ketika idolamu itu bawahan(?)mu.

Minggu, Oktober 02, 2016

(Terlalu banyak tanda miring.)
(Entah apa makna kalimat dalam tanda miring itu tetapi kalau tanya saya, mungkin kayak penekanan. Atau bisa jadi kayak gumaman atau gerundelan atau apa lah yang barusan saja saya kasih contohnya.)



BUKANNYA bawahan, sih. Gimana, ya. Pernah dikatakan, kalau kamu mengidolakan seseorang, maka temuilah dia—kalau enggak salah, yang bilang Tere Liye. Saya pernah mengungkit ini, enggak, ya? Pokoknya, alasannya tuh biar kita tahu kalau oh ternyata dia juga enggak suka sarapan atau oh ternyata dia kalau jalan juga napak tanah dan sebagainya. Biar kita tahu kalau dia juga orang biasa, yang sama kayak kita, yang kita sebenarnya enggak perlu sefanatik itu ke yang bersangkutan.

Kita sebagai orang biasa, pasti punya idola. Idola yang bahkan belum pernah kita temui, atau idola yang kita ketemu sehari-hari. Nah, idola saya ini, sebut saja A yah nama depannya dia sih. Itu adalah orang yang memenuhi opsi kedua. Dia saya temui hampir setiap hari. Tapi masalahnya, saya dan A ini bukan satu lingkaran. Saya selalu sama teman-teman saya, dan dia biasanya enggak perlu mencari siapapun karena toh bakal ada yang menghampiri dia juga…

Terus, ada kesempatan, ketika saya jadi panitia. Saya punya anak buah.

A ini salah satunya.


TERNYATA, A ini kerja sambilan. Saya baru tahu ini karena yah saya kan enggak dekat sama dia jadi mana tahu kalau dia kerja sambilan? Karena kita sering saling koordinasi dan saling mengobrol juga, saya jadi punya banyak kesempatan untuk tanya-tanya terus. Walaupun menurut saya posisi ini berasa kayak batu loncatan saya bisa semakin tahu tentang A, tapi, posisi ini pedang bermata dua.

Karena bikin saya sama A punya batasan. Ada jedanya.

Saya sama A dekat juga cuma pas urusan ini saja, kan? Saya tahu A kerja sambilan karena itu hak saya untuk tahu, biar saya bisa mengatur waktu rapat atau biar saya bisa tahu alasan kalau A enggak langsung balas L1NE dari saya padahal udah dibaca. Akhirnya A cerita banyak soal kesibukannya, yang enggak semua orang tahu, yang dia cerita ke saya begini karena saya sebatas perlu tahu. Kalau saya enggak di posisi sebagai atasannya A ini, A enggak akan bilang-bilang ke saya, kan? Lagian saya sama dia ini apa sih baru dekat waktu ini saja…

Karena posisi ini, saya sama A jadi dekat. Banget—yah, bukan banget sih soalnya enggak sampai benar-benar terus jadi sering mengobrol begitu. Cuma jadi dekat drastis. Di saat saya cuma bisa kadang sekilas menyapa atau cuma senyum atau enggak melakukan apa-apa, sekarang saya bisa dengan gampangnya nimbrung atau menawarkan atau minta tolong.

.
KADANG, saya merasa kalau A enggak pantas jadi bawahan saya. Ada yang salah dengan saya jadi atasannya. Memberitahu apa-apa yang harus dia patuhi, soal dia yang harus laporan jadwal pergantian kerja kalau diperbarui, segala macam. Mungkin karena efek mengagumi itu, saya mati-matian mengobrol dengan dia dengan nada yang biasa, yang pokoknya bagaimana caranya harus terkesan alami, dan enggak menyelipkan nada keingintahuan fans terhadap idolanya.

Tetapi serius deh. Posisi ini murni menguntungkan saya. Karena dengan itu saya enggak dianggap kepo kalau ingin tahu lebih banyak. Bahkan saya bisa menegur, hal yang enggak bisa saya lakukan kalau saya enggak di posisi ini kalau dia memang melakukan kesalahan lho ya.

.

SOAL kutipan dari Tere Liye itu, oke, saya udah praktik, kan? Saya sudah mengajak bicara dia dan saya jadi tahu apa yang saya enggak tahu. Saya tahu beberapa hal yang entah umum entah spesifik soal A—dia pakai kacamata gagangnya hitam kalau enggak salah, enggak pakai jilbab, rambutnya panjang, dan dia lebih suka berdiri daripada duduk dan yang ini saya ambil kesimpulan sepihak karena jelas ada kursi di sebelahnya tapi kenapa dia berdiri.

A ini orangnya baik atau entah karena efek saya mengagumi kali ya. Hm. Iya sih ya, lebih ke efek karena saya kagum. Pernah sekali atau dua kali dia rewel. Rewel dalam artian mempertanyakan keprofesionalan panitia sih kalau dibilang. Jadi menyebalkan, jadi jatuhnya kayak dia ini mencampuri apa yang seharusnya enggak perlu dia campuri karena yah kamu ini ada di divisi ini jadi seharusnya enggak perlu membahas kesalahan divisi sana kan kan kannnn.

Tetapi yah mungkin udah bawaan dari karakter. Hm karena dia lebih punya pengalaman sih, walaupun dari ranah yang lain—maksudnya dia aktif dalam segala macam begitulah—jadi sifat kritisnya itu bisa jadi lebih maju dari saya yang enggak sempat kepikiran ini dan itu. Kayak misalnya ditetapkan kebijakan ini dan yang lainnya enggak protes karena buat apa sih protes kalau ini sudah kebijakan dan A ini satu-satunya yang tanya kenapa, buat apa, dan kenapa lagi, dan itu enggak segera berhenti jadi bisa enggak sih kamu ini kayak yang lain tetapi mungkin itu yang bikin saya mengagumi dia dan orang-orang kayak dia.

Balik lagi ke kutipannya Tere Liye. Saya sudah melakukan apa yang harus dilakukan kalau kita mengagumi seseorang, dan serius entah kenapa saya malah jadi merasa jauh. Saya malah jadi kayak iya sih saya tahu kalau dia manusia biasa tapi tapi tapi. A memang manusia biasa. Bahkan kalau secara posisi, saya lebih tinggi daripada dia iya kan. Harusnya kalau secara teori, kalau seseorang sudah menemui idolanya dan tahu kalau idolanya bisa dia sentuh bukan fatamorgana yang kalau didekati lalu hilang, tahu kalau idolanya juga orang biasa, itu mulai sadar kalau: hei saya bisa juga kayak dia. Hei saya seharusnya enggak perlu membuang waktu untuk berkiblat sama dia karena toh dia juga manusia biasa yang sama kayak saya dan enggak ada alasan saya enggak bisa menyusul dia. Harusnya sih begitu.

Harusnya.

Tapi enggak begitu dengan saya. Semakin mengobrol sama A, saya semakin merasa kecil. Dengan tanya-tanya soal ini-itu, saya jadi tahu kehebatan A yang mungkin enggak bakal saya tahu kalau enggak dari dia sendiri. Saya bakal enggak tahu kalau A kerja sambilan. Saya bakal enggak tahu kalau A belajar bahasa Spanyol. Saya bakal enggak tahu kalau A pernah membuat kumpulan cerita pendek di akunnya tentang mimpi-mimpi anehnya melawan zombi yang soal ini saya tahu karena saya cari tahu sendiri dengan lacak sana-sini.

.

SEKARANG, setiap kali saya lihat A, semisal dia lagi mengobrol sama salah satu temannya, saya jadi melihat keadaan itu dengan menatap si teman A dengan ekspresi kamu tahu enggak sih kalau orang di hadapanmu itu kerja sambilan? Belajar bahasa Spanyol? Pernah menulis tentang mimpinya melawan zombi? karena A enggak pernah memperlihatkan itu semua ke orang-orang atau seenggaknya enggak dia perlihatkan ke semua orang, karena A menganggap itu bukanlah hal hebat yang padahal itu sisi lain dari dia yang bikin dia semakin hebat.

.

HARUSNYA dengan tahu lebih banyak soal dia, saya jadi sadar kalau A ini manusia biasa. Tetapi semakin banyak saya tahu, justru rasanya semakin jauh jauh jauh karena saya jadi sadar kalau A ini punya sisi luar biasa,

yang bikin saya semakin mengagumi

dan bikin saya merasa semakin enggak mengenal dia sama sekali.

You Might Also Like

0 comment(s)