Aku dan Responsi

Senin, Mei 16, 2016

Sekarang, aku lagi di mushola, sepi. Mungkin ramenya nanti pas menjelang Ashar, ya. Sekarang, aku mau cerita. Jadi, apa yang terjadi padaku hari ini? Kelas 11 ujian Responsi jam setengah dua sampai jam tiga tadi. Responsi itu, apa: responsi itu mengulas praktikum (biologi, kimia, fisika untuk IPA) dan untuk pembuktian apakah kamu benar-benar praktikum atau tidak. Intinya itu, sih.

Aku pusing. Kenapa aku pusing? Ya karena aku nggak bisa ngerjain. Bukannya apa-apa, ya, masalahnya aku nggak ada fotokopian praktikum dan nggak ada soal tahun lalu (aku juga nggak ada usaha buat nyari jadi salahin aku aja oke). Tapi minggu ini aku lagi ada di mood yang aku nggak begitu peduli dengan nilai karena aku lagi pusing dan aku lagi mikir pada hari apa di minggu ini yang aku nggak usah masuk aja jadi pas tau ada ujian Responsi itu bikin aku nggak peduli.

Dan, yah, ternyata soalnya susah banget. Oke, kayaknya kata-kataku terkesan jahat dan aku kesannya bukan pelajar yang baik jadi aku nggak tau mungkin suatu hari nanti postingan ini dihapus. 

"Kamu yang plasmolisis itu berapa? 62,5% bukan? Sel matinya itu dihitung nggak e?"

Hah, plis! Aku aja lupa itu soal bagian mana. Aku bener-bener nggak belajar dan begitu aku baca soal pertama aku makin pusing dan kepalaku sakit banget jadi aku nggambar-nggambar nggak jelas dan itu adalah rekor di mana soalku paling penuh dengan gambar-gambar. Biasanya cuma tulisan-ulisan, atau secuplik lirik, dan aku nggak pernah bener-bener nggambar dua bebek dan satu kelinci di soal kayak tadi.
"Gila, eh, ternyata soalnya kayak tahun lalu persis!"
"Beda, ah, yang fisika diganti angka-angkanya."
"Tapi yang Kimia itu, lho. Persis bener-bener p e r s i s ! Sayang banget nggak fotokopi tadi."
Kukira itu adalah kalimat paling gelo yang penah aku denger. Kalau semisal aku punya soal tahun lalu dan aku nggak baca soal itu sama sekali dan ternyata soalnya emang sama persis kayak tahun lalu, aku bakal ngais tembok karena sama aja aku udah dikasih jus mangga plus sedotan tapi nggak aku minum sampai akhirnya kesambar kucing.

Tapi ternyata, aku nggak ngerasain yang sama. Maksudnya, inilah aku, di sudut pandang orang yang nggak belajar dan yang nggak punya soal tahun lalu dan yang baca soal nomor satu aja sakit kepala dan yang gambar dua bebek dan satu kelinci di soalnya dan yang langsung lupa soalnya begitu aku keluar dari ruangan. Waktu aku denger kalimat itu, aku kayak pengen ngomong, hei jadi kamu ada soal tahun lalu? Bagus dong karena aku aja nggak ada atau kalimat apapun yang intinya:

Lihatlah aku, Kawan, masih ada yang lebih parah dari kamu jadi jangan 'pamer' ke-nggakbisa-anmu ke aku karena aku lebih parah dari itu.

Udah, sih, itu aja.

You Might Also Like

0 comment(s)