Eng... #deletesoon?

Kamis, April 07, 2016

Ngomong-ngomong, aku minta maaf soalnya postingan kemah dan stucash ku nggak jadi! XD Tiba-tiba kehilangan mood buat nulis lol, sayang padahal seru banget. Tapi aku masih punya notes isinya catetan penting selama kemah dan makrab stucash dan masih ada fotonya, dan aku masih pengen cerita ke blog, jadi kemungkinan bakal ada postingan ngelanjutin tentang itu.

Sekarang, di malam yang aku kira aku bakal langsung tidur ini, aku mau nulis blog. Kenapa aku malah nulis blog? Alasannya sepele, sih, aku mau marah-marah XD Tumben banget ada hari di mana blog ini isinya unek-unek(?)ku TvT Biarkan aku cerita ya.

.
.
.

Jaman sekarang ini, orang jujur dibilang munafik. Dibilang sok-sokan padahal sebenernya pengen bohong juga. ‘Hah’ banget. Sebenernya aku juga masih ngerasa munafik, sih, tapi aku bisa sampai cerita ke blog ini karena aku udah nggak tahan lagi TvT

Ada sekumpulan orang-orang yang...... oke, intinya, aku nggak kepikiran sampai sana kalau mereka mau nggak jujur. Kalau mereka mau merampas harta yang bukan hak mereka. Kalau mereka mau.... korupsi, sebut aja kayak gitu ya. Aku sama sekali nggak nyangka. Aku pernah sih ada dalam kepanitiaan yang bahkan bukan event dalam sekolah, yang karena nggak ada nota, akhirnya pakai nota palsu. Tapi seenggaknya, kan, nominal dalam nota palsu itu sama dengan nominal aslinya kalau seandainya pakai nota. Itu masih bisa diterima.

Tapi yang ini? Notanya bener-bener beda nominalnya dari uang yang aslinya mereka keluarin! Kalau beda gopekannya atau mungkin ribuannya, yah, gimana ya. Tapi kalau digit yang paling depan? Jadi, digit yang paling depan itulah yang mereka ubah? Itu maksudnya apa?

Kenapa aku masalahin ini? Ng... sebenernya aku juga terlibat. Maksudku, aku juga terlibat sebagai pihak yang dirugikan, pihak yang hartanya dirampas sama mereka, pihak yang seharusnya bisa dapet uang yang seharusnya kalau uang itu enggak dikorupsi sama mereka. Aku dipanggil untuk dipertemukan langsung sama mereka, buat dijelasin langsung gimananya, buat narik kesimpulan sendiri kalau hartaku-itu-mereka-korupsi.

Waktu itu, satu banding sekian orang yang ada dalam ruangan, dan aku seolah dibuat bungkem mulut nggak bisa bicara walaupun aku tau maksudnya. Aku nggak bisa teriak padahal aku pengen, aku nggak bisa nuding sambil ngomong, “JADI maksudnya (blablabla)” atau semacamnya. Aku baru nemu suaraku pas aku udah keluar ruangan, pas aku udah jalan beberapa langkah, dan yang bisa aku teriakin ya cuma kalimat: jadi maksudnya, to, ras, kamu dibodoh-bodohin.

Aku sadar itu dan aku berasa ditampar karena aku nggak punya kekuatan untuk ngelakuin apa-apa. Karena aku nggak punya kekuatan untuk bilang kalau itu salah, karena aku nggak punya cukup kekuatan untuk nyadarin kalau itu adalah perbuatan yang nggak baik, karena aku nggak punya nyali buat bilang kalau harta itu adalah hakku. Aku nggak punya kekuatan untuk itu. Aku ngebodohi diriku sendiri, ya, bisa dibilang kayak gitu.

.
.
.

Lalu ini terjadi lagi. Tapi bedanya, aku diberi kesempatan untuk mengeluarkan hakku. Karena aku ada di pihak yang hendak korupsi harta suatu lapisan masyarakat. Karena aku ada di pihak yang hendak merampas harta orang. Aku nggak mau ada di pihak kayak gitu.

Dan saat itu juga, aku diberi suatu ujian.

Suatu lapisan masyarakat sudah membayar untuk mendapatkan kue yang sama. Anggap saja itu adalah cerita yang diganti subyeknya, meskipun hampir mirip-mirip juga. Kue yang dibagikan itu sama rata rasa dan bentuknya, sehingga tentu saja ada beberapa orang yang seleranya tidak sesuai dan membiarkan kue itu begitu saja. Tidak memakannya, hanya meninggalkannya.

“Bagaimana kalau kue itu kita kurangi jatahnya?”

Adalah usulan terkutuk yang pertama.

“Boleh juga!”

Adalah tanggapan terkutuk yang pertama.

Kemudian segelintir pembicaraan penuh dosa pun terjadi. Usulan kira-kita berapa banyak kue yang dikurangi, tanggapan-tanggapan setuju yang mengerikan, dan aku hanya diam. Aku tau apa faktor pengurangan jatah kue ini: anggaran. Persoalan biaya. Tidak ada biaya yang cukup untuk membeli kue sesuai jumlah lapisan masyarakat tersebut, jadi karena selalu saja ada kue yang tidak diambil, sekalian saja jumlahnya dikurangi.

Itu sama saja dengan korupsi. Itu sama saja dengan perampasan hak orang lain. Suka atau tidak suka, makan atau tidak makan, adalah hak orang tersebut untuk mengambil kuenya, kan?

“Kamu harus tega, Ras. Jangan pakai perasaan.”

Apa sih? Maksudnya apa sih? Aku nggak ngerti! Iya, aku nggak ngerti! Kalian membicarakan apa? Membicarakan ketidakjujuran? Apaan sih ini? Apa-apaan?! Kalau kalian adalah orang-orang seperti sekelompok perampas hartaku itu, akan kubiarkan saja! Aku tidak akan emosi sampai seperti ini!

Tapi kalian berbeda. Kalian, komunitas penyebar kue ini, adalah komunitas yang aku ceritaian persoalan para perampas hartaku itu. Kalian orang satu-satunya yang kuceritakan, dan hanya berselang beberapa momen waktu, kalianlah yang melakukannya?

Bukankah kalian yang ketika kuceritakan, kalian justru menanggapi, kalau itu adalah perbuatan yang tidak baik? Itu perbuatan yang sepantasnya dilawan? Itu perbuatan yang sepantasnya ditentang? Kenapa sekarang kalian menjadi pelakunya? Kenapa kalian menjadi seperti orang yang kalian lawan terang-terangan?

“Jangan munafik, Ras!”

Apanya yang munafik? Yang munafik itu kalian, kan? Yang mengatakan tempo lalu kalau pelaku yang korupsi itu pantas dihukum mati, dan yang akhirnya melakukannya sendiri, itu kalian kan? Kenapa kalian yang mengataiku munafik? Siapa yang sebenarnya munafik di sini?

Apa pada akhirnya, aku tidak akan punya cukup kekuatan untuk melawan ini semua?

Kalian terlalu banyak! Tolong!

Jangan jadi orang yang kubenci!

You Might Also Like

0 comment(s)