ataxia.

Senin, Oktober 10, 2016

(Sudah lama enggak nulis blog sambil nangis, hehe. Sebenarnya ceritanya enggak begini, percakapannya juga ada yang via chat dan enggak secara langsung. Tapi biar lebih mudah dibayangin saja, ya.)

#

Saya punya teman baik. Namanya A.P., panggil aja dia P. 

Kejadiannya, minggu pertama, bulan Oktober, tahun ini.

Saya enggak begitu dekat sama dia, karena saya enggak mengikuti kesehariannya dia. Hanya saja, waktu itu, saya ada dalam lingkarannya ketika dia menyeletuk. Celetukannya cukup panjang. Tentang dirinya. Awalnya saya tidak begitu memperhatikan, tetapi, ada yang membuat saya terusik dari ceritanya.

"Aku mau tanya. Aku ini anaknya suka jatuh. Jadi, misalnya enggak ada apa-apa gitu, terus jatuh sendiri."

Yang lain menyimak dengan mengangguk-anggukan kepala, sementara saya diam. Batin saya seolah berkata, tunggu dulu. Tunggu dulu.

"Pernah juga jatuhnya kayak... gimana, ya. Aku tuh, sudah tahu kalau bakal jatuh. Tapi tetap saja jalan. Misalnya di depanku ada batu, aku tahu aku bakal kesandung dan aku mikir bentar, harus ngehindar, hati-hati. Tapi tubuhku... enggak sinkron?"

"..."

Waktu saya kelas sepuluh, ada J-Drama yang saya suka. Judulnya One Litre of Tears, menceritakan tentang seorang gadis penderita penyakit dengan gejala yang sama.

"Ini kenapa, ada yang tahu? Enggak terlalu sering, sih. Tapi, sehari bisa sampai empat atau lima kali."

Tidak ada yang tahu.

Sepuluh menit. Belum ada respons yang berarti.

Saya tak tahan. Saya menoleh.

"Pernah tahu Ataxia?" 
kata saya.
 
#


Karena itu, kami jadi bicara. Saya bercerita sekilas, dan saya menyarankan untuk coba cari informasinya di internet--karena saya enggak bisa menjelaskan lebih lanjut. P memutuskan untuk langsung mencari tahu tentang penyakit itu dengan bantuan mesin pencari. Situs-situs dia buka. Berbagai sumber dia baca. Menit berlalu, belum ada tanggapan dari dia, sementara dia terus menerus mencari. Begitu pula dengan saya. Saya ikut mencari, saya ikut membaca.

Ataxia. Nama lainnya, Penyakit Degeneratif Syaraf. Penyakit yang menyerang otak kecil dan tulang belakang, menyebabkan gangguan pada syaraf motorik. Gejala awalnya, penderita akan merasa lunglai saat berjalan, akan sering jatuh, sulit menggapai barang dalam jarak dekat, ingin bergerak tapi tidak bisa bergerak, ingin bicara tapi tidak bisa bicara.

"...Kok gejalanya persis semua sama aku?"

"...."

Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, tanpa pandang bulu.
Penyakit langka. Belum ada obatnya.

Sampai sekarang, 
belum ada satu kasuspun mengenai pasien ataxia yang dinyatakan sembuh.

#

Minggu kedua, bulan Oktober, tahun ini

Dia periksa.

#

#

#

Hari ini. Ada percakapan antara saya dengan P.
 "...Beneran, Sya."

"......hah?"

Saya kaget, banget. Nggak mungkin, ini nggak mungkin, nggak mungkin, nggak mungkin! Nggak mungkin, penyakit mematikan ini nggak mungkin diderita sama kamu, P, nggak mungkin....

"BOHONG!"
"Aku ingat harus ngabari kamu."
"...Bohong."

"Aku harap juga dusta."

"..."

"...Aku memang apa-apa enggak bisa konsentrasi, sih. Kadang bolpoin kelepas dari genggaman. Atau kadang aku kesandung sesuatu. Ternyata, memang masalahnya di otak belakang."

"..."

"...Boleh aku nangis sekarang, nggak?"

#

#

Satu-satunya kata yang selalu berputar-putar di kepala saya itu cuman bohong bohong bohong bohong bohong. Astagfirullah. Ya Allah. Ini nggak mungkin beneran. Jangan. Jangan, jangan, jangan, janganjanganjangan. Saya belum baca yang jurnal, saya baru membaca di internet yang di situ dikatakan kalau penyakit ini..... Ataxia ini, belum ada obatnya. Baru ada terapinya.

'Kejahatan' penyakit ini adalah, Ataxia enggak membuat penderita kehilangan kecerdasan. Penderita tahu banget apa yang terjadi sama dia. Otak bagian kecerdasannya enggak bakalan kenapa-kenapa. Dia bakal bisa langsung tahu apa jawaban dari satu ditambah satu. Tetapi mulutnya enggak bisa mengucapkan itu. Tetapi tangannya enggak bisa menuliskan itu. Bagian tubuhnya, otot-otot lengan kaki, enggak ada yang bisa membantu dia membuat orang yang menanyakan soal itu mengetahui kalau dia bisa. Enggak ada. Tetapi otaknya tahu; jawabannya dua.

Kamu, kamu, kamu, harus sembuh. Harus bisa. 
Harus, harus, harus. Harus! Sembuh!!!!!!!!

You Might Also Like

0 comment(s)