Another Debate

Rabu, Desember 14, 2016

title: another debate {part 10/10 of prompt's challenge}
prompt: you shoudn't have heard that.
cast: england, germany, america, italy

disclaimer: hetalia axis powers are owned by hidekazu himeruya. the author does not, in any way, profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creators.


america, fem!england, germany, fem!italy

England mengangkat cangkirnya dari atas meja. “Italy, ‘kan, penyebab kegagalanmu melakukan invasi pada Russia dan yang membuatmu kalah di medan perang,” ia menarik napas, menatap Germany sebentar yang mulai beringsut tak nyaman, lalu menyambung lagi agar tak terlalu kentara meruntuhkan dinding pertahanan rekan minum tehnya itu, “aku ingin membahas lebih lanjut, sih, tetapi, kupikir, kalau soal itu, kamu yang paling tahu.”

Germany menarik diri. “Memang,” ia mengaku enggan, menatap England yang sedang menyesap tehnya. “Tetapi, memangnya, siapa yang kemarin malah nonton bareng America?”

Selanjutnya adalah batuk tersembur, disambung dengan pemandangan tak diinginkan yang cepat dari cangkir terlepas dari pegangan dan meluncur ke lantai, disambung (lagi) dengan onomatope suara pecahan. Daripada reaksi selanjutnya didominasi oleh jeritan, yang ada malah teriakan-teriakan kesal yang bersahut-sahutan.

“Serius, maumu apa, sih, hah?!”

Seolah cangkir yang pecah itu hanyalah angin lalu.

“Aku cuma mau bilang kalau halo, Nona-Pecinta-Teh, sekarang kita hidup di abad berapa, ya karena persoalan masa lalu dan aliansi dan perang-perangan dan soal kamu ternyata membantu Greece ketika Italy menyerang dia dan segala hal semacam itu, tuh, sudah sangat ketinggalan jaman, tahu!”

“Ya sudah, kenapa kamu enggak mengatakan itu sebelum mengatakan hal tak masuk akal, di luar nalar, yang spontan, dan serba tiba-tiba, dan membuatku yang mendengar kalimat itu harus membayar dengan memecahkan cangkirnya?”

Bahkan karyawan-karyawan yang kepalanya tertoleh dengan suara pecahan itu pun kini hanya berpandangan, tak tahu harus bertindak apa terhadap dua orang di meja pojok sana yang sepertinya malah sudah lupa dengan pecahan cangkir di dekat kaki mereka.

“Itu bukan tak masuk akal, oke? Karena menurutku sangat enggak keren, kamu seperti menyuruhku untuk terus mengingat ke belakang padahal kamu sendiri juga nge-date dengan America dan itu artinya kamu juga sudah melupakan Perang Revolusi!”

“OH?!” England mulai bangkit berdiri, yang juga diikuti oleh Germany di hadapannya, tak ingin terlihat terpojok sekalipun yang menyulutkan api adalah dirinya karena mengatakan kalimat yang sangat terlarang di kamus gadis itu. “Yah, kalau mau dibilang, sih, aku meragukan seberapa besar kamu suka Italy jadi anggaplah aku, yang menyuruhmu mengingat soal kekalahan besar pertamanya dia, itu sebagai bentuk kebaikanku untuk membuatmu yakin, oke? Karena kalau mau jujur, nih, ya, aku enggak melihat keraguan itu pada America waktu dia mengajakku nonton bareng, jadi aku enggak sempat memikirkan soal revolusi-lalala yang kamu bilang!”

“Untuk agar kamu tahu saja, ya, aku enggak akan hanya mengajak Italy nonton bareng seperti yang dilakukan America-mu itu! Setelah nonton, rencananya aku akan mengajaknya makan, lalu aku mengantarnya sampai rumah sebelum aku pulang! Enggak seperti yang kamu ceritakan itu, dia hanya mengajak nonton dan setelah itu apa, Miss-see-you-later? Bahkan kalian pulang sendiri-sendiri!”

Pintu depan terbuka, dan kepala dua orang yang baru saja memasuki restoran tanpa diketahui sepasang sahabat yang masih sibuk adu mulut itu langsung tertoleh pada sumber suara.

“Kamu itu enggak pernah berubah, ya, selalu saja menganggap bahwa semakin menghambur-hamburkan uang itu artinya semakin suka! Itu, ‘kan, enggak bisa diukur, tahu!?” kedua pipi gadis itu sampai rasanya terbakar, “dan yang penting, aku suka sama America dan kujamin itu lebih besar dari rasa sukamu ke Italy, jadi mengingat masa lalu sudah tidak penting lagi bagiku!”

Lelaki di hadapan tersengat harga dirinya karena diremehkan. “Memangnya kamu tahu apa, sih?! Aku suka banget sama Italy dan harusnya aku yang bilang kalau kujamin rasa sukaku itu yang lebih besar!”

“Wah.”

Ada satu suara baru yang membuat mereka berdua menoleh, dan baru sadar kalau mereka berdua itu tidak hanya berdua di sekitaran mereka karena ada dua orang tak diundang, dua orang yang sama sekali tidak mereka inginkan, ada di sini. Yang menimpali tadi adalah Italy. Gadis itu menggaruk belakang lehernya, agak canggung, namun berusaha santai seperti America di sebelahnya.

“…”

Krik.

“KALIAN SEJAK KAPAN DI SINI?!” berbarengan, keduanya berteriak dengan nada tertinggi yang pernah mereka capai, tidak terima.

“Sejak kapan, ya?” sebelah tangan terangkat, America memanggil karyawan untuk menghampiri dan mengeluarkan sejumlah uang dari saku jaketnya untuk mengganti cangkir yang ia lihat di dekat kaki gadis di hadapannya, “sejak England bilang aku suka sama America lebih besar dari apapun di dunia ini?”

“Aku enggak bilang begitu!” sepertinya siapapun yang berinteraksi dengan England harus mengambil risiko untuk mengakhiri percakapan dengan saling debat. Namun America justru senang, diam-diam ia tersenyum geli melihat reaksi gadis itu. “Dan kamu enggak seharusnya mendengar itu atau semuanya atau apapun juga, tahu?!”

... dan adu mulut itu tak berakhir dengan mudah.

***

Author's Note

HAHAHA XD Entah kenapa makin ke sini aku semakin nggak berpedoman pada lika-liku sejarah(?) orz Soalnya, plis, harus ada seseorang yang menghentikanku dari fandom ini karena belajar Sejarah sangat tidak baik untuk kesehatan, karena memicu rasa perih perih perih yang teramat dalam dan kita justru bersimpati pada negara-negara yang padahal... seperti kata Jerman di atas, itu udah masa lalu, dan sekarang abad berapa, dan seharusnya kita nggak boleh terpaku sama apa-apa di belakang orz

Soal pairing ini... GRAO entah kenapa America x England dan Germany x Italy menarik simpati terbesarku sampai detik ini. Amerika sama Inggris yang debat sampai makan waktu berbulan-bulan (lama banget beneran, buat memikirkan mau pakai rencana apa buat nyerang Jerman) itu lama banget tolong, mereka mah nggak ada yang mau ngalah :")) Dan kalau melihat lebih jauh lagi soal Perang Revolusi dan segala macamnya soal mereka berdua itu SANGAT ANGST sekali ih :""")))

Lalu kalau Jerman sama Italia... nggak usah ditanya lah, ya. Hubungannya mereka berdua itu berasanya kayak dua orang rival dalam satu kelas yang dijadiin satu kelompok sama sang guru, jadi kayak mereka tuh tujuannya sama, tapi dalam memperoleh tujuan itu entah kenapa malah saling gengsi duh ya gitu lah TvT

....tapi, oke--aku tau aku bakal membunuh diriku sendiri kalau aku bilang ini--tapi serius. Entah kenapa jauh di dalam hatiku(?), walaupun aku suka sama America x England dan Germany x Italy tapi tapi tapi kok aku ngeship Germany x England ya.. (....................) /RAS

Oke ABAIKAN orz Betewe challenge prompt accepted! XD

You Might Also Like

0 comment(s)