event

PPSMB UGM 2017!

Sabtu, Agustus 12, 2017

Aku spikles sama acara PPSMB seminggu ini. Selama ada di sana tuh, rasanya asik, seru, keren, semua energi positif terpancar di sana pokoknya. :') Apalagi gugusku, Taroeno Djojoningrat, ada di ruang Farmasi, yang kata Mas Alun (cofas gugusku selain Mbak Fitria) termasuk salah satu penyedia konsumsi terenak =)) Dan kenyataannya bener, soalnya selama dua hari diculik panitia ospek fakultas di FIB, yang kukangenin banget tuh makanannya. XD

Ini makanan hari terakhir:

Terus ... aku pengin cerita dari awal sampai akhir, tapi terutama yang paling kukenang aja ya. XD Yang pertama, buat upacara pembukaannya sudah jelas: Jupiter Aerobatic Team! Diawali sama atraksi terjun payung ... indah bangetlah. :") Atraksi pesawatnya keren banget, kapan lagi upacara pembukaan disambut pakai pesawat. 8'D


bisa dilihat di youtube, keren!!! XD


Terus pas kita masuk gugus, kita dalam empat hari bersama bener-bener kayak keluarga. XD Apa-apa kita jadiin guyonan, entah jargon rumah sakit jiwa, olahraga judo, atau tepuk satu. :") Pas menjelang perpisahan bener-bener ada yang sampai nangis, aku sendiri sedih. Penginnya kebersamaan kita nggak pisah, lol aku masih ketawa pas nginget ekspresi orang-orang yang lihat, kita nggak ada tedeng aling-aling langsung teriak aja, "Rumah sakit jiwa! Rumah sakit jiwa!" =)))

pas ngerayain ultah. XD
Yang koplak tuh pas masuk sesi tentang alasan kita bangga menjadi mahasiswa UGM. Apa yang bikin kita bangga masuk UGM? Apa karena salah satu universitas terbaik di Indonesia? Karena dibangun murni dari keinginan para pejuang untuk mencerdaskan generasi bangsa? Pembicara kita, Bu Ida, sudah memancing sedemikian rupa, dan dari kita justru ngasih jawaban polos, "Karena kita bisa masuk UGM." (......)

pertama kali kita ketemu. masih formal gini ya gayanya. :))
Dan kalau dipikir-pikir, itu alasan realistis lol, kita bangga jadi mahasiswa UGM ya karena kita bisa masuk UGM. Kalau masuk universitas yang lain, ya bangga jadi mahasiswa universitas yang kita masukin itu dong. XD Jawaban jenius tapi berdasarkan fakta. :"))

bandingin sama hari kedua. :))
Ada juga saat-saat kita terharu, ngeng. Misalnya pas Mbak Fitria nyetelin video sejarah UGM, dan di situ dikasih fakta gimana berdirinya UGM, aku terharu. Bener-bener memunculkan perasaan baru, yang seperti bilang; ternyata begini, ya, rasanya bangga sama almamater. :") /ras

sama cofas, mbak fitria dan mas alun. :3
Lalu Bu Ida ngasih tanya, "Siapa di sini yang pernah gagal?" dan semuanya angkat tangan. Lalu kita kayak disadarkan, kalau kita bisa ada di sini tuh karena kegagalan kita. Akhirnya ada yang mulai berani cerita. Ada yang kegagalannya SBMPTN tahun lalu ... yang bikin aku langsung teringat sama temen-temenku yang belum rezekinya tahun ini untuk kuliah, bismillah semoga tahun depan memang momennya kalian. :")


Terus Bu Ida akhirnya menceritakan tentang kegagalan beliau. Yang bikin aku nangis, dan seisi ruangan spikles. Bu Ida ini dosen Farmasi mulai tahun ini, dan pengalaman sedih yang beliau ceritakan ke kita, gimana beliau sampai sakit selama dua minggu bolak-balik ke UGD bikin aku ngerasa kalau kegagalan yang selama ini kukeluhkan tuh nggak ada apa-apanya, plis. :")) Aku nggak sampai sakit dua minggu. :")))

Beliau cerita dari awal sampai akhir, ditutup dengan akhir yang indah karena akhirnya, setelah kesabaran yang aku nggak yakin apabila itu menimpaku bisa kuatasi kayak gitu apa enggak, beliau dapat hikmahnya. :") Alhamdulillah.

the boys! x3
Lalu pas di hari ketiga, kita ngasih kejutan untuk dua temen kita yang ulang tahun bulan ini! Ada kue dan balon, waktu itu aku ngerasa kita makin lama makin akrab. Dan pas Mbak Fitria bilang kalau dia dan Mas Alun punya hadiah untuk kita semua di hari terakhir, saat itu juga malamnya kita bahas di multichat buat bikin hadiah 'balasan' besoknya. Alhasil, hari penutupan kita malah berasa kayak tukeran kado, habis Mas Alun dan Mbak Fitria ngasih hadiah, habis itu kita. XD

ini hadiah dari mbak fitria sama mas alun. XDD
Saking kompaknya, pas Bu Ida pamit, kita bisa-bisanya kayak suporteran, "We love Bu Ida, we do, we love Bu Ida, we do, we love Bu Idaaaa, we dooo, Buu Ida we love youuuuu!" bener-bener sesuailah sama apa yang dibilangin panitia di ruangan sebelah tentang gugus Taroeno Dua; anaknya receh semua. XD

Terus, jelas closing ceremony-nya juga nggak terlupakan. Tahun ini formasinya yaitu bikin ... lambang UGM! Seneng banget. XD Bersyukur angkatanku yang dapat kesempatan menjadi bagian dari pembentukan lambang UGM. :")

keren banget. :")))
 Lalu kayak tahun-tahun biasanya, ada yang iseng nulis-nulis di kertas HVS. Untung panitianya nyuruh kita bawa dua puluh lembar HVS, jadinya masih ada sisa di tas. XD Alhasil banyak banget yang kreatif nulis-nulis nama, ada yang serius, ada yang koplak ... tapi banyakan yang koplak. :") Nih kukasih daftar yang aku masih inget:
  • Raisa, kutunggu jandamu! (Plis XD)
  • PANAS BOSS! (Ini malah ngasih pesan buat kita-kita. :'D)
  • BUKA JASA BIKIN CAPTION 10k (.........)
  • Akhirnya kubuat mantan menyesal. (TOLONG XDD)
  • Cepet dong!!! (Ini ngomongin salah satu pembicara yang lagi ngasih orasi di panggung, woooo=)) Tidak baik XD)
  • NGGAK USAH BUAT TULISAN (Terus ini sendiri apa kalau bukan tulisan. :"D)
Kalau yang mainstream kayak menunggu adek kelas masuk UGM, salam buat emak, mama, ibu (dan panggilan buat ibu lainnya), bapak, kakek, nenek, tante, om, terus kalau UGM itu gudang mantu (........) itu bertebaran sih di mana-mana. Aku masih ketawa setengah terharu kalau baca pesan, "Mak, anakmu UGM!" tapi aku beneran ngakak sama yang ini:


TOLONG. Aku ngakak banget waktu itu. XD Kalau buat orang tua kan masih wajar, lah kalau ini membicarakan masa depan. Berasa kayak cerita untuk anak. XD Kreatif asli. XD

Terus, kita dapat majalah Balairung gratis pas penutupan. Dan di halaman pertamanya, ada kalimat sambutan;

Selamat datang mahasiswa biasa
di kampus yang biasa-biasa saja.

Yang entah kenapa aku justru ngerasa kalau kalimat itu ... sangat UGM sekali. :')) Pokoknya PPSMB UGM ini bikin aku nggak bisa berkata-kata lagi. :") Indah, segala macam perasaan yang ada tuh pada akhirnya balik ke bersyukur lagi; alhamdulillah bisa masuk UGM. Seneng banget. :") Makasihhhh ya Allah. :")

Udah, yaaaa! XD

rasya's cleaning of the storage

Telegram: chat with yourself

Jumat, Agustus 11, 2017

Satu-satunya hal yang paling aku suka di Telegram itu karena ada fitur pesan personal sama diri kita sendiri ... alasan yang sama kenapa aku mempertahankan Messenger. Dan LINE lumayan, setidaknya kita bisa bikin grup yang anggotanya kita sendiri - walaupun agak ribet. Aku biasanya kalau untuk urusan yang cepet (?) kayak kalimat sekilas yang terpintas atau celetuk, aku nulisnya di Telegram atau Messenger - tergantung mana yang paling cepet aku klik duluan.

Aku lagi baca-baca ulang pesan-pesan yang aku kirim di Telegram dan aku pernah nulis hal yang sangat ... gimana, ya, aku mau bilang kalau isi pesannya alay, tapi kok yang pengirimnya aku sendiri, kan ironis. :")

.

.

aku takut. aku takut kalau apa yang aku percaya ternyata bumerang untukku. bagai pedang bermata dua; aku memilih percaya maka aku buta pada sisi satunya.

aku takut berita apa pun yang kubaca, asalkan merendahkan apa yang aku percaya, maka langsung membuatku naik darah. aku takut apabila yang membuatku marah dan membenci suatu kaum tanpa ba-bi-bu itu ternyata tidak benar; hanya berita yang dilebih-lebihkan untuk memecah-belah persatuan.

di sisi lain aku tidak mau semudah itu merasa benci atas informasi yang tak tahu sumbernya dari mana, dan di sisi lain aku ditinggalkan oleh orang-orang yang berpikir aku satu pandang dengan mereka hanya karena aku tidak bereaksi sama.

ketidaktahuan seperti menyusuri jalan yang gelap, tapi kini orang-orang datang dari sisi yang berbeda, membawa lentera dengan penerangan masing-masing yang sama menyilaukannya; sekarang membuat jalan menjadi kelewat terang.

gelap gulita, terlalu gemilang ... dan apa yang membuat keduanya tak berbeda?
sama-sama tak terlihat ujungnya.

seberapa benar? seberapa salah?

.

.

.

Oke, udah. (...)

Nggak cuma itu sih, ada yang makian, puisi, cerpen juga ada, bahkan yang creepy (???) juga ada. Tapi nanti kebanyakan. Karena ini intinya aku ngasih yang aku punya di blog untuk arsip, makanya aku pakai label yang dari dulu pengin kupakai ini, ya. XD

Cari Pelarian

Jumat, Agustus 11, 2017

"Ras, aku baca blog-mu, lho."

Aku ... paling ngeri sama kalimat ini, serius. XD

Setiap kali ada orang yang ngomong itu ke aku (kayak banyak yang bilang aja, Sya), waktu bagiku rasanya kayak berhenti, lalu aku langsung mikir keras apakah aku pernah ngungkit tentang orang itu di blog. Aku jarang ngata-ngatai orang, sih, di blogku - secara ini blogku ya, jadi yang aku omongin ya tentang apa yang aku rasakan orz Dan kalau pun ada aku nggak pernah nyebut nama ... tapi sekalipun kenyataannya nggak ada, aku rasanya kayak kehantui sama kalimat itu.

Ada rasa takut kalau lama-lama aku ngeposting di blog dengan pikiran; kira-kira gimana ya yang dipikirkan orang-orang yang baca blogku tentang aku? Padahal blog ini kubuat cuma untuk aku sendiri, dan aku bener-bener nyaman di sini. Sudah beberapa kali sih, aku pindah-pindah blog, nulis di mana pun, cobain blog.com, wordpress, tumblr, blogger lagi juga pernah. Tapi ujung-ujungnya aku balik lagi ke sini.

Saking nyamannya sama blog ini, rasanya kayak aku sendiri yang selalu meningkatkan jumlah statistik pengunjungnya. Kalau aku ke warnet, atau pinjem hape temen, atau lagi gabut, aku selalu balik ke blogku; entah buat baca ulang, atau sekadar menuh-menuhin kolom draft yang saking banyaknya udah kayak daftar postingan blog juga. Pernah kepikiran buat masang seting ini ke privat, tapi aku nanti nggak bisa seenaknya buka blog-ku kalau belum log in. orz

Terus ... akhir-akhir ini aku selalu membiarkan postingan blogku teronggok gitu aja di draft hanya karena alasan yang sepele banget; aku kepikiran apa yang bakal orang pikirin. Sebenernya isi postingannya biasa-biasa aja, tapi pikiran kayak gitu tuh menghambat rasanya ... dan kayaknya itu alasan aku bikin blog-blog buat pelarian sebelumnya.

Aku selalu cari suasana baru buat nulis semuanya di situ, terus sampai aku ngerasa pikiran takut sama kemungkinan orang baca blogku itu berkurang, barulah aku balik lagi ke blogku. Kalau memang itu solusi yang selama ini aku temuin, dan menurutku ini tepat - seenggaknya kan aku bakal balik ke blogku lagi - jadi mungkin aku harus ngelewatin fase ini dulu. XD

.

.

.

Bleepy marah sama aku :")

ajang pencarian bakat

AGT 2017: Chase Goehring

Selasa, Agustus 01, 2017

Aku lupa di mana, tapi aku pernah baca kalimat kayak gini: kalau kamu benci orang sombong, itu artinya kamu benci manusia. Wahaha:) Kalimat itu bisa bener bisa salah, tapi seenggaknya cocok dipakai untuk seseorang yang bisa tanpa sadar tahu-tahu bersikap naif. Bukan untuk pedoman hidup sih, semacam penyadaran aja. Kita semua boleh punya rencana, punya rancangan ini-itu, tapi perlu lihat situasi dan kondisi juga. Pokoknya, seharian aku lagi mikirin soal kalimat itu, dan terus aku buka YouTube karena siapa tahu America's Got Talent bisa ngehibur ... karena sekarang masih jalan kan, dan aku pengin ngikutin dari babak audisi sampai nanti judge cuts terus live show nanti. (Hafal.)

Entah kenapa kalau ngikutin ajang pencarian bakat, aku gampang jatuh cinta sama penyanyi yang bawain lagunya dia sendiri. Lagunya Glee yang aku suka judulnya Loser Like Me dan itu lagu buatannya mereka yang mereka nyanyiin pas lomba. Terus kapan gitu aku suka sama BAM dari Britain's Got Talent yang bawain versi lain dari Hopeful - jadi mereka ubah liriknya.

Nah, sekarang, sesuai judul blogku. Aku langsung suka sama titel YouTube yang nangkring di halaman depan (?) yang terpampang, America's Got Talent 2017 Chase Goehring Singer Songwriter is The Next Ed Sheeran. Akhirnya ada juga penulis lagu yang nampang di AGT, jadiii aku klik deh. Kalian bisa buka di sini, tapi aku bukan bahas soal ini jadi yuk lanjut aja.

Singkatnya, Chase ini baguuus banget penampilannya. Aku lalu nge-stalk dan dengerin lagu-lagunya dia yang lain. Lagu yang dia nyanyiin pas babak audisi itu judulnya Hurt dan itu bener-bener lagu yang sungguh dia sekali; ada rap sama nada tingginya, makanya aku suka sama peserta yang bawain lagu sendiri itu karena seolah lagu itu hanya bisa dia aja yang nyanyiin. :")

Awalnya aku dengerin lagunya dia yang What is Love, terus akhirnya sampai juga di lagu yang bikin aku ... spikles. Judulnya A Capella. Durasinya lima menit sendiri, tapi liriknya bener-bener ... kena. Ini lagu yang dia pakai di babak judge cuts dan membuat dia dapet Golden Buzzer yey! Kalau untukku yang lagi mempertanyakan kalimat yang kusebutin di atas, ini lagunya jleb maksimal ....

wha udah 400k :"))
Ada banyak lirik yang berkali-kali nyindir, tapi intinya di situ adalah dia nyanyi untuk dirinya sendiri. Di sini Chase bener-bener blak-blakan, dia seolah-olah mengatai penyanyi-penyanyi terkenal yang sesumbar bilang kalau mereka hidup untuk musik, tapi nyatanya yang diomongin juga duit melulu. Ada kalimat yang artinya, "Sepertinya itulah yang akan terjadi kalau kamu sudah di puncak; tidak pernah puas dengan apa yang sudah kamu dapat." Nyes. :')

Jujur, aku sering banget meragukan diriku sendiri yang pengin jadi penulis. Bikin novel aja belum, cuma nulis di Wattpad sama Fanfiction terus, ini penulis macam apa .... Tapi gara-gara aku dengerin lagu ini, aku jadi termotivasi gitu deh. Kalimat-kalimatnya bener-bener, gimana ya, kedengerannya naif sih. XD

Maybe a year or two, maybe a year or three ....
It doesn't phase me, honestly.
Even if I don't make it by then,
I'll still be doing shows so I make it in the end.

Lirik yang ini lho. Lirik yang ini!!1! :"D

Seolah-olah ada suara yang pernah mati, bangkit hanya untuk meneriakiku, "Penulis itu orang yang menulis, Sya, sesederhana itu! Kamu mau memperkenalkan diri ke dunia sebagai penulis itu nggak butuh nunjukin buku sebagai persyaratannya. Cukup kasih bukti nyata kalau kamu itu menulis. Udah." Nulis aja. Perihal nanti bisa bikin novel atau enggak itu nggak perlu dipikirin masak-masak. Yang penting nulis terus, bikin kerangka novel terus, jangan berhenti.

Ada lagi yang aku suka:

Now they coming to me asking, if I wanna be the next big thing.
I'm the next best thing, buddy.

You better get your facts straight:
I don't need a record label to show them my talent great,
Cause if the people like it then the people buy it,
why would I wanna hire another writer just to take it higher?
Foolish.

Like the gold that you place in my hands; that's fools gold,
and I'm not fooled by this fame game ... this twitter game ... i
t's so lame.
Cause I'm verified on the inside,
I don't need a blue check to be satisfied.


Sangat ... frontal.

Aku jleb banget bagian twitternya HAHAHA ketahuan deh pernah punya keinginan dapet centang biru di akun twitter. (...) Lirik lagunya sungguh menyinggung tanpa setengah-setengah. Aku jadi inget pernah baca jawaban di Quora, kalau cara ampuh menyadarkan orang-orang yang hidup untuk uang itu seharusnya pas nyetak dikasih tulisan di bawah nominalnya, this is just a piece of paper. =))

Kurang-lebih kayak gitu sih. Aku suka liriknya Chase karena ... menggugah, menurutku. Bisa bumerang karena kalau kita lagi butuh motivasi, dengerin lagu ini malah mematahkan api membara dan bikin kita jadi males-malesan :") Tapi poinnya Chase di sini bukan untuk itu, lagu ini pengin menyadarkan kita kalau terlalu ambisius mengejar harta dan ketenaran "is so lame". :))

cerpen

Song Fiction: Shattered

Minggu, Juli 30, 2017

And I've lost who I am, and I can't understand.
Why my heart was so broken rejecting your love?


THE DEUTERAGONIST: ARVYAN CAHYO NUGROHO

"Awas, Cahyo!"

DUAK!

Tepat setelah aku mendengar suara peringatan itu, kepalaku terbentur keras. Sakit sekali rasanya, kepala bertemu kepala, aku membuka mata dan melihat lawan tabrakku; Fariz, satu angkatan denganku (untung, karena repot kalau aku menabrak seorang senior), aku kenal dia namun sayangnya relasi yang terjalin di antara kami tidak begitu baik. Dia bersama dengan rombongannya yang membuntuti seperti anak ayam, memandangiku tak senang.

"Nggak sengaja," kataku datar; seperti mesin otomatis.

"Tapi tetap sakit, rasanya kayak aku hilang ingatan," dia mengusap kepalanya, "sayang aku habis ini ada jadwal tanding, jadi selesaikan saja sekarang dengan kita benturan lagi."

Aku tahu ke mana dia akan membawa percakapan ini, dan sekalipun aku sudah berusaha menahannya mati-matian, tetap saja aku langsung naik pitam. Seorang di sampingku yang refleks berteriak memperingatkan tadi, Ahmad namanya, juga menyadarinya, karena justru dia yang menyahut.

"Maksudnya apa?" Ahmad bertanya dengan nada tenang terkontrol.

"Kok tanya balik? Kalau ada orang tabrakan yang bikin dia hilang ingatan, cara mengatasinya gampang; tinggal disuruh tabrakan lagi saja biar ingatannya balik," Fariz menjawab enteng, tapi setiap penggalan katanya malah semakin meningkatkan emosiku, "bukan malah diladeni mengeja alfabet dan bantu mengerjakan tambah-tambahan."

Tak ada lagi yang perlu kukatakan, aku maju selangkah dan sedetik kemudian sudah mendaratkan bogem mentah ke pelipis kanannya - membuat Fariz bisa terjatuh kalau rekan-rekannya tidak buru-buru menahannya. Aku mencoba melanjutkan ke serangan kedua tetapi Ahmad mencegahku.

Fariz justru mengulum senyum menerima pukulan barusan. Kemenangan di pihaknya karena dialah yang berhasil menyulut emosiku. Karena menang dan kalah dalam perkelahian memang kadang dapat ditentukan secepat itu - bukan siapa yang terakhir berdiri yang menang, tetapi siapa yang melepas tembakan pertamalah yang kalah.

"Begini-begini," dia menunjuk wajahnya sendiri, tepat ke arah luka memar yang baru terbentuk, "aku masih baik, nggak akan membalas. Sebentar lagi aku main, dan hei, bintang sekolah pantang dilukai."

Aku bergeming, membiarkan ia dan rombongannya berjalan melewatiku. Memang seharusnya aku nggak boleh melawannya, toh suka-suka dia mengatakan apa pun. Aku masih ingat apa yang Ahmad sempat bilang padaku, sekarang sudah berbulan-bulan setelah kejadian itu, jadi aku seharusnya lebih stabil dan bisa mengatasi tanpa emosi. Aku hanya tidak menyangka akan sesulit ini.

"Omong-omong, Cahyo," panggilan Ahmad membuatku menoleh padanya, tapi ia tidak memandangku. Ia memandang lurus menatap suatu ruang kelas, aku tak tahu kelas berapa tepatnya namun hanya ruang kelas milik anak kelas satu saja yang belum istirahat, "Dino melihatmu, tuh."

Aku mencoba membaca ke arah mana mata Ahmad tertuju, dan benar saja - di salah satu jendela di ruang kelas itu, aku melihat Dino - rupanya itu ruang kelasnya. Dia buru-buru mengembalikan pandangan ke arah papan tulis ketika sadar aku memergokinya.

Kuhela napas. Sudah pasti dia melihat kejadian barusan.

Without love gone wrong, lifeless words carry on;
But I know - all I know - is that the end's beginning.

THE PROTAGONIST: ADINOVA INDRA PERMANA

Aku membunyikan bel dan menunggu seseorang membukakan pintu. Teringat perkataan tuan rumah terakhir kali aku ke sini; anggap saja rumah sendiri. Seluruh penghuni rumah ini sudah repot-repot membuatkan kunci cadangan untuk kubawa ke mana-mana agar aku bisa langsung masuk begitu saja, tapi tak pernah sekalipun aku memakainya. Kunci itu berakhir menjadi hiasan di kunci motorku.

Kudengar suara langkah di garasi sebelum pintu terbuka; dengan menebak cara jalannya yang menyeret itu membuatku langsung tahu siapa sosok di baliknya. Tebakanku benar, pintu terbuka dan senior satu tahun di atasku menatapku dengan cara itu - misterius dan tak tertebak.

Tekanan yang harus ia terima beberapa minggu terakhir ini membuat raut wajah Cahyo menjadi beberapa tahun lebih tua dari yang seharusnya. Aku menganggukan kepala canggung, belum menggerakkan satu pun anggota tubuhku sampai ia mempersilakanku. Aku mengikutinya memasuki rumah, melewati garasi, ruang tamu, meja makan, hingga ke halaman belakang.

"Lagi apa?" aku bertanya seperti itu karena melihat kertas HVS dan seperangkat krayon di tangannya.

"Belum melakukan apa-apa, aku baru pulang sekolah juga," jawabnya dengan nada seperti terbebani yang membuatku merasa tidak enak - tapi aku tak mau mengutarakannya kali ini karena Cahyo selalu berdalih bahwa dirinyalah yang seharusnya merasa begitu, "tapi tadi aku sempat bertemu Ibu, katanya Dita minta disiapkan alat-alat gambar, jadi aku melakukannya."

Aku mengangguk dan kemudian melihat Dita sedang duduk bersila di halaman belakang, tertawa sendiri, bermain dengan tanah; membuat gunung-gunungan atau sekadar membentuk kepalan dan melemparkannya entah ke mana - kotor sekali, kukunya jadi hitam-hitam. Kulirik Cahyo yang sempat menguasai diri lebih dulu sebelum mulai memanggilnya.

"Dita, kakak sudah ada krayonnya, nih!" sekejap saja raut wajahnya berubah, menjadi sosok kakak laki-laki yang penyayang dan penuh pengertian. Aku seperti tersindir karena tak bisa melakukan hal yang sama.

Dita mendongak dan langsung sumringah, ia berdiri dan berlari menuju kami. "Gambar! Gambar!" katanya sambil bertepuk tangan. Suaranya kekanakan - sangat berbeda dari apa yang selalu terngiang di kepalaku, membuatku selalu merasa perih dan ingin rasanya memalingkan muka. Cahyo jelas menyadari bahwa aku berusaha keras menahan diri, tapi ia berlagak tak peduli.

"Tolong ambilkan meja lipat yang kusandarkan di tembok itu, Din," Cahyo memberiku perintah yang langsung kuturuti, aku mengambil meja lipat yang bersandar di tembok dekat pintu ke halaman yang baru saja kami masuki tadi, membawanya kembali ke tempat mereka berdua duduk, dan membentangkannya. Cahyo meletakkan kertas dan krayon di atas meja yang kubuka. "Mau gambar apa?"

Dita mengambil satu warna krayon - merah, lalu begitu mulai menggambar, ia menatap kami berdua, lalu menyeringai malu-malu. "Nggak boleh dilihat," katanya merajuk.

Aku tersenyum melihat ekspresinya, terserang kilas balik hebat pada saat-saat di mana Dita kerap kali memintaku membocorkan apa yang keluar saat ulangan. Tentu saja aku menolaknya mentah-mentah karena itu akan membuat nilaiku yang sudah kujamin jelek bakal lebih rendah darinya, tapi toh pada akhirnya kuberi tahu juga.

"Oke, kami nggak lihat, deh," aku berdiri. "Nanti Dita yang panggil kalau sudah selesai, ya."

Who I am from the start? Take me home, to my heart.
Let me go and I will run; I will not be silent.

WOMEN IN DISTRESS: YUSUF AYUDITA NUGRAHANI

Namanya Dita. Adik perempuan satu-satunya Cahyo, dan dia seharusnya satu angkatan denganku sekarang, sama-sama kelas sepuluh. Kecelakaan membuatnya hilang ingatan total, dan di antara jenis-jenis hilang ingatan yang ada, Dita melupakan semua memori yang membuatnya harus mulai belajar membaca dan berhitung dari awal.

Aku dan Cahyo hanya duduk di ruang tamu beberapa menit, tanpa mengobrol, sibuk dengan ponsel masing-masing, sampai kemudian terdengar suara mesin mobil dari kejauhan. Ibunya pulang, Cahyo menyambut untuk menawarkan supaya ia saja yang mengambil alih kemudi, dan aku bantu membukakan pintu garasi. Ibunya turun membawakan barang belanjaan.

"Eh, ada Dino," beliau tersenyum begitu melihatku. Aku menganggukan kepala, tanganku tergerak untuk membawakan plastik besar di tangannya, namun beliau menolak halus. "Dita lagi gambar, ya?"

"Iya, Tante, nggak boleh dilihat katanya," aku menjawab, mengikuti beliau masuk rumah sementara Cahyo masih memarkirkan mobil di garasi. Ibunya tertawa mendengarku - tapi aku tahu bahwa ada sedikit kepahitan di sana. Dita menjelma menjadi anak kecil dalam satu kedipan mata, dan aku tak bisa membayangkan betapa dalamnya luka yang dirasakan ibunya karena seolah harus mengulang hari-hari yang pernah terjadi.

Beliau menaruh barang belanjaan di meja makan. "Dino langsung dari sekolah, ya?" beliau menebak, dan tebakan itu jelas benar karena aku masih mengenakan seragam. "Nggak ada kegiatan ekskul di sekolah?"

"Saya nggak ikut apa-apa," jawabku pelan, berharap Cahyo belum selesai memarkir mobil dan tidak mendengarnya - karena jelas dia tahu hari ini seharusnya ada ekstrakurikuler peleton inti di mana aku sudah resmi keluar dari keanggotaan beberapa hari setelah Dita divonis hilang ingatan.

"Ada tonti harusnya," terdengar suara Cahyo dari belakang yang membuatku merah padam - jelas tak mungkin makan waktu lama baginya memarkir mobil. "Mau pakai kaosku?"

"Nggak usah," aku menolak, tapi Cahyo sudah berjalan ke kamarnya.

"Nggak apa-apa, sana disusul Cahyonya," begitu ibunya berkata, membuatku mengarahkan pandangan lagi pada beliau yang mulai mengeluarkan barang belanjaan satu per satu, "biar setelah ini Dita sama Ibu saja."

Aku tak tahu harus melakukan apa selain menurut, sengaja melambat-lambatkan diri saat berbalik badan dan mulai mengikuti jejak Cahyo ke kamarnya. Baru beberapa langkah, aku mendengar suara ibunya memanggilku, "Dino," membuatku berbalik lagi, melihat beliau memandangku keibuan, "makasih ya selalu menyempatkan ke sini."

Ah. Kehangatan beliau membekukanku. Aku hanya bisa tersenyum pahit, senyum yang langsung memudar begitu aku berbalik badan, yang tersisa hanya rudungan rasa tak enak. Ada yang salah ....

All this time spent in vain, wasted years, wasted gain.
All is lost. Hope remains.
And this war's not over ....

MAKES SENSE OF CONFLICT

"Nggak usah ke sini lagi."

Aku langsung berkata begitu melihat Dino di ambang pintu. Aku memandangnya yang membatu, dan nostalgia menyerangku. Aku tak pernah membayangkan akan berada dalam kejadian ini dengan Dino; junior yang sudah kuwanti-wanti sejak awal karena mendekati Dita dari hari pertama masuk sekolah.

Kupikir karena Dino satu ekstrakurikuler denganku - peleton inti - dan tabiatnya juga tidak buruk-buruk amat, obrolan kami juga sedikit-banyak ada kesinambungannya karena sama-sama suka membaca buku tentang perang dan sejarah, jadi kudiamkan saja saat Dita senang sekali menceritakannya padaku di hari mereka berdua jadian. Kalau mereka berdua memang suka, walaupun aku kesal diam-diam karena berasa dilangkahin, tapi biarinlah.

Kabar kecelakaan Dita kuketahui dari pesan di grup LINE event yang aku dan Dita sama-sama jadi panitianya. Itu pun bukan dari ponselku sendiri gara-gara bateraiku habis. Karena tak mau terlalu memperlihatkan kalau kami saudara (walaupun satu sekolah sudah tahu sih), Dita kubiarkan pulang duluan begitu event-nya selesai, sementara aku masih berkumpul bersama teman-teman untuk mengobrol apa saja.

Aku masih ingat, benar-benar ingat, aku masih mengajak bicara anggota Divisi Perlengkapan di depan panggung, untuk merekapitulasi jumlah tepatnya meja dan kursi yang harus dikembalikan ke tiap-tiap kelas, ketika dari jauh kulihat Ahmad berlari, cepat sekali. Napasnya sudah habis padahal langkahnya baru mencapai deretan kursi paling belakang, jadi jarak di antara kami berdua kurang-lebih sepanjang satu lapangan, makanya Ahmad berasa perlu berteriak keras-keras agar aku mendengar, "Cah, Dita kecelakaan!"

Sepertinya berita Dita kecelakaan juga diberi tahu di grup LINE angkatannya dia, karena begitu aku sampai di rumah sakit bersamaan dengan Dino yang memarkirkan motornya. Suasananya malam dan dingin tapi dia hanya memakai kaus oblong dan sandal jepit, helmnya pun miring. Wajahnya pucat seperti orang kena tipus, dan dia tidak melihatku yang berjarak tiga-empat motor di sampingnya. Dia memarkirkan motornya buru-buru dan berlari masuk ke rumah sakit.

Ada kerusakan pada otak yang menyebabkan Dita tidak hanya kehilangan ingatan; tapi dia juga kehilangan dirinya sendiri. Dokter menyebutnya demensia, bukan amnesia, aku tak begitu tahu apa artinya tapi Ibu hanya bilang kalau intinya hampir sama. Hanya saja demensia diambil dari bahasa Latin yang artinya gila, dan orang sebodoh apa pun tahu apa maksudnya. Intinya Dita jadi gila. Atau dia membuat semua orang di sekelilingnya jadi gila - setidaknya berlaku untukku

Tingkah Dita jadi seperti anak kecil, aku masih ingat betapa menyebalkannya Dita waktu dia merengek minta permen dan hobinya main pasaran setiap saat apabila aku ingin bersama teman-teman sekampungku yang laki-laki main sepeda atau pergi ke rumah kosong. Rasanya kayak mengulang waktu, tapi seratus kali lipat lebih menyakitkan karena aku tidak bisa berhenti melihat Dita seperti Dita yang sebenarnya di saat dia menangis keras minta permen padaku seperti saat masih kecil dulu.

Jelas aku harus belajar mengontrol kesabaran diri sendiri, tapi lama-kelamaan semakin melihat kondisi Dita, mau tak mau ingatanku kembali pada Dino yang seperti orang kesurupan saat memarkirkan motornya di rumah sakit dan melesat masuk tanpa menyadari ada aku, saat hari di mana Dita kecelakaan itu. Aku selalu bangun di pagi hari dan bertaruh apakah Dino masih kuat untuk berkunjung ke rumah, dan nyatanya masih, sekalipun lebih banyak diam dan hanya memandangiku yang melakukan ini dan itu.

Melihat dia terus berkunjung rasanya menyakitkan, apalagi wajahnya seperti bertambah tua setahun setiap harinya. Memang mereka pacaran, tapi mereka hanya pacaran, dan Dino masih kelas sepuluh, dia tidak perlu ikut menanggung beban seberat ini. Memangnya kalau dilanjutkan, mau bagaimana? Dita tidak akan bisa sembuh.

There's a light, there's the sun ... taking all. Shattered ones.
 To the place we belong,
and his love will conquer all.

wall.alphacoders.com
DODECAHEDRON ENDING

Dino memandangku. Diam. Aku tahu dia dengar, dan dia cukup bisa menguasai diri untuk tidak bereaksi spontan memintaku mengulanginya lagi. Lebih-lebih, dia bahkan tidak membantah.

"Nggak usah bahas itu," ujarnya pelan.

"Aku beneran," aku jadi makin bersikeras, menekankan kata-kata yang entah akan kusesali atau tidak, karena aku tahu Dino; dia takkan membantah perintahku, aku yang lebih punya kuasa di sini, dan apabila ini berjalan sesuai apa yang kurancang maka aku akan benar-benar sendiri. "Kamu suka Dita itu nanti ketumpuk dengan kamu kasihan sama dia."

"Nggak usah bahas itu."

"Dita bakal selamanya kayak gitu. Kamu pikir, ingatannya kembali ke umur lima tahun lalu kamu mau menunggu sampai lambat laun jiwanya berumur lima belas tahun untuk memulai semuanya dari awal?" kugertak juga akhirnya. "Ini kelainan jiwa sungguhan, bukan yang di film-film. Jiwanya anak kecil sampai mati. Lama-lama bahkan lebih parah, dia pernah minta makan permen lalu lima menit kemudian datang untuk minta permen lagi!"

Aku tahu Dino sekarang memikirkan apa yang kupikirkan; masa depan. Jelas masih terlalu jauh untuknya (dan sebenarnya untukku juga), tapi bagaimanapun keadaan memaksa, dan kini dalam waktu singkat Dino harus mengira-ngira apa yang terjadi lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi? Ia perlu mengesampingkan perasaan dan berpikir rasional, karena bukankah cara pikir lelaki seharusnya seperti itu?

Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. "Aku tahu kok," katanya, dan dari segala reaksi yang kubayangkan, aku tak menduga kalimat ini yang keluar dari mulutnya, "aku sudah baca di internet."

Uh-oh, aku nggak mengira yang satu itu. Tiba-tiba perasaan kalah yang seharusnya tak wajar ada menyerangku, menyindir aku yang tidak pernah berani mencari tahu sendiri apa itu penyakit Dita dan ke mana nanti arahnya. Aku membayangkan jadinya, yang dirasa Dino saat mencarinya di internet itu apa?

Aku berdiri saat Dino sudah tidak menambahkan kalimat apa pun. Dino jelas tak tahu lagi harus bagaimana membalas perkataanku sampai pintu di belakang punggungnya diketuk yang membuatnya nyaris terlompat saking kagetnya. Dino berbalik dan membuka pintu, melihat Ibu dan Dita.

"Dita selesai gambar!" adikku itu berujar senang.

"Mana, lihat, lihat!" aku mendekati pintu dan membentangkannya lebih lebar. Dita menyembunyikan kertas di balik punggungnya, lalu berlari seolah tak ingin aku melihat hasilnya, dan dari tawanya aku tahu kalau Dita mengajak main kejar-kejaran. Jelas tidak kuladeni - aku tak pernah suka permainan itu karena susah untukku sengaja melambatkan laju dan tidak menangkapnya.

Aku memanfaatkan kesempatan selagi hanya ada kami bertiga. "Bu, Dino mau pamit. Aku sudah bilang."

Dino mengangkat kepala kaget, baru sadar bahwa usaha Ibu memaksa Dino ke kamarku dengan alasan memakai kaosku hanyalah akal-akalan kami berdua saja. Ini sudah kesepakatanku dan Ibu, untuk tidak menyertakan Dino dalam perjalanan yang berliku nan penuh kesabaran ini. Sekalipun Dino sudah kuanggap adik sendiri, tapi dia bukan bagian dari keluarga kecil kami, dan biarlah aku dan Ibu saja yang melalui semua ini.

Aku tahu di kepala Dino penuh dengan segala macam bentuk pertentangan, antara memenangkan hati atau logika, tapi kini Dino tak bisa berkutik, Ibu sudah memeluk dan mengelus punggungnya. "Makasih sudah nemenin Dita sampai sekarang. Kejar cita-citamu, ya, Le."

Kuantarkan Dino sampai pintu garasi, kubiarkan dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Kecelakaan Dita murni kecelakaan; dia yang terlalu lelah dan oleng di tengah jalan. Tak ada yang perlu disesalkan - bahkan kalau pun ada maka akulah yang menanggungnya karena membiarkan Dita pulang duluan tanpa pengawasanku. Dino nggak perlu merasa sebersalah ini.

Aku yakin, jauh di dalam dirinya, sudah ada suara yang memberi tahu bahwa kisah cinta mereka takkan berakhir dengan indah.

Begitu pula kisah ini.

Yesterday I died.
Tomorrow's bleeding.
 Fall into your sunlight.
TAMAT

mimpi

Dream Theme: School-Life

Minggu, Juli 30, 2017

Setelah biasanya aku selalu mimpi kejadian-kejadian mengerikan; entah main bunuh atau tembak-tembakan atau kejar-kenaran, hari ini aku mimpi hal yang ... biasa banget. LOL. Yang bikin sama dari mimpi-mimpiku sebelumnya adalah tokoh-tokoh yang main di sini kalau bukan temen sekelasku, pasti orang yang sama sekali nggak aku kenal.

Kejadiannya di sekolah, entah karena kepengaruh sama seting waktu sekarang yang lagi DBL atau gimana, pulang sekolah jam dua langsung cus ke GOR UNY. Yang angkatan 2017 karena sudah lulus, kita janjian kumpul di sekolah jam dua. Nah, ceritanya dimulai dari aku yang sampai di sekolah 'kepagian', aku sampai di sekolah jam dua belas. Otomatis aku harus nunggu temen-temenku yang belum datang kan, jadi karena gabut, aku yang harusnya nunggu di depan gerbang jadi main-main ke dalam sekolah.

Seting tempatnya jelas SMA 6, tapi gedungnya itu bangunan SD Muhammadiyah Condongcatur (...). Jadi aku jalan-jalan di dalam gedungnya itu, ke lorong kelas satu, ke lorong kelas dua, ruang AVA, ke deretan kelas enam ... tapi posisinya di mimpiku, itu gedung SMA 6 gitu lho. Entah juga kenapa begini.

Terus ada bagian yang aku lupa, tapi intinya aku turun ke koperasi untuk minta plastik kresek. Aku ke koperasi lewat kantin, lalu ketemu lima adik kelas ada di dalam koperasi. Waktu itu penjaganya nggak ada, dan kalau yang jaga nggak ada artinya kita harus ambil sendiri lalu naruh uangnya di wadah. Mereka berlima ini berisik banget LOL, berasa kayak yang punya koperasi aja. Aku awalnya diem kan, pengin ambil plastik terus balik, tapi aku nggak tau plastiknya disimpen di mana.

Aku pengin masuk juga, tapi sudah ada lima anak di dalem yang keruyukan kayak es cendol, dan pintu masuk koperasinya itu harus masuk lewat yang satunya, lewat depan. Jadi aku harus balik lagi, keluar sekolah, lalu ke meja koperasi yang ngehadap selatan. (Ini aku di meja koperasi yang ngehadap barat. Koperasinya bentuk persegi, tapi dari sisi yang aku sekarang ke sisi satunya ada sekat yang bikin aku harus ambil jalan mutar.)

Karena mager, dan toh cuma plastik, jadi aku bilang, "Dek, tolong ambilin plastiknya."

Trus mereka berlima akhirnya diem, salah satu dari mereka coba nyariin aku plastik, dan dua di antara mereka keluar; mungkin baru sadar kalau keroyokan di dalem koperasi itu bikin sesek. Aku nggak gubris yang dua anak ini, tapi begitu mereka ngelewatin aku, yang satu bisik-bisik ke satunya. Aku nangkep satu kalimatnya mereka, "Itu lho, mbaknya yang ikut ekskul jurnalistik."

Etdah memangnya kenapa:)) Aku kan lalu ngelihatin mereka berdua, tapi nggak lama sih soalnya tiga orang yang di dalem koperasi lagi mondar-mandir ke sana-sini. Kirain mereka nyariin aku plastik, jadinya aku diemin. Tapi salah satu di antara mereka bilang, "Di mana ya, si ibu naruh pensil mekaniknya?"

Lah jadi permintaan tolongku itu dikacangin ternyata. Aku nunggu aja sampai lalu aku lihat plastik di dalem, di atas tumpukan karung beras (??) nggak tahu juga kenapa di koperasi jualan karung beras :") Aku mikir, ini mereka bertiga nggak lihat apa ya, jadi aku nunjuk, "Dek, itu plastiknya di situ."

Mereka bertiga diem lalu ngelihatin aku, lalu ngelihatin plastiknya, lalu ngelihatin aku lagi, lalu saling pandang-pandangan. Sumpah ini mereka nggak mau ngambilin plastiknya? Lagian cuma kresek di situ doang. Aku jadinya kesel kan, jadi aku geser mejanya trus masuk koperasi lewat celah sempit antara meja sama tembok. Aku ngelewatin mereka bertiga, ambil sendiri plastiknya, lalu aku bilang, "Nggak jadi Dek, bisa sendiri."

Terus aku keluar lagi, dan lihat dua anak yang di luar koperasi, mereka bareng-bareng bilang, "Naaaaah kan gampang tuh lho ambil sendiri," tapi nggak sadar kalau aku lihatin. Aku jadinya makin kesel, kalau nggak pengin ngambilin tuh ya bilang dari awal, aku nggak masalah. Tapi aku nunggu lama banget cuma demi plastik dan harapan mau diambilkan (?) jadinya kan kagol.

Dua orang itu aku deketin, mereka ini masih kelas sepuluh baru masuk; yap, termasuk dalam kategori tokoh yang blas aku nggak kenal. Langsung tahu deh kalau mau aku marahin, akhirnya aku ajak bicara mereka di bawah tangga mau ke lantai tiga, deket ruang AVA, tempat buat keputrian (kayak mentoring tapi untuk satu angkatan) yang aku selalu menghindari tempat itu setiap Jumat karena nggak mau ketahuan bolos. (...)

Awalnya aku marahin, eh tapi ujung-ujungnya mereka curhat soal MOS. Jadi di hari kesekian MOS, ada kegiatan, kelompok-kelompokan tiga orang, dan mereka diterjunkan ke wahana permainan mengerikan (?), kayak masuk gua, nyeberang jurang satu ke jurang lain pakai ala-ala jembatan dari tali, naik mobil rally di lahan pasir yang debunya ke mana-mana ....... oke, kayaknya mulai nggak waras deh mimpi ini.

Aku prihatin (?) tapi aku juga nggak ngasih saran sih, aku pendengar aja. Tapi yang jelas gara-gara itu seolah kita impas; aku kesel dan mereka ternyata juga punya kisah kekeselan. Jadi sama-sama cerita. Oke, sip, akhirnya mereka balik, dan aku baru sadar kalau sudah jam dua dan artinya aku harus nonton DBL.

Aku langsung kagol karena aku inget sesuatu: ceritanya aku sampai di sini kepagian tuh biar aku sempet nge-LINE temen-temen yang kelihatannya bakal bawa motor, jadi aku tinggal bonceng (padahal posisinya aku nggak bawa helm ... tapi abaikan detail ini). Alhasil aku telat kan, dari lobi, aku bisa lihat sudah banyak motor yang pengendaranya sudah punya pasangan (?).

Entah kenapa di luar lobi, setingnya jadi halamannya SMA 6 lagi. Tapi begitu aku belok kanan, ceritanya mau ke parkiran motor yang ada di deket masjid cowok, tiba-tiba berubah jadi semacam tempat luas untuk festival, ada berbagai stand dan rame banget, mulai nggak jelas lah ini ceritanya dibawa ke mana.

Tapi walaupun sudah seabsurd itu - aku noleh ke belakang udah nggak ada bekas-bekas sekolahnya sama sekali, aku terjebak di suasana festival yang ada bianglala, komedi putar, banyak orang lalu-lalang - fokus dari mimpinya masih belum hilang: aku harus cari anak SMA 6 angkatanku yang belum punya boncengan, dan bareng ke GOR UNY. Berasa jadi kayak misi aja, aku harus cari anak Namche di antara kerumunan orang.

Awalnya aku ketemu Afi lagi jalan sambil makan arum manis, terus begitu aku deketin, ternyata di sebelahnya Afi sudah ada Oca lagi makan arum manis juga. Mereka jelas nggak kayak lagi keburu-buru buat nonton DBL, tapi begitu aku tanya, "Afi, kamu sudah dapet boncengan, ya?" si Afinya jawab, "Iya, Sya, ini aku sama Oca mau ke GOR, aku boncengin dia."

Oke sip, Afi sudah sama Oca boncengan mau ke GOR UNY - yang nggak kayak mau ke GOR UNY karena habis itu mereka berdua tetep jalan santai makan arum manis. Aku hilang lagi di tengah kerumunan, lalu aku nyusurin stand-stand makanan yang ada, begitu sampai di stand sosis bakar, aku ketemu Lisa sama Rani lagi jajan, nungguin penjual yang lagi bikin sosis bakar selesai ngolesin bumbunya.

"Kalian barengan mau ke GOR?" aku tanya kayak gitu barengan sama penjualnya selesai ngasih sosis. Mereka nerima sosisnya terus jawab, "Iya, Ras, ini kita mau ke GOR UNY."

Etdah aku nggak ada temen LOL. Aku ditelan kerumunan manusia dan akhirnya bangun, deh.

fanfiction

Menuangkan Pikiran

Jumat, Juli 21, 2017


KATANYA, Sherlock Holmes lebih suka berpikir daripada berbicara.

Dia sendiri yang bilang, saat pertemuan pertamanya dengan John Watson, kalau dia bisa menghabiskan beberapa hari berturut-turut tanpa mengatakan apa pun, hanya diam begitu, tak ingin diganggu. John Watson mencoba memahami; karena toh ia sendiri 'kan, yang butuh teman seapartemen?

Jadi merupakan hal yang aneh kalau setelah itu Sherlock Holmes selalu (benar-benar selalu) tak bisa menutup mulutnya. Ke mana-mana selalu mengoceh tentang apa pun di kepala - bahkan saat di tengah-tengah kasus, yang seharusnya memikirkan strategi menjebak pelaku, ia justru mengajak mampir makan. (Apa?)

"Sekarang pukul enam. Kita sudah sepakat kalau apa pun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkan apartemen sebelum pukul tujuh." Sherlock Holmes berkata pada suatu pagi.

Tanda tanya besar bagi John Watson saat itu. "Kapan kita menyepakatinya?"

"Kemarin."

"Aku bahkan tidak ada di rumah kemarin."

"Bukan salahku kalau kamu tidak mendengarkan."

"Kamu berbicara padaku saat aku pergi?"

Awalnya John Watson maklum kalau barangkali hal ini karena keberadaannya, karena bisa jadi Sherlock Holmes akan menghabiskan waktunya dengan berpikir ketika ia pada dasarnya memang sedang sendirian, tapi jelas kontradiktif kalau Sherlock Holmes masih mengajaknya bicara bahkan saat ia tak ada di sana.


KATANYA, Sherlock Holmes seorang sosiopat.

Dia sendiri yang bilang, kepada semua orang yang menuduhnya psikopat, kalau dia berada dalam kondisi tak bisa berempati  pada orang lain. Sherlock Holmes bisa menebak apa yang dilakukan oleh seseorang yang baru saja ia temui dan langsung mengutarakannya dengan gaya congkak yang biasa. (Tidak biasa bagi orang lain, tapi oh ayolah, John Watson melihatnya setiap saat, 'kan?)

Semua orang selalu menganggap hal itu kasar dan membicarakan yang buruk-buruk tentang Sherlock Holmes sepanjang waktu, dan sekalipun ia tahu, Sherlock Holmes tidak pernah peduli. Dan kalau ia sesiopatik itu, kenapa mempertanyakan John Watson yang berjalan mondar-mandir nyaris mengitari ruangan, menggerundel tentang apa kira-kira yang dipikirkan orang-orang?

"Apakah sebegitu mengganggumu, apa yang orang-orang pikirkan tentangku?" Sherlock Holmes menekankan subjek dua arah yang ia selipkan dalam kalimatnya, "Aku tidak mengerti, kenapa mereka membuatmu marah?"

Saat itulah John Watson sadar bahwa ia telah membuat Sherlock Holmes terusik dengan apa yang ia pikirkan. Barangkali Sherlock Holmes selalu berada di situasi di mana orang-orang menganggapnya gila, jadi kentara kalau hal baru bagi Sherlock Holmes melihat ada orang yang justru mengkhawatirkannya.

***

BEHIND THE STORY

Biasanya sekali mimpi panjang, aku selalu mimpiin tentang kejar-kejaran, tembak-tembakan, atau adegan saling membunuh yang entah alasannya apa. Tapi entah kenapa kemarin aku mimpi dipanggil maju ke depan kelas ngerjain soal matematika pembagian. Awalnya 1022 dibagi 5, tapi begitu aku bisa jawab, lalu soalnya diganti jadi 10022 dibagi 5 (iya, ditambah nol aja), aku justru nggak bisa ....

Jadi, dua hal yang baru aja aku utarakan di atas (pendiam dan sosiopat) itu poinnya adalah soal kekontradiktifan itu tadi sih. Aku pertama kali suka pakai kata itu waktu ketemu karakter Tanaka, bocah kelas 1 SMA. Dia orangnya pemalas banget, dan itu yang bikin dia termotivasi untuk rajin olahraga - karena semakin dia bersungguh-sungguh di pelajaran olahraga, maka dia akan semakin capek dan bikin dia bisa istirahat sepuasnya. XD Di situlah aku baru tahu sisi lucu dari kata kontradiktif ini. XD

Aku tadi diajak mengisi survei untuk bantu seseorang menuntaskan skripsinya di Magister Psikologi, dan di situ ada bagian tentang sahabat yang opsinya antara Sangat tidak sesuai, Tidak sesuai, Sesuai, dan Sangat sesuai. Nyaris semua pertanyaannya aku jawab dengan Sangat sesuai, tapi ada satu pertanyaan yang kujawab Tidak sesuai, dan di situlah aku baru sadar kalau dengan aku pilih opsi itu berarti kontradiktif dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya. :")))) Trus muncullah dua drabel fanfiksi itu deh.

Coba ditebak kira-kira pertanyaan mana yang aku jawab Tidak sesuai. Boleh bantu diisi surveinya di sini! XD

tentang rasya

Certain Lifestyle

Rabu, Juli 19, 2017

Mungkin kalau John Watson disuruh milih satu kalimat Sherlock Holmes padanya yang nggak akan pernah bisa dia lupakan, dia bakal pilih kalimat ini:


John, you are addicted to a certain lifestyle; abnormally attracted to dangerous situations and people.


Kalimat itu jleb banget. Bahkan buatku. Karena mungkin kalimat itulah yang sebenernya kita butuhkan tapi kita nggak pernah sadar. Begitu pun John Watson, dia waktu itu mempertanyakan kenapa seorang yang paling dia percaya mengkhianatinya, dan komentar Sherlock kayak gitu yang membuat semua seolah berbalik; sebenarnya John Watson sendiri yang secara alamiah punya ketertarikan sama orang-orang yang nggak bisa dipahami jalan pikirannya.

Segala macam permasalahan atau apa pun yang ada di sekitar kita dan orang-orang di sekeliling kita itu membuat kita berpikir kalau itulah yang mengubah kita menjadi kita yang sekarang, padahal sebenarnya sejak awal kita yang mengundangnya.

Ketika aku mempertanyakan kenapa temen-temenku nggak pernah ada saat aku bener-bener butuh mereka, itu sebenarnya salahku yang sejak awal lebih cocok bergaul dengan orang-orang yang nggak akan ada di sampingku ketika seharusnya mereka harus. Ketika John Watson nggak pernah habis pikir kenapa selalu situasi mengerikan dan berbahaya yang menimpanya, sebenarnya salahnya yang sejak awal condong memerhatikan tanda-tanda akan adanya kejadian itu.

Seharusnya aku nggak heran lagi. Karena aku jadi tahu kalau di sela-sela obrolan waktu aku ketawa bareng sama temen-temenku, ada suara yang memperingatkan kemungkinan absennya mereka di momen terburukku, dan aku denger. Tapi aku abaikan. Nyatanya aku tetep bergaul juga sama mereka.

Aku kayak mengutuk diriku sendiri. Jadi kenapa aku mempertanyakan hal yang terjadi padaku, yang sejak awal aku tahu kalau aku sendirilah yang membuat kriteria itu terpenuhi? Kenapa aku mengeluhkan apa yang datang padaku kalau akulah yang mengundangnya?

Ada saat-saat aku tahu kalau suatu hari nanti aku bakal dikecewakan, tapi nyatanya aku tetap meneruskannya. Setiap kali aku kira aku bisa mengatasinya, aku tetap bisa membuat dia ada di sampingku di momen yang kupikir sedang kubutuhkan, aku jadi berpikir kalau mungkin sebenarnya dialah orangnya - yang nggak akan membuatku sendirian.

Itu salahku. Kita ngobrol sampai berjam-jam di telepon, saling cerita satu sama lain, mendengarkan dan didengarkan, kalau rahasiaku sebenarnya itu kayak kue lapis dan yang terbesar ada di lapisan terakhir, lama-lama terambil satu lapisan, lalu satu lagi, lalu lagi, lagi, lagi ... sampai tinggal tersisa lapisan terakhir.

Lapisan yang selama kita ngobrol rasanya sudah pengin aku kasih, tapi kuputuskan buat mengulur-ulur waktu karena aku juga sambil menguatkan diri untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi lalu pada percakapan tertentu, kamu mengatakan hal yang membuatku nggak tahan lagi kalau terus kupendam sendiri. Jadi ketika kamu bilang di telepon,

"Aku nggak tahu apa-apa tentang kamu."

Aku jadi mikir mungkin aku harusnya nggak membuatmu sebersalah itu karena itu salahku yang nggak pernah bener-bener terbuka, dan kamu harusnya kubiarkan tahu itu sejak dulu. Aku pikir kalau kalimat yang ditujukan Sherlock Holmes untuk John Watson yang membuatku sadar kalau apa pun kejadian yang menimpa kita itu salah kita sejak awal itu nggak berlaku untukku, karena toh nyatanya, ketika aku lagi butuh seseorang, aku bisa membuatmu tetep di sampingku.

Lalu aku jadi inget saat-saat Cinderella pengin ngaku ke Pangeran kalau dia bukan seorang putri di halaman belakang istana, Conan pengin ngaku ke Ran kalau dia sebenarnya Shinichi di restoran tempat ayahnya ngelamar ibunya, Barry pengin ngaku ke Iris kalau dia sebenarnya The Flash di ruang kerjanya tempat dia kesambar petir ... sekarang gantian aku.

Rasanya ini saat yang aku tunggu, jadi aku mulai bilang,

"Jadi ...."

Lalu tiba-tiba bel jam dua belas malam berdentang dan momen pengakuan Cinderella hilang, lalu tiba-tiba ada jeritan seseorang lihat mayat dan momen pengakuan Conan hilang, lalu tiba-tiba ada berita di televisi bank yang dirampok dan momen pengakuan Barry hilang ....

Teleponnya mati. Dan momen pengakuanku hilang.

Aku otomatis lihat layar teleponku, dan aku telepon balik. Aku mulai mikir; jangan. Jangan. Plis, jangan. Aku sudah berusaha keras banget biar kamu tetep ada, biar aku bisa ngatur saat-saat aku butuh temen dan aku menghibur diri karena kamu di sini, dan biar aku bisa percaya kejadian-kejadian di film yang seolah alam semesta menentang momen pengakuan seseorang itu nggak ada.

Tapi di rumahmu mati lampu.

Aku nggak boleh marah atau merasakan apa pun kalau memang sebenarnya sejak awal ini gara-gara aku, aku yang memaksakan ini-itu, yang mencoba merancang begini dan begitu, tapi memang ada kejadian di luar kendaliku, dan itu nggak bisa kulawan. Nggak ada angin nggak ada hujan, kenapa di rumahmu bisa mati lampu di saat aku memulai momenku?

Itu salahku. (Lagi.)

nulis random

30. Dibalik No. 28

Jumat, Juni 30, 2017

Ketika postingan ke-28 isinya tentang dibalik postingan ke-25, lama-lama jadi merambat dan gitu aja terus nggak berhenti-berhenti. Iya, ini masih bahas tentang Jumbling July dan apakah Rasya bakal ikut atau enggak. (Jangan pakai sudut pandang orang ketiga, Sya.)

Kayaknya aku nggak bisa ikut deh. Soalnya bulan Juli itu tabrakan sama ....


Yap. Camp NaNoWriMo. Bulan April kemarin aku belum memenuhi target soalnya, jadi Juli ini aku coba ikut lagi! Harus bisa. :") Dan ada dua tantangan yang sama-sama bulan Juli, aku nggak mungkin ikut dua-duanya, nanti ambruk. :") Walaupun itu artinya mungkin Bleepy bakal aku anggurin selama sebulan, tapi Bleepy-nya sudah maklum kok. :")

... Ini pendek. Demi apa postingan terakhir #NulisRandom2017 kenapa menyedihkan begini sih, tapi aku ada deadline buat besok jam sembilan pagi, mau nyicil aja sekarang, jadi maafkan aku ; v ;)7

gak berlabel

29. Mind Palace

Jumat, Juni 30, 2017

Pernah denger soal "Mind Palace" alias Istana Pikiran, nggak?

Sebenernya biasa disebut Memory Palace Technique, tapi kalau yang nonton Sherlock pasti lebih familier sama sebutan Mind Palace ini. XD Tapi karena aku nonton Sherlock duluan sebelum tahu apa itu Memory Palace kayak yang aku baca di sini, apa yang aku pikirkan agak beda sama definisi aslinya.

Sherlock selalu bawa Mind Palace-nya ke mana-mana. Seperti apa yang dikatakan Tuan Magnussen di kasus His Last Vow, "Mengetahui adalah memiliki," dan apa yang aku tangkap dari komik Kungfu Boy (Sya, kamu sadar nggak kalau Sherlock dan Chinmi itu jauh banget?) waktu Chinmi bilang dasar dari menguasai pengetahuan adalah dengan menghayatinya, sebenarnya Mind Palace itu bisa dilakukan orang-orang biasa juga, walaupun nggak semaksimal itu.

Jadi gampangnya, yang dimaksud Mind Palace ini adalah ketika kita bisa membayangkan sesuatu, yang seolah-olah tampak nyata, padahal sebenarnya nggak ada; intinya tentang imajinasi.

re-watch scene ini berkali-kali. :"))
Seorang penyuka matematika yang bisa melakukan perkalian tiga digit dengan tiga digit tanpa coret-coretan, dia cukup menerawang dan di depannya dia ada angka-angka yang nggak bisa dilihat orang lain; angka-angka yang mengambang di udara itulah Mind Palace-nya dia. Seorang pemusik yang jari-jarinya bisa seperti sedang bermain di atas piano; piano itulah Mind Palace-nya dia.

Kalau kita sudah terlalu menyukai suatu hal, sampai menghayatinya, kita bisa membayangkan objek itu ada, persis dalam ukuran aslinya. Seenggaknya, secara kasar, itulah definisi Mind Palace. Atau artinya adalah istana pikiran; semua itu hanya nyata di pikiran kita. Orang lain nggak bisa melihatnya.

Aku baru ngeh kalau aku punya sedikit Mind Palace itu waktu tanggal 25 Februari 2016 di ruang TIK pas kelas 2 SMA. Satu komputer untuk satu-dua anak, dan aku kebetulan dapat komputer yang paling belakang. Komputernya nggak masalah sih, yang jadi masalah tuh keyboard-nya. Karena huruf-hurufnya sudah diacak; A jadi H, L jadi G, dan lain-lain, hampir semuanya keacak-acak.

Awalnya aku kesusahan. XD Terus pas aku coba ngetik cepet, aku baru sadar kalau yang perlu aku lakuin tuh tinggal natap layarnya aja, nggak usah mastiin dengan lihat keyboard aku neken huruf yang bener apa enggak, karena semua hurufnya nggak ada yang pas. Aku perlu ngehafalin susunan huruf-huruf yang bener, dan itu ternyata udah kecetak di pikiranku, jadi aku nggak mikir panjang dan langsung ngetik.

Aku kaget banget pas aku ternyata bisa! XD Lama-lama aku jadi keasikan, kan. Kalau netbook-nya perlu dicas dan nggak bisa kubawa-bawa, aku jadi suka main ngetik-ngetikan, jariku neken-neken huruf di keyboard yang cuma kebayang jelas di kepalaku. Begitu aku tahu soal Mind Palace dari hasil nonton Sherlock, aku jadi kepikiran kalau ternyata ini asik banget.

Lalu aku nonton Shigatsu wa Kimi no Uso yang dijadiin Drama Jepang, pas bagian Kousei 'main piano virtual' di atap sekolah. Atau pas dia lagi latihan di belakang panggung sebelum lomba. Gimana piano kayak ada di depannya, tapi orang-orang yang lewat cuma tahunya kalau dia lagi main piano-piano-an, padahal dalam pikirannya Kousei, piano itu beneran ada.

Piano itulah Mind Palace-nya Kousei. :")

Kalau di kasusnya Sherlock dan Tuan Magnussen, atau definisi Memory Palace, artinya lebih luas, sih. Tuan Magnussen tuh hebatnya kayak dia 'menciptakan' objek baru. Dia punya pengetahuan-pengetahuan, lalu dia ingat, dan di pikirannya berasa kayak kumpulan pengetahuan itu dikliping jadi satu, dibuat buku. Yang perlu dia lakukan kayak 'baca buku virtual', ya dia berlagak lagi ngebalik halaman dari buku di tangan, yang nggak bisa dilihat siapa pun kecuali dia sendiri.

mr magnussen nunjukin mind palace-nya dia ke sherlock dan john.
Hebatnya orang-orang dengan Mind Palace kayak gitu tuh, mereka bisa bener-bener 'nyimpen' di otak dan suatu saat bisa dibuka lagi. Keren banget, nyebelin asli, gimana coba caranya. :)) Kayak semuanya ada di kepala, dan ini bikin penasaran karena sebenernya kita bisa-bisa aja ngelakuin hal yang sama.

Masalahnya aku belum sampai tahap situ. Aku baru bisa membayangkan ada laptop persis seurutan QWERTY-nya di hadapanku. Tapi otomatis laptopku bakal langsung kesetel buka Office Word dan aku tinggal ngetik. Itu pun ngetik asal aja, aku belum bisa lalu bayangin seolah di layar laptopnya ada rentetan kalimat dari apa yang barusan aku ketik. Aku belum bisa klik Ctrl+S dan bikin dokumen itu bener-bener kesimpan di laptop itu.

Setiap kali aku ke Mind Palace-ku, laptop itu seolah kayak baru; isinya masih kosong. Aku harus ngisi dengan kalimat yang bakal aku lupain lagi. Yap, begitulah, ide yang tiba-tiba kelintas kalau nggak langsung dicatat aja bisa hilang begitu saja, gimana mau nyimpen sesuatu di bagian otak dan ngebuka lagi saat diperlukan? TvT

Kalau Mind Palace-nya Sherlock juga sama, dia butuh konsentrasi dan nggak boleh ada seorang pun yang melintasi zonanya. Makanya kalau Sherlock bilang ke John dia butuh berada di Mind Palace-nya, John praktis bakal langsung pergi. XD

h0w.
Sherl, dirimu bisa gampang banget gitu ... duh harus sepinter kamu dulu ya. :")

nulis random

28. Dibalik No. 25

Kamis, Juni 29, 2017

Ini tentang #JumblingJuly.


Aku ngasih tulisan itu persis setelah aku download posternya di Google Drive. Jadi ... iya, jelas bukan tiga hari yang kita butuhkan untuk menunggu datangnya tanggal satu Juli, dan aku sebenernya bisa ngedit, tapi ... yang penting poinnya dapet kan, ya? XD (Bilang aja males, Sya.) Harusnya tulisan "Three Days to go! :)" itu diganti sama judul postingan tiap hari buat #JumblingJuly besok. Maaf, Teh Ran. TvT)7

The big question. Bisakah Rasya ikutan #JumblingJuly?

Sementara #nulisrandom aja sudah kelabakan. Sekarang sudah tanggal 29 dan ini postingan buat hari ke-28, semalam Rasya beneran ngebut sampai nggak tahu deh, ini postingan bener-bener random karena Rasya bahkan nggak baca ulang tulisan sendiri. Oke, ngutip apa yang dikatakan Cisco Ramon, jangan ngomong dengan sudut pandang orang ketiga karena itu mengerikan, jadiiii oke aku ganti sekarang.

Karena prompt Jumbling July-nya berlaku tiga hari, mungkin kalau aku ngeles (?) ngeposting tiga hari sekali masih nggak papa, ya. Yang penting kan memenuhi semua prompt? Anggap aja tanggal satu sampai tiga nulis tentang buku, dan semuanya aku gabung di tanggal tiga, aku bikin tiga postingan sekaligus tentang buku semua ... kan bingung. (...)

Semisal aku kuat, semoga aku bisa komplet tiga puluh satu hari deh. :"D

Ada yang mau ikutan juga biar kita sama-sama berjuang? XD

nulis random

27. Dua Dari Dua: The Writer (?)

Kamis, Juni 29, 2017

Penggalan ceritanya bisa dibaca di sini. Dan postinganku ini bukan buat melanjutkan ceritanya, maaf ya. XD Seperti biasa (walaupun aku baru melakukannya satu kali) setelah selesai cerpen satu, aku bakal cerita latar belakang kenapa cerpen ini bisa ada. Nah, persis kayak alasan yang sebelumnya, lagi-lagi ini hasil mimpiku.

Aku masih inget waktu kelas 2 SMP pas pelajaran membatik di luar kelas, sahabatku, di depan temen-temen sekelas yang lagi membatik, bilang mau nunjukin aku sesuatu. Aku nggak mikir apa-apa, aku cuma ngira kalau seenggaknya mungkin bukan hal yang buruk, dan ternyata dia ngeluarin serangga yang jadi fobiaku banget, banget, BANGET.

Untungnya aku terlalu syok sampai cuma bisa memalingkan muka, tapi sumpah waktu itu, kalau nggak inget aku lagi di depan temen-temenku dan kalau nggak denger suara ketawanya mereka, rasanya kayak kena setrum. Aku kayak perlu mikir dulu buat harus menggerakkan anggota badan, dan beberapa malam setelah kejadian itu, aku mimpiin serangga itu dalam ukuran yang besar, di depan pintu kamar, dan kepalanya bahkan seukuran pintu.

Sampai sekarang aja aku masih kebayang gimana ngerinya. Temen sekelasku pas kelas 2 SMA, tepat hari ulang tahunnya, seisi tasnya dikasih benda fobianya dia dan aku denger dari mereka kalau dia langsung teriak, banting laptop, dan kabur. Akhirnya aku sama dua sahabatku ngeberesin karena mereka-mereka juga cuma main tinggal pulang aja, dan sebenernya aku ngelakuin itu lebih buat ke diriku sendiri. Fobia tuh, ya, fobia. Nggak bisa dibuat mainan, sekoplak apa pun fobia itu.

Hubungannya apa sama mimpi dan cerpenku?

Aku kebawa mimpi karena sebelum tidur aku baca ulang chattingan-ku sama sahabatku, dan terus aku inget kejadian pas kelas 1 SMA yang aku nggak bisa lupa. Waktu itu aku sama dia lagi bareng temen-temen yang lain, di luar gerbang, entah lagi ngomongin apa, sampai lalu salah satu temenku nuding kerudungku, "Ras, di kerudungmu ada #####!"

Nggak mungkin bohong di saat-saat kayak gitu.

Waktu langsung berjalan lambaaaat banget, aku kayak kena setrum virtual lagi, walaupun aku tahu serangganya cuma satu, tapi rasanya langsung ada banyak banget ngerubungin, di tangan, di kaki, di muka, kayak langsung ada banyak banget dan di mana-mana, jadi aku langsung nutup mukaku pakai kedua tangan, terlalu takut sampai nggak bisa ngapa-ngapain, aku cuma refleks madep sahabatku di sebelah sambil bilang, "Tolongin tolongin tolongin tolonginnnn."

Aku nunduk dalem banget, kepalaku tak gerak-gerakin, aku geleng sana geleng sini, harapanku sih bisa bikin serangganya langsung jatuh walaupun nggak mungkin segampang itu, aku tetep nutup muka, aku panik kuadrat. Yang aku lakuin itu malah bikin sahabatku jadi kesusahan ngambil serangganya dari kerudungku, dan walaupun dia bilang, "Jangan gerak-gerak," tapi ya aku tetep aja geleng-gelengin kepala terus-terusan.

Akhirnya serangganya bisa keambil, dan temen-temenku yang kelihatannya bingung kenapa aku bisa setakut itu akhirnya tahu kalau serangga itu fobiaku, dan reaksi mereka campuran antara, "Sumpah? Itu? Fobia? Kamu? SUMPAH?" dan, iya, rata-rata orang memang pada komentar gitu, sih. Kalau yang kita takutin itu hal-hal lumrah dan nggak mengundang pertanyaan, bukan fobia namanya.

Terus, setelah aku mengalami kejadian mati-sekali-dan-hidup-lagi pas akhir semester satu kelas 2 SMA, terlalu banyak hal yang berubah dariku dan rasanya berimbas juga ke caraku memperlakukan lingkungan di sekitarku (persis kayak orang habis hidup lagi dari mati suri, coba aja lihat tayangan ulangnya Kick Andy) (aku nggak banyak cerita soal mati-sekali-dan-hidup-lagi sih, tapi mungkin kalian bisa nebak-nebak apa yang terjadi dengan baca-baca postinganku di September dan Oktober 2015 dan lama-lama gaya nulisku beda) dan fobiaku ke serangga itu sekarang nggak parah-parah banget kayak dulu.

Gara-gara keingetan kejadian itu sebelum aku tidur, aku jadi mimpi, deh. Tentang fobiaku yang baru. Yang aku ceritain seuplik di cerpen bagian satu sebelumnya.

Omong-omong, itu bukan cerpen sih. XD Makanya nggak aku lanjutin. /dihantam

Sebenernya itu novel, yang sempet berhenti kukerjain karena diserang berbagai macam cobaan mulai dari ujian praktik sampai akhirnya pengumuman SBMPTN. Novelnya belum komplet sayangnya, aku sudah tahu gimana awal dan akhirnya, tapi ada satu scene yang aku masih harus banyak baca-baca adegan beginian dan latihan terus, biar kata-kata yang aku pakai bisa mendeskripsikan persis kayak yang aku bayangkan di kepala. :"D

cerpen

26. Satu Dari Dua: The Boy

Kamis, Juni 29, 2017

the boy

Ini terjadi saat hari pertama masuk sekolah. Setiap kursi diurutkan sesuai nomor presensi, jadi kemungkinannya kecil untuk bisa sebangku dengan teman bekas SMP atau kenalan baru yang sudah lebih dulu curi garis awal dengan berbincang. Aku kebetulan bersebelahan dengan seorang anak perempuan yang ... parasnya biasa-biasa saja (hei, bukan berarti aku membuat perhitungan dengannya hanya karena hal ini), rambutnya sebahu lebih sedikit. Mungkin sampai bagian tengkuknya.

Gadis ini sudah duduk lebih dulu, jadi aku yang menghampiri. Begitu langkah kakiku sudah sampai pada jangkauan pandangnya, dia menoleh. (Sejak tadi ia memalingkan muka ke arah jendela seperti seolah tak ada di dalam ruangan, persis yang dilakukan Sahara menjelang dimulainya lomba cerdas cermat bersama Ikal dan Lintang dalam Laskar Pelangi.)

"Kamu yang jadi teman sebangkuku?" ia bertanya bahkan sebelum aku duduk.

Ingin sekali aku menjawab, "Bukan," dan memulai percakapan pertama kami dengan lelucon garing yang kulontarkan--jelas-jelas aku teman sebangkunya, siapa lagi yang berjalan melewati meja demi meja sampai akhirnya berhenti di paling belakang pojok ruangan kalau bukan aku?--tapi rasanya ia ingin mengatakan sesuatu dan aku harus menyimpan leluconku untuk lain waktu karena sebentar lagi kakak kelas kami datang, "Iya."

Gadis itu mengangguk. Oke, aku akan satu bangku dengan dia selama tiga hari, selama Masa Orientasi Peserta Didik Baru berlangsung. Aku baru meletakkan tasku di kursi saat dia menyambung lagi. "Aku mau ngomong."

"Oh." Aku mencoba agar tidak tampak terkejut. Dua kali gadis ini mengajakku mengobrol dan dua kali aku dibuat terkejut. Kini aku duduk, agak kikuk juga karena apa yang kulakukan justru mempersempit jeda di antara kami, di mana apabila ditinjau dari percakapan ini seharusnya aku mulai menjauh sampai pada titik radius dua meter lebih. "Apa?"

"Tahu sistem MOPDB di sini kayak gimana, nggak? Kita bakal dimarahi?"

Itu pertanyaan macam apa? "Jelaslah kita bakal dimarahi," aku menjawab cepat-cepat, dari jauh aku sudah mendengar bentakan-bentakan, pastilah itu dari senior yang mulai memasuki kelas-kelas. Beruntunglah kami ada di kelas paling jauh jadi kalau waktu mulai agak terulur bagi kami, "ini MOPDB, lho. Kamu kalau nggak mau dibentak harusnya pakai pita kuning. Dengan begitu, kamu akan praktis terhindar dari gertak-menggertak."

Pita kuning itu bukan kata sandi, itu arti harfiah. Untuk murid baru yang merasa tidak sehat, seperti mudah pingsan, jantungnya lemah, atau hal-hal yang berkaitan dengan ketidaktahanan terhadap bentakan-bentakan, wajib mengikatkan pita kuning di tangan, seperti gelang. Pita kuning itu harus disiapkan dari rumah karena tidak disediakan panitia, dan gadis itu tidak memakai apa-apa sama sekali di pergelangannya--oh, hanya jam di tangan kanan.

"Aku nggak bisa, soalnya aku bakal ditanya kenapa dan aku nggak bisa jawab pertanyaan itu."

"Memangnya kamu kenapa?" tepat setelah aku menanyakannya, di dalam kepalaku langsung berbunyi alarm peringatan, tanda bahwa aku telah mengucapkan kalimat yang sudah dipastikan akan merepotkanku dalam beberapa waktu ke depan. Atau lebih buruk, akan mengubah kisahku yang selama ini kuberi deskripsi singkat dengan mencuri judul Harry Potter bab pertama dan menambahkannya sedikit--the boy who lived (and just alive)--menjadi benar-benar berbeda seutuhnya.

Gadis itu, dalam satu gerakan memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Masing-masing telunjuknya menempel di pelipis kanan dan kiri, gaya seorang pemikir yang berusaha keras mengingat sesuatu, "Di sini," dia mengetuk-ngetuk kedua sisi kepalanya, "ada orang lain di sini."

"HAH--"

Pintu dibuka keras-keras. "BERDIRI!"

Serentak otomatis semua anak dalam ruangan berdiri, dan kami berdua berhenti bicara. Aku meliriknya, dan gadis itu menggigit bibir, berharap aku bisa paham hanya dengan secuil petunjuk itu yang ia ucapkan, padahal kenyataannya tidak. Tidak sama sekali. Apa maksudnya ada orang lain di dalam kepalanya?

Aku pernah beberapa kali menonton film horor dan aku lumayan tahu tentang ada orang-orang yang mempunyai kepribadian ganda di dunia ini, tapi ... masa sih? Lagipula, kalau memang dia punya kepribadian ganda, kenapa harus mengatakannya padaku? Kepribadian ganda bukanlah sesuatu yang perlu untuk ditakutkan dan tak ada hubungannya dengan menghindari bentakan-bentakan MOPDB, 'kan?

(Heeeei, IYA KAN?)

Senior yang tadi meneriaki kami itu menutup pintunya. "Pasang kartu pengenal kalian!"

Kartu pengenal yang terbuat dari kertas asturo berukuran A4 dilaminating dan diberi tali rafia supaya bisa dikalungkan adalah properti MOPDB yang sudah kami siapkan di rumah sebelumnya. Isinya nama panggilan besar-besar, kemudian nama panjang, kelompok, dan moto hidup. Aku mengalungkan kartu pengenalku dan gadis itu melakukan hal yang sama.

Namanya Lisa.

Senior itu mengambil spidol papan tulis dan baru akan menuliskan sesuatu ketika pintu terbuka. Salah satu rekannya, sesama panitia, melongok dengan tampang siaga satu. "Lur, kok bola tenis buat pos tiga kurang satu, ya? Kamu belinya berapa buah?"

Pertanyaan itu diterima dengan reaksi waspada. Ia meletakkan kembali spidolnya, meninggalkan kelas tanpa bahkan mengatakan sesuatu kepada kami. "Lho, perasaan sudah pas jumlahnya?" ia menutup pintu dan percakapan di antara mereka tak terdengar lagi. Kelihatannya ada kesalahan teknis dan aku bersyukur kesalahan itu terjadi di situasi ini dan yang salah adalah senior yang menjaga kelas kami, karena itu artinya konversasi bisa tersambung lagi:

"Yang tadi, maksudnya apa?" aku menoleh, "Lis?" dan menyebutkan namanya spontan, dengan nada buru-buru agar dia setidaknya tahu kalau kami berdua tidak punya waktu, dan aku masih harus memacu otakku untuk bekerja lebih keras agar bisa memahaminya, karena setelah ni aku bertanggung jawab atas segala peristiwa yang akan terjadi. (Walaupun, tolong, semoga tak terjadi apa-apa!)

"Kayak kepribadian ganda tapi beda," gadis itu, Lisa, menjawab cepat. "Kalau kepribadian ganda bisa menyabotase jiwa, kalau di kasusku enggak. Dia cuma di dalam kepala sini, mengamatiku, menjagaku."

"Menjaga?"

"Dia bakal secara praktis menghapus memori buruk yang datang ke kepalaku," Lisa menjelaskan dan aku terlalu terkejut, karena kalaupun aku boleh berbicara maka sudah dipastikan mulutku akan penuh busa, mengatakan berulang-ulang, "Apa? Apa? APAAA?" jadi aku hanya diam. "Walaupun itu baru saja terjadi. Bisa saja habis ini senior itu akan datang dengan pistol di tangan lalu menembak seseorang, kemudian kita semua menjerit, berlarian kalang-kabut."

"... Lalu, kamu?"

"Aku awalnya akan ikut kabur, tapi nanti ada titik di mana aku malah menemuimu dan bertanya apa yang terjadi."

"..."

***

yak sekarang sudah tanggal 29 dan mari kita selesaikan utang postingan ini sekarang. grao. *seruput kopi*