rohis

Tentang Rohis

Minggu, Mei 22, 2016

Halo. Jumlah postinganku sekarang sama kayak hari ulang tahun Jogja XD (nggak penting).

Jadi, sekarang sudah menunjukkan pukul 12.27. Terlepas dari apa yang akan terjadi pada besok lusa (baca: UKK) kita sebaiknya lihat pada apa yang akan terjadi setengah jam kemudian. Apa coba? Yap. First meet orang-orang yang minat untuk terlibat dalam kepanitiaan Ramadhan di Sekolah. Masih inget RdS ini, nggak? Buka, deh, postingan blogku setahun yang lalu XD


Ada beberapa perubahan pada kepanitiaan RdS tahun lalu sama tahun ini. Oke, karena aku bukan anak Farohis (Forum Antar Rohis) dan aku nggak tau apa yang terjadi di inner-nya, jadi aku bilang ini sebagai seorang pengamat ya. Soalnya aku jadi peminat juga tahun lalu sama tahun ini 'v')7 Seingetku, tahun lalu itu nggak langsung kebagian sub-divisi-nya. Tahun lalu aku jadi divisi Media dan pas rapat, aku secara otomatis ke bagian pembuatan blog sama press-release beberapa kegiatan. Tahun ini, aku langsung masuk ke divisi Media: Release. Jadi, udah dikelompokin gitu.

Bahas RdS, pasti nyinggung soal Farohis. Aku belum sempet cerita soal ‘kesedihan’-ku nggak diterima jadi anak Farohis, dan ‘kesedihan’-ku juga karena dianggap anak Farohis padahal enggak orz. Sejak kelas sepuluh, Farohis sempet ngadain kegiatan pas bulan Desember, namanya Silatnas (Silaturahmi Nasional). Di situ aku jadi dana usaha (here we go again) merangkap LO pas hari H. Aku diajakin sama Wardah, dan gara-gara itulah aku minat ke Farohis.

Temen-temenku yang gabung kepanitiaan Silatnas bilang gini:
“Ras, pas tes, kamu bilang aja kalau kamu pernah gabung Silatnas, ada poin plus-nya soalnya.” 

Oke, jadinya kulakuin itu. Aku bilang kalau aku gabung Silatnas, pas yang ngewawancara aku itu nanya-nanya kegiatanku apa aja. Aku bilang aku itu jadi panitia Silatnas di bagian akhir, hm, tapi aku nggak tau dicatet apa enggak, soalnya aku bilang itu pas si pewawancara udah selesai nulis kegiatanku dan setelah itu dia nggak nyatet lagi. Oke, pada akhirnya, aku nggak diterima jadi anak Farohis, hiks! Sedih banget, tapi, ya, menurutku pengalamanku masih kurang banyak, ya, di kegiatannya Farohis.

Aku akhirnya jadi bagian dari kepanitiaannya Farohis, namanya RdS, alias Ramadhan di Sekolah. Untungnya Farohis buka open recruitment yang artinya, orang luar Farohis boleh gabung dan terlibat aktif. Karena aku divisi Media dan ada tugas untuk membuat liputan beberapa agenda, aku dateng ke Tabligh Akbar-nya di UNY dan Acara Puncak. Aku juga ikut ke Silakbar, alias Silaturahmi Akbar. Aku jadi panitia dan jaga meja registrasi pas hari H, sekalian jualan juga (krik).

Trus, di kelas sebelas ini, aku daftar lagi Farohis. Pas ditanya kegiatanku apa, aku bilang kalau aku ikut Silatnas, Silakbar, RdS, dan setiap kegiatannya Farohis aku tahu! Wah, perjuanganku selama kelas 10 nggak sia-sia mengorbankan beberapa hari Minggu-ku (eh). Dan yaps, ternyata aku nggak diterima.... lagi TvT Nggak papa, deh. Sedih, sih.

Akhirnya di kelas sebelas aku ‘move on’ ke StuCash. Singkatan dari Student Care and Share. Itu, lho, penggalangan dana kalau ada bencana, misalnya pas bencana Asap atau Banjir plus Tanah Longsor. Aku jadi divisi Media di situ. Pas ‘tes masuk’-nya, ternyata StuCash ada ‘kaitannya’ sama Farohis. Nggak berkaitan juga, sih, karena visi-misinya juga beda, tapi pimpinannya sama-sama saling kenal.

Aku lalu cerita pengalamanku dengan Farohis, kan. Eh, kaget XD Soalnya nggak nyangka ada orang yang daftar Farohis dua kali dan nggak diterima :’) Akhirnya jadi makin akrab, ‘kan, trus aku lumayan aktif pas StuCash nggalang dana Bencana Banjir dan Tanah Longsor yang terjadi di Sumatera. 


Itu posternya, itu nomor teleponku (nggak penting banget ras).

Oke, tahun sudah berganti dan aku berasa angkatan tua, ikut RdS lagi. Apalagi di Divisi Media lagi :”) Aku berangkat sekarang, deh, semoga aku lebih seru, nambah pengalaman baru, dan selalu, semoga ada hikmahnya hehehe ♥

random

Aku dan Responsi

Senin, Mei 16, 2016

Sekarang, aku lagi di mushola, sepi. Mungkin ramenya nanti pas menjelang Ashar, ya. Sekarang, aku mau cerita. Jadi, apa yang terjadi padaku hari ini? Kelas 11 ujian Responsi jam setengah dua sampai jam tiga tadi. Responsi itu, apa: responsi itu mengulas praktikum (biologi, kimia, fisika untuk IPA) dan untuk pembuktian apakah kamu benar-benar praktikum atau tidak. Intinya itu, sih.

Aku pusing. Kenapa aku pusing? Ya karena aku nggak bisa ngerjain. Bukannya apa-apa, ya, masalahnya aku nggak ada fotokopian praktikum dan nggak ada soal tahun lalu (aku juga nggak ada usaha buat nyari jadi salahin aku aja oke). Tapi minggu ini aku lagi ada di mood yang aku nggak begitu peduli dengan nilai karena aku lagi pusing dan aku lagi mikir pada hari apa di minggu ini yang aku nggak usah masuk aja jadi pas tau ada ujian Responsi itu bikin aku nggak peduli.

Dan, yah, ternyata soalnya susah banget. Oke, kayaknya kata-kataku terkesan jahat dan aku kesannya bukan pelajar yang baik jadi aku nggak tau mungkin suatu hari nanti postingan ini dihapus. 

"Kamu yang plasmolisis itu berapa? 62,5% bukan? Sel matinya itu dihitung nggak e?"

Hah, plis! Aku aja lupa itu soal bagian mana. Aku bener-bener nggak belajar dan begitu aku baca soal pertama aku makin pusing dan kepalaku sakit banget jadi aku nggambar-nggambar nggak jelas dan itu adalah rekor di mana soalku paling penuh dengan gambar-gambar. Biasanya cuma tulisan-ulisan, atau secuplik lirik, dan aku nggak pernah bener-bener nggambar dua bebek dan satu kelinci di soal kayak tadi.
"Gila, eh, ternyata soalnya kayak tahun lalu persis!"
"Beda, ah, yang fisika diganti angka-angkanya."
"Tapi yang Kimia itu, lho. Persis bener-bener p e r s i s ! Sayang banget nggak fotokopi tadi."
Kukira itu adalah kalimat paling gelo yang penah aku denger. Kalau semisal aku punya soal tahun lalu dan aku nggak baca soal itu sama sekali dan ternyata soalnya emang sama persis kayak tahun lalu, aku bakal ngais tembok karena sama aja aku udah dikasih jus mangga plus sedotan tapi nggak aku minum sampai akhirnya kesambar kucing.

Tapi ternyata, aku nggak ngerasain yang sama. Maksudnya, inilah aku, di sudut pandang orang yang nggak belajar dan yang nggak punya soal tahun lalu dan yang baca soal nomor satu aja sakit kepala dan yang gambar dua bebek dan satu kelinci di soalnya dan yang langsung lupa soalnya begitu aku keluar dari ruangan. Waktu aku denger kalimat itu, aku kayak pengen ngomong, hei jadi kamu ada soal tahun lalu? Bagus dong karena aku aja nggak ada atau kalimat apapun yang intinya:

Lihatlah aku, Kawan, masih ada yang lebih parah dari kamu jadi jangan 'pamer' ke-nggakbisa-anmu ke aku karena aku lebih parah dari itu.

Udah, sih, itu aja.

cerpen

Dikisahkan,

Selasa, Mei 10, 2016

Sometimes I feel just like these days and nights will never end
But will I ever get this chance again?
-Worth It (Harris J)

Kalau kita berbuat baik, pasti suatu hari nanti, kita akan mendapat balasan dari kebaikan apa yang kita lakukan, iya, 'kan? Sebenarnya kalimat pertama ini (dan juga cuplikan lirik lagu Worth It itu) nggak ada hubungannya dengan apa yang mau aku ceritain, sih, tapi, oke, aku lanjut, ya. Yang aku sayangkan dari waktu dua bulan nulis cerita tentang Kemah ini adalah karena aku jadi nggak nulis tentang Top Up, NBC, Mading NBC, LiterArt Fest, dan Talkshow Kang Abik. Hm, mungkin bisa aku barengin, sama SRE dan Diklat Jurnalistik yang jadi kegiatan(?)ku minggu ini.

Skip. Kebanyakan ngomong. Langsung kumulai ya.

Btw, ini kisah fiksi.

Dikisahkan, ada seorang remaja, laki-laki. Sebenernya, sih, dia SMA, tapi dia memilih untuk putus sekolah, dan mengisi hari-hari dengan buat modul penunjang belajar online, website pengetahuan, dan lain-lain. Karena, ya, dia itu memang aslinya pinter. Kalau dia lanjut sekolah, mungkin dia lulus tahun ini. Tapi dia memilih buat nggak lanjut sekolah. Uang yang dia dapet dari website yang dia buat itu mengalir terus, jadi, dia merasa, sih, kalau dia bisa hidup lewat situ aja.

Tapi, dia ini orangnya baik. Hampir setiap minggu, dia pasti makan siang di warung makan kecil yang sangat sepi. Sangat sepi, dan saking sepinya, pelanggannya waktu momen itu cuma dia satu-satunya. Yang si Pemuda ini lakukan simpel banget, dia beli salah satu menu, dan ngajak ngobrol pemilik warung itu. Dia mau dengerin keluh-kesahnya pemilik warung itu, masalahnya, masa lalunya, pokoknya dia setiap minggu ke warung paling sepi untuk ngobrol.

Pemuda ini punya kekurangan: wajahnya. Aku nggak bisa bilang dia jelek, sih, tapi tampangnya itu bikin orang-orang ketawa. Oke, aku sendiri sih nggak ketawa (walaupun aku setengah mati sih nahannya) karena ya gimanapun juga ngetawain wajah orang itu dosa dan sangat jahat, tapi aku nggak bisa ngelak kalau wajahnya itu memang.... hm.... lucu? Yah, pokoknya gitu, deh. Tapi, serius, tampangnya memang bisa bikin orang-orang yang melihat itu harus ketawa. Ekstra keras buat nahan, beneran.

Rambutnya botak, matanya sipit, giginya besar-besar, pipinya sangat besar. Setiap dia masuk ke warung, pasti pemilik warung yang menyambutnya itu pasti ketawa. Lalu merasa bersalah karena udah ngetawain, lalu akhirnya si Pemilik Warung bakalan nemenin si Pemuda itu sampai makanannya habis, dan dia cerita-cerita. Nah, katanya sih, poin plus dari tampang lucunya itu di sini.

Kalau aku ganteng, nggak ada pemilik warung yang mau cerita masalahnya ke aku.
-Si Pemuda, 18 tahun.

Waktu dia bilang itu, aku malah pengen tambah ketawa sih-_-. Dia memang pede banget lol. Oke, tapi ada benernya juga, karena dengan begitu, dia bisa dengerin semua keluh-kesah pemilik warung yang diceritain dengan senang hati (karena rasa bersalah itu tadi). Si Pemuda ini sebenernya nggak pernah ngasih solusi (atau aku yang nggak tau?) tapi, dia hanya suka dengerin masalah, dan memang ada tipe orang yang nggak butuh solusi untuk permasalahan yang dia ceritakan.

Sampai kemudian, ada suatu hari di mana dia datengin warung, yang pemiliknya itu punya anak. Anaknya perempuan, SMA juga barangkali, tapi lebih muda dari dia, anak itu nggak sekolah, anak itu buta. Kerjanya duduk di salah satu meja yang ada di warung itu, lalu kadang-kadang ibunya, si Pemilik Warung, ngajak ngobrol sambil ngasih minum.

Si Pemuda tahu kalau dia nggak bisa dengerin masalahnya si Pemilik Warung, karena nyatanya si pemilik warung itu nggak memberikan seluruh perhatian ke dia. Dan pemilik warungnya ini juga nggak ketawa lihat tampangnya. Orang kedua yang nggak ketawa lihat tampangnya (karena yang pertama aku—walaupun aku mati-matian orz). Lalu, ada momen di mana ibu ini pengen tutup warungnya bentar karena mau sholat, dan bilang ke si Pemuda, kalau sudah selesai, langsung tinggal saja nggak apa-apa. Tapi, si Pemuda  ini malah bilang ke ibu anak tersebut. "Boleh aku duduk di depan anak Ibu?"

Ibunya kaget, kan, tapi, oke, akhirnya diperbolehkan. Akhirnya, si Pemuda ini duduk di depan anak perempuan yang buta itu. Walaupun awalnya, dia bingung (banget) mau ngobrol apa, tapi lalu dia kaget pas dia bilang sendiri, "Mau denger ceritaku, nggak?" ke anak perempuan yang buta itu. Sebenernya dia nggak tahu kenapa dia tiba-tiba bilang kayak gitu, tapi katanya, sih, itu kayak semacam keinginan terdalamnya yang selalu dengerin masalah orang-orang tapi dia nggak dikasih kesempatan buat cerita masalahnya sendiri :>

Si Perempuan kaget, tapi lalu dia ngangguk aja. Si Pemuda akhirnya cerita. Soal masa lalunya.

"Aku ganteng," ia mulai bercerita, yang membuat si Perempuan langsung tertawa. "Aku juga pintar. Di SMA, aku suka sekali dengan semua pelajaran, tapi aku nakal. Suatu hari, ketika praktikum Kimia, aku membuat kesalahan fatal yang mengakibatkan semuanya rusak. Lalu, aku mengeluarkan diri dari sekolah."

Sebenernya sih, ceritanya lebih panjang dari ini. Intinya, dia sibuk berceloteh, tapi ada beberapa poin yang sebenernya penting, dan malah nggak dia ceritain. Atau sengaja nggak dia ceritain.

  • Poin yang pertama: soal dia ganteng. Itu bener. Dia ganteng, memang, tapi masalahnya, itu dulu. Dia dulu ganteng. Ganteng banget malah, paling ganteng kalau bisa kubilang zzZ. Rambutnya cepak cowok gitu. Kalau dia senyum itu........... kayaknya gunung salju langsung bisa meleleh jadi sungai. 
  • Poin yang kedua: soal dia pinter dan nakal. Yap, itu juga bener. 
  • Poin yang ketiga: semuanya rusak. Hm, semuanya rusak itu bisa jadi. Tapi, definisi dari 'semua'-nya adalah 'dunia'-nya. Karena.... pas itulah wajahnya jadi "rusak". Dia salah masukin ramuan kimia atau apa aku juga nggak tau karena dia nggak mau cerita detailnya, dia selalu bilang, "ya pokoknya gitu" tiap kali dipancing buat ngomong-_-. Tapi, gara-gara itulah yang membuat wajahnya yang dulu ganteng sejagad tampan segalaksi berubah menjadi........... lucu. 
  • Poin yang keempat: mengeluarkan diri dari sekolah. Ini juga bener. Dia nggak dikeluarkan dari sekolah, dia mengeluarkan diri. Sebenernya sekolah menyalahkan dia, tapi pihak siswa (tepatnya temen-temennya dia yang sejibun) menyalahkan pihak sekolah yang nggak tegas soal bahaya ramuan Kimia. Apapun demi kawan, dan itu berhasil, akhirnya sekolah ngijinin dia masuk sekolah. Tapi, hm... dia yang nggak mau masuk sekolah lagi orz

Jadi, si Pemuda ini nggak cerita kalau dia sekarang itu tampangnya udah nggak ganteng. Karena dia pengen bikin si Perempuan ini ketawa, jadi dia cerita soal kenakalan-kenakalannya, dan lain sebagainya. Begitu terus sampai bahan ceritanya habis, dan si Perempuan masih aja ketawa (mungkin untuk menghormati juga, sih). Karena ada jeda, si Perempuan tanya, "Ada cara biar aku bisa mengungkapkan rasa terima kasih?"

Karena si Perempuan ini nggak mau sekadar bilang "terima kasih" habis itu udah. Dia mau gantian melakukan apa gitu, biar sebagai ungkapan rasa terima kasihnya ke si Pemuda yang dari tadi menghibur dia. Si Pemuda ini awalnya diem, dia mikir. Lalu, ini yang dia minta:

Si Pemuda: Sekarang, coba kamu pejamkan mata.
(Si Perempuan bingung, tapi akhirnya merem juga).

Lalu, Pemuda ini bilang
"Aku tahu ini nggak sopan, tapi coba bayangkan bagaimana sosokku di hadapanmu. Aku tadi sudah bercerita macam-macam, kamu tentu bisa membayangkan seperti apa aku yang ada di depanmu ini. Dan kalau kamu sudah membayangkannya, aku minta kamu mulai membuka mata. Kita tahu bahwa kamu tidak bisa melihat apapun kecuali kegelapan, namun, bisa, 'kan, kamu seolah-olah melihat aku yang ada di hadapanmu ini seperti apa yang kamu bayangkan? Persis?"
Si Perempuan ini merem agak lama, dan akhirnya dia membuka mata. Walaupun awalnya takut-takut, tapi yah, sebenernya, dia memang nggak bisa lihat apapun kecuali gelap. Tapi, dia bisa membayangkan kalau yang ada di hadapannya itu gimana sosoknya. Dan, yang perempuan ini lihat adalah sosoknya dia dengan tampangnya yang dulu. Tampangnya yang lama.

Yang gantengnya tiada tara.... yang dulu. Perempuan ini bisa membayangkan kayak gitu karena dia bisa melihat ke hatinya :) Beda sama pemilik-pemilik warung makan lain yang begitu lihat bawaannya cuma ketawa, karena mereka lihat secara tampang. Perempuan itu melihat langsung ke hatinya, dia nggak tau kalau sebenarnya yang ada di depannya itu pemuda yang tampangnya seratus delapan puluh derajat beda. Dia cuma senyum sambil bilang, "Kamu sesuai dengan apa yang ada di bayanganku."

Si Pemuda tahu, kalau yang perempuan ini lihat adalah sosoknya yang lama. Dia sebenernya bingung, apa dia harus bilang kayak gitu, atau enggak. Dia memang pengen kalau perempuan ini ngelihat langsung ke hatinya tanpa menilai secara fisik, tapi dia bisa ngerasain kalau perempuan ini bakalan percaya dengan apa yang ada di bayangannya, soal kayak gimana sosoknya dia itu, yang padahal itu salah.

Tapi di luar kehendaknya, si Pemuda ini bilang. "Apa yang ada di pikiranmu, itu bener."

Mereka lanjut ngobrol lagi, sampai si Pemuda pamit pulang.

Got a thousand words, that wouldn't stop running circles.
Around in my head.
-Worth It (Harris J)

kemah

Kemah hari keempat

Sabtu, Mei 07, 2016

(Kemah hari pertama, kedua, dan ketiga, bisa diakses di tautan.)

Rabu, 9 Maret 2016

Hari ini dibuka dengan cerita horror. Karena kita capek banget, pas aku matiin alarmnya Embun jam 04.30, aku lalu tidur lagi tanpa bangunin yang lainnya (....) Tapi, aku bangun-bangun itu kaget berat: aku bangun... gak pake kerudung._. Jadi aku kalau di dalem rumah tetep pakai kerudung, tapi kerudungnya langsungan gitu, warna hitam, bahannya dingin. Aku tidur juga pakai itu.

Trus biar nggak kecampur sama yang lain, hasdukku kutaruh di bawah bantal. Jilbab yang mau aku pakai hari itu juga, jadi sekalian aja kayak kusetrika gitu orz. Nah, aku bangun itu aku kaget, aku udah gak pake jilbab. Aku kan yakin banget bukan aku yang ngelepas jilbabku sendiri, trus aku nyari, jilbabku ada di mana. Nah. Yang bikin kaget itu... jilbabku ada di bawah bantal :| Terlipat. Rapi. Seolah-olah aku yang ngelipet trus aku kasih di bawah bantalku.....

Aku bingung banget kan, tapi lalu yaudahlah. Aku pakai jilbabku lagi, trus aku lanjut tidur lol. Sampai jam 6 pagi. Kita semua bangunnya kesiangan deh. Aku bangun, trus aku cerita ke Jihan kalau aku tadi pagi bangun dengan kondisi nggak pakai jilbab. Nah, tiba-tiba Jihan kayak keinget sesuatu, trus dia bilang gini:

Ras, tadi pagi, jam 3 an, kamu bangun. Lalu kamu berdiri. Lalu kamu jalan ke luar kamar, trus pas kamu masuk, kamu udah nggak pakai jilbab, berdiri di depan pintu, jilbabnya di tanganmu, rambutmu "segini" lurus. Lalu jilbabnya kamu lipet, kamu taruh di bawah bantalmu, lalu kamu lanjut tidur lagi. Itu aku lihat, aku kebangun soalnya. Kamu pas itu tidur?

.....Bisa dibayangin kan gimana ekspresiku-_- Aku belum pernah sleepwalker (?) (istilahnya namanya apa sih) apalagi yang sampai keluar kamar trus masuk-masuk udah lepas jilbab dan jilbab di tangan itu maksudnya apa haaah. Aku syok ketika mendapat kenyataan bahwa yang melepas jilbab dan melipatnya dan menaruhnya di bawah bantal seolah-olah itu perbuatanku itu ternyata adalah... aku sendiri? Kok bisa? Kok aneh? Itu pertama kalinya aku melakukan kegiatan dalam keadaan tidur, dan semoga yang teakhirlah :")

Oke, masih inget kan, hari itu adalah gerhana matahari? XD Pagi-pagi jam 8, masjid mengadakan shalat gerhana bersama. Jadi, lalu kita siap-siap, habis shalat subuh kita merekap sangga kerja terfavorit. Lalu, aku kan mikir-mikir. Gerhana matahari kan nggak boleh dilihat langsung, soalnya nanti buta. Nah, kan sebenernya nggak bener-bener langsung buta, kan? Atau iya? Atau gimana? :")

Pas keluar mau ke masjid, aku lihat anaknya Bu Purwanto lagi lihat gerhana matahari pakai kacamata hitam. Dia bilang "Keren! Keren!" gitu, gimana aku nggak kepo :") Akhirnya aku pinjem kacamatanya, trus aku lihat XD Emang keren, masya Allah :"")) Habis itu kita shalat gerhana, dan balik lagi buat kemas-kemas.

Lalu, ke Balai! Aku sama Embun ganti-gantian, kita jadi yang pembawa nampan pas pengumuman kejuaraan sangga :") Btw............ predikat sangga kerja, aku dapet predikat sangker teralim... :""")))) Oke. Habis itu upacara penutupan, dan kita pamit sama Bu Purwanto :") Kita menangis, udah kayak keluarga sendiri, udah saling cerita, Bu Purwanto bilang, kita udah dianggep anak, jadi mau ke sana kapanpun pasti bakalan disambut :")))) 

Oke........ jam sebelas kita pulang, dan aku jadi penanggungjawab bis yang isinya....... yang isinya...... HERE WE GO AGAINNNN :""""D Aku udah ada firasat kalau mereka bakalan lebih diem daripada biasanya, jadinya aku udah minum antimo buat menenangkan diri :") Trus, entah gimana caranya dan aku juga gak mau cerita gimana, aku bisa dapet tempat duduk, dan tempat duduknya beda dari yang sebelumnya(?) TvT

Awal-awal, sama aja kayak pas berangkat, mereka ribut tiada tara :") Tapi di tengah perjalanan, mereka semua tidur, bahagianya lol. Aku pengen tidur juga, tapi.... ya kalik aku tidur trus nanti dibangunin gitu? Nggak mungkin X"D Makanya aku sekuat tenaga nggak tidur. Mereka yang masih bangun, pasti kebagian ketawa pas aku mendadak kebangun trus nampar pipi sendiri biar rasa kantuknya hilang-__-

Akhirnya, kita sampai di sekolah dengan selamat pada pukul 2. Alhamdulillah {}

kemah

Kemah hari ketiga

Sabtu, Mei 07, 2016

(kemah hari pertama dan kedua bisa dicek di tautan.)

Selasa, 8 Maret 2016

Kita semua bangun pukul lima tepat. Dan, Embun langsung cus ke Balai Desa karena dia yang bertugas menjadi pemimpin senam pada hari itu :)) Selesai senam, Rani sama Lusi jadi penjaga pos Wide Game. Intinya: aku, Shelly, Jihan, Halimah, sangat bebas hari ini! Karena aku baru 'sibuk'nya nanti sore (jadi penanggungjawab TPA) akhirnya kita memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sangat kita idam-idamkan: ke Gua Luweng :"D

Hm, jadi Gua Luweng itu adalah gua yang penuh dengan air, katanya sih dulu warga-warga sini ambil sumber air di situ. Sekarang udah enggak lagi. Kita akhirnya pamit ke Bu Purwanto, kalau kita mau ke Gua Luweng. Trus... hm, mendadak ada aura horror sih. Bu Purwanto melarang kita masuk ke guanya. Jadi, kita cuma boleh di mulut guanya aja.

Kepo? Banget. Asli. Kita berusaha tau alasannya, tapi Bu Purwanto ngelarang aja :> Yah, karena aku gak mau kejadiannya kayak kemarin (tragedi meremehkan hujan yang datang tiba-tiba) jadi aku nurut aja. Berbekal doa, akhirnya kita berangkat ke Gua Luweng! Dan perjalanannya sungguh... amat sangat melelahkan :") Kita naik bukit turun bukit, lalu belok, lalu ada pertigaan ambil lurus, lalu ada belokan ke kanan yang penuh dengan lumpur dan becek yang harus membuat kita lepas sandal, lalu masih ketemu jalan bebatuan, lalu masih lurus, lalu ke gang yang bener-bener sempit dan cuma bisa dilewatin satu orang aja.................... (kenapa masih inget banget sya)

Sangat jauhlah, mana panas lagi. Itu kita udah takut, kirain nyasar.... dan lama-lama semakin sepi dari rumah-rumah :") Kayak terasing banget. Sebenernya hawa-hawanya udah gak enak gitu sih, soalnya di tengah perjalanan aku kepikiran terus alesan Bu Purwanto kenapa kira-kira. Dan muncul rumusan masalah(?) besar, kenapa dulu gua itu dijadikan sumber air dan sekarang udah enggak lagi? Alasannya kenapa kok udah enggak lagi?

Tapi ya karena malah bikin suasana hati nggak enak, aku diemin aja lah. Apalagi kalau malah kuomongin, rasanya nggak enak soalnya pada bersemangat gitu sih. (Ya sebenernya aku juga kelihatan bersemangat XD). Oke, akhirnya Gua Luwengnya ketemu! Ada di atas bukit penuh batu dan pohon yang batang-batangnya penuh ulet-ulet. Mana belakang kita itu tanaman-tanaman liar pula.

Karena sayang banget sih kalo pulang, akhirnya kita naik. Dan... gimana ya bilangnya? Kalo aku bilang, kita kayak udah d i s a m b u t , gitu gimana? :"") Begitu kita berhenti di mulut gua, langsung..... ada suara kelelawar. Itu aja kok.. dan terlepas dari semua kengerian(?) itu, guanya itu emang alami banget, asli. Stalaktitnya masih netes-netesin air. Karena kita nurutin kata Bu Purwanto, kita nggak masuk gua dan kita foto-fotonya cukup di mulut gua aja :")

Habis itu, kita pulang! Kita istirahat, bagi-bagi cerita, sampai jam setengah dua kita mulai keluar rumah lagi. Ada lomba memasak di SD Negeri Karangasem. Aku ikut lihat-lihat gitu, sampai jam tiga. Jam tiga, aku mulai sibuk *plak* jadi penanggungjawab di TPA :")) Hari ini, anak-anak TPA lomba mewarnai! Aku ngasih pengumuman, kan, di speaker masjidnya, trus nunggu anak-anaknya satu-satu dateng.

Yang jadi imam Pak Eko. Selesai shalat Ashar, aku dikasih tau kalau ternyata..... jumlah kertas mewarnainya gak cukup :"D Kita bingung banget itu, kalau mau ngefotokopi juga di mana kan nggak tau :") Akhirnya, kita kumpulin semua anaknya, trus mulai berhitung yang kelas berapa itu jumlahnya berapa anak. Lalu, dibagi deh, jadi dua kategori. Yang mewarnai TK, kelas 1, sama kelas 2. Trus yang menggambar kelas 3, 4, 5. Lomba menggambarnya itu.. temanya apa ya:"D (sya kamu yang buat temanya...) kayaknya sih Lingkungan di Sekitar Kita XD Lombanya selesai jam lima.

Tiap kategori ada lima pemenang. Tapi sebenernya, semua dapet hadiah kok. Cuma yang menang dibungkus, dan dapet tambahan bolpen :") Semuanya dapet buku tulis. Habis itu kita foto-foto bareng, lalu aku nganterin Abdul, Tama, sama Kaka pulang. Rumah mereka jauh banget XD Aku sebenernya pengen nganterin sampe rumah mereka, tapi Tama maksa aku pulang aja soalnya bakal jauh banget masihan kata mereka orz 

Tama: Ini masih jauh banget lho Mbak.
Tama: Mbak, nanti kalau udah sampe rumah biar Mbak dianterin sama Abangku ya Mbak.
Tama: Mbak ini masih jauh banget. Masih ke sanaaaa trus kesanaaaa.
Abdul: Iya lho Mbak. Udah jauh banget, Mbak gak susah po nanti pulangnya?
Kaka: Sendirian lho Mbak
Tama: Mbaaaaak pulang ajaaaa. 

Itu ngomong pakai bahasa Jawa lho ya. Awalnya aku cuma nanggepin seadanya aja, tapi yaaa lalu lama-lama dipaksa sih. Dan sebenernya aku juga mikir, ini kalo aku balik sendirian jalan jauh banget gitu gimana mana bentar lagi maghrib orz Mereka baik banget siiihhh tapi kebaikan mereka itu lucu jadinya :""D Jadi pengen kukarungiiiinnn mereka masih sangat kecil tapi sudah bertanggungjawab dan menjaga perempuan :"> Jarak usianya jauh banget gak sih :""> (RAS)

Di tengah jalan aku balik, aku ketemu sama ibu-ibu :") Ibu-ibunya nyalamin aku, bilang makasih banyak, trus nanya tahun depan ke sini lagi apa enggak :"D Jadi terharu sebenernya, mana besok kan udah pergi kitanya, jadi yaaa... gimana :"D Tapi aku seneng hehehe. Trus aku juga ketemu sama anak-anak yang udah dijemput, diboncengin bapaknya naik motor, itu mereka dadah :"D Aku jadi kangen sama anak-anak TPAku di masjid deket rumahku yang dulu TvT

Habis itu, malemnya, aku nonton Pentas Drama Soedikar. Awalnya, aku duduk di paling depan sama Ais, dia yang jadi timer, yang bakal niup peluit kalau waktunya tinggal sekian menit gitu. Trus aku yang ngedokumentasiin, yang motret :"> Tapi lalu karena bakal lama banget, jadinya aku mlipir, kameranya kubalikin ke Haryo Bayu, lalu aku sama Jihan. Habis itu kita cerita 'kengerian' yang ada di Gua Luweng, yang gak aku ceritain di sini :)

Dan pada akhirnya, kita tidur jam 12 <3