Illusion.

Kamis, Juni 09, 2016

(Sebenernya postingan ini sudah menjamur di Google+ ku, tapi akhirnya aku posting juga di sini.)

I know it's hard to tell how mixed up you feel
Hoping what you need is behind every door
Each time you get hurt, I don't want you to change
Because everyone has hopes, you're human after all

Please don't go, I want you to stay
I'm begging you please, please don't leave here
I don't want you to hate for all the hurt that you feel
The world is just illusion trying to change you

INI cuplikan lirik dari lagu yang entah terkenal atau tidak. Saat itu, akhir tahun 2015, aku tak sengaja mendengarkan lagu itu, di saat aku memang membutuhkannya. Hanya saja, ada perbedaan sudut pandang. Bukan sebagai seorang teman yang kebingungan mencoba mengerti perasaan temannya yang sedang campur aduk, bukan. Namun sebagai seseorang yang sedang mengalami perasaan campur aduk itu sendiri.

Ya, saat itu, aku sedang kelelahan. Tak perlu kuceritakan bagaimana, tetapi aku membuat suatu keputusan dengan anggukan, yang harus kubayar dengan berember-ember tetes keringat dan tangisan darah. Aku menyesali keputusanku, dan aku yakin ketika aku sudah berumur dan ditanya, apa keputusan dalam hidup yang paling kusesali, maka itu adalah jawabannya. Aku membuang setiap kebahagiaan yang harusnya kurasakan, 'berkat' keputusanku. 

Betapa suatu keputusan bisa merubah masa depan seseorang. Saat itu, aku lelah luar binasa. Aku ingin berhenti, aku ingin benci, aku ingin pergi, aku ingin mati. Kepalaku serasa ingin pecah, dan akupun tak mengapa apabila aku meledak saat itu juga. 


SEKARANG, sudah tujuh bulan berlalu semenjak kejadian itu. 

Aku sudah menyelesaikan komitmen yang kusepakati dan yang kusesali telah kusepakati. Semua sudah selesai, dan sekarang, aku menuai hikmahnya: itulah pengalaman. Pengalaman berharga, pengalaman yang tak bisa dibeli, pengalaman yang tidak semua orang mau mengambilnya, dan aku mendapatkannya.

Sekarang, aku bisa bangga. Terang saja, hikmah yang kudapatkan sejauh ini adalah rasa bangga. Tapi, meskipun rasa bangga itu begitu besar, pada kenyataannya, hanya itu saja yang kudapatkan. Itu hanyalah rasa bangga.


AKU menyukai tiap kalimat yang ada di lirik lagu itu. Aku berharap ada orang yang mengatakan itu kepadaku, dulu. Semua sudah berakhir sekarang. Dan apabila aku dikembalikan ke masa lalu, ditawarkan kesempatan ini lagi, di mana aku sudah mengetahui apa yang akan terjadi, sekalipun aku juga mengetahui rasa bangga yang kuterima: aku akan menolaknya.

Inilah aku, lirik lagu kesukaanku, dan penyesalan terbesar dalam hidupku.



Kata-kata tambahan:
Aku sebenernya bingung mau ngeposting di blog apa enggak, soalnya ini ada kemungkinan bisa memicu perselisihan (yang terlambat), sih. Oke, akhirnya aku posting juga. Bahasanya melakolis bangeeeet :"")) Aku jadi malu (....)

You Might Also Like

0 comment(s)