... cerita tentang guru.

Kamis, Januari 26, 2017

catatan: lowercase. nggak tau kenapa lagi suka aja kedua tangan fokus main di huruf-huruf tanpa bolak-balik otomatis ngepencet capslock. keseringan nulis panjang-panjang buat caption instagram, sih. huhu. blog ini terlantarkan. oke lanjut.

jadi ... ini cerita tentang guru. bukan guru sekolah yang ngajar di kelas-kelas. tapi guru privatku yang setiap minggu. sebut aja guru ini x. x ini huruf yang kupakai buat nama panjangnya bleepy, bii-exse divine spacer, dan selama ini aku selalu nganggap kalau x adalah huruf yang abstrak--nggak jelas; tapi bukan dalam konteks buruk.

nah, guru x ini juga sama. guru matematika. beliau orangnya ... sangat random. sangat absurd. keluyuran, seenaknya, bolak-balik ambil minum, baca koran, ngajak ngobrol orang nggak dikenal, nyapa sana-nyapa sini, nggumam cantik ke cewek cantik yang lewat, tidur, nyalain ringtone hape keras-keras ... serius, kalau kalian ngelihat langsung luarnya, kalian nggak akan nyangka kalau otak beliau encer banget di matematika. soalnya ... itu yang terjadi padaku.

bukannya aku ngeremehin beliau di pertemuan pertama. cuma, aku mikir kalau beliau mungkin kayak guru privat biasanya--tanya di mana kesulitannya, materinya sampai mana, lalu aku dikasih materi, dikasih contoh soal, dikasih soal untuk latihan, kukerjakan, pembahasan, daaan siklusnya begitu terus sampai waktunya aku pulang. singkat, aku pikir ini akan berlangsung dengan normal.

tapi ... ternyata enggak. ternyata beliau ini parah. cuma beberapa orang yang bisa mengerti, dan susah bener buat bisa memahami beliau, pokoknya beliau ini sungguh aaaaargh banget--bener-bener nggak bisa dijelaskan, tapi, oke, aku akan coba menjelaskan betapa guru ini pantas menjadi guru pertama yang kuceritakan di blog ini (dulu kayaknya pernah sih waktu aku smp--cuma itu bukan profil tapi kalimat kemarahan lol).

guru ini selalu memberiku tiga soal untuk kukerjakan. soal itu punya beban masing-masing, dan sekalipun aku hafal polanya, pada akhirnya aku selalu, selalu, selaluuuu harus jatuh pada apa yang diinginkan beliau.

soal pertama, aku selalu bisa menjawab. soalnya itu cuma mengulang materi yang aku bilang sudah disampaikan oleh guru di kelasku. soal kedua, aku selalu bisa menjawab, namun aku selalu salah. pasti. aku sudah coba menghindari ini bzzz tapi aku selaluuuu salah. dan beliau, selalu berakhir dengan mengecek jawabanku sekali dan akan berkomentar, "saya sengaja bikin soal ini, agar kamu terjebak di sini dengan menjawab bagian ini sebagai ini." dan aku akan dikasih tau pembahasannya sementara batinku terus bilang berulang-ulang rasya kamu kena lagi kena lagi kena lagi.

soal ketiga ... aku selalu nggak bisa jawab. selalu nggak bisa jawab bukan dalam arti ini soalnya bisa kujawab tapi aku salah bukan, tapiii aku purely nggak tau apa yang harus aku lakukan. aku tau ada soal di depanku, tapi lalu aku harus gimana? demi apa ini memangnya soal bisa dikerjakan ya? dan beliau akan memanfaatkan waktu tersebut untuk ke kamar mandi, untuk minum, untuk baca koran, main hape, main laptop, gumam cewek cantik, ngobrol sama orang tak dikenal, atau tidur.

kalau tidur ... iya. bener-bener tidur. blek. kepala ditaruh di atas meja, telungkup, dan aku ... malu banget demi apa. tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa, sayangnya, karena aku toh cuma boleh bisa bangunin dengan cara nggeser buku tulisku sambil bilang, "sudah," dan aku sekarang dalam status aku nggak tau harus ngeapain soal ini??

aku pernah sekali, pas giliranku belum tiba, dateng ketika beliau lagi ngajar anak lain. anak itu lagi main-mainin pulpennya nggak jelas, sementara di sebelahnya, beliau lagi dalam mode blek--taruh kepala di atas meja daaaan tidur. si anak itu bener-bener ngeliatin bukunya dengan tatapan aku manutlah dear soal sekarang kamu maunya apa? karena kalau dia nggak ngeliatin buku, yang dia lakuin adalah muter pandangan seolah gelar sayembara siapa pun harap ke sini, kerjakan soal ini, bantulah saya ini. aku bisa membaca matanya, kawan. itu bagaikan aku di masa depan--setelah ini.

yep. waktu berganti, posisi bertukar, aku duduk dan cerita dan dapet soal dan
ding dong.

apa yang beliau ini ajarkan padaku? simpel: dunia itu kejam. inilah realita. ini lho ras, sebenernya kedudukan antara guru dan murid. guru ada untuk mengajar, dan sekalipun murid itu tidak ingin diajar, guru toh akan tetap mengajar juga. murid yang butuh guru--guru tidak butuh murid. guru ada untuk melakukan kewajiban dan guru tidak peduli apakah murid yang diajar datang untuk memperoleh hak pendidikan atau tidak. sesederhana itu, sekejam itulah pula.

itu yang beliau ajarkan padaku. sekalipun ini les privat yang seharusnya murid merasa lebih sewenang-wenang karena guru yang mengajarnya butuh uang darinya, tapi beliau ini berbeda. di sini, aku yang butuh. aku yang harus ekstrakeras bagaimana caranya beliau harus tahan untuk mau betah mengajariku. bagaimana caranya aku harus membuat jawaban yang berkesan, yang kalaupun aku tetap akan salah, prediksi letak kesalahanku meleset dari apa yang beliau kira.

kalau aku harus mengucapkan terima kasih hanya pada satu guru saja, aku akan mengucapkan terima kasih ke beliau. beliau itu ... sumpah ya. seenak bebeeeeek banget kalau ngajar. dan hidupnya sangat matematika sekali--ngomong apa yang beliau mau, apa yang beliau pikir, blak-blakan lah. kalau memang jawabannya salah besar dan harus dimarahi, ya, dimarahi. "masa begini saja nggak bisa?" atau "begini lho nduuuuukkkk" atau sekadar berdecak keras-keras, atau menjitak kepala dengan pulpen, atau atau ataaaau apa pun yang beliau ingin lakukan saat itu.

orang pinter mah, bebas. dulu, inilah yang kupikirkan ketika mencoba menarik kesimpulan tiga pertemuan pertamaku dengan beliau. soalnya ... beliau ini benar-benar bebas. idealis punya kemungkinan lebih besar dalam membuat tidak nyaman orang, dan, yah, beliau ini bagaikan perwujudan dari kata idealis. kalau ke kamar mandi, ya, ke kamar mandi. kalau melihat dua orang yang ingin duduk jejer kebingungan melihat dua kursi yang kosong namun ditengahnya duduk satu orang, ya beliau akan menyeletuk, "suruh masnya ini geser aja, biar lalu kalian bisa duduk berdua. mau jejer, kan? nah. mas, mas. geser. itu ada yang pengen duduk berdua." dan yak. aku di sebelahnya ini pengen menghilang rasanya.

aku nggak yakin bisa menemukan guru semacam ini di tempat lain. guru x ini ... unik. dan dalam segala hal yang beliau lakukan, kejeniusan beliau dalam matematika yang begitu menyerahkan soal padaku (beliau mode blek dan di tengah-tengah mode blek beliau bangun dan kalimat pertama yang ditujukan padaku adalah. "itu dikali, bukan ditambah," padahal beliau kan nggak tahu ya kemajuanku sampai mana dan kenapa bisa akurat bangeeeeet aku nggak paham??) itu nggak patut lagi dipertanyakan. guru x ini, kepinterannya selangit. kemampuan matematikanya sampai tingkat nyebelin tak terlihat kayak mencari bulan di siang hari.

kalau disimpulkan, menurutku, guru x ini ... keren. beliau nyebelin memang--beliau cuek, nggak pedulian, kasih soal seenaknya sendiri, bertingkah apa yang beliau mau, tapi tapi terlepas dari itu semua, beliau bisa memberi soal sesuai ukuran kita--mana yang soal ini kita benar, mana yang salah, mana yang kita kira kita benar tapi ternyata kita salah. beliau tau. beliau bisa. sebagai guru, beliau selalu melihat wajah si murid yang mau beliau berikan soal. iya. beliau selalu melihatku ketika memikirkan soal yang akan diberikan untukku. dan ta-da, aku bisa jawab, aku salah, dan aku nggak bisa. memangnya di wajahku ada apa?

ngomong-ngomong, ringtone hape beliau memang keras banget. aku hafal kalau sekarang disuruh melagukan, masalahnya itu nggak bisa dijelaskan dalam kata-kata; ting ting tiriring ting tiring. pokoknya gitu. iya dan itu keras demi apa. waktu pertama kali aku denger, begitu beliau ambil hape dan mulai otak-atik, aku berpikir positif kalau beliau lalu beralih ke silent mode, tapi nggak ada perubahan, oke, berarti emang itu yang beliau maksud.

guru x ini, sesuai nama yang kuberikan padanya; abstrak.
dalam konteks baik. beliau pun orangnya baik.

jadiii terima kasih, guru x. oke sudah yaaaa! :))

You Might Also Like

0 comment(s)