3Day: jika aku tidak sekolah

Rabu, Juli 20, 2016

Halo. Hari ketiga ini ada topik sendiri nih, dari hai!. Nama topiknya, "jika aku tidak sekolah". Sekarang aku sudah kelas dua belas, dan aku pernah mikir kalau 'apa yang kulakukan sekarang ini nggak akan kulakukan kalau aku nggak sekolah'. Ini semacam kilas balik, tapi ya sudahlah, mungkin inilah saatnya label flashback kita pakai, ya.

Kalau aku nggak sekolah, aku bakal jadi apa?
Tentu kita sempet denger seseorang yang mengatakan kalau pelajaran di sekolah itu nggak semuanya benar-benar bermanfaat di masa depan. Atau ada kutipan bahwa kita menjadi murid agar kita bisa menjadi guru. Atau apalah, yang intinya menyuruh kita menganggap bahwa kita nggak ada gunanya sekolah. Waktu aku bikin press-release RdS kantin ketiga (di sini) si pembicara bilang, kalau ada seorang pelajar yang ditanya, "Kenapa kamu bersekolah?" dan justru membalas, "Iya, ya. Kenapa ya, aku bersekolah?"
Bukannya sekolah itu berguna, dan bukannya sekolah itu nggak berguna juga. Tapi ada kalanya keseharianku jadi berwarna bukan karena aku bersekolah, tapi karena titel aku seorang pelajar. Dengan aku bersekolah, aku bakal dipandang sebagai seorang pelajar, dan aku punya bukti bahwa aku seorang pelajar. Sebenernya, itulah yang kita butuhkan.

Ada berbagai macam kegiatan di luar sekolah, semacam ikut seminar atau lomba-lomba, dan syarat utama yang paling sepele dan nggak kita lirik apa? 
Peserta harus seorang pelajar SMA/sederajat.

Kalau aku bukanlah seorang pelajar SMA, katakanlah, aku nggak bakal bisa bergabung jadi kepanitiaan di sekolahku. Oke, ini jelas--maksudku, aku nggak bisa ikut kegiatan manapun di sekolahku kalau aku nggak jadi pelajar, kan? Ganti. Apa aku bisa jadi reporter KACA kalau aku nggak sekolah? Nggak bisa. Mungkin suatu hari yang sangat selo tanpa kutahu itu hari apa, yang bisa dilakukan oleh aku-yang-nggak-sekolah adalah baca koran dan baca rubrik KACA dan baca lowongannya dan sadar kenyataan kalau syarat pertamanya bahkan nggak bisa kupenuhi.

Aku nggak akan bisa gabung dalam SILATNAS--singkatan dari Silaturahmi Nasional. Aku nggak akan bisa jadi Sie Dana Usaha di sana, atau jadi LO pada pelaksanaannya. Nggak bisa bantu ngebuat pin-pin yang jumlahnya sangat banyak atau ngeguntingin kertasnya jadi bunderan sampai tanganku pegel. Nggak bisa kenalan sama anak-anak dari luar pulau atau ngeputerin tiap kamar suruh kumpul karena kegiatan sudah dimulai. 


Aku nggak akan bisa gabung RdS--Ramadhan di Sekolah. Jelas, aku bukanlah pelajar sekolah, untuk apa aku jadi bagian suatu kepanitiaan yang punya kata "Sekolah" di namanya?

Aku nggak akan bisa jadi script writer Gamabox. Nggak akan bisa tahu format penulisan skrip di televisi, nggak bisa diajak melihat dan belajar bagaimana proses syuting film, atau keliling sampai alun-alun untuk janjian sama talent. Aku nggak akan bisa nulis postingan di hari pertama (di sini) pakai tambahan-tambahan tulisan SCENE dan segala macam.

Juga, aku nggak bisa jadi reporter majalah hai, wkwk. (sya.)

.

.

Seminar pertama di kelas sepuluh yang aku ikutin adalah tentang fiksi ilmiah selama dua hari di hotel apa aku lupa namanya. Sementara seminar terakhir yang aku ikutin adalah tentang televisi dan sebagaimnya di GSP--sama anak jurnalistik. Atas nama sekolah juga aku pernah ikut pantonim, dan apa lagi ya. Aku nggak mungkin bisa juara lomba majalah dinding karena nggak ketemu Lusi hehe.


Trus. Sebenernya ini yang bikin aku kepikiran tapi; aku nggak akan bisa jadi jurnalis di DBL. Jadi jurnalis di ajang basket terbesar kayak DBL adalah hal yang sebenernya aku pengenin sejak aku kelas sepuluh dan kenal DBL, akhirnya bisa terwujud sekarang. Apalah aku kalau nggak sekolah; bisakah aku jadi kayak aku yang sekarang? Enggak kan?

.

.

[waspada: rasya mulai nge-rant.]

Jujur aku bingung dengan topik ini ;--; Memang sih topiknya adalah "jika aku tidak sekolah" dan kita disuruh menceritakan kehidupan kita apabila kita tidak bersekolah, tapi alih-alih poinnya tentang "manfaat sekolah bagi pengembangan pendidikan kita", menurutku lebih ke arah "bersyukur atas apa yang menjadikan kita seperti kita yang sekarang". 

Dengan membayangkan aku nggak sekolah, yang lebih lanjut kupikirin adalah 'aku nggak akan bisa begini, begitu' blablabla sampai 'aku nggak akan bisa duduk dan nulis postingan kayak begini kalau aku nggak sekolah'. Karena, nggak mungkin kan, aku nulis postingan bertopik jika-aku-tidak-sekolah kalau aku sendiri nggak sekolah? Oke. Selanjutnya, soal "apakah itu membuat kesadaran belajar kita meningkat atau enggak", itu relatif--tergantung kita, tergantung di topik apa kita sensitif untuk tergerak.

Intinya apa ya orz Aku nggak bisa bener-bener jawab topik ini karena yah, aku pernah ada di masa di mana aku pengen nggak kuliah dan alhamdulillah aku bisa melewati tahap itu (sekarang aku mau kuliah kok), tapi setidaknya berkat itu aku jadi nggak seenaknya bilang, "Bersyukur dong, seenggaknya kamu sekolah. Dari pada enggak?" begitu deh. Kita nggak bisa men-judge posisi seseorang yang nggak sekolah itu nggak bahagia. Maksudku; memangnya kita bahagia dengan sekolah? Kupikir kata bahagia dan sekolah nggak akan pernah bisa ketemu.

Jadi, pertanyaan "kalau kamu nggak sekolah, kamu bakal jadi apa?" menurutku susah untuk kujawab sendiri. Aku yakin aku bakal tahu jawabannya kalau aku ada di posisi itu, dan kupikir aku yang nggak sekolah juga akan kesusahan dengan pertanyaan "kalau kamu sekolah, kamu bakal jadi apa?" karena itu nggak terjangkau olehku (baik aku yang sekolah maupun yang enggak). Itu bener-bener nggak terbayang dan aku nggak tau seperti apa lingkunganku apabila ditempatkan di setting semacam itu.

Kayaknya postingan ini bukan tentang perenungan ya orz Ini justru hasil ramblingan-ku yang sibuk mencari poin dari topik ini, dan jawaban dari pertanyaan yang diajukan.

Kuulangi--ini menurut pandanganku lho ya. Yang bikin aku bahagia sampai detik ini bukanlah sekolahnya, tapi apa yang diberikan sekolah kepadaku berupa titel pelajar, dan perjuanganku untuk membanggakan sekolah dengan titel pelajar yang telah diberikan. Tapi, yah, aku yakin, atas nama Rasya, dia bakal bahagia dengan caranya sendiri. 

#7HariBercerita
Rasya Swarnasta

You Might Also Like

0 comment(s)