Dikisahkan,

Selasa, Mei 10, 2016

Sometimes I feel just like these days and nights will never end
But will I ever get this chance again?
-Worth It (Harris J)

Kalau kita berbuat baik, pasti suatu hari nanti, kita akan mendapat balasan dari kebaikan apa yang kita lakukan, iya, 'kan? Sebenarnya kalimat pertama ini (dan juga cuplikan lirik lagu Worth It itu) nggak ada hubungannya dengan apa yang mau aku ceritain, sih, tapi, oke, aku lanjut, ya. Yang aku sayangkan dari waktu dua bulan nulis cerita tentang Kemah ini adalah karena aku jadi nggak nulis tentang Top Up, NBC, Mading NBC, LiterArt Fest, dan Talkshow Kang Abik. Hm, mungkin bisa aku barengin, sama SRE dan Diklat Jurnalistik yang jadi kegiatan(?)ku minggu ini.

Skip. Kebanyakan ngomong. Langsung kumulai ya.

Btw, ini kisah fiksi.

Dikisahkan, ada seorang remaja, laki-laki. Sebenernya, sih, dia SMA, tapi dia memilih untuk putus sekolah, dan mengisi hari-hari dengan buat modul penunjang belajar online, website pengetahuan, dan lain-lain. Karena, ya, dia itu memang aslinya pinter. Kalau dia lanjut sekolah, mungkin dia lulus tahun ini. Tapi dia memilih buat nggak lanjut sekolah. Uang yang dia dapet dari website yang dia buat itu mengalir terus, jadi, dia merasa, sih, kalau dia bisa hidup lewat situ aja.

Tapi, dia ini orangnya baik. Hampir setiap minggu, dia pasti makan siang di warung makan kecil yang sangat sepi. Sangat sepi, dan saking sepinya, pelanggannya waktu momen itu cuma dia satu-satunya. Yang si Pemuda ini lakukan simpel banget, dia beli salah satu menu, dan ngajak ngobrol pemilik warung itu. Dia mau dengerin keluh-kesahnya pemilik warung itu, masalahnya, masa lalunya, pokoknya dia setiap minggu ke warung paling sepi untuk ngobrol.

Pemuda ini punya kekurangan: wajahnya. Aku nggak bisa bilang dia jelek, sih, tapi tampangnya itu bikin orang-orang ketawa. Oke, aku sendiri sih nggak ketawa (walaupun aku setengah mati sih nahannya) karena ya gimanapun juga ngetawain wajah orang itu dosa dan sangat jahat, tapi aku nggak bisa ngelak kalau wajahnya itu memang.... hm.... lucu? Yah, pokoknya gitu, deh. Tapi, serius, tampangnya memang bisa bikin orang-orang yang melihat itu harus ketawa. Ekstra keras buat nahan, beneran.

Rambutnya botak, matanya sipit, giginya besar-besar, pipinya sangat besar. Setiap dia masuk ke warung, pasti pemilik warung yang menyambutnya itu pasti ketawa. Lalu merasa bersalah karena udah ngetawain, lalu akhirnya si Pemilik Warung bakalan nemenin si Pemuda itu sampai makanannya habis, dan dia cerita-cerita. Nah, katanya sih, poin plus dari tampang lucunya itu di sini.

Kalau aku ganteng, nggak ada pemilik warung yang mau cerita masalahnya ke aku.
-Si Pemuda, 18 tahun.

Waktu dia bilang itu, aku malah pengen tambah ketawa sih-_-. Dia memang pede banget lol. Oke, tapi ada benernya juga, karena dengan begitu, dia bisa dengerin semua keluh-kesah pemilik warung yang diceritain dengan senang hati (karena rasa bersalah itu tadi). Si Pemuda ini sebenernya nggak pernah ngasih solusi (atau aku yang nggak tau?) tapi, dia hanya suka dengerin masalah, dan memang ada tipe orang yang nggak butuh solusi untuk permasalahan yang dia ceritakan.

Sampai kemudian, ada suatu hari di mana dia datengin warung, yang pemiliknya itu punya anak. Anaknya perempuan, SMA juga barangkali, tapi lebih muda dari dia, anak itu nggak sekolah, anak itu buta. Kerjanya duduk di salah satu meja yang ada di warung itu, lalu kadang-kadang ibunya, si Pemilik Warung, ngajak ngobrol sambil ngasih minum.

Si Pemuda tahu kalau dia nggak bisa dengerin masalahnya si Pemilik Warung, karena nyatanya si pemilik warung itu nggak memberikan seluruh perhatian ke dia. Dan pemilik warungnya ini juga nggak ketawa lihat tampangnya. Orang kedua yang nggak ketawa lihat tampangnya (karena yang pertama aku—walaupun aku mati-matian orz). Lalu, ada momen di mana ibu ini pengen tutup warungnya bentar karena mau sholat, dan bilang ke si Pemuda, kalau sudah selesai, langsung tinggal saja nggak apa-apa. Tapi, si Pemuda  ini malah bilang ke ibu anak tersebut. "Boleh aku duduk di depan anak Ibu?"

Ibunya kaget, kan, tapi, oke, akhirnya diperbolehkan. Akhirnya, si Pemuda ini duduk di depan anak perempuan yang buta itu. Walaupun awalnya, dia bingung (banget) mau ngobrol apa, tapi lalu dia kaget pas dia bilang sendiri, "Mau denger ceritaku, nggak?" ke anak perempuan yang buta itu. Sebenernya dia nggak tahu kenapa dia tiba-tiba bilang kayak gitu, tapi katanya, sih, itu kayak semacam keinginan terdalamnya yang selalu dengerin masalah orang-orang tapi dia nggak dikasih kesempatan buat cerita masalahnya sendiri :>

Si Perempuan kaget, tapi lalu dia ngangguk aja. Si Pemuda akhirnya cerita. Soal masa lalunya.

"Aku ganteng," ia mulai bercerita, yang membuat si Perempuan langsung tertawa. "Aku juga pintar. Di SMA, aku suka sekali dengan semua pelajaran, tapi aku nakal. Suatu hari, ketika praktikum Kimia, aku membuat kesalahan fatal yang mengakibatkan semuanya rusak. Lalu, aku mengeluarkan diri dari sekolah."

Sebenernya sih, ceritanya lebih panjang dari ini. Intinya, dia sibuk berceloteh, tapi ada beberapa poin yang sebenernya penting, dan malah nggak dia ceritain. Atau sengaja nggak dia ceritain.

  • Poin yang pertama: soal dia ganteng. Itu bener. Dia ganteng, memang, tapi masalahnya, itu dulu. Dia dulu ganteng. Ganteng banget malah, paling ganteng kalau bisa kubilang zzZ. Rambutnya cepak cowok gitu. Kalau dia senyum itu........... kayaknya gunung salju langsung bisa meleleh jadi sungai. 
  • Poin yang kedua: soal dia pinter dan nakal. Yap, itu juga bener. 
  • Poin yang ketiga: semuanya rusak. Hm, semuanya rusak itu bisa jadi. Tapi, definisi dari 'semua'-nya adalah 'dunia'-nya. Karena.... pas itulah wajahnya jadi "rusak". Dia salah masukin ramuan kimia atau apa aku juga nggak tau karena dia nggak mau cerita detailnya, dia selalu bilang, "ya pokoknya gitu" tiap kali dipancing buat ngomong-_-. Tapi, gara-gara itulah yang membuat wajahnya yang dulu ganteng sejagad tampan segalaksi berubah menjadi........... lucu. 
  • Poin yang keempat: mengeluarkan diri dari sekolah. Ini juga bener. Dia nggak dikeluarkan dari sekolah, dia mengeluarkan diri. Sebenernya sekolah menyalahkan dia, tapi pihak siswa (tepatnya temen-temennya dia yang sejibun) menyalahkan pihak sekolah yang nggak tegas soal bahaya ramuan Kimia. Apapun demi kawan, dan itu berhasil, akhirnya sekolah ngijinin dia masuk sekolah. Tapi, hm... dia yang nggak mau masuk sekolah lagi orz

Jadi, si Pemuda ini nggak cerita kalau dia sekarang itu tampangnya udah nggak ganteng. Karena dia pengen bikin si Perempuan ini ketawa, jadi dia cerita soal kenakalan-kenakalannya, dan lain sebagainya. Begitu terus sampai bahan ceritanya habis, dan si Perempuan masih aja ketawa (mungkin untuk menghormati juga, sih). Karena ada jeda, si Perempuan tanya, "Ada cara biar aku bisa mengungkapkan rasa terima kasih?"

Karena si Perempuan ini nggak mau sekadar bilang "terima kasih" habis itu udah. Dia mau gantian melakukan apa gitu, biar sebagai ungkapan rasa terima kasihnya ke si Pemuda yang dari tadi menghibur dia. Si Pemuda ini awalnya diem, dia mikir. Lalu, ini yang dia minta:

Si Pemuda: Sekarang, coba kamu pejamkan mata.
(Si Perempuan bingung, tapi akhirnya merem juga).

Lalu, Pemuda ini bilang
"Aku tahu ini nggak sopan, tapi coba bayangkan bagaimana sosokku di hadapanmu. Aku tadi sudah bercerita macam-macam, kamu tentu bisa membayangkan seperti apa aku yang ada di depanmu ini. Dan kalau kamu sudah membayangkannya, aku minta kamu mulai membuka mata. Kita tahu bahwa kamu tidak bisa melihat apapun kecuali kegelapan, namun, bisa, 'kan, kamu seolah-olah melihat aku yang ada di hadapanmu ini seperti apa yang kamu bayangkan? Persis?"
Si Perempuan ini merem agak lama, dan akhirnya dia membuka mata. Walaupun awalnya takut-takut, tapi yah, sebenernya, dia memang nggak bisa lihat apapun kecuali gelap. Tapi, dia bisa membayangkan kalau yang ada di hadapannya itu gimana sosoknya. Dan, yang perempuan ini lihat adalah sosoknya dia dengan tampangnya yang dulu. Tampangnya yang lama.

Yang gantengnya tiada tara.... yang dulu. Perempuan ini bisa membayangkan kayak gitu karena dia bisa melihat ke hatinya :) Beda sama pemilik-pemilik warung makan lain yang begitu lihat bawaannya cuma ketawa, karena mereka lihat secara tampang. Perempuan itu melihat langsung ke hatinya, dia nggak tau kalau sebenarnya yang ada di depannya itu pemuda yang tampangnya seratus delapan puluh derajat beda. Dia cuma senyum sambil bilang, "Kamu sesuai dengan apa yang ada di bayanganku."

Si Pemuda tahu, kalau yang perempuan ini lihat adalah sosoknya yang lama. Dia sebenernya bingung, apa dia harus bilang kayak gitu, atau enggak. Dia memang pengen kalau perempuan ini ngelihat langsung ke hatinya tanpa menilai secara fisik, tapi dia bisa ngerasain kalau perempuan ini bakalan percaya dengan apa yang ada di bayangannya, soal kayak gimana sosoknya dia itu, yang padahal itu salah.

Tapi di luar kehendaknya, si Pemuda ini bilang. "Apa yang ada di pikiranmu, itu bener."

Mereka lanjut ngobrol lagi, sampai si Pemuda pamit pulang.

Got a thousand words, that wouldn't stop running circles.
Around in my head.
-Worth It (Harris J)

You Might Also Like

0 comment(s)