#7haribercerita

Day6: bundil

Kamis, Juli 28, 2016

Halo. Udah lama aku nggak ngetik di sini, literally. Terakhir kali aku bener-bener ngetik itu tanggal 24 Juli, jam sepuluh malam karena aku dikejar deadline nulis dua jam lagi—wow ngomong-ngomong soal itu, hasilnya hancur dan berantakan banget. Dan aku telat dua menit nge-submit-nya, untung panitianya baik jadi nggak pakai sistem close submit berdasarkan waktu (jadi kayak alarm gitu, begitu udah jam 00.00 trus situsnya nggak bisa dibuka QAQ) tapi manual; karena waktu lebih kejam kan ya :’)

Trus, dua tema terakhir dari Hai! ini sengaja belum kukerjain, aku minta maaf. Bukan karena alasan klise sibuk dan semacamnya, kok, cuma tema yang diberikan ini sangat berat dalam makna kiasan (?) jadi butuh banyak waktu untuk berpikir. Terutama yang hari terakhir QAQ Kalau hari terakhir temanya bebas, aku bakal garap yang hari keenam cepet-cepet karena ada motivasi ngerjain yang hari ketujuh, eh tapi malah menjatuhkan orz /sya Oke deh lanjut ya.

Jadi, tema untuk hari keenam ini adalah si dia.

Aku udah pernah ngulas tentang sahabat SMA-ku, walaupun nggak di blog ini ehehe ;w; Seenggaknya pernah kutuangkan dalam kata-kata /krik. Trus yang bikin lama nulis ini karena harus banyak foto-fotonya owo)9 Oke, seperti postingan blog kebanyakan anak mama, “si dia” yang dimaksud itu siapa lagi kalau bukan …


Bundil! :> I looooveee you muuum.

Ehehehehehehe.

Ehehehehe.

(trus bingung mau ngetik apa)

.

.

.

Bundil, aku deg-degan besok udah Opening DBL aja ;_;

Sama aku mau ngomong samting sama Bundil, bilang pas udah baca blog ini yaaa! XD

Aku cinta Bundil <3

#7haribercerita

5Day: semoga lebih bijak.

Jumat, Juli 22, 2016

lagi pengen nulis pakai huruf kecil. via hape soalnya, dan ini nggak otomatis langsung kapital tiap kali habis titik-lalu-spasi jadi ribet kalau harus pencet capslock terus-terusan. oke ini hari kelima dari proyek 7haribercerita majalah hai!, dan temanya adalah yang diubah walau susah. bagian mana di lingkunganmu yang perlu diubah meski susah.

mungkin lingkungan sekolah, ya. hehehe.
ya nggak juga sih.

ada guru suatu mata pelajaran yang diujikan dalam un di kelasku, memberikan suatu soal. "ada yang bisa mengerjakan?" beliau bilang begitu. lalu pandangannya memerhatikan seisi kelas. diam. nggak ada yang jawab.

"nah ini, nih," perkataan beliau selanjutnya bikin aku nelen ludah miris, "orang indonesia itu begini, nih!"

.

orang indonesia. 

sebenarnya, orang indonesia itu kayak gimana? dari apa yang kuterima, orang-orang kebanyakan mengecap karakter negara indonesia dengan terlalu ramah, terlalu baik, dan terlalu mudah menerima, dengan pemerintahannya yang terlalu me--

ah. berhenti saja deh.

serius ini, aku mengetik di ponsel sambil sekalian berpikir; dan aku beneran menghentikan kata-kataku soal negaraku dan karakter penduduk negaraku itu. bukannya apa-apa, habisnya, tahu kan betapa banyak berita apesnya seseorang yang terkena nasib tidak enak karena tidak bisa menjaga kata-katanya?

ngg, aku nggak sepenuhnya yakin kata-kataku (tulisan-tulisan ini) sejahat mereka-mereka yang sampai ke kategori mencoreng nama baik. lagian aku juga bukan artis atau siapa. blogku juga belum tentu dibaca. tapi ya, alangkah baiknya kalau kita was-was aja.

trus--kayaknya yang paling aman adalah mengkritik diri sendiri. selalu aja begitu--jadi aku bakal menyebutkan apa bagian yang harus diubah dari diriku yang sebenernya susah diubah. 

aku sebagai seorang yang pengin jadi penulis:

aku itu susah menamatkan novel hshs. beda cerita kalau novel itu nggak selesai karena aku nggak tau kelanjutannya, beda. tapi aku udah tau apa yang harus kutulis, konfliknya, plotnya, endingnya--tapi tetep aja itu novel nggak tamat. entah kenapa aku selalu bisa nulis kalau aku sendiri nggak tau apa alur yang akan terjadi, kayak cerita yang mengejutkan pembaca dan penulisnya juga.

tapi begitu sampai titik di mana aku serius, mulai ambil kertas, tulis kerangka karangan, pikirin ending dan mau bawa ke mana ini plotnya, lalu nulis lagi--bawaannya jadi males huft. kayak nggak seru gitu argh ;; semoga ini bisa diubah. kalo kayak gini mah, nggak ada novel yang jadi.

aku sebagai seorang kakak kelas:

aku kan udah kelas dua belas nih ya. trus--yah, tingkahku masih nggak kayak anak kelas dua belas sekali. entahlah, masih merasa terlalu muda :') 

.

.

……………boleh stop nggak ya? minimal udah nyebutin beberapa, jadi nggak ada masalah kan?

.


maaf. sebenernya aku lagi galau sekarang (…)

tulisanku ngeracau nggak dapet intinya banget huft. kalau memang ada kala di mana seseorang bisa mengendalikan perasaan, aku lagi nggak ada kemampuan itu soalnya. jadi, aku jujur aja deh. diulangi ya, sekarang rasya lagi galau.

maaf ya, rasya melarikan diri.
semoga aja rasya bisa lebih bijak menyikapi ini.

#7haribercerita

4Day: roadshow dbl @amplas

Kamis, Juli 21, 2016

Halo. Tadi aku habis dari amplas buat nonton roadshow DBL tahun ini! Ehehe dance-nya Namche keren banget :"")) Aku kalau mengenang DBL adanya hanyalah perasaan sensitif yang sangat sentimental(?) entahlah. Kayaknya aku harusnya baru bisa ngerti perasaan ini setelah DBL berlalu ya wkwk :")) Oke, pas TM kemarin, diputer video yang sukses bikin aku nangis sampai air mataku mengalir TvT Bisa ditonton di youtube, judulnya thank you for everything; dbl 2004 - 2015 (youtube.com/click-here-to-watch)


trus, ini sekilas mengenai technical meeting kemarin:


ada aku sama Angie wkwk XD (plak.) 

.

.

Oke aku bakal cerita dari awal. Menjelang istirahat kedua, hapeku mati karena kehabisan batre setelah aku ngirim LINE ke adek kelas suruh dateng ke kelasku pas jam istirahat kedua (salahnya, sya, bahasamu galak, sih.) Terus karena aku nggak bawa charger, akhirnya aku nge-LINE bundil pakai tabnya Jihan dan nunggu jemputan berdasarkan insting ibu dan anak (krik). Awalnya aku ke kelasnya Lisa, tapi nggak tau kenapa kelasnya belum keluar. Akhirnya aku balik ke kelasku lagi dan masih ada Afi sama Fatma di sana.

Afi sama Fatma lagi sibuk menghitung duit usda :') Kapan terakhir kali aku nulis kata ini di blogku ya wkwk. Yang mereka hitung adalah uang usda untuk kepanitiaan Pin, alias Parade Islamic Namche. Aku sendiri udah nggak ikut panitia lagi setelah Art Day, yah mungkin pengecualian buat NBC (Namche Basketball Championship) karena ekskul jurnal wajib jadi panitia lomba majalah dinding. Entahlah--bisa bilang ini semacam trauma? Krik. ......iya.

Tapi karena aku udah bisa menghitung uang ala bank yang paling aku sukai, jadi aku bantuin Afi dan Fatma ngitungin duit XD Lumayan deh buat hasil hari ini :')) Semangat terus buat Afi, Fatma, dan semua panitia yang terlibat di dalamnya. Sukses acaranya, aku bakal ikut Tabligh Akbarnya kok untuk meramaikan :3 Satu bulan lagi!

Biarkan tetesan keringatmu habis hingga berganti darah, asalkan nggak ada kata defisit dan perjuangan lanjutan hari H setelah. -Rasya, entahlah-dia-siapa.


Lalu kelasnya Lisa udah keluar. Ngobrolin Fisika bentar (....) lalu dijajanin bakwan kawi di depan SMP 8, habis itu aku dijemput deh. Aku sama Bundil lalu langsung ke amplas buat nonton Roadshow DBL hehehe.

Di amplas rameee, dan acaranya belum mulai. Jalan-jalan bentar, sampai akhirnya pembukaan dan berbagai macam dance dari sekolah lain mulai tampil! Kita nonton dan bersabar dalam keadaan berdiri demi liat dance-nya SMA 6 dongs :")))) Dance-nya sekolah lain juga bagus-bagussss btwrasyasedihliatdancenyasekolahyangitubikinimejnyadownuh. Keren banget, serius! Berbagai macam akrobatik yang bahkan nggak sanggup kubayangkan untuk kulakukan di alam mimpi sekalipun :""))) Uli, Giwang, semuanyaaaa keceeeeee 8""DD

Kostumnya simpel menurutku, pakai celana panjang bikin kesan manis, dan gerakannya syangar sekali :"> Nggak ada jedanya, bikin nggak bisa napas TvT Aku juga ketemu temen-temen yang lain di sana, wehehe suporternya Namche banyak bangeeeet! XD Aku ketemu Bu Tutik juga :">> Mas Saka juga dateng kan yaaaah <3

.

Walaupun jujur, aku nggak bener-bener paham basket, gimana cara mainnya atau peraturan di papan, atau sempritan-sempritan wasit yang entah kenapa tiba-tiba begini begitu--aku nggak ngerti tiba-tiba udah disemprit aja ;; 

Sekalinya aku paham basket tuh pas sama Lisa nonton final NBC. Karena kita panitia, kita bisa nonton di belakang bangku cadangan, nemenin tim medis yang lagi nyiapin es batu juga. Di situ kan papan skor lebih keliatan--ada juga papan nomor punggung pemain atau apa aku lupa--lalu ada titik-titik tanda foul yang udah dia lakuin kalo nggak salah. Di situ aku sama Lisa banyak tanya ini kenapa disemprit, itu apa maksudnya, sampai akhirnya aku WAH JADI ITU TOH bener-bener dong seratus persen.

Tapi ya sekarang aku lupa lagi. Yang aku tahu tembakan mana yang nilainya satu poin, dua poin, tiga poin, blabla yang bikin gimana cara skornya tambah. Tapi walaupun itu baru sebagian kecil dari berbagai pengetahuan tentang basket, itu nggak mengurangi kemeriahannya nonton DBL! Entah berapa kali aku merinding antara ngeri dan keren, karena serius. DBL itu kereeeeeeen banget! :""")))

Meriahkan DBL yaaa!

#7HariBercerita
Rasya Swarnasta

#7haribercerita

3Day: jika aku tidak sekolah

Rabu, Juli 20, 2016

Halo. Hari ketiga ini ada topik sendiri nih, dari hai!. Nama topiknya, "jika aku tidak sekolah". Sekarang aku sudah kelas dua belas, dan aku pernah mikir kalau 'apa yang kulakukan sekarang ini nggak akan kulakukan kalau aku nggak sekolah'. Ini semacam kilas balik, tapi ya sudahlah, mungkin inilah saatnya label flashback kita pakai, ya.

Kalau aku nggak sekolah, aku bakal jadi apa?
Tentu kita sempet denger seseorang yang mengatakan kalau pelajaran di sekolah itu nggak semuanya benar-benar bermanfaat di masa depan. Atau ada kutipan bahwa kita menjadi murid agar kita bisa menjadi guru. Atau apalah, yang intinya menyuruh kita menganggap bahwa kita nggak ada gunanya sekolah. Waktu aku bikin press-release RdS kantin ketiga (di sini) si pembicara bilang, kalau ada seorang pelajar yang ditanya, "Kenapa kamu bersekolah?" dan justru membalas, "Iya, ya. Kenapa ya, aku bersekolah?"
Bukannya sekolah itu berguna, dan bukannya sekolah itu nggak berguna juga. Tapi ada kalanya keseharianku jadi berwarna bukan karena aku bersekolah, tapi karena titel aku seorang pelajar. Dengan aku bersekolah, aku bakal dipandang sebagai seorang pelajar, dan aku punya bukti bahwa aku seorang pelajar. Sebenernya, itulah yang kita butuhkan.

Ada berbagai macam kegiatan di luar sekolah, semacam ikut seminar atau lomba-lomba, dan syarat utama yang paling sepele dan nggak kita lirik apa? 
Peserta harus seorang pelajar SMA/sederajat.

Kalau aku bukanlah seorang pelajar SMA, katakanlah, aku nggak bakal bisa bergabung jadi kepanitiaan di sekolahku. Oke, ini jelas--maksudku, aku nggak bisa ikut kegiatan manapun di sekolahku kalau aku nggak jadi pelajar, kan? Ganti. Apa aku bisa jadi reporter KACA kalau aku nggak sekolah? Nggak bisa. Mungkin suatu hari yang sangat selo tanpa kutahu itu hari apa, yang bisa dilakukan oleh aku-yang-nggak-sekolah adalah baca koran dan baca rubrik KACA dan baca lowongannya dan sadar kenyataan kalau syarat pertamanya bahkan nggak bisa kupenuhi.

Aku nggak akan bisa gabung dalam SILATNAS--singkatan dari Silaturahmi Nasional. Aku nggak akan bisa jadi Sie Dana Usaha di sana, atau jadi LO pada pelaksanaannya. Nggak bisa bantu ngebuat pin-pin yang jumlahnya sangat banyak atau ngeguntingin kertasnya jadi bunderan sampai tanganku pegel. Nggak bisa kenalan sama anak-anak dari luar pulau atau ngeputerin tiap kamar suruh kumpul karena kegiatan sudah dimulai. 


Aku nggak akan bisa gabung RdS--Ramadhan di Sekolah. Jelas, aku bukanlah pelajar sekolah, untuk apa aku jadi bagian suatu kepanitiaan yang punya kata "Sekolah" di namanya?

Aku nggak akan bisa jadi script writer Gamabox. Nggak akan bisa tahu format penulisan skrip di televisi, nggak bisa diajak melihat dan belajar bagaimana proses syuting film, atau keliling sampai alun-alun untuk janjian sama talent. Aku nggak akan bisa nulis postingan di hari pertama (di sini) pakai tambahan-tambahan tulisan SCENE dan segala macam.

Juga, aku nggak bisa jadi reporter majalah hai, wkwk. (sya.)

.

.

Seminar pertama di kelas sepuluh yang aku ikutin adalah tentang fiksi ilmiah selama dua hari di hotel apa aku lupa namanya. Sementara seminar terakhir yang aku ikutin adalah tentang televisi dan sebagaimnya di GSP--sama anak jurnalistik. Atas nama sekolah juga aku pernah ikut pantonim, dan apa lagi ya. Aku nggak mungkin bisa juara lomba majalah dinding karena nggak ketemu Lusi hehe.


Trus. Sebenernya ini yang bikin aku kepikiran tapi; aku nggak akan bisa jadi jurnalis di DBL. Jadi jurnalis di ajang basket terbesar kayak DBL adalah hal yang sebenernya aku pengenin sejak aku kelas sepuluh dan kenal DBL, akhirnya bisa terwujud sekarang. Apalah aku kalau nggak sekolah; bisakah aku jadi kayak aku yang sekarang? Enggak kan?

.

.

[waspada: rasya mulai nge-rant.]

Jujur aku bingung dengan topik ini ;--; Memang sih topiknya adalah "jika aku tidak sekolah" dan kita disuruh menceritakan kehidupan kita apabila kita tidak bersekolah, tapi alih-alih poinnya tentang "manfaat sekolah bagi pengembangan pendidikan kita", menurutku lebih ke arah "bersyukur atas apa yang menjadikan kita seperti kita yang sekarang". 

Dengan membayangkan aku nggak sekolah, yang lebih lanjut kupikirin adalah 'aku nggak akan bisa begini, begitu' blablabla sampai 'aku nggak akan bisa duduk dan nulis postingan kayak begini kalau aku nggak sekolah'. Karena, nggak mungkin kan, aku nulis postingan bertopik jika-aku-tidak-sekolah kalau aku sendiri nggak sekolah? Oke. Selanjutnya, soal "apakah itu membuat kesadaran belajar kita meningkat atau enggak", itu relatif--tergantung kita, tergantung di topik apa kita sensitif untuk tergerak.

Intinya apa ya orz Aku nggak bisa bener-bener jawab topik ini karena yah, aku pernah ada di masa di mana aku pengen nggak kuliah dan alhamdulillah aku bisa melewati tahap itu (sekarang aku mau kuliah kok), tapi setidaknya berkat itu aku jadi nggak seenaknya bilang, "Bersyukur dong, seenggaknya kamu sekolah. Dari pada enggak?" begitu deh. Kita nggak bisa men-judge posisi seseorang yang nggak sekolah itu nggak bahagia. Maksudku; memangnya kita bahagia dengan sekolah? Kupikir kata bahagia dan sekolah nggak akan pernah bisa ketemu.

Jadi, pertanyaan "kalau kamu nggak sekolah, kamu bakal jadi apa?" menurutku susah untuk kujawab sendiri. Aku yakin aku bakal tahu jawabannya kalau aku ada di posisi itu, dan kupikir aku yang nggak sekolah juga akan kesusahan dengan pertanyaan "kalau kamu sekolah, kamu bakal jadi apa?" karena itu nggak terjangkau olehku (baik aku yang sekolah maupun yang enggak). Itu bener-bener nggak terbayang dan aku nggak tau seperti apa lingkunganku apabila ditempatkan di setting semacam itu.

Kayaknya postingan ini bukan tentang perenungan ya orz Ini justru hasil ramblingan-ku yang sibuk mencari poin dari topik ini, dan jawaban dari pertanyaan yang diajukan.

Kuulangi--ini menurut pandanganku lho ya. Yang bikin aku bahagia sampai detik ini bukanlah sekolahnya, tapi apa yang diberikan sekolah kepadaku berupa titel pelajar, dan perjuanganku untuk membanggakan sekolah dengan titel pelajar yang telah diberikan. Tapi, yah, aku yakin, atas nama Rasya, dia bakal bahagia dengan caranya sendiri. 

#7HariBercerita
Rasya Swarnasta

#7haribercerita

2Day: editorku.

Selasa, Juli 19, 2016

Tahu, kan, NaNoWriMo (National Novel Writing Month)? Pernah kusinggung di sini. Nah, bulan Juli ini, NaNoWriMo mengadakan Camp!Nano, yang artinya kegiatan nulis kecil-kecilan selama satu bulan. Berbeda dengan NaNoWriMo yang pasang target sahih 50.000 kata, Camp!Nano ini membebaskan kita mau pasang target berapa. Karena ini awal masuk sekolah juga, makanya aku pasang target 15.000 kata. Ada yang memanfaatkan itu untuk pasang target sedikit (kayak aku, lol) dan parahnya ada juga yang memanfaatkan itu untuk pasang target 100.000 kata atau lebih, sungguh super-human orz

Nah, 15.000 itu menurutku jauh lebih susah. Sebenernya karena harus pinter-pinter mencuri waktu juga, sih. Tapi yang membuat susah di sini karena aku pengen menulis sesuatu yang beda; aku pengen nulis tentang dunia paralel -- aku pernah nulis tentang parallel universe di sini. Bukannya aku percaya itu, sih, tapi -- oke kalau pembicaraannya seputar percaya-dan-enggak atau bolehpercaya-dan-enggak, maka keburu tengah malam kayak kemarin. Lanjut. Sebenernya aku terinspirasi sama cerita yang aku taksir berat (baca di sini) tentang dunia paralel juga. Dia bisa membuat cerita kayak begitu dengan jumlah 15.000 kata -- sungguh luar biasa.

Aku nulis dengan bersemangat dan begitu udah sampai kata ke 8000, aku terhenti orz Aku bingung mau ngelanjutin gimana dan kenapa terkesan antiklimaks begitu tolong aku. Akhirnya -- aku cerita kan, kemarin, kalau aku jadi panitia ajang penghargaan cerita-cerita penulis Indonesia di suatu situs? (di sini) Nah, di situs itu kebetulan ada daftar penulis yang membuka jasa mereka jadi editor cerita sebelum dipublikasikan. Aku pilih satu, dan langsung kuhubungi dia.

Dialah editorku. Seseorang yang akan aku ceritakan di sini. Dia sibuk mengurus keponakannya, tapi untunglah masih mau membalas pesanku dan mau menerima tawaran itu. Kukirimi cerita delapan ribu kata yang sudah kubuat, dan aku menunggu beberapa hari sampai dapat tanggapannya dari dia. Dan, oke, terus terang, dia menjalankan tugasnya sebagai editor persis kayak yang aku butuhkan. Soalnya dia itu:

S a d i s .

Cukup kan, ya, satu kata itu untuk menggambarkan bagaimana karakternya dia. Oke dia nggak sesadis itu, tapi yah, pada dasarnya memang banyak di cerita buatanku yang butuh berbagai macam perbaikan. Ada beberapa kata yang sama dia diberi warna (highlight) dan inilah peraturannya:

  • Kuning, untuk kata yang sebaiknya dihapus.
  • Biru, untuk kata atau kalimat yang sebaiknya diganti dengan kata atau kalimat yang lebih baik.
  • Hijau, untuk kata atau kalimat yang peletakannya salah.

Begitulah. Sebagai editor, menurutku dia keren karena bisa sampai segitunya, menawarkan diskusi bareng walaupun dengan perantara google docs. Dan gara-gara dia aku jadi tahu:

Satu: Verbal tic itu sebenarnya nggak perlu dicantumkan. Karena yah, namanya juga itu adalah ciri khas seseorang setiap kali ia berbicara, dan itulah gunanya tulisan; membuat semuanya jadi jelas dengan kata-kata.

Oh, ngomong-ngomong, ini pengertian dari verbal tic:
You do if you use a sound or a phrase over and over again while you are speaking.

Misalnya, kamu pasti punya kan, teman yang setiap kali dia bicara, dia selalu bilang "umm"? Itu namanya verbal tic. Nah, kalau kamu pengen membuat karakter yang punya kebiasaan kayak gitu, bakal jadi susah jatuhnya semisal kamu menuangkannya dalam bentuk tulisan. Karena yah, gimana caranya pembaca tahu (atau setidaknya; ingat) karakter yang punya kebiasaan bilang "umm" kalau setiap kali karakter itu ngomong, kita nggak boleh mencantumkan itu? Sungguh suatu PR yang zuzah :')))

Dua: Suffix (macam-macam panggilan dalam bahasa Jepang) ternyata nggak perlu dimiringkan. Dulu waktu aku pertama kali pakai ini, aku nggak pernah ngemiringin, tapi lambat laun aku semakin berpedoman pada EyD yang sekarang jadi EBI, dan berpikiran sempit kalau semua kata yang nggak ada di EBI harus dimiringin. Makanya, kalau dulu semisal aku nulis Rasya-chan, jadi kuganti Rasya-chan. Ternyata itu salah orz (itu bukti penurunanmu, sya.)

TigaEditorku itu juga menjelaskan soal PWP. PWP adalah singkatan dari Porn Without Plot, suatu cerita di mana penulis hanya mengutamakan tentang hal-hal yang 'memuaskan' semata tanpa peduli gimana cara hal itu bisa terjadi. Jangan salah sangka lho, ya! Di ceritaku nggak ada hal semacam itu sama sekali! orz Maksud editorku yang sadis itu, ceritaku bisa dikategorikan kayak gitu karena datar dan belum ketemu klimaksnya.

Belum menemukan klimaksnya. Datar. Cerita 15.000 kata sudah harus memiliki struktur novel. Walaupun tentu ada juga cerita super panjang tanpa klimaks - i mean, that's the point of porn without plot really. - my editor said.

EmpatSelanjutnya, tentang dialog-dialog yang aku tulis. Dia bilang kalau ada beberapa kalimat yang masih baku -- bahkan terlalu baku untuk diucapkan. Saran dari dia, coba dialog itu diucapkan keras-keras. Aku sempet tahu hal ini, sih, soal cara untuk tahu cocok atau enggaknya kalimat yang kita pakai dengan baca keras dan nge-judge sendiri. Tapi nggak pernah kupraktekin karena -- yah, kita harus berdiri dari tempat duduk untuk ke luar atau ke ruang yang cuma kita yang denger lalu ngomong gitu? Mager sekali ya kan orz (sya.)

LimaIni yang terakhir: referensi cerita yang harus aku baca.


Itu kalau nggak di-print dengan model jadi dua bagian gitu, ada 26 lembar HSHSHS. Dia ngasih dua referensi cerita, yang satu bahasa Inggris dan yang satu bahasa Indonesia. Aku pilih untuk memahami cerita yang bahasa Inggris dulu soalnya aku maso sih, ternyata dikasih cerita 9663 kata. Lumayan lah siapa tahu bisa bermanfaat dalam mendalami kemampuan berbahasa Inggrisku yang masih dangkal :') Aamiin.

Aku udah baca itu sekilas, cerita itu punya tema yang hampir sama. Bedanya kalau aku tentang dunia paralel, jadi si tokoh pindah ke dimensi lain dan di dimensi itu semuanya beda dengan apa yang terjadi di dimensinya. Sementara untuk cerita ini, dunianya berulang. Dia melakukan suatu kegiatan selama sehari penuh, dan begitu dia bangun lagi, kejadiannya sama persis dengan apa yang baru saja terjadi. 

"What are the team's plans for lunchtime?"
"There's a place--"
"Opposite a Yoshinoya branch, so that he can have his gyuudon."
"Yes. You're as prescient as ever."
"Thank you. I'll see you there." He hung up and shut his eyes as he stood in his bedroom, still wearing his pyjamas, his mind wandering out in circles.

It was the 29th of December.
It was the 29th of December again.

Aku suka bagian yang itu XD Oke, terlepas dari bagian itu -- ini total halamannya banyak banget orz

Ngomong-ngomong, aku suka pengalamanku dengan editor pertama ini. Aku jadi nambah banyak ilmu dan belajar bersabar dan nggak terburu-buru sama hasil karya sendiri :') Asyik lho! Sudah, ya.

#7HariBercerita
Rasya Swarnasta

.

.

p.s.: random story about today in school.

Sudah dibentuk kepengurusan kelas. Jadi bendahara, nih. orz

Segala ketidakjelasan dengan Dhiar, Jihan, Afi, dan Fatma selama pelajaran bahasa Inggris yang kosong tadi mempunyai pesan bahwa warna hijau bisa jadi begitu lucu :')))))

Lisa udah les, gaes. Mendadak aku merasa tertinggal. (penting)

#7haribercerita

1Day: xii ipa lima dan lain-lain.

Senin, Juli 18, 2016

SCENE 0. INT. rumah NIGHT

Halo. Akhirnya setelah liburan yang panjang dan petualangan-petualanganku yang entah apa tujuannya sejak aku masuk di SMA ini, ada juga masa di mana aku kelas dua belas. Kelasku di 12 IPA 5, nama kelas dan ruangan yang beda sama yang pernah ada di mimpiku—terbukti mimpi itu nggak selalu bikin déjà vu.

Ruangannya hampir sama kayak ruanganku di kelas sebelas dulu, bedanya kalau kelas sebelas di lantai dua, kalau kelas dua belas di lantai satu. Jadi, jarak antara kelasku yang sekarang dan yang dulu cuma atas-bawah aja. Tetap ada aula yang menghalangi cahaya, dan tetap gelap, tapi karena aku kelas sebelas nggak ada bedanya (dan aku di kelas sepuluh juga di EP yang tahu-kan-itu-ruangan-yang-gelapnya-kayak-gimana) jadi aku nganggapnya terang.

Oke. Mungkin karena sekarang aku aktif nulis lagi di KR, aku jadi tiba-tiba kangen sama model nulis skrip selama aku di gamabox. Makanya ada scene-nya segala—cuma itu aja kok. Sekarang aku bakal cerita keseharianku dari awal di sekolah ya.
.

SCENE 1. INT. kelas DAY

Aku sampai di sekolah agak pagi, karena aku dianterin bareng sama adekku, Dek Dama, yang sekarang lagi tegang-tegangnya MOS hari pertama di SMA-nya. Aku masuk lewat gerbang barat, dan pilih jalur lewat kantin biar bisa langsung ke koridor kelas dua belas mulai dari 12 IPA 1. Ngomong-ngomong, ruangan yang ada di mimpiku sekarang ternyata jadi ruang komputer—ini nggak penting.

Kelasku ada di R106. Penuh dengan wajah-wajah baru, mereka semua temen-temen sekelas yang bakal bareng-bareng terus sampai kita lulus. Karena aku tergolong telat masuk (kelamaan di koridornya, sih) aku satu bangku sama Afi di meja paling depan. Untung nggak di persisnya meja guru. Sebelah kita ada Dhiar sama Jihan, lalu ada Fatma juga di belakang.

.

SCENE 2. EXT. lapangan upacara DAY

Nggak ada upacara, guru-guru yang dateng juga cuma beberapa. Sayang banget sih, itu pertama kalinya aku ada di barisan depan pas upacara. Jadi ternyata tiap kelas harus berbanjar tiga dan awalnya kelasku masih berbanjar dua. Otomatis harus ada yang maju kan, dan ya sudahlah aku maju—aku pinjem topinya Fatma karena aku nggak bawa topi. Dan Jihan, dia juga di barisan depan, juga pinjem topinya Fatma. Fatma bawa dua topi dan dipinjem semua, sungguh baik, terima kasih Fatma orz

Guru lainnya ada di aula buat ngebimbing anak-anak kelas sepuluh yang baru masuk, dan di sana juga cuma ada dua angkatan. Karena mikrofonnya nggak bisa nyala, kita nyimak aja suaranya Pak Kris yang bilang kalau sekarang bakal ada salim-saliman antar siswa dengan guru. Yang nanti merambat sampai jauh entahlah ke mana, sampai bentuk uwer-uwer nggak jelas di lapangan ini, terus ke kantin, terus ke mana-mana gitulah sampai habis.

Yang kita was-was itu kalau kita ada di posisi yang bakal jadi penentuan rambatan selanjutnya—misalnya belok atau enggak, semua tergantung pas di-kita-nya. (Rasya ke Dhiar, cetusan permasalahan nggak penting.)

Untungnya kecemasanku nggak terjadi karena yang aku sama Dhiar peranin cuma nerusin aja rambatan yang udah ada, nggak di posisi yang harus membelokkan atau meluruskan gitu. Walaupun sebenernya rambatannya hancur banget XD Kita cuma uwer-uwer di lapangan upacara, seperti yang sudah diprediksi. Untungnya cuma dua angkatan jadi ya nggak sampai bumpet (tahu kan, maksudku, pas rambatannya udah semakin bulet dan semakin ke tengah dan jadi nggak ada jalan untuk yang selanjutnya?).

.

SCENE 3. INT. kelas DAY


Setelah ini selesai, ada jeda istirahat sehabis upacara. Aku lalu main ke kelasnya Lisa, dia di 12 IPA 6, kelas kita sebelahan (lagi). Trus ada pengumuman pelajaran mau dimulai, jadi ya, aku ke kelasku. Ternyata kelasku langsung kemasukan gurunya orz Jam pertama-kedua Bu Tri, guru Kimia. Untungnya belum materi, cuma pengenalan karakter beliau dan nawarin LKS di ruang guru.

Setelah itu, jam kosong terus sampai pulang—tapi kita nggak langsung cerita tentang pulang sekolahnya. Istirahat pertama, kita berlima—aku, Afi, Dhiar, Jihan, Fatma, ke mushola untuk salat Dhuha. Terus habis itu aku ke kelasnya Lisa. Lalu jajan ke kantin.

Setelah itu, kita bener-bener nggak ada kerjaan karena nggak ada guru yang masuk, jadi aku cuma bolak-balik, ngobrol, bolak-balik, dan yah, begitulah.

Sampai, menjelang istirahat kedua, kelasku kosong bener-bener kosong.



XD Intinya, keadaan kayak gitu nggak begitu berubah, dan aku di luar terus, sampai bel pulang.

.

SCENE 4. INT. koridor kelas DAY

Menunggu jemputan sih intinya. Harusnya tadi ada rapat usda ArtDay kelas sebelas dan aku dateng untuk memberi pengarahan—walaupun entahlah aku bisa membantu atau enggak nantinya karena yang aku lakuin cuma dengerin curhatan dan keluh-kesah lalu ngasih saran dan ngasih semangat—tapi ternyata batal jadi ya sudahlah. Harusnya tadi ada rapat koor Tabligh Akbar sih, aku bukan panitia apalagi koor, aku cuma tadi diajakin Afi aja buat ikut cuma kok terus nggak diajak—jadi ya sudahlah (2). Harusnya sih hari ini ada evaluasi jurnalistik tapi jadwalnya belum fix jadi ya sudahlah (3).

Hari pertama aja udah banyak wacana orz Akhirnya satu-satunya yang terlaksana adalah ke Radar Jogja buat ngelengkapin berkas pendaftaran DBL yang jurnalis, dan aku nggak bisa ke sana karena nggak ada transportasi, jadi yang kulakukan hanyalah nunggu jemputan.

Aku sama Lisa terus kebanyakan, sampai lalu aku ke luar sekolah buat ngecek karena ponselku batereinya habis. Ketemu Aliya, lalu ngobrol bentar, sampai lalu aku dijemput.
.

SCENE 5. INT. Radar Jogja DAY


Sebelum ke Radar Jogja, jemput Dek Dama dulu biar sekalian, lalu aku di-drop di Radar Jogja karena anterannya panjang. Sekitar satu jam sih aku di sana. Untungnya karena aku ngurusin yang jurnalis, rapor yang dibawa cuma dua, rapornya penulis sama fotografer. Akhirnya cepetan aja, deh. Lalu aku baru inget aku ditinggal dan aku baru inget ponselku mati jadi aku bingung gimana caranya aku ngehubungin ;;

Oke awalnya aku nunggu aja di depan pintu masuk Radar Jogja sekalian ngirim radar ke orang tuaku kalau aku udah selesai urusannya di sini—siapa tahu radarnya sampai iya kan. Tapi karena aku nunggu setengah jam nggak ada hasil, kayaknya memang nggak ada harapan deh selain nunggu sampai malam—hiks.

Alhamdulillah, nggak perlu kayak gitu. Aku akhirnya masuk lagi dan di sana aku kenalan sama Palupi, dia anak basket yang tadi kupinjem staplesnya untuk ngestaples berkas yang udah difotokopi. Jadi harusnya tiap anak kan ada empat lembar fotokopian rapor (semester satu sampai empat) nah itu harus disatuin per anaknya, jadi aku pinjam staplesnya. Kita kenalan, lalu aku pinjem ponselnya untuk ngerampas kuota nge-LINE minta jemput.

Nggak lama kemudian aku dijemput. Kagetnya sih, ternyata orang tuaku jemput karena baru inget aku nggak ada baterai di ponselku, jadi mereka nggak baca pesan LINE :’) Radar yang datang terlambat—

.

SCENE 6. INT. rumah NIGHT

Sebenernya masih tergolong sore, sih, begitu kita sampai rumah. Tapi yak arena udah gelap, jadi kuubah jadi night deh ya. Aku melakukan aktivitas rumahku seperti biasa, dan begitu mulai makin larut aku menjelma menjadi manusia malam—buka laptop, aktifin LINE dan online Facebook. Sempet buka e-mail karena ada chat dari editor ceritaku yang bilang kalau bagian pertama ceritaku udah selesai dia edit.

Aku belum pernah cerita soal editorku ke blog ini. Wah, dia orangnya sangat jujur, dan memang ceritaku sangat pantas untuk dikata-katai sih, jadi ya gitu orz Masih datar dan percakapannya terlalu baku. Rekomendasi cerita yang dia kasih pakai bahasa Inggris, terus kita juga kebanyakan diskusi lewat gdocs, walaupun karena aku udah mulai sekolah, kita semacam ngobrol lewat chat aja tapi sama-sama telat ngerespons.

Terus ya, aku ada beberapa temen dari dunia maya juga karena aku punya event di dunia maya, ajang penghargaan atas cerita-cerita penulis Indonesia di suatu situs, begitulah. Sempet diskusi juga, bahas skrip sosialisasi, kapan nentuin tanggal rapat bersama, kapan briefing, kapan evaluasi, dan karena aku ngingetin Kamis nggak bisa briefing gara-gara aku ikut Roadshow DBL di Amplas, malah bahas itu deh orz Memang di situ ada yang anak Jogja juga, cuma ya karena kita temenan dari dunia maya semacam ini, kita belum pernah ketemuan (dua kali selalu gagal orz).

Berbagai timeline mundur karena dua dari kita udah memulai aktivitasnya di sekolah. Akhirnya dijadwal sih, kalau briefing jadinya Rabu dan rapat untuk visualnya tanggal 30-31. Yang belum ditentuin ya, kapan evaluasi (evaluasi harusnya akhir bulan cuma kalau kayak gini jadinya maju deh) dan kapan rapat untuk soshumnya orz Aku bingungnya, kalau rapat soshum minggu ketiga, berarti artinya harus dipecah dua kali soalnya ada bahasan yang enaknya sebelum tanggal 1 dan ada bahasan yang enaknya setelah tanggal 30-31… (gimana coba ini.)

Oke. Di tengah-tengah itu semua aku sempet nulis blog untuk proyek tujuh hari bercerita ini, dan aku juga sempet baca webtoon. Tapi karena sekarang udah hampir tengah malam dan aku besok masih masuk sekolah, maka aku sudahin aja ya.

.

#7HariBercerita
Rasya Swarnasta

rant

aku.

Selasa, Juli 12, 2016

hai bleepy. kamu belum aku ceritain ya. semalam dan pagi ini, aku membaca dua cerita.
.
cerita pertama sepanjang lima belas ribu kata--mungkin sekitar empat puluh lima halaman.
.
cerita kedua terbagi menjadi tiga babak; dengan totalnya sembilan ribu kata.
.
tahu, enggak? berkat (atau gara-gara?) cerita itu, aku jadi... jadi...
.
.

event

Ramadan di Sekolah

Jumat, Juli 01, 2016

Bulan Ramadan sebentar lagi selesai, dan kepanitiaanku di RdS sebagai relawan ini juga bakal berakhir :') Makanya itu, sebelum kita masuk lebaran, sebelum kita liburan, sebelum aku males, aku ngeposting segala kegiatan di bulan puasa bersama RdS ini ya. Oke, pertama-tama, aku di sini jadi Tim Media; Sie Publikasi.


Karena password akun RdS dipegang oleh koorku (selain itu nggak bagus juga masa farohis aja bukan udah dikasih password atau megang OA-nya) jadi tugasku nyiapin kata-katanya terus ditulis di grup WA, nanti koorku yang nge-share ke publik. Karena aku 'ngerangkap' jadi pembuat press-release juga, aku sekalian catet materi tiap kajian RdS.



Tepat pada hari pertama Ramadan, ada Kajian Songsong Ramadan atau akronimnya KASONGAN! Yang ngisi adalah Ustaz Arif Jatmiko, acaranya ada di GOR SMPIT Abu Bakar. Ada yang dateng? Atau ada yang nggak dateng? XD Kasongan ini tentang persiapan menyambut bulan Ramadan yang penuh berkah :3 Di foto itu nggak ada aku--dipotretnya pas aku lagi keluar ambil netbook buat garap press-release. Suatu kepahitan tersendiri aku disuruh buat tulisannya langsung ditempat itu bahkan pas kajiannya belum selesai :') Itu pertama kali aku bikin kayak gitu--bisa dibaca press-release ku di instagramnya farohis XD Trus lama-lama aku jadi terbiasa buat press-release di tengah-tengah kajian :3



Setelah Kasongan, yang selanjutnya adalah Kantin alias Kajian Rutin. Kantin ini diadakan setiap hari Rabu, di masjid UII. Mulainya sejak jam setengah empat sampai maghrib, dan ada gratis buka puasa juga lho. Pas berbuka kita dikasih teh hangat sama gorengan, terus ntar pulangnya dapet takjil :9 Kantin ini berlangsung selama tiga minggu berturut-turut owo

Kantin minggu pertama, 8 Juni 2016. Temanya Yang Muda, Yang Mengguncang Dunia diisi oleh Ustaz Deden Anjar. Intinya tentang kebangkitan pemuda pada masa lalu dan masa kini--bagaimana peran pemuda di dunia. Keren. Dibahas juga kalau nanti kita akan ditanya di akhirat; "Kau habiskan untuk apa masa mudamu?" dan--yakin po jawaban kita bisa diterima? 8")) Silakan baca press-release di instagramnya farohis ya! Aku nggak beranjak dari meja panitia gara-gara nggak mau meninggalkan satu kalimatpun ;;


Lalu,  tanggal 13 Juni 2016 ada Bukber on the Street yang disingkat BOS. Di tengah perjalanan, tiba-tiba hujan melanda--jadinya aku ngiyup, dan udah jam lima pas hujannya menjelang reda. Akhirnya aku nggak jadi orz Pada dateng ya? Duh aku hanya bisa meninggalkan publikasi sajha ;;

Lanjut bahas Kajian Rutin lagi! Kantin minggu kedua, 15 Juni 2016. Dipisah akhwat sama ikhwan. Yang akhwat tetep di masjid UII yay. Yang ikhwan ada di masjid Syuhada (duh jadi inget baru-baru ini aku baca sejarahnya masjid Syuhada--kalo ke sana lagi pasti bakal beda rasanya TvT) di UII dibahas tentang hijab dan jilbab. Ada juga komunitas lovehijab. Aku sempet denger soal lima tipe perempuan dalam Alquran juga ;;

Di akhir sesi, aku jadi perwakilan dari StuCash--masih inget, nggak, soal StuCash ini? XD StuCash itu singkatan dari Student Care & Share, dan waktu itu ngadain penggalangan jilbab dan alat ibadah. Karena kerjasama dengan farohis, makanya aku sosialisasi di situ. Aku tegang mikirin apa yang mau aku omongin jadi aku cuma nyatet dua baris aja (...)


Satu hari setelah itu, Kamis, 16 Juni 2016, ada Tabligh Akbar dari Relawan Cinta Syam! Aku belum bilang ke Bleepy apa-apa soal ini soalnya kejadiannya cepat sekali(?) ;; Jadi, Relawan Cinta Syam ini bekerjasama dengan Islamic Fashion Fest #2, Rohis Ash Shaff, dan Ramadhan di Sekolah membuat Tabligh Akbar di GOR UNY.

Aku ikut ehehe. Aku catet materi sekalian buat press-release-nya :3 Karena bekal yang sudah diberikan selama aku susah-payah buat press-release RdS--belajar gimana caranya dengerin sambil nulis itu sangat susah orz--aku bisa nyelesaiin press-relese begitu Tabligh Akbarnya selesai, yay! xD Untungnya nggak langsung publish saat itu juga jadi aku bisa baca ulang (pas RdS belum sempet baca ulang--nangkap typo juga di situ orz) dan nangkap satu typo di paragraf dua.


Tanggal 19 Juni 2016, ada Bukber dan Upgrading Rohis. Ah di sini yang paling terkenang adalah pada saat Rohis Awarding dan Games Werewolf (.................). Pas Rohis Awarding entah kenapa ide dasarnya apa aku nggak tau tapi aku jadi--aku jadi-----rohis akhwat hitz (....). Oke lupakan ini. Aku paling suka games werewolf XD Gamenya seru banget, keren! Aku baru tahu pas itu btw ;w;)9 Aku cuma jadi village biasa, tapi asik rasanya kalau dituduh jadi werewolf trus kita ngebela diri gitu :")) Kalau debat gitu pasti makin seru ;;

Oke tetep ada materi sih. Sebelum itu yang paling kuinget (dan pas aku belum sampai titik jenuh) ada kajian dari Mas Farid tentang Kebutuhan Umat. Salah nggak sih soal media massa; gimana media massa merupakan pembodohan, dan sebagainya. Pandanganku juga terbuka soal video porno. Anak kecil selalu dilarang sama orangtuanya nonton video atau baca buku itu dengan alasan, "Jangan, belum 17 tahun!" padahal kalau dipikir-pikir, apakah setelah 17 tahun lalu kita boleh? :))) Umur kan nggak menjamin kedewasaan seseorang--aku pas dengerin ini jadi keinget kajian RdS yang kantin minggu pertama hehe xD


 

Lalu, okey, ini Kantin minggu ketiga, 22 Juni 2016. Tentang Muslim Traveller, yang ngisi Ust. Dr. Okrisal Eka Putra. Di akhir-akhir dibahas caranya Imam Syafi'i, yaitu beliau yang nggak mau pindah dari suatu tempat apabila belum dapat mengajarkan ilmunya pada lingkungan di sekitarnya. Yang bikin aku ketawa pas Ustaz Okrisal cerita tentang risetnya nanyain seorang pelajar, "Dek, kenapa kamu masih sekolah?"

Dan jawabannya... "Iya, ya, Mas, kenapa ya saya sekolah?" demi apa pengen ketawa sekaligus oh-the-irony sekali ya 8"))) Sedih sih. Sebenernya kenapa kita belajar--pandanganku kebuka begitu ini dicetuskan sama Ustaz Okrisal. Ini masalah keseriusan kita, dan ada hubungannya juga sama niat kita sebelum berangkat sekolah. Bahkan kalau dipikir-pikir, pergi ke sekolah itu termasuk 'travelling kecil-kecilan' dan prinsip kita, "Harus ada yang berubah dari diri kita setelah perjalanan." Nah, bukannya itu berlaku juga kalau kita mau berangkat sekolah? :"")

Di Kantin ini, aku masih netep di meja panitia sampai udah sepi--soalnya juga ada beberapa perwakilan sekolah yang ngasih sumbangan jilbab dan alat ibadahnya. Bahkan ada juga yang ngasih padahal udah di bangku perkuliahan. Yang ngasih ke aku, besok lusanya kukasihkan ke SMA 10 soalnya penanggungjawabnya di sana. Aku ketemuan sama dia di ruang OSISnya, lalu aku pulang. Semoga sumbangan jilbab dan alat ibadahnya didonasikan dan berguna, aamiin 'v')/


Lalu, 24 Juni 2016 ada Tabligh Akbar! Di Masjid SMPIT Abu Bakar. Di sini aku juga cuma bisa meninggalkan publikasiku (........) soalnya ada buka bersama Pasutri yang udah ditentukan dari jauh-jauh hari xD Aaaaah walaupun nggak fullteam, tapi bukbernya bener-bener mengenang:"") Semoga bisa kubahas di postingan tersendiri. Dan semoga--pas kelas 12 kita bisa satu kelas lagi :"""")))))

Setelah itu, aku disibukkan dengan segala macam soal ngedit dan ngelayout untuk majalah Depazter yang uh-oh ini sangat mazow sekali bung. Begitu semua selesai aku pengen ngeposting tentang ini juga. Acara RdS yang selanjutnya adalah i'tikaf, karena udah masuk 10 hari terakhir Ramadan. Sungguh tak terasa:") Dan yaa--aku nggak bisa ikut i'tikafnya karena jauh--jadi kusudahi aja deh ya.

p.s.


18 Juni 2016 SMA 6 bisa mengharumkan prestasi di SRC--Sagasitas Research Competition--dan aku kan satu kelompok sama ketuaku, Embun. Alhamdulillah kita bisa dapet medali emas :"))) Seneng bangeeeett! Hehe. Timnya Febri sama Laras dapet Special Award, lalu ada dua kelompok adek kelas, timnya Rifda-Adzra sama Kuntari-Arvy dapet medali perak, selamat <3 Alhamdulillah :""))

p.s. (2)

Kemarin aku kejar episode Webtoon English judulnya Space Boy! Ada yang baca? Kalau belum, kurekomendasikan untuk kalian--soalnya bagus banget ceritanya :"") Genrenya drama, dan ada romensnya, dan romensnya begitu menyakitkan--uh the feels :"")))) Nggak cuma romensnya, tapi setting dan idenya keren banget!

Sudah yaa xD