2Day: editorku.

Selasa, Juli 19, 2016

Tahu, kan, NaNoWriMo (National Novel Writing Month)? Pernah kusinggung di sini. Nah, bulan Juli ini, NaNoWriMo mengadakan Camp!Nano, yang artinya kegiatan nulis kecil-kecilan selama satu bulan. Berbeda dengan NaNoWriMo yang pasang target sahih 50.000 kata, Camp!Nano ini membebaskan kita mau pasang target berapa. Karena ini awal masuk sekolah juga, makanya aku pasang target 15.000 kata. Ada yang memanfaatkan itu untuk pasang target sedikit (kayak aku, lol) dan parahnya ada juga yang memanfaatkan itu untuk pasang target 100.000 kata atau lebih, sungguh super-human orz

Nah, 15.000 itu menurutku jauh lebih susah. Sebenernya karena harus pinter-pinter mencuri waktu juga, sih. Tapi yang membuat susah di sini karena aku pengen menulis sesuatu yang beda; aku pengen nulis tentang dunia paralel -- aku pernah nulis tentang parallel universe di sini. Bukannya aku percaya itu, sih, tapi -- oke kalau pembicaraannya seputar percaya-dan-enggak atau bolehpercaya-dan-enggak, maka keburu tengah malam kayak kemarin. Lanjut. Sebenernya aku terinspirasi sama cerita yang aku taksir berat (baca di sini) tentang dunia paralel juga. Dia bisa membuat cerita kayak begitu dengan jumlah 15.000 kata -- sungguh luar biasa.

Aku nulis dengan bersemangat dan begitu udah sampai kata ke 8000, aku terhenti orz Aku bingung mau ngelanjutin gimana dan kenapa terkesan antiklimaks begitu tolong aku. Akhirnya -- aku cerita kan, kemarin, kalau aku jadi panitia ajang penghargaan cerita-cerita penulis Indonesia di suatu situs? (di sini) Nah, di situs itu kebetulan ada daftar penulis yang membuka jasa mereka jadi editor cerita sebelum dipublikasikan. Aku pilih satu, dan langsung kuhubungi dia.

Dialah editorku. Seseorang yang akan aku ceritakan di sini. Dia sibuk mengurus keponakannya, tapi untunglah masih mau membalas pesanku dan mau menerima tawaran itu. Kukirimi cerita delapan ribu kata yang sudah kubuat, dan aku menunggu beberapa hari sampai dapat tanggapannya dari dia. Dan, oke, terus terang, dia menjalankan tugasnya sebagai editor persis kayak yang aku butuhkan. Soalnya dia itu:

S a d i s .

Cukup kan, ya, satu kata itu untuk menggambarkan bagaimana karakternya dia. Oke dia nggak sesadis itu, tapi yah, pada dasarnya memang banyak di cerita buatanku yang butuh berbagai macam perbaikan. Ada beberapa kata yang sama dia diberi warna (highlight) dan inilah peraturannya:

  • Kuning, untuk kata yang sebaiknya dihapus.
  • Biru, untuk kata atau kalimat yang sebaiknya diganti dengan kata atau kalimat yang lebih baik.
  • Hijau, untuk kata atau kalimat yang peletakannya salah.

Begitulah. Sebagai editor, menurutku dia keren karena bisa sampai segitunya, menawarkan diskusi bareng walaupun dengan perantara google docs. Dan gara-gara dia aku jadi tahu:

Satu: Verbal tic itu sebenarnya nggak perlu dicantumkan. Karena yah, namanya juga itu adalah ciri khas seseorang setiap kali ia berbicara, dan itulah gunanya tulisan; membuat semuanya jadi jelas dengan kata-kata.

Oh, ngomong-ngomong, ini pengertian dari verbal tic:
You do if you use a sound or a phrase over and over again while you are speaking.

Misalnya, kamu pasti punya kan, teman yang setiap kali dia bicara, dia selalu bilang "umm"? Itu namanya verbal tic. Nah, kalau kamu pengen membuat karakter yang punya kebiasaan kayak gitu, bakal jadi susah jatuhnya semisal kamu menuangkannya dalam bentuk tulisan. Karena yah, gimana caranya pembaca tahu (atau setidaknya; ingat) karakter yang punya kebiasaan bilang "umm" kalau setiap kali karakter itu ngomong, kita nggak boleh mencantumkan itu? Sungguh suatu PR yang zuzah :')))

Dua: Suffix (macam-macam panggilan dalam bahasa Jepang) ternyata nggak perlu dimiringkan. Dulu waktu aku pertama kali pakai ini, aku nggak pernah ngemiringin, tapi lambat laun aku semakin berpedoman pada EyD yang sekarang jadi EBI, dan berpikiran sempit kalau semua kata yang nggak ada di EBI harus dimiringin. Makanya, kalau dulu semisal aku nulis Rasya-chan, jadi kuganti Rasya-chan. Ternyata itu salah orz (itu bukti penurunanmu, sya.)

TigaEditorku itu juga menjelaskan soal PWP. PWP adalah singkatan dari Porn Without Plot, suatu cerita di mana penulis hanya mengutamakan tentang hal-hal yang 'memuaskan' semata tanpa peduli gimana cara hal itu bisa terjadi. Jangan salah sangka lho, ya! Di ceritaku nggak ada hal semacam itu sama sekali! orz Maksud editorku yang sadis itu, ceritaku bisa dikategorikan kayak gitu karena datar dan belum ketemu klimaksnya.

Belum menemukan klimaksnya. Datar. Cerita 15.000 kata sudah harus memiliki struktur novel. Walaupun tentu ada juga cerita super panjang tanpa klimaks - i mean, that's the point of porn without plot really. - my editor said.

EmpatSelanjutnya, tentang dialog-dialog yang aku tulis. Dia bilang kalau ada beberapa kalimat yang masih baku -- bahkan terlalu baku untuk diucapkan. Saran dari dia, coba dialog itu diucapkan keras-keras. Aku sempet tahu hal ini, sih, soal cara untuk tahu cocok atau enggaknya kalimat yang kita pakai dengan baca keras dan nge-judge sendiri. Tapi nggak pernah kupraktekin karena -- yah, kita harus berdiri dari tempat duduk untuk ke luar atau ke ruang yang cuma kita yang denger lalu ngomong gitu? Mager sekali ya kan orz (sya.)

LimaIni yang terakhir: referensi cerita yang harus aku baca.


Itu kalau nggak di-print dengan model jadi dua bagian gitu, ada 26 lembar HSHSHS. Dia ngasih dua referensi cerita, yang satu bahasa Inggris dan yang satu bahasa Indonesia. Aku pilih untuk memahami cerita yang bahasa Inggris dulu soalnya aku maso sih, ternyata dikasih cerita 9663 kata. Lumayan lah siapa tahu bisa bermanfaat dalam mendalami kemampuan berbahasa Inggrisku yang masih dangkal :') Aamiin.

Aku udah baca itu sekilas, cerita itu punya tema yang hampir sama. Bedanya kalau aku tentang dunia paralel, jadi si tokoh pindah ke dimensi lain dan di dimensi itu semuanya beda dengan apa yang terjadi di dimensinya. Sementara untuk cerita ini, dunianya berulang. Dia melakukan suatu kegiatan selama sehari penuh, dan begitu dia bangun lagi, kejadiannya sama persis dengan apa yang baru saja terjadi. 

"What are the team's plans for lunchtime?"
"There's a place--"
"Opposite a Yoshinoya branch, so that he can have his gyuudon."
"Yes. You're as prescient as ever."
"Thank you. I'll see you there." He hung up and shut his eyes as he stood in his bedroom, still wearing his pyjamas, his mind wandering out in circles.

It was the 29th of December.
It was the 29th of December again.

Aku suka bagian yang itu XD Oke, terlepas dari bagian itu -- ini total halamannya banyak banget orz

Ngomong-ngomong, aku suka pengalamanku dengan editor pertama ini. Aku jadi nambah banyak ilmu dan belajar bersabar dan nggak terburu-buru sama hasil karya sendiri :') Asyik lho! Sudah, ya.

#7HariBercerita
Rasya Swarnasta

.

.

p.s.: random story about today in school.

Sudah dibentuk kepengurusan kelas. Jadi bendahara, nih. orz

Segala ketidakjelasan dengan Dhiar, Jihan, Afi, dan Fatma selama pelajaran bahasa Inggris yang kosong tadi mempunyai pesan bahwa warna hijau bisa jadi begitu lucu :')))))

Lisa udah les, gaes. Mendadak aku merasa tertinggal. (penting)

You Might Also Like

0 comment(s)