holiday

ke rumahnya oca!

Rabu, Februari 22, 2017

Halo. Ini aku lagi di rumahnya Oca. Sekarang jam 16:47 WIB. Oca lagi tidur dan dia minta aku ngebangunin dia dua puluh menit kemudian, jadi di sinilah aku, numpang WiFi dan numpang ngetik di netbook orang, asal aja jadiin momen ini sebagai kesempatan untuk nge-update blog :")) Jadi ... aku mau cerita apa ya. 

Sebenernya kemarin aku sempet sedih gara-gara aku kehilangan satu ide nulis yang belum sempet kucatet (...) Udah sering, sih, aku ngalamin. Ide-ide yang datang dan pergi gara-gara cuma aku pertahankan di kepala. Cuma kalau kemarin tuh rasanya sayaaaang banget aku bisa lupa. Soalnya jarang aku bisa dapet ide nulis cerita genrenya romance. Biasanya kan dark terus mah kalau aku bikin cerpen. (...) Kemarin tuh aku dapet ide romens yang sangaaaat romens dan klise lah =)) SAYANGNYA AKU LUPA 8""""")) Sedih banget, aku mikir keras sampe kepalaku kutenggelamin ke bantal, tapi aku nggak inget-inget juga. Grao. Ide jangan disimpen di otak aja, Kawan.

Jadi, kenapa aku main ke rumah Oca?

Tadi, kelasku yang harusnya pelajaran Fisika diganti yey =))) Diganti sama Kimia (SAMA AJA) buat sekalian latihan praktikum untuk ujian praktik yang mulai Senin depan. Hari ini sudah pertemuan Kimia terakhir huhuhu betapa cepatnya waktu berlalu QAQ Jadi Kimia ini ada enam praktikum yang harus kita hafalin dan kita semua sudah melupakannya (.....)

Alhasil deh aku sama Oca berniat untuk merampungkan semua hari ini. Kita nulis apa alat bahan dan cara kerja semua praktikum Kimia sekalian nyicil juga. Soalnya masih banyak ujian-ujian lain yang kita hafalkan QvQ Kayak Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia ... belum lagi praktikum Fisika sama Biologi. Makanya aku main ke rumah Oca dan nanti aku pulang jam lima. Bentar lagi jam lima sih ini ehehe.

Oh habis ini aku ada rapat SUNGKEM lagi, yey! XD Di selatannya SMM jam 18:20 WIB.

Sudah yaaaaaaaa.

kelas

"You don't know the power of dark side."

Selasa, Februari 21, 2017

Kamis, 3 November 2016. Pelajaran Bahasa Prancis. Katakan saja kelas ini sedang dalam keadaan ditinggal pergi sang guru, tapi, yah, kami yang mengalami tentu tahu cerita aslinya enggak sekadar begini.

Aku buka-buka galeri di ponselku, di bagian screenshot dan lihat kalau aku pernah nyimpen foto tentang kutipan film Star Wars. Kalimatnya persis kayak yang aku tulis di judul blogku sekarang dan entah kenapa itu yang pengen aku bahas. Kita nggak tahu, dan mungkin nggak akan pernah tahu, seberapa besar kekuatan sisi jahat kita. Yang bisa jadi sisi jahat itu masih tidur, menunggu saat yang tepat untuk bikin kita kalap entah karena apa.

Oke huhuhu sekarang jam dua belas dan tinggal dua jam lagi aku bakal ada Simulasi UN Bahasa Inggris. Iya, aku di sesi tiga dan sesi tiga itu ada positif dan enggaknya.  

Negatifnya kamu udah bakal capek, temen-temenmu udah pada kelar duluan pada bebas pada terbang pada ke mal, makan, atau nonton (?), kamu berangkat sekolah pakai seragam panas-panas, suasananya kerontang berasa angin dunia aja ikut kering merayakan keberangkatanmu ikut ujian. Bayangin aja, dari jam dua sampai jam empat. Whao. Mesin komputernya udah panas. Udah nggak asik lagi lah. Sekolah udah nggak ada aura tegang-tegangnya menyambut kita-kita ini.

Positif nya jelas ada. Kita bisa belajar lebih lama! XD Oke walaupun kesannya itu nggak penting karena justru belajar lebih lama lah yang bikin capek, tapi worth it banget menurutku. Kita bisa ngisi waktu menunggu kita sambil belajar. Beneran. Kemaren aku Simulasi UN Fisika dan seenggaknya aku bisa hafal rumus bunyi yang mungkin nggak akan aku hafal soalnya aku nggak sempet belajar itu malamnya, kalau aku nggak punya waktu besok hari.

.:.

Oke balik lagi ke pembahasan awal. Soal sisi jahat. Sisi jahat itu bukan berarti tiba-tiba muncul keinginan buat ngerampok atau membunuh orang, tapi mungkin sisi jahat semacam kita bad mood seharian dan mendadak tebar kejutekan ke orang-orang. Kayak ada rasa kita nggak pengen ngapa-ngapain, tidur enggak belajar enggak, cuma pengen ngeluh aja nggak tau mau ke siapa, atau cuma lagi pengen ambil batu trus mecahin kaca. Keinginan sepele yang kesannya itu bukan kita. Gitu, sih.

Karena sisi jahat itu ... harus dilawan sih ya. Tapi gimana bisa ngelawan kalau kita nggak tahu seberapa besar kekuatannya? Sisi jahat itu mengerikan sih, dia tahu (dan dia nunggu) sampai ada keadaan yang bikin kita terpicu, dan tada. Kita jadi jahat. 

Kayak di foto yang kukasih itu. Kamis, 3 November 2016. Bukan, yang kumaksud jahat bukan tiga orang yang ada di foto HAHAHA XD Tapi seisi kelas. Serius. Aku nggak akan cerita lengkapnya, tapi kita waktu itu sedang ditempatkan dalam keadaan yang kita semua bisa ketawa dan mentertawakan pihak ... yang seharusnya kita hormati. Dan alasan kita ketawa bukan hanya karena kita punya objek humor yang lucu. Bukan. Tapi kita ketawa karena kita marah, banget, dan kita butuh untuk memperolok itu demi menunjukkan betapa superiornya kita. Intinya itu sih. 

Itu tadi yang kumaksud the power of dark side. Waktu itu suara kita nggak didengar, kita hanya dihakimi sepihak kalau kita ini cuma murid yang butuh seorang guru dan kita yang salah. Kita marah, tapi kita mentertawakan itu semata-mata agar kita terlihat: ini, lho, kami, pihak yang nggak paitan sengit dan bisa mengambil sisi humor dari kejadian ini. 

.:.

Kemarin Jumat, 17 Februari 2017. Waktu itu pelajaran Matematika. Sisi jahat lagi menguasaiku jadi aku lagi bete banget seharian di sekolah. Aku di kelas, sebelahan sama Fatma, di depanku ada Afi. Kita lagi ngerjain tugas yang dikasih sama si guru. Posisinya aku yang lagi bete jadi semakin bete karena kita tadi habis dari kantin dan aku belum buka makanan yang aku beli, padahal aku pengen banget makan.

Iya. Emang ini sepele banget tapi aku dasarnya udah nggak mood ngapa-ngapain waktu itu (didukung sama pelajaran yang seharian nggak ada enak-enaknya juga sih) jadi menghadapi keadaan di mana kelas sudah dimulai dan aku nggak bisa makan itu makin menyiksa rasanya.

Aku ngeliatin Fatma sama Afi yang lagi ngerjain tugas. Dan aku akhirnya nyeletuk. 

Aku: Aku pengen makan.
Afi: ... Makan aja.

Deretan meja kita satu garis lurus sama meja guru. Meja Afi ada di paling depan persis. Mejaku dan Fatma cuma meja kedua dari depan. Cari mati lah kalau aku makan. Dan jelas sebenernya apa pun tindak-tanduk kita bertiga bakal keliatan sama guru yang seratus delapan puluh derajat ada di depanku ini. Nggak mungkin banget aku makan.

Aku baru mau komentar sampai Afi dengan sangaaaat santainya ngambil buku tulis, dia buka, dan dia jadiin itu SEKAT. Blek. Satu detik kemudian sebuah dinding besar dari buku sukses dibangun buat ngehalangin pandangan antara aku sama si guru.

Dan itu ... SUMPAH YA =)))) Pik demi apa itu keliatan banget dinding terbentang lebar di depan beliau jelaslah beliau bakal pengen tahu kira-kira apa yang akan kulakukan di balik dinding itu dan cepat atau lambat jelas aku tetep bakal ketahuan kalau aku lagi makan =)) DEMI APAA dan kamu santai banget ngelakuinnya seolah itu solusi terjenius dalam abad ini =)) Begitu Afi ngelakuin itu, Fatma sama aku langsung ketawa. 

Tapi aku ketawa lebih lamaaaaa =))) 

Aku ketawa soalnya itu koplak banget. Aku ketawa lamaaaaaaaa sampai perutku sakit. 

Aku: Pik, sumpah ya, mood booster banget itu!! XD

Pada akhirnya aku memang nggak jadi makan karena sibuk ketawa. Mungkin itu kesannya biasa-biasa aja tapi menurutku itu lucu, dan nyatanya kalau memang sereceh itu, itu udah cukup buat ngebunuh semua sisi jahatku. Tergantikan sama perasaan seneng karena aku terhibur sama tingkah semacam itu, sekaligus perasaan kangen karena mungkin cuma sekali aku bisa ketawa kayak tadi. Atau bisa dapet lelucon kayak tadi.

Beneran deh, Pik, kamu keren banget. :"))) 

.:.

Okay, perhaps I don't know the power of dark side.
But I believe you don't know the hidden healing power of humour.

Rasya Swarnasta, 17.

jurnal

“Pantaslah negara ini masih terbelakang. Orang seperti dia masih saja ada.”

Senin, Februari 13, 2017

Aku dan Suryo || Grha Sabha Pramana UGM || Minggu, 22 Januari 2017
AKU baca kalimat itu pertama di suatu cerita pendek. Entah kenapa, mungkin karena aku waktu itu baca-baca cerpen dengan niat nyomot kutipan atau kalimat-kalimat yang menarik biar jadi inspirasiku bikin cerita sendiri, jadi begitu aku sampai di bagian kalimat itu, aku langsung suka. Nggak tahu kenapa. Yang mengucapkan adalah tokoh jenius, nyeletuk ke salah satu sahabatnya yang sifatnya narsis dan nggak punya malu.

Jatuhnya, aku pernah pakai itu di proyek novel yang kupakai. Aku juga pernah pakai itu di beberapa cerpen. Puisiku juga ada yang terinspirasi dari kalimat itu. Menurutku kalimat itu sangaaaat realistis sekali: karena memang selalu ada di setiap negara, orang-orang yang menjadi faktor mengapa negara tersebut tidak maju-maju juga.

Kalau ada suatu permasalahan di negara ini, atau apa pun topik yang jadi viral, yang ada aku cuma geleng-geleng kepala, sekadar nyimak, sampai akhirnya batin, “Ini, nih, yang bikin negara ini masih terbelakang sampai sekarang.” Sejak kali pertama aku tahu kalimat itu, nggak terhitung aku menggumamkannya setiap saat.

.

SAMPAI, datang juga harinya. Saat itu, hari kedua pembekalan ekstrakurikuler Jurnalistik untuk melantik angkatan 2019. Aku yang sudah kelas dua belas diundang sama adik kelas selaku panitia untuk sekadar pengawas dan pemberi masukan waktu evaluasi aja. Aku dateng waktu malam hari pertama, kita di sana ngobrol macam-macam, aku ikut lihat-lihat waktu games atau ajang saling sharing. Seru banget.

Pagi harinya, ada permainan pos. Rutenya dari sekolah sampai ke GSP UGM. Shelly jalan duluan sama Arka. Aku sama Suryo awalnya ngebuntutin kelompok—kalau kelompok itu pindah pos kita juga pindah pos, tapi lama-lama capek juga. Akhirnya sampai di lapangan GSP, aku sama Suryo duduk nungguin sampai kelompok terakhir selesai di pos itu.

Agak lama, kan. Jadinya, kita ngobrol. Dari obrolan mainstream kelas dua belas kayak apa, sih, rencana setelah lulus SMA, sampai hal-hal yang saking non-mainstream nya sampai-sampai jatuhnya terlalu sensitif. Kita bahas soal kasus-kasus yang lagi ramai di negara ini. Mulai dari sejarahnya, orang-orangnya, sistemnya, segala macam sampai pada akhirnya pembicaraan kita jatuh ke soal negara itu sendiri. Indonesia.

Dan ngomongin Indonesia itu nggak ada habisnya. Lebih ke masalah toleransi dan keberagaman yang memang lagi melanda negara ini.

.

KEBANYAKAN yang kita singgung adalah obrolan tentang golongan tertentu. Pembicaraan yang menyinggung SARA kayaknya kalau dibicarakan. Aku sama Suryo sama-sama mengutarakan pendapat, mendengar, didengar. Banyaaaaak banget yang dibicarain sampai aku menyeletuk,

“Pantaslah Indonesia masih terbelakang. Orang-orang seperti mereka masih saja ada.”

Dan apa hasilnya? Aku pikir kalimatku akan diabaikan, tetapi Suryo membalas,

“Ray, kamu tahu? Yang bikin suatu negara masih terbelakang adalah karena masih ada orang di negara tersebut yang bilang bahwa ada suatu kelompok—siapapun mereka itu—yang dengan keberadaannya bikin negaranya masih terbelakang.”

... Aku. Kaget. Banget.

Seumur hidup begitu aku dikenalkan dengan kalimat itu, aku nggak pernah berpikir dengan sudut pandang seperti ini. Bagaimana kalau aku, orang yang seenak bebek selalu ngomentarin setiap berita dengan, “Pantaslah negara ini masih terbelakang. Orang seperti dia masih saja ada,” adalah orang yang dimaksud itu?

Kalau dipikir lagi, kerjaanku apa, sih? Aku hanya berkomentar saja bisanya. Aku asal saja nyeletuk pedas kalau keberadaan mereka bikin Indonesia terbelakang, tapi sebenarnya keberadaanku lah yang membuat negara ini masih demikian. Aku yang cuma bisanya nyimpen suara dan nggak berani terbuka.

Whao.

Itu membuka pandanganku sekali, serius.

Pantaslah negara ini masih terbelakang. Orang seperti aku masih saja ada.

Hahaha.

.

SEJAK saat itu, sih, aku berusaha ekstra keras untuk nggak berkomentar dengan mengatakan hal seperti tadi. Karena semua orang berpotensi untuk menghambat berkembangnya Indonesia, dan karena semua orang pula punya kemampuan untuk memajukan negara kita sekarang.

event

“Marilah kita berdoa untuk kesuksesan acara kita, dan kesuksesan masa depan kita.”

Senin, Februari 13, 2017

Panitia Sungkem 2017 Pertemuan Pertama || Warung Klangenan, Patangpuluhan || Kamis, 26 Januari 2017
Saat Ketua mengatakan itu untuk mengakhiri pertemuan pertama, terus terang saja, saya terkesima. (Iya, saya justru terlambat berdoa jadinya.) Yang kali pertama terbesit di kepala saya adalah perasaan sayang, mengapa saya tak pernah mengatakan dengan cara seperti itu saat memimpin jalannya rapat di sekolah saya.

Awal mula adanya pertemuan.

Kejadiannya begitu tiba-tiba. Saya menerima pesan LINE dari teman SD saya, isinya berupa ajakan untuk berperan aktif dalam kegiatan suatu organisasi sosial. Ia menyarankan saya untuk menempati posisi Divisi Media.

Kegiatan itu adalah bentuk untuk bersyukur atas lulusnya kami, bulan Mei mendatang. Total panitia hanya belasan siswa-siswi perwakilan se-Daerah Istimewa Yogyakarta, semuanya duduk di bangku 3 SMA. Target kami adalah seluruh pelajar DIY dengan kuantitas lima ribu peserta. Hari pelaksanaan akan dilangsungkan bersamaan dengan Hari Kelulusan SMA, dengan bentuk syukurannya berupa membagi-bagikan nasi bungkus dan susu untuk warga-warga dengan titik kumpul yang kami tentukan.

Soal komitmen, cita-cita, dan peraturan.

Kami sama-sama kelas 3 SMA, berjuang untuk ujian, berusaha agar bisa lulus dengan nilai terbaik, yang kelulusannya akan kami rayakan dengan bentuk kegiatan sosial yang sudah kami persiapkan acaranya dari sekarang. Terlalu berisiko? Kelewat aneh-aneh? Cari mati? Bisa jadi. Kami harus bisa pintar-pintar membagi waktu sebagai pelajar dan anggota kepanitiaan. Tapi, kami percaya, bahwa apabila kami melakukan ini dengan sungguh-sungguh, maka segala kerja keras dan niat baik kita akan terbayar suatu hari nanti.

Kali pertama kami berkumpul, yang kami lakukan adalah perkenalan, tentu. Kami yang di sini memang mempunyai pengalaman dalam menjadi anggota kepanitiaan, tapi kami dari sekolah yang berbeda-beda. Apa yang kami lakukan dan dengan cara apa kami mempersiapkan suatu acara sudah pasti berbeda pula. Ketua meminta kami untuk menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, asal sekolah … saya pikir ini hanya perkenalan biasa, namun Ketua menambahkan satu lagi: sebutkan ingin masuk universitas mana dan jurusan apa. Pertanyaan yang kami jumpai terlalu sering akhir-akhir ini.

Pertanyaan itu kami jawab secara bergilir, yang berakhir dengan kami semua mengamini universitas dan jurusan yang disebutkan masing-masing dari kami. Setelah itu, kami menyobek kertas kecil. Di sana, kami menorehkan apa yang membuat kami mantap melanjutkan pertemuan ini, dan apa target-target yang akan kami capai secara pribadi setelah selesainya masa kepanitiaan kami. Kami lipat, kami kumpulkan kepada Sekretaris untuk kami buka setelah Hari H berakhir.

Ketua menyampaikan dua peraturan utama.

Dilarang menjadikan kepanitiaan ini sebagai tempat pelarian dari stresnya belajar persiapan ujian.

Jujur, saya sama sekali tak menyangka bahwa peraturan pertama adalah kalimat yang semacam itu. Yang selalu saya terima di sekolah saya hanyalah peraturan tersirat bahwa janganlah kita apatis satu sama lain (hahaha) atau buatlah kita yang di dalam lingkaran ini sebagai keluarga. Saya pikir tak jauh-jauh dari situ. Jadi ketika Ketua tetap menjunjung tinggi prioritas persiapan ujian kami, yang ada selanjutnya adalah decakan kagum.

Jangan membalas pesan sepenting apa pun itu, apabila sedang pelajaran tambahan atau di bimbingan belajar.

Peraturan yang kedua juga tak kalah mengagetkannya. Ketua meminta kami untuk memberi tahu pada hari apa dan dalam rentang waktu apa kami ada les. Apabila salah satu dari kami ketahuan membalas pesan pada jam yang seharusnya adalah waktunya untuk les, maka yang diberi hukuman adalah orang yang bertanya padanya.

Ada beberapa peraturan yang disebutkan, ataupun peraturan yang dibuat di tengah-tengah jalannya rapat juga ada. Namun isinya kurang lebih itu. Bagi saya, peraturan itu bagaikan wujud ikatan emosional. Percakapan sepenting apa pun itu akan langsung berhenti dengan, “Nanti lagi, ya, ada les,” dan akan dimulai lagi begitu jam les yang bersangkutan berakhir. Kami jadi saling mengerti satu sama lain tanpa prasangka.

Antara beban, dan bikin kerasan.

Sudah kali ketiga kami berkumpul. Kami mempunyai agenda rutin untuk berkumpul dua minggu sekali setiap hari Rabu dan harus ada yang punya bahan untuk dibicarakan. Apa pun itu. Selain itu, di grup LINE, ada pula tenggat waktu untuk setiap divisi yang ada yaitu setiap Sabtu pukul 23:59 WIB. Tenggat waktu mingguan itu untuk melapor di grup apa saja progres dari tiap divisi. Bagi saya, ini sangat efektif sebagai usaha membayar sedikitnya waktu kami bisa bertemu muka.

Saya membuat teks publikasi untuk postingan coming soon dan makan waktu satu jam untuk membahas bersama satu rekan Divisi Media saya yang berkonsentrasi di bidang Desain (saya di bagian Tulis), bersama dengan dua orang di Divisi Acara. Begitu berat, memang, apalagi ketika dibagikannya tugas Fisika di grup LINE kelas bersamaan dengan masuknya pesan berisi pemberian tugas untuk Divisi Media.

Tapi, saya benar-benar kerasan di sini. Di depan, kami tak henti-hentinya membahas, mengemukakan suatu ide, atau pandangan, tentang bagaimana teknis acara, atau tagline kegiatan. Sementara di belakang, kami yakin bahwa kami sama-sama mempunyai beban untuk persiapan tes simulasi atau ujian praktik di sekolah.

Kami selalu berganti-ganti lokasi pertemuan. Pada pertemuan pertama, kami di daerah Utara. Pertemuan kedua, kami ganti ke suatu restoran di Selatan. Hal ini timbul atas tujuan keadilan, bagaimana caranya agar menyenangkan semuanya. Satu kekaguman baru yang saya rasakan.

“Marilah kita berdoa untuk kesuksesan acara kita, dan kesuksesan masa depan kita.”

Best line ever. Serius.

Yang ada biasanya untuk mengawali dan menutup rapat memang berdoa, namun cara pengucapannya rata-rata, “Marilah kita berdoa sesuai dengan kepercayaan kita masing-masing.” Namun ini tidak. Bagian akhir kalimat itu menegaskan lagi bahwa tanggung jawab kami di kepanitiaan ini tetap tinggi, namun janganlah lupa dengan kepentingan kami atas nama masa depan yang sedang kami usahakan bersama.

Di sini kami panitia acara, kami punya target yang harus dicapai di acara ini, namun kami juga punya target sendiri yang harus kami perjuangkan agar bisa tercapai pula.

Itulah yang kami hargai di sini.

dilema

tentang bahasa inggris.

Senin, Februari 06, 2017

Kalau misalnya aku iseng main ke Gramedia dan jalan-jalan (?) di rak yang isinya tentang buku-buku bahasa Inggris, aku kadang iseng buka-buka dan baca sinopsis paling belakang buku yang menurutku judulnya menarik. Ada beberapa yang aku catet di kepala, tapi yah, karena aku nggak begitu bisa bahasa Inggris, jadi aku balikin lagi buku itu ke tempat semula.

Aku selalu mikir kalau aku bakal belajar bahasa Inggris waktu kuliah. Jadi setiap kali aku baca tulisan bahasa Inggris, mau itu cerpen atau puisi di blog, selalu aku baca sekilas dan aku bookmark--dengan niat untuk memahami lagi waktu aku udah bisa bahasa Inggris suatu hari nanti.

Buat menghibur diri, aku selalu bilang: Sabar, Sya, sabar. Sekarang kamu fokus belajar. Buat literatur berbahasa Inggrisnya, setahun lagi, ya, Sya.

Entah udah kesekian kali aku bilang kayak gitu ke diriku sendiri di kelas dua belas ini. Aku selalu bilang, entah dalam hati, entah kayak ngomong biasa waktu aku lagi sendiri: Setahun, Sya, tunggu setahun. Kamu bakal belajar bahasa Inggris selepas SMA, lalu kamu mulai bisa memperluas kosa kata yang segunung itu, lalu kamu balik lagi dan makan tuh semua yang cuma bisa kamu pandang!

Tapi, tapi, tapi ... kapan setahun itu? Jelas aku tahu setahun itu artinya 2018, tapi kapan? Aku cuma bisa merencanakan, dan apalah arti masa depan kalau belum punya pilihan? Aku bahkan baru menentukan pilihan satu dua tiga itu waktu Try Out dua minggu yang lalu di Farmasi UGM. Jadi waktu ngisi LJK dan sampai bagian pengisian jurusan satu dua tiga, di kepalaku langsung siaga satu, "WHAO Sya, kamu ngisi apa nih, apa nih, apa nih?"

Ketidakmampuanku di bahasa Inggris membuat duniaku rasanya terbatas. Aku kayak terkurung, aku pengen banget bisa tapi kenapa sih, ini susah? Apa sebenernya yang bikin susah adalah aku sendiri yang selalu nunda dan menghibur diri: setahun lagi?

Aku punya akun Quora, dan waktu aku beberapa kali coba jawab pertanyaan yang muncul di feed, tiba-tiba ada satu pertanyaan yang masuk di kolom permintaan profilku, minta aku untuk menjawab:

What are Indonesia's largest industries?


... Pertanyaan itu kuterima tanggal 31 Desember dan sampai sekarang belum aku jawab. Aku bingung? Sebenernya industri di Indonesia bisa aku cari di Google, dan yang perlu aku lakukan adalah menyerap informasinya lalu mulai menjawab pertanyaan itu dalam bahasa Inggris, tapi ... bahasa Inggris itulah masalahnya!

Grammar itu selalu yang jadi masalah utama.

Akhirnya aku yang waktu itu cuma bisa menghibur diri dan memasukkan pertanyaan itu ke dalam kolom Answer Later, berpikir kalau aku pasti bakal bisa jawab waktu aku udah bisa ngomong pakai bahasa Inggris suatu hari nanti.

Dan terus, seolah-olah nggak kapok, ada lagi pertanyaan masuk di kolom permintaan. Akun yang beda lagi, minta aku untuk menjawab:

What strikes first time visitors as special or unusual when they arrive in Semarang, Jawa Tengah, Indonesia?

... WHAO. Aku barulah tahu bahwa mungkin sebenarnya itulah jawaban yang dicari-cari orang luar negeri yang punya minat ke Indonesia. Mereka butuh tahu lebih sebelum ke sini, dan satu-satunya jalan adalah bertanya langsung ke orang Indonesia. Tapi gimana kalau orang Indonesia itulah yang nggak bisa jawab pakai bahasanya mereka???

Trus malam ini, aku iseng buka-buka Quora dan menemukan cerpen bagus lagi. Aku selalu pengen banget cerpenku bisa tersampaikan ke semua orang di dunia ini, dan satu-satunya cara agar bisa cepat adalah menyampaikan dengan bahasa universal; bahasa Inggris. Aku pengen cerpenku bisa dimuat di Three Minutes Stories (PENGEN BANGET) tapi ya gimana kalau syaratnya harus pakai bahasa Inggris?

Nulis pakai bahasa Inggris itu susah. Aku bingung, dan karena aku punya rencana untuk memperdalam bahasa Inggris setelah lulus inilah yang bikin aku semacam menghambat diriku sendiri. Aku harus menunda semua resolusiku tahun ini ke tahun depan. Tapi malam ini, aku memutar semua di kepala lalu aku tanya: Begitukah?

Aku melewatkan umur tujuh belasku dengan membuang semua resolusiku yang selalu kutunda? Waktu tahu blog Three Minutes Stories aku langsung jatuh cinta, aku pengen banget tulisanku bisa ada di sana. Tapi ini harus batal tahun ini karena aku baru niat belajar bahasa Inggris tahun depan?

Aku pengen banget punya akun di Medium. Ngeposting pakai bahasa Inggris biar suaraku bisa tersampaikan. Aku pengen nulis tentang sesama, tentang kepedulian, tentang kepanitiaan di organisasi sosial, tentang apa aja yang bisa aku ceritain ke dunia. Tapi itu nggak bisa heihoooo hanya karena aku nggak bisa bahasa Inggris.

Jadi malam ini, aku bener-bener bertanya apakah pilihanku ini bener. Aku sering ngerasa terhambat juga karena wikipedianya Indonesia itu artikelnya terbatas sementara aku butuh bacaan tentang suatu sejarah. Bahkan ada juga beberapa tulisan wikipedia bahasa Inggris yang pengen banget aku translate ke wikipedia bahasa Indonesia waktu aku udah bisa bahasa Inggris. Jadi kontributornya wikipedia gitu.

Aaaaaaah emang manusia baru bisa berencana ya ;; Dan iya, Bleepy, aku tujuannya memang yang ke arah situ kok. Gimana caranya tulisanku bisa tersampaikan, suaraku bisa terdengar lewat kata-kata. Gimana caranya? Yaaaa aku harus bisa bahasa Inggris! Kamu harus bisa bahasa Inggris, Rasyaaa.
 
Iya, memang nggak ada kata terlambat untuk belajar. Tapi apa itu jadi alasan buat sengaja menterlamatkan diri? Kapan lagi sih?