kalah kalah kalah.

Minggu, Agustus 07, 2016

(warning: unpopular opinion.)

aku masih betah nulis tanpa pakai huruf kapital. kayaknya, lama-lama aku bakal bertahan dengan mode kayak gini gara-gara aku selama empat belas hari penuh dituntut buat bikin suatu berita, suatu peristiwa yang gimana caranya harus bisa jadi berita, dalam suatu acara kompetisi basket antar sekolah bernama DBL; development basketball league. dari sma 6, aku jadi penulisnya, dan temenku, angie--anak sinematografi, jadi fotografernya.

deadlinenya per hari itu jam delapan malam. yang bikin sesek itu adalah pertandingan namche baru selesai jam delapan malam--kan ya gimana maksudnya? berarti aku harus bikin berita tentang pertandingan sekolahku dan harus kuaplot bahkan sebelum sekolahku selesai bertanding? ya karena itu nggak mungkin, mana aku kan harus wawancara para pemainnya juga kan, aku pasti telat satu atau dua hari ngumpulinnya.

tapi tetep aja kepalaku bunek, karena sebenernya bahasa berita itu diulang-ulang. kita cari datanya trus kita tulis trus kita cantumin kutipan kata-kata narasumber yang kita wawancarai, habis itu kita tambahin lagi beberapa, trus cantumin lagi, trus udah. aku nggak suka nulis kayak ginian soalnya ini menyiksa--meskipun udah nemu apa yang mau kita angkat buat jadi tema berita, kita nggak boleh seenaknya nulis karena kita masih harus cari narasumber buat kita tanyai pendapatnya--dan kita harus nulis berdasarkan opininya dia. kecuali kalau kita bisa mengendalikan seseorang, kita buat aja suatu sihir biar opini narasumber itu sesuai sama opini kita entah gimana caranya (biasanya butuh dipancing beberapa kali) dan nanti dapet. tapi ya gitu, deh, kepalaku bunek (2).

aku masih hutang dua pertandingan namche yang belum aku tulis--padahal nanti namche tanding lagi, pertandingan terakhir di babak penyisihan grup. dari semua pertandingan namche, ini yang paling bikin aku deg-degan dan aku sebenernya nggak mau liat kalau aku nggak diwajibin buat ngeliput--serius. aku takut sama hasilnya. semoga kita bisa lolos ke babak delapan besar dan mencapai target kita di tahun ini ya :'> aamiin.

trus balik ke apa yang pengin aku tulis. kalah kalah kalah. kenapa aku nulis ini? aku kepikiran ini pas aku habis ngewawancara kapten basket namche tim putra pas mereka alhamdulillah menang di lawan pertama mereka. aku kan buat liputannya pas pertandingan sekolah lain (jadi aku sibuk nulis di tengah-tengah teriakan dan lompatan para suporter liar--entah kapan bisa aku temui diriku yang kayak gini lagi) trus di tengah-tengah usaha merangkai kalimat demi kalimat, aku berhenti. capek ;_; dan aku mutusin buat liat pertandingannya sebentar.

sengit banget. smada lawan siapa gitu aku lupa. tapi itu saling kejar-kejaran--giliran smada yang nyetak dua poin, habis itu lawannya cetak dua poin. jadi skornya saling salip-salipan, kadang smada yang unggul, habis itu lawannya yang unggul. gitu terus selama satu kuarter penuh. sebenernya aku juga nggak gitu tahu apa yang bikin aku kesambet mikirin ini (mungkin faktor kesepian(???)?) tapi aku jadi bayangin--siapa aja sih sebenernya yang sedih kalau sekolah dukungannya itu kalah?

karena aku sebagai seseorang yang dituntut buat bikin liputannya aja nggak akan sanggup nulis berita tentang kekalahan sekolahku sendiri. udah nggak tau mau dari mana nulisnya, aku kan juga harus ngewawancara pemainnya buat tahu apa kira-kira faktor yang bikin mereka kalah berdasarkan opini mereka. nah--aku ngewawancarainya mau mulai dari mana? trus nanyanya apa aja? belum kalau udah dapet datanya--aku nulisnya emang sanggup ya? T___T

aku salut sama para pemain yang kalah--dan mereka masih sanggup menatap suporter mereka dan nyanyi mars sekolah. entah kenapa mataku selalu panas :") (iya tau sya yang nangis pas jb kalah sama bosa) gimana sih rasanya ditonton sama suporter yang 'nggak peka' sama papan skor yang udah jelas menunjukkan pahitnya kenyataan--mereka sibuk nyanyi-nyanyi terus, jingkrak-jingkrak bahkan pas waktu juga udah makin menipis--the udah-nggak-mungkin-bisa moment lah. trus pada akhirnya waktu bener-bener habis--dan suportermu masih sanggup tepuk tangan, masih nyambut dengan bangga pas kamu nyamperin mereka. the feels :""")

karena dengan modal id card jurnalis dbl bikin aku alhamdulillah bisa masuk gratis, aku kan selalu nyempetin ke sini setiap hari--sampai sejauh ini baru dua hari aku nggak ke gor uny. entah udah berapa pertandingan yang aku lihat--dan tahun lalu jelas aku nggak kayak gini, aku dateng cuma kalau sekolahku tanding aja--hemat duit orz makanya dbl tahun ini aku sering banget nonton pertandingannya--dateng trus registrasi trus ke pintu masuk trus nunjukin id card trus tangannya dicap. lalu masuk, liat papan skor, dan barulah ngecek jadwal sekarang yang tanding sekolahnya siapa sama siapa orz

ada sekolah yang nggak bawa suporter--ada. malah boleh jujur sih--aku sebenernya dilema pengen ngasih pendapat aku setuju dengan tindakan itu atau enggak. tentu nggak semua sekolah yang nggak bawa suporter itu aku tahu alasannya--tapi pasti kan ada yang nggak bawa suporter karena terlalu pesimis--dan yakin apapun hasilnya, itu nggak bikin kenyataan berubah soal mereka lolos atau enggak dari babak grup. 

tapi ya--ya--walaupun kondisi kayak gitu emang pahit, tapi sebenernya siapa sih yang--oke aku bilang aja ya--siapa sih yang berhak lebih sedih? kalau kalah, siapa yang berhak lebih kecewa? kita tahu semua kecewa kalau sekolah dukungan kita kalah (aaaaaaaah jebe kalaah demi apa demi apa demi apa?????) tapi gimana sih rasanya para pemain yang dituntut buat ngubah kenyataan angka yang terpampang di papan skor? dan gimana sih rasanya nggak ada yang dukung? :"DD sementara suporter lawannya liar banget di tribun sebelah sana :")))

karena dbl tahun ini aku nggak duduk di tribun suporter--aku duduk di tribun umum biar bisa nulis--makanya aku nggak ikutan heboh berdiri di kursi dan saling rangkulan atau gimana pas suporter namche sibuk nyanyi--paling aku ikut nyanyi aja kalau aku hapal liriknya. tapi kan dbl tahun lalu aku pernah, dan aku tau gimana capeknya nyanyi-nyanyi segala macam, atau pas nyanyi hymne sekolah penuh kebanggaan :"))) sekarang karena tahun ini aku ambil kesempatan buat jadi pengamat--makanya pikiranku jadi bercabang ke mana-mana. makanya bisa kepikiran kayak gini orz

udah yaa.

You Might Also Like

0 comment(s)