1Day: xii ipa lima dan lain-lain.

Senin, Juli 18, 2016

SCENE 0. INT. rumah NIGHT

Halo. Akhirnya setelah liburan yang panjang dan petualangan-petualanganku yang entah apa tujuannya sejak aku masuk di SMA ini, ada juga masa di mana aku kelas dua belas. Kelasku di 12 IPA 5, nama kelas dan ruangan yang beda sama yang pernah ada di mimpiku—terbukti mimpi itu nggak selalu bikin déjà vu.

Ruangannya hampir sama kayak ruanganku di kelas sebelas dulu, bedanya kalau kelas sebelas di lantai dua, kalau kelas dua belas di lantai satu. Jadi, jarak antara kelasku yang sekarang dan yang dulu cuma atas-bawah aja. Tetap ada aula yang menghalangi cahaya, dan tetap gelap, tapi karena aku kelas sebelas nggak ada bedanya (dan aku di kelas sepuluh juga di EP yang tahu-kan-itu-ruangan-yang-gelapnya-kayak-gimana) jadi aku nganggapnya terang.

Oke. Mungkin karena sekarang aku aktif nulis lagi di KR, aku jadi tiba-tiba kangen sama model nulis skrip selama aku di gamabox. Makanya ada scene-nya segala—cuma itu aja kok. Sekarang aku bakal cerita keseharianku dari awal di sekolah ya.
.

SCENE 1. INT. kelas DAY

Aku sampai di sekolah agak pagi, karena aku dianterin bareng sama adekku, Dek Dama, yang sekarang lagi tegang-tegangnya MOS hari pertama di SMA-nya. Aku masuk lewat gerbang barat, dan pilih jalur lewat kantin biar bisa langsung ke koridor kelas dua belas mulai dari 12 IPA 1. Ngomong-ngomong, ruangan yang ada di mimpiku sekarang ternyata jadi ruang komputer—ini nggak penting.

Kelasku ada di R106. Penuh dengan wajah-wajah baru, mereka semua temen-temen sekelas yang bakal bareng-bareng terus sampai kita lulus. Karena aku tergolong telat masuk (kelamaan di koridornya, sih) aku satu bangku sama Afi di meja paling depan. Untung nggak di persisnya meja guru. Sebelah kita ada Dhiar sama Jihan, lalu ada Fatma juga di belakang.

.

SCENE 2. EXT. lapangan upacara DAY

Nggak ada upacara, guru-guru yang dateng juga cuma beberapa. Sayang banget sih, itu pertama kalinya aku ada di barisan depan pas upacara. Jadi ternyata tiap kelas harus berbanjar tiga dan awalnya kelasku masih berbanjar dua. Otomatis harus ada yang maju kan, dan ya sudahlah aku maju—aku pinjem topinya Fatma karena aku nggak bawa topi. Dan Jihan, dia juga di barisan depan, juga pinjem topinya Fatma. Fatma bawa dua topi dan dipinjem semua, sungguh baik, terima kasih Fatma orz

Guru lainnya ada di aula buat ngebimbing anak-anak kelas sepuluh yang baru masuk, dan di sana juga cuma ada dua angkatan. Karena mikrofonnya nggak bisa nyala, kita nyimak aja suaranya Pak Kris yang bilang kalau sekarang bakal ada salim-saliman antar siswa dengan guru. Yang nanti merambat sampai jauh entahlah ke mana, sampai bentuk uwer-uwer nggak jelas di lapangan ini, terus ke kantin, terus ke mana-mana gitulah sampai habis.

Yang kita was-was itu kalau kita ada di posisi yang bakal jadi penentuan rambatan selanjutnya—misalnya belok atau enggak, semua tergantung pas di-kita-nya. (Rasya ke Dhiar, cetusan permasalahan nggak penting.)

Untungnya kecemasanku nggak terjadi karena yang aku sama Dhiar peranin cuma nerusin aja rambatan yang udah ada, nggak di posisi yang harus membelokkan atau meluruskan gitu. Walaupun sebenernya rambatannya hancur banget XD Kita cuma uwer-uwer di lapangan upacara, seperti yang sudah diprediksi. Untungnya cuma dua angkatan jadi ya nggak sampai bumpet (tahu kan, maksudku, pas rambatannya udah semakin bulet dan semakin ke tengah dan jadi nggak ada jalan untuk yang selanjutnya?).

.

SCENE 3. INT. kelas DAY


Setelah ini selesai, ada jeda istirahat sehabis upacara. Aku lalu main ke kelasnya Lisa, dia di 12 IPA 6, kelas kita sebelahan (lagi). Trus ada pengumuman pelajaran mau dimulai, jadi ya, aku ke kelasku. Ternyata kelasku langsung kemasukan gurunya orz Jam pertama-kedua Bu Tri, guru Kimia. Untungnya belum materi, cuma pengenalan karakter beliau dan nawarin LKS di ruang guru.

Setelah itu, jam kosong terus sampai pulang—tapi kita nggak langsung cerita tentang pulang sekolahnya. Istirahat pertama, kita berlima—aku, Afi, Dhiar, Jihan, Fatma, ke mushola untuk salat Dhuha. Terus habis itu aku ke kelasnya Lisa. Lalu jajan ke kantin.

Setelah itu, kita bener-bener nggak ada kerjaan karena nggak ada guru yang masuk, jadi aku cuma bolak-balik, ngobrol, bolak-balik, dan yah, begitulah.

Sampai, menjelang istirahat kedua, kelasku kosong bener-bener kosong.



XD Intinya, keadaan kayak gitu nggak begitu berubah, dan aku di luar terus, sampai bel pulang.

.

SCENE 4. INT. koridor kelas DAY

Menunggu jemputan sih intinya. Harusnya tadi ada rapat usda ArtDay kelas sebelas dan aku dateng untuk memberi pengarahan—walaupun entahlah aku bisa membantu atau enggak nantinya karena yang aku lakuin cuma dengerin curhatan dan keluh-kesah lalu ngasih saran dan ngasih semangat—tapi ternyata batal jadi ya sudahlah. Harusnya tadi ada rapat koor Tabligh Akbar sih, aku bukan panitia apalagi koor, aku cuma tadi diajakin Afi aja buat ikut cuma kok terus nggak diajak—jadi ya sudahlah (2). Harusnya sih hari ini ada evaluasi jurnalistik tapi jadwalnya belum fix jadi ya sudahlah (3).

Hari pertama aja udah banyak wacana orz Akhirnya satu-satunya yang terlaksana adalah ke Radar Jogja buat ngelengkapin berkas pendaftaran DBL yang jurnalis, dan aku nggak bisa ke sana karena nggak ada transportasi, jadi yang kulakukan hanyalah nunggu jemputan.

Aku sama Lisa terus kebanyakan, sampai lalu aku ke luar sekolah buat ngecek karena ponselku batereinya habis. Ketemu Aliya, lalu ngobrol bentar, sampai lalu aku dijemput.
.

SCENE 5. INT. Radar Jogja DAY


Sebelum ke Radar Jogja, jemput Dek Dama dulu biar sekalian, lalu aku di-drop di Radar Jogja karena anterannya panjang. Sekitar satu jam sih aku di sana. Untungnya karena aku ngurusin yang jurnalis, rapor yang dibawa cuma dua, rapornya penulis sama fotografer. Akhirnya cepetan aja, deh. Lalu aku baru inget aku ditinggal dan aku baru inget ponselku mati jadi aku bingung gimana caranya aku ngehubungin ;;

Oke awalnya aku nunggu aja di depan pintu masuk Radar Jogja sekalian ngirim radar ke orang tuaku kalau aku udah selesai urusannya di sini—siapa tahu radarnya sampai iya kan. Tapi karena aku nunggu setengah jam nggak ada hasil, kayaknya memang nggak ada harapan deh selain nunggu sampai malam—hiks.

Alhamdulillah, nggak perlu kayak gitu. Aku akhirnya masuk lagi dan di sana aku kenalan sama Palupi, dia anak basket yang tadi kupinjem staplesnya untuk ngestaples berkas yang udah difotokopi. Jadi harusnya tiap anak kan ada empat lembar fotokopian rapor (semester satu sampai empat) nah itu harus disatuin per anaknya, jadi aku pinjam staplesnya. Kita kenalan, lalu aku pinjem ponselnya untuk ngerampas kuota nge-LINE minta jemput.

Nggak lama kemudian aku dijemput. Kagetnya sih, ternyata orang tuaku jemput karena baru inget aku nggak ada baterai di ponselku, jadi mereka nggak baca pesan LINE :’) Radar yang datang terlambat—

.

SCENE 6. INT. rumah NIGHT

Sebenernya masih tergolong sore, sih, begitu kita sampai rumah. Tapi yak arena udah gelap, jadi kuubah jadi night deh ya. Aku melakukan aktivitas rumahku seperti biasa, dan begitu mulai makin larut aku menjelma menjadi manusia malam—buka laptop, aktifin LINE dan online Facebook. Sempet buka e-mail karena ada chat dari editor ceritaku yang bilang kalau bagian pertama ceritaku udah selesai dia edit.

Aku belum pernah cerita soal editorku ke blog ini. Wah, dia orangnya sangat jujur, dan memang ceritaku sangat pantas untuk dikata-katai sih, jadi ya gitu orz Masih datar dan percakapannya terlalu baku. Rekomendasi cerita yang dia kasih pakai bahasa Inggris, terus kita juga kebanyakan diskusi lewat gdocs, walaupun karena aku udah mulai sekolah, kita semacam ngobrol lewat chat aja tapi sama-sama telat ngerespons.

Terus ya, aku ada beberapa temen dari dunia maya juga karena aku punya event di dunia maya, ajang penghargaan atas cerita-cerita penulis Indonesia di suatu situs, begitulah. Sempet diskusi juga, bahas skrip sosialisasi, kapan nentuin tanggal rapat bersama, kapan briefing, kapan evaluasi, dan karena aku ngingetin Kamis nggak bisa briefing gara-gara aku ikut Roadshow DBL di Amplas, malah bahas itu deh orz Memang di situ ada yang anak Jogja juga, cuma ya karena kita temenan dari dunia maya semacam ini, kita belum pernah ketemuan (dua kali selalu gagal orz).

Berbagai timeline mundur karena dua dari kita udah memulai aktivitasnya di sekolah. Akhirnya dijadwal sih, kalau briefing jadinya Rabu dan rapat untuk visualnya tanggal 30-31. Yang belum ditentuin ya, kapan evaluasi (evaluasi harusnya akhir bulan cuma kalau kayak gini jadinya maju deh) dan kapan rapat untuk soshumnya orz Aku bingungnya, kalau rapat soshum minggu ketiga, berarti artinya harus dipecah dua kali soalnya ada bahasan yang enaknya sebelum tanggal 1 dan ada bahasan yang enaknya setelah tanggal 30-31… (gimana coba ini.)

Oke. Di tengah-tengah itu semua aku sempet nulis blog untuk proyek tujuh hari bercerita ini, dan aku juga sempet baca webtoon. Tapi karena sekarang udah hampir tengah malam dan aku besok masih masuk sekolah, maka aku sudahin aja ya.

.

#7HariBercerita
Rasya Swarnasta

You Might Also Like

0 comment(s)