Aku sama kamu.

Senin, Juni 20, 2016

(Jarang-jarang aku nulis kayak ginian. Ini rant; kalimat kemarahan. Jangan dibaca, sih, sebenernya. Dan maaf kalau terkesan menggebu-gebu, tapi aku memang lagi marah sekarang huft.)

Kita itu sahabatan. Tapi kenapa setiap kali ketemu, kita malah cek-cok?

Kalau rukun, kalau di antara kita nggak ada masalah (baik itu masalah yang dibawa pribadi masing-masing atau masalah yang disebabkan karena kita berdua), kita bisa baik-baik aja. Baik banget, malah. Bahkan nggak malu untuk bilang kalau masing-masing dari kita, adalah sahabat terbaik untuk masing-masing dari kita juga. Katamu kita mirip? Bahkan, katamu ibu kita mirip? Atau nasib kita mirip?

Tapi kenapa kenapa kenapa sih setiap kali kita ada masalah (dan entah kenapa akhir-akhir ini sejak awal tahun 2016 kita selalu punya masalah) kita selalu cek-cok? Aku selalu ogah banget buat ketemu kamu karena aku tahu aku bakal marah banget sama kamu! Kenapa? Bahkan, kenapa marahku itu marah jangka panjang yang bikin kalau aku mikirin itu aja aku langsung ada di suasana hati di mana aku-lagi-pengen-bunuh-orang-jadi-jangan-dekati-aku? Bahkan ketika kita (aku) coba ngomong baik-baik, pada akhirnya akhirnya kita (kamu) selalu ngajak berantem! Dan serius, kamu yang mulai pertengkaran; bukan aku!

Yang aku nggak suka dari kamu adalah betapa kamu beralasan kalau kamu stres atau ngajak berantem itu karena masalah yang kamu punya. Masalah pribadi, iya. Tapi, plis. Dulu kita pernah bilang, 'kan, kalau kita berantem gara-gara suatu permasalahan, itu artinya masing-masing dari kita punya masalah? Lalu kenapa kenapa setiap kali kita marahan dan aku protes, kamu ngingetin soal masalah pribadi yang kamu pendam? Seolah-olah gara-gara aku masalah itu terjadi. Aku di sini juga punya masalah, oke?

Akhirnya hari ini aku yang mulai. Aku ngomong panjang-lebar dan aku coba menawarkan bantuan (solusi) dan fyi itu hanya tawaran dan aku nggak menyarankan, lagipula apa sih bedanya tawaran dan saran kenapa sih kamu selalu cari perkara soal kata yang aku pakai? Aku paham masalahmu tapi wajar, 'kan, kalau aku nggak sepaham kamu karena kamu nggak cerita? Dan aku coba menawarkan solusi baru tapi kenapa kamu justru tanya apa bagusnya solusi itu dibandingkan solusi yang dulu serius apa sih masalahmu? Ini tawaran, oke? Lagian aku juga nggak peduli kalau kamu mau ambil solusi yang ini atau tetep ke solusimu yang dulu itu!

Trus kamu tanya, apa kelebihannya, trus aku jawab menurutku solusi ini lebih blablabla dan kamu justru bilang kalau itu kelebihannya lah kan memangnya tadi kamu tanya apa? Tadi kamu tanya ke aku, apa kelebihannya kan? Sebenernya yang lagi punya masalah siapa sih? Gimana kalau aku bilang bahwa setiap kita marahan karena masing-masing dari kita punya masalah, faktanya adalah bahwa masalahmu adalah urusanmu pribadi sementara masalahku adalah kamu?

Lalu begitu aku mau membela diri kamu langsung aja bilang stop memperdebatkan masalah kata kadang aku bingung maumu apa oke bukan kadang tapi sering! Kita ini sahabat tapi kenapa kita nggak bisa saling memahami? Apa jangan-jangan karena kita nggak bisa saling memahami maka kita jadi sahabat? Atau kamu berubah? Atau aku berubah? Atau sebenernya kita yang nggak bisa saling memahami itu memang fakta sejak dulu tapi yang bikin berubah adalah persepsi kita tentang sahabat itu sendiri? Dan ngomong-ngomong, yang mulai memperdebatkan dan cari gara-gara ini adalah kamu dan semuanya selalu kamu!

Kamu ngatain aku tukang penghalus kata itu maksudnya apa? Aku sarkasme? Atau kamu yang suasana hatinya lagi buruk dan menganggap semua kata-kataku itu sarkasme? Atau pendapatmu yang sejak awal salah tentang aku yang kamu kira sebagai tukang-penghalus-kata (demi apa kamu sungguhan anggap aku tukang penghalus kata? tukang? penghalus? kata???) membuat kamu nganggap semua kata-kataku itu sarkasme? Kenapa aku selalu harus dan harus ngemaklumin apa yang kamu lakuin ke aku?

Betapa aku pengen banget nundukin kepalamu dan bilang kalau kamu harus nurunin rasa gengsimu tapi kenapa aku selalu punya kesempatan itu setelah kamu dapet akibatnya? Apa karena apapun yang aku bilang, kamu nggak pernah mau denger? Atau aku yang nggak sempet bilang kalau saat ini sebenernya kamu kemakan gengsimu sendiri? Atau kamu terlalu badmood untuk menghilangkan rasa gengsi? Kamu bilang stop dan aku bilang oke dan setelah itu kita nggak bicara lagi! Kenapa rasa gengsimu yang besar itu selalu pengen memperlihatkan padaku bahwa selalu aku yang pertama kali ngomong dan selalu aku juga jadi yang terakhir? Seolah-olah aku yang ngejar kamu biar kita baikan tapi oke kalaupun memang iya gitu, apa ada kata gengsi di kamus sahabat?

(Hal yang paling aku benci adalah kenyataan bahwa aku bertanggungjawab atas apa yang kamu lakukan.)

Aku marah dan ini bukan pertamakalinya aku menaruh rasa simpati ke orang yang salah. Dulu aku pernah punya sahabat yang kutaruh simpati ketika aku kelas 4 SD dan oke itu udah lama banget sebenernya. Tapi ini pertamakalinya aku bener-bener nyesel udah percaya sama sahabatku sendiri. Percaya dan dikhianati itu bukan persoalan yang langka di dunia, tapi percaya dengan sahabat sendiri itu menurutku bukan pilihan, jadi kalau kita dikhianati oleh kepercayaan kita ke sahabat itu perih bukan main! Kenapa kamu ngebuat aku ngerasain kayak gitu? Aku pengen kamu jangan bikin aku nyesel punya sahabat kayak kamu!

Aku nggak mau ketemu kamu lagi karena aku dan kamu sekarang lagi marahan. Tapi yang bikin aku nggak mau ketemu karena setiap kali aku ketemu pasti perasaan marah itu hilang untukku karena aku bakalan ngelampiasin ke orang lain karena aku udah terlanjur menaruh simpati lagi ke kamu. Lalu aku menaruh simpati, aku bantu kamu dengan masalahmu, lalu kamu bilang aku sahabatmu yang bikin kamu terharu, dan semua langsung kelihatan baik-baik aja di antara aku sama kamu.

Pada akhirnya, aku ingin aku yang nanti mengakhiri ini semua. Semoga aku bisa menyelesaikan masalahmu yang ini dan setelah itu aku yang akan bilang stop ke kamu karena pemahaman kita nggak sejalan dan bahkan kita (kamu) nggak bisa saling mengerti (aku) jadi kita nggak bisa disebut sebagai sahabat setelah itu. Ada seseorang di dekatmu yang rela jadi sahabat seperti itu dan walaupun aku naruh simpati ke dia tapi oke, setidaknya nggak ada yang merasa dirugikan di antara kalian (walaupun nggak begitu di mata orang-orang).

Aku melakukan kilas balik selama kita sahabatan dan aku sadar kamu menjauhkan aku dari apa yang seharusnya baik buatku dan itu salahku (dan salah rasa simpatiku) jadi karena aku ada di pihak yang salah (dan pihak yang sadar) maka aku harus yang pergi sebelum ada yang mati--lagi.

(Kok jadi puitis akhirnya)

***

Duh marah-marah gini, maaf, ya, Bleepy. Ntar pas akhir Ramadan, aku hujani dengan berbagai kegiatan RdS yang memang aku tunggu sampai kekumpul semua dan jadi satu postingan kok :3

You Might Also Like

0 comment(s)