...cara untuk mengakhiri?

Sabtu, Oktober 08, 2016

Kejadian ini waktu saya kelas sebelas, dan yah sebenarnya banyak hal yang terjadi ketika saya kelas sebelas. Sebenarnya enggak seburuk apa yang mungkin kamu bayangkan, tapi saya mendapat tekanan dari suatu ekstrakurikuler yang saya ikut di sekolah--yang seharusnya saya menjadi bagian dari ekstrakurikuler itu karena saya suka. Karena tekanan itulah, saya jadi menganggap bahwa alasan saya di sini bukan karena saya suka lagi, tapi karena saya butuh untuk melakukan kewajiban saya di sini, dan itu rasanya jadi beda.

Lalu pada suatu hari, kejadian ini datang. Waktu itu saya baru saja jajan di kantin, sedang ke luar dari kantin dalam perjalanan menuju ke kelas. Dari jauh, saya bisa melihat dua kakak kelas saya, mereka sahabatan, lagi jalan mau ke kantin. Seharusnya, kami bertiga bisa berpapasan. Seharusnya, saya bisa diberi kesempatan untuk menyapa, atau minimal melakukan apalah yang bisa disebut dengan wujud dari sapaan, tetapi mereka berdua memilih untuk berhenti berjalan, lalu berbalik badan, dan diam di situ, menunggu sampai saya lewat.

Entah waktunya pas atau pengaruh suasana, tetapi saya ngerasa waktu itu koridornya lagi sepi. Kayak cuma ada kami bertiga. Saya mau melewati mereka, terus mereka berdua lagi diam di depan saya, memunggungi saya.

Sakit sumpah.

Memangnya segitunya ya, sampai mereka enggak mau lihat saya?

Jelas saja saya enggak lewat begitu saja; terima kasih ya. Saya milih buat ambil jalan mutar dan enggak melewati mereka. Saya belok, lalu saya agak melambatkan jalan. Saya dengar mereka berdua kayak ketawa semacam, “Oh, enggak ada, nih?” lalu entahlah mereka mungkin baru mau melanjutkan jalan ke kantin atau bagaimana. Saya sudah lanjut ke kelas, pakai rute memutar yang saya pilih tadi.

Kejadian itu sudah selesai. Tetapi terus teringat, dan kisah terus berlanjut.

#

Sudah ratusan kali, kalau saya memikirkan berbagai macam tekanan tidak enak dan efeknya dalam kehidupan saya waktu itu--pokoknya serba salah, apa-apa yang saya mau lakukan, yang saya mau katakan, saya selalu merasa reaksi manggut-manggut atau apapun itu namanya sebagai bentuk dari kita mendengarkan, kok, itu selalu diselipkan dengan, “Seriously?” yang itu bikin saya rasanya pengin mati saja.

Saya pernah terlibat dalam percakapan ini dengan seseorang yang juga menjadi anggota dari ekstrakurikuler yang saya ikuti,

“Beneran ini, saya harus digantikan dari posisi pemimpin ini.”

“Enggak. Enggak ada yang bisa.”

Ahahahahaha. Terima kasih, sih, walaupun kalau memutar kejadian itu dan ini bersamaan rasanya enggak terobati sama sekali. Maksudnya apa, enggak ada yang bisa menggantikan? Yah, karena semuanya sudah terlambat; semuanya sudah dapat posisi masing-masing, dan saya juga sudah dengan posisi saya, dengan berbagai macam tekanan dari sana-sini atas kewajiban saya yang saya dianggap enggak bisa menyelesaikannya sesuai ekspektasi dari para mereka. 

#

“Kenapa kamu enggak keluar saja?”

...Masalahnya bukan begitu. 

Kalau dikaitkan dengan materi bahasa Inggris kita sekarang, masalah ini merupakan Explanation Text karena terkait dengan social-culture phenomenon--intinya, masalah sosial. Masalah sosial, semacam bullying tetapi berbeda karena apabila bullying itu berarti menerima perlakuan yang tidak adil, masalah sosial yang saya alami ini semacam berarti menerima perlakuan yang dianggap adil oleh si pelaku karena saya dianggap melakukan kesalahan yang pantas diberi masalah sosial agar setimpal.

Jadi, untuk beratus kalimat tanya, “Kenapa kamu enggak keluar saja?” itu membuat saya ingin menjawab, yah masalah enggak akan berakhir dengan saya keluar. Enggak bisa segampang itu, dan untuk mempermudah, apabila ini adalah suatu panggung pertunjukan, maka keluar dari ekstrakurikuler bukanlah cara mainnya. Bukan seperti itu cara mainnya. Kita harus menaklukan semua stage ini sampai akhir permainan.

Lagipula, saya yang waktu itu memilih bertahan karena saya rindu. Saya memilih ekstrakurikuler ini karena kecintaan saya pada hobi saya, dan sekarang, saya kehilangan alasan saya satu-satunya itu dan seharusnya tidak ada lagi alasan yang membuat saya terus ada di ekstrakurikuler ini. Tetapi saya rindu, saya ingin merasakannya lagi, saya percaya kalau akan ada hari di mana saya menemukan alasan saya yang sekaran hilang.

Itulah mengapa saya bertahan. 

Sampai, literally, detik ini.

#

Sekarang, saya kelas dua belas. 

Sudah mempersiapkan untuk buku album kelulusan. Foto kelas, foto dengan kelompok-kelompok yang terbagi di kelas, foto bersama wali kelas, dan tentu saja, foto dengan ekstrakurikuler masing-masing. Menjelang harinya foto dengan ekstrakurikuler masing-masing, ada masalah yang kesekian, di ekstrakurikuler saya ini.

Masalah sepele (sebenarnya, sejak kapan sih ada masalah yang langsung besar? Sepertinya segala masalah--setidaknya masalah saya--berawal dari hal-hal sepele) yang lalu dibesar-besarkan, dan sekarang benar-benar menjadi besar. Masalah ini bukan berawal dari kakak kelas yang merasa tidak percaya saya bisa menjadi pemimpin yang baik. Tetapi keraguan akan kemampuan memimpin saya berasal dari teman-teman saya sendiri.

Rasanya bukan sakit lagi. Tetapi to be honest, perih, sih. 

#

Lalu, ada suatu kejadian. Hari itu hari Sabtu, sementara besok Senin, akan ada foto ekstrakurikuler untuk dipasang di buku album kelulusan. Saya terlibat percakapan dengan teman baik saya, menyinggung soal salah satu teman saya yang sikapnya semena-mena, mengatur seenaknya dan keluar dari groupchat setelah ceramah panjang lebar.

Sepertinya saya salah memilih kata-kata atau salah mengatur nada suara ahaha tetapi maksud saya, dia itu didiamkan saja. Dan sikapnya tidak seburuk itu, karena pada akhirnya toh si dia berkata kalau tidak mau dituruti ya sudah tidak apa-apa. Teman baik saya menganggap kalimat yang saya ucapkan tidak ada intinya, dan saya menaruh kesimpulan bahwa dia menganggap saya begitu karena saya tidak bersikap seperti apa yang dia ekspektasikan, habisnya saya sudah terlambat praktikum lalu kamu mengajak bicara begitu, waktunya enggak tepat banget tahu?

Lalu, setelah saya selesai praktikum, saya bertemu teman baik saya. Sedang bersama seseorang yang mempunyai posisi sebagai tangan kanan saya, dan seseorang yang menjadi wakil saya. Mereka bertiga sedang berbicara. Saya datang. Mereka diam. Wakil saya langsung pergi. Teman baik saya tidak membalas sapaan saya. Saya berbicara sebentar yang entah pada siapa lalu saya pergi.

Mereka membicarakan saya, dan persoalan benar atau tidak itu tidak memerlukan bukti karena, hei, saya punya perasaan, saya bisa berpikir, saya tidak sebodoh itu, 

dan ngomong-ngomong kejadian ini pernah saya alami setahun yang lalu. 

#

Kejadian pertamanya waktu saya kelas sebelas. Saya mengalaminya lagi di kelas dua belas ini. Ada kesamaan dari dua kejadian itu, intinya, mereka meragukan apakah saya bisa memerankan posisi saya dengan baik, mereka tidak percaya apakah saya bisa yang entahlah, kejadian ini sudah yang kedua kalinya jadi sepertinya saya memang tidak baik dan tidak bisa? 

Tetapi tentu saja ada perbedaan; yaitu apa yang saya lakukan kemudian.

#

#

After photo’s session for year book--hopefully it can hide their unharmonious that so easy to detected in real life. The boy is talking to the girl, want to remember her about something, an appointment that already arranged, an appointment that she should attend.

“Huh? I can’t,” she answered, with her usual tone.

“Seriously, you--you have to come.”

“Have not.”

“Have to.”

“Not.” She stop walking, lift her head, looking the boy. “I quit.”

The boy wide his eyes. “No way.” 

“It’s true,” the girl give the boy a little grin, “for real.”

“...”

Then silence, the boy open his mouth to saying something, but then shut again, then open again. “Really, you--” silence for a moment, the boy take a breath, “you will be killed. By all of them.”

“I already death, you know. Didn’t you realize that you’re talking to a ghost?”

That’s a stupid joke. The boy looking the girl’s eyes, know that he couldn’t do anything that make the girl in front of him want to attend the appoitment. But, he don’t understand. And both the boy and the girl know, that the boy never understand. “Since when you’re being so--easy to release it all?”

“No, I’m not,” the girl smiled. “I should have done this for a long time ago.”

You Might Also Like

0 comment(s)