berisiko? Kelewat aneh-aneh? Cari mati? Bisa jadi. Kami harus bisa pintar-pintar membagi waktu sebagai pelajar dan anggota kepanitiaan. Tapi, kami percaya, bahwa apabila kami melakukan ini dengan sungguh-sungguh, maka segala kerja keras dan niat baik kita akan terbayar suatu hari nanti.

Kali pertama kami berkumpul, yang kami lakukan adalah perkenalan, tentu. Kami yang di sini memang mempunyai pengalaman dalam menjadi anggota kepanitiaan, tapi kami dari sekolah yang berbeda-beda. Apa yang kami lakukan dan dengan cara apa kami mempersiapkan suatu acara sudah pasti berbeda pula. Ketua meminta kami untuk menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, asal sekolah … saya pikir ini hanya perkenalan biasa, namun Ketua menambahkan satu lagi: sebutkan ingin masuk universitas mana dan jurusan apa. Pertanyaan yang kami jumpai terlalu sering akhir-akhir ini.

Pertanyaan itu kami jawab secara bergilir, yang berakhir dengan kami semua mengamini universitas dan jurusan yang disebutkan masing-masing dari kami. Setelah itu, kami menyobek kertas kecil. Di sana, kami menorehkan apa yang membuat kami mantap melanjutkan pertemuan ini, dan apa target-target yang akan kami capai secara pribadi setelah selesainya masa kepanitiaan kami. Kami lipat, kami kumpulkan kepada Sekretaris untuk kami buka setelah Hari H berakhir.

Ketua menyampaikan dua peraturan utama.

Dilarang menjadikan kepanitiaan ini sebagai tempat pelarian dari stresnya belajar persiapan ujian.

Jujur, saya sama sekali tak menyangka bahwa peraturan pertama adalah kalimat yang semacam itu. Yang selalu saya terima di sekolah saya hanyalah peraturan tersirat bahwa janganlah kita apatis satu sama lain (hahaha) atau buatlah kita yang di dalam lingkaran ini sebagai keluarga. Saya pikir tak jauh-jauh dari situ. Jadi ketika Ketua tetap menjunjung tinggi prioritas persiapan ujian kami, yang ada selanjutnya adalah decakan kagum.

Jangan membalas pesan sepenting apa pun itu, apabila sedang pelajaran tambahan atau di bimbingan belajar.

Peraturan yang kedua juga tak kalah mengagetkannya. Ketua meminta kami untuk memberi tahu pada hari apa dan dalam rentang waktu apa kami ada les. Apabila salah satu dari kami ketahuan membalas pesan pada jam yang seharusnya adalah waktunya untuk les, maka yang diberi hukuman adalah orang yang bertanya padanya.

Ada beberapa peraturan yang disebutkan, ataupun peraturan yang dibuat di tengah-tengah jalannya rapat juga ada. Namun isinya kurang lebih itu. Bagi saya, peraturan itu bagaikan wujud ikatan emosional. Percakapan sepenting apa pun itu akan langsung berhenti dengan, “Nanti lagi, ya, ada les,” dan akan dimulai lagi begitu jam les yang bersangkutan berakhir. Kami jadi saling mengerti satu sama lain tanpa prasangka.

Antara beban, dan bikin kerasan.

Sudah kali ketiga kami berkumpul. Kami mempunyai agenda rutin untuk berkumpul dua minggu sekali setiap hari Rabu dan harus ada yang punya bahan untuk dibicarakan. Apa pun itu. Selain itu, di grup LINE, ada pula tenggat waktu untuk setiap divisi yang ada yaitu setiap Sabtu pukul 23:59 WIB. Tenggat waktu mingguan itu untuk melapor di grup apa saja progres dari tiap divisi. Bagi saya, ini sangat efektif sebagai usaha membayar sedikitnya waktu kami bisa bertemu muka.

Saya membuat teks publikasi untuk postingan coming soon dan makan waktu satu jam untuk membahas bersama satu rekan Divisi Media saya yang berkonsentrasi di bidang Desain (saya di bagian Tulis), bersama dengan dua orang di Divisi Acara. Begitu berat, memang, apalagi ketika dibagikannya tugas Fisika di grup LINE kelas bersamaan dengan masuknya pesan berisi pemberian tugas untuk Divisi Media.

Tapi, saya benar-benar kerasan di sini. Di depan, kami tak henti-hentinya membahas, mengemukakan suatu ide, atau pandangan, tentang bagaimana teknis acara, atau tagline kegiatan. Sementara di belakang, kami yakin bahwa kami sama-sama mempunyai beban untuk persiapan tes simulasi atau ujian praktik di sekolah.

Kami selalu berganti-ganti lokasi pertemuan. Pada pertemuan pertama, kami di daerah Utara. Pertemuan kedua, kami ganti ke suatu restoran di Selatan. Hal ini timbul atas tujuan keadilan, bagaimana caranya agar menyenangkan semuanya. Satu kekaguman baru yang saya rasakan.

“Marilah kita berdoa untuk kesuksesan acara kita, dan kesuksesan masa depan kita.”

Best line ever. Serius.

Yang ada biasanya untuk mengawali dan menutup rapat memang berdoa, namun cara pengucapannya rata-rata, “Marilah kita berdoa sesuai dengan kepercayaan kita masing-masing.” Namun ini tidak. Bagian akhir kalimat itu menegaskan lagi bahwa tanggung jawab kami di kepanitiaan ini tetap tinggi, namun janganlah lupa dengan kepentingan kami atas nama masa depan yang sedang kami usahakan bersama.

Di sini kami panitia acara, kami punya target yang harus dicapai di acara ini, namun kami juga punya target sendiri yang harus kami perjuangkan agar bisa tercapai pula.

Itulah yang kami hargai di sini.

You Might Also Like

0 comment(s)